Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #09 Merasa Disayang, Sesi Konseling Keenam


Aku merasa seperti disayang

“Suatu hari, saat aku berbelanja di supermarket, aku mendengar ada suara laki-laki paruh baya memanggil namaku dari belakang. Aku menoleh, awalnya aku bingung. Ternyata dia adalah mantan pacar mendiang ibuku, laki-laki yang pernah mengantarku ke panti asuhan. Dia ingin membicarakan sesuatu yang penting, tentang keberadaan ayah kandungku. Sudah saatnya aku mengetahuinya, katanya. Awalnya aku ragu, tapi aku tetap mengiyakan. Kami berbicara di sebuah warung makan. Dia bercerita soal mendiang ibuku yang dulu mengalami depresi. Di sini aku tidak akan membahas soal masa lalu ibuku karena ceritanya sungguh pilu. Mungkin aku tidak kuat menceritakannya. Jadi, singkat cerita, keesokan harinya dia mengantarkanku ke rumah ayah kandungku. Dulu katanya, ibuku sempat menjadi pembantu di sana, tapi dia diusir karena menjalin hubungan gelap dengan ayahku yang sudah memiliki istri. Lanjutkan membaca “Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #09 Merasa Disayang, Sesi Konseling Keenam”

Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #08 Cerita Tentang Kehilangan, Sesi Konseling Kelima


Cerita tentang kehilangan

“Rumah itu kosong, tidak dihuni oleh sebuah keluarga. Dinding di setiap sudut rumahnya berwarna putih tulang. Bangunan tempo dulu, mungkin dibangunnya sejak tahun 70an ke atas. Tidak banyak perabotan. Hanya ada kursi meja tamu, satu kamar tidur agak luas kalau hanya di tempati dua orang, satu dapur, dan satu kamar mandi. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi ada halaman yang cukup luas di bagian depan rumah. Ada satu kamar tidur kecil yang letaknya terpisah dari bangunan rumah itu, tapi masih bersebelahan meskipun di antara kedua bangunan itu ada celah jalan yang dipenuhi dengan berbagai tanaman. Aku tinggal di kamar yang terpisah itu. Lanjutkan membaca “Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #08 Cerita Tentang Kehilangan, Sesi Konseling Kelima”

Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #07 Konseling Ke Empat


Pada akhirnya hati kita akan jatuh pada seseorang yang bisa menghadirkan tawa, rasa nyaman, dan kejernihan dalam berpikir
(Sesi Konseling Keempat)

“Aku memutuskan untuk menjadi pembantu karena aku tidak lagi punya tempat tinggal. Kadang aku ingin tahu bagaimana rasanya hidup di tengah-tengah keluarga meskipun aku tahu bahwa banyak keluarga yang tidak bahagia. Dulu saat liburan sekolah, aku sering diajak berkunjung ke rumah teman-temanku yang sudah diadopsi. Aku iri sekali dengan kehidupan mereka bersama orang tua baru mereka. Kebutuhan mereka tercukupi tanpa harus bersusah payah bersekolah sambil bekerja.

“Kadang aku menitikkan air mata ketika aku menghadiri pesta pernikahan teman-temanku atau orang lain. Terutama saat mereka melakukan prosesi sungkem dengan orang tua. Orang tua mereka terlihat berat melepaskan anak mereka untuk hidup bersama orang lain. Lalu aku berpikir kalau aku menikah suatu saat nanti, siapa yang akan menjadi wakilku? Tidak akan ada yang berat melepas kepergianku. Tidak ada yang mendampingiku ketika aku pertama kali ke rumah Yudha. Aku tahu yang kulakukan dengan Yudha salah dan dosanya besar. Tapi aku benar-benar merasa sendiri…

“Sampai pada akhirnya aku dipertemukan dengan Rio, dia ibarat oasis di tengah-tengah kehidupanku yang teramat gersang dan hampa. Darinya aku percaya, bahwa di dunia ini masih ada orang baik.

“Kami sering bertukar cerita karena kami memiliki latar belakang kehidupan yang hampir sama. Kami hanya berbeda nasib saja. Dia pernah menjadi anak jalanan, pemulung saat masih kecil, tapi dia masih beruntung. Dia akhirnya diadopsi. Sejak diadopsi, Rio memiliki kehidupan yang jauh lebih baik daripada saat ia masih menjadi pemulung. Tapi di sisi lain orang tua angkatnya juga menuntut Rio untuk tumbuh sesuai dengan apa yang menjadi harapan mereka. Dari sekolah, kuliah, jodoh, pekerjaan, semuanya dipilihkan orang tuanya.

“Tapi, berkaitan dengan jodoh… Pada akhirnya dia menikahi perempuan pilihannya sendiri tanpa restu dari orang tua angkatnya. Perempuan itu tentunya bukan aku.”

Cerita Prita tiba-tiba terhenti. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Matanya tertuju pada buku sketsa yang kemudian dibukanya lembar per lembar. Di dalamnya ada banyak tulisan yang pernah ia tulis sendiri. Pada setiap kalimat-kalimatnya selalu disertai dengan gambar ilustrasi. “Setiap aku selesai menulis, Rio selalu membacanya. Kemudian dia menggambarkan ilustrasi untukku.”

Prita menambahkan, “Sepertinya aku sudah terlanjur jatuh cinta terlalu dalam padanya. Jatuh cinta pada seseorang yang tidak bisa kumiliki. Namun jatuh cinta kali ini terasa berbeda dari biasanya. Walaupun aku tidak bisa memilikinya, jatuh cintaku kali ini tidak terasa sia-sia. Bukan jatuh cinta lagi, lebih tepatnya aku telah jatuh hati, karena yang kutahu, pada akhirnya hati kita akan jatuh pada seseorang yang bisa menghadirkan tawa, rasa nyaman, dan kejernihan dalam berpikir.”

…bersambung

Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #06 Teringat Satu Nama


Kutemukan rumah yang selalu mengingatkanku tentang satu nama yang takkan pernah kulupakan seumur hidupku
(Sesi Konseling Ketiga)

“Saat aku mengaku kalau aku hamil anak Yudha, ibu asuhku marah. Lalu bilang, ‘Jangan gampang percaya dengan laki-laki! Sekarang kau sendiri yang akan menanggung akibatnya. Aku akan sibuk mengurusi warung. Jadi aku tidak akan bisa membantumu mengurusi bayimu. Itu risiko yang mau tak mau harus kau tanggung.’ Ucapnya dingin tanpa empati sama sekali. Lanjutkan membaca “Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #06 Teringat Satu Nama”

Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #05 Cinta itu Energi


Cinta itu Energi

Memasuki tahun-tahun berikutnya, rasa itu masih sama. Mereka bukan pasangan sempurna. Kehidupan pernikahan Prita dan Rio tidak sempurna. Banyak cobaan pun kebahagiaan, datang silih berganti. Mereka tetap memilih melewatinya bersama-sama dalam setiap suka dukanya. Kian lama rasa itu kian hidup dan menyala.

Hidup bersama selama bertahun-tahun memberikan keduanya energi sekaligus semangat baru. Sebab bukan hanya raga mereka saja yang menyatu, