Bermain Teater Obyek dan Narasi, Safety and Trust di Teater Garasi Yogyakarta


Beberapa hari sebelumnya, Aku mendapat informasi di Group WhatsApp, mengenai workshop teater di Teater Garasi. Demikian pengumumannya :

yang berminat mari ikut…!
Teater Garasi/Garasi Performance Institute Mengundang Anda untuk terlibat dalam Object and Narrative Workshop
“Safety and Trust”
Bersama: July Yang (Ao Ao Ing Ensemble) & Wu Lu
dari Shanghai

Selasa, 25 Februari 2020
18.00 – 21.00 WIB
Studio Teater Garasi Lanjutkan membaca “Bermain Teater Obyek dan Narasi, Safety and Trust di Teater Garasi Yogyakarta”

Sosiometri dalam Psikodrama untuk Team Building


Sosiometri yang awalnya sebagai sarana untuk mengukur hubungan sosial, dikembangkan oleh Moreno menjadi cara untuk membangun hubungan sosial. Tulisan berikut mengenai penerapan sosiometri ini untuk membangun kerjasama dan rasa saling percaya dalam kelompok kerja.

Aku sering menggunakannya sosiometri ini, pada tahap Warming Up, tahap pertama dalam Psikodrama, yang bertujuan membangun rasa saling percaya antar peserta, untuk persiapan menuju tahap Action. (baca: 3 Tahap Psikodrama). Lanjutkan membaca “Sosiometri dalam Psikodrama untuk Team Building”

How to Manage Energy dalam Proses Workshop dengan cara Psikodrama.


Energi adalah rasa pengerak, dalam hal ini aku setarakan dengan istilah Impuls. Aku mendapatkan sebuah pemahaman dari Kelas Akting yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara Jakarta, dan difasilitasi oleh Iswadi Pratama, seorang Sutradara dari Teater Satu Lampung.

Beliau mengungkapkan bagaimana proses yang terjadi pada diri Aktor. Seorang aktor wajib memahami dan menyadari Impuls nya, sebagai dasar dalam berakting di atas panggung. Aktor perlu mengetahui dari mana Impuls tersebut berasal. Selanjutnya perlu juga memahami impact, tujuan, dampak dari tindakannya. Sehingga menjadi penting dalam mengekpresikan Impuls sesuai dengan kebutuhan. Lanjutkan membaca “How to Manage Energy dalam Proses Workshop dengan cara Psikodrama.”

Penerapan Psikodrama Melatih Me-Rasa untuk Bahagia


Banyak orang jaman sekarang terlalu banyak berpikir dibandingkan merasa, bahkan ada yang mengungkapkan bahwa mereka tidak dapat mengungkapkan rasa yang sedang dirasakannya. Media sosial dan game online lebih dominan mengambil waktu anak-anak muda. Sementara, sensitivitas Rasa akan terlatih dengan kehadiran, bertemu langsung. Oleh karena itu mereka menjadi kurang terlatih dalam mengolah rasa. Lanjutkan membaca “Penerapan Psikodrama Melatih Me-Rasa untuk Bahagia”

Empat Momen Doa dapat Menjadi Alur dalam Bibliodrama


Akhir tahun 2019 lalu, aku mengikuti lokakarya tentang Latihan Rohani, oleh Romo Sardi SJ, di Pusat Spiritual Girisonta. Ada pelajaran yang menarik yang di sampaikan oleh Beliau tentang momen doa. Ada empat Momen Doa yaitu :

  1. Mendengarkan Sabda
  2. Memandang Sabda yang menjadi Manusia 
  3. Menanggapi Sabda
  4. Mewujudkan Sabda

Lanjutkan membaca “Empat Momen Doa dapat Menjadi Alur dalam Bibliodrama”

Role Playing adalah Bentuk Utama dalam Praktek Psikodrama.


Masih banyak orang yang belum memahami Psikodrama, (baca Landasan Teori Psikodrama )karena memang relatif baru istilah ini masuk ke Indonesia, itu pun masih sebatas di kalangan Psikologi dan Bimbingan Konseling. Istilah Psikodrama masih belum dikenal luas di masyarakat umum. Maka tulisan ini mencoba memberikan pemahaman singkat agar mudah dipahami. Lanjutkan membaca “Role Playing adalah Bentuk Utama dalam Praktek Psikodrama.”

Pelatihan Integritas dengan Metode Psikodrama


Integritas di sini aku maksudkan keselarasan antara tindakan, ucapan, pikiran dan perasaan. Keselarasan ini bakal terwujud bila seseorang berani jujur pada diri sendiri. Kejujuran pada diri sendiri dilatih dengan mulai mengenal perasaan yang dirasakan.

Psikodrama mengajak setiap orang menjadi Protagonis, aktor utama dari drama hidupnya. Seseorang diajak untuk meyakini bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya sepenuhnya adalah tanggung jawabnya. Seseorang diajak untuk mampu melihat bahwa yang terjadi hari ini adalah konsekuensi dari pilihan-pilihan di masa lalunya, baik pilihan sadar maupun tidak sadarnya. Hal yang utama dari kemampuan ini adalah kemampuan mengenali perasaannya, baik saat ini maupun perasaannya pada masa lalu. Menurut “orang tua” banyak tindakan dilakukan berangkat dari perasaan ini. Sayangnya banyak orang tidak menyadari hal ini, lebih tepatnya tidak mau mengakui, maka langkah pertama adalah mengajak orang berani jujur pada perasaannya sendiri. Dengan berani jujur maka perasaan itu akan disadari, dan tindakan yang dilakukan akan mempertimbangakan konsekuensinya.

Mari kita mulai berpsikodrama mengikuti tahapannya:

Tahap Warming Up

Pada tahap ini dapat dilakukan Lokogram, dengan memilih titik, Benar, Baik, Jujur, (letakkan selendang/atau apa pun, pada tiga tempat berbeda di lantai) dengan instruksi: Apa yang paling penting dalam menjalani hidup, Jujur, Baik, atau Benar.  Silahkan berdiri di titik Jujur, Benar, atau Baik. Selanjutannya tiap peserta diminta menjelaskan pilihannya.

Jujur, Baik, dan Benar adalah nilai (value) yang mendukung Integritas. Di sini peserta di ajak untuk berani jujur pada diri sendiri. Melakukan sesuatu yang tidak benar (salah) boleh, melakukan hal yang tidak baik juga boleh, yang penting jujur. Memang dalam tahap warming up (pemanasan) ini dibangun suasana boleh salah, makin banyak melakukan kesalahan makin banyak belajar.

Teknik Sclupture, memahat membuat patung, atau mematung, dapat juga dilakukan. Peserta diminta menjadi pohon dengan tubuhnya, membentuk gesture pohon. Selanjutnya ditanya ia menjadi pohon apa. Diberi instruksi agar tidak berbicara, dan diminta berpasangan menjadi sebuah bentuk pohon. Jika sudah terbentuk berpasang-pasangan, salah satu orang ditanya menjadi pohon apa. tiap pasangan ditanya satu persatu. Sering pasangan yang menunggu giliran ditanya, ada yang bersepakat dan berbicara. Hal ini ditanyakan setelah semua pasangan ditanyai nama pohon.

Siapa yang selama proses tadi bersepakat, berbicara dengan pasangan untuk nama pohonnya. Bukankah tadi sudah diinstruksikan untuk tidak berbicara. Jika ada yang mengaku diberi apresiasi karena kejujurannya. Sedikit direfleksikan betapa sering orang mengusahakan untuk menjadi nampak benar, melakukan tindakan yang melanggar ketentuan, melakukan kecurangan, melakukan hal yang tidak jujur.

Tahap Action

Tawarkan pada peserta, siapa yang bersedia menjadi protagonis, (sesorang yang diminta kesediaannya menceritakan pengalamannya untuk didramakan). Apabila tidak ada dapat dilakukan Sosiometri (salah satu teknik dalam Psikodrama) untuk menentukan protagonisnya.

Protagonis diminta menceritakan pengalamannya pada masa lalu, saat ia melakukan kesalahan dan berani jujur mengakuinya. Pengalamannya itu akan dimainkan lagi (Playback). Jadi Dramanya adalah tentang kejujuran, keberanian bertanggungjawab dan konsekuensinya. (integritas).

Tahap Refleksi

Peserta diminta untuk berdiri melingkar. satu persatu dimintakan untuk mengungkapkan perasaannya sebelum acara, selama acara, dan membagikan pengetahuanya baru apa yang didapatkan selama proses. Acara ditutup dengan saling mengucapkan terima kasih dan bersalaman.

Selesai.

Yogyakarta, 10 Januari 2020

Retmono Adi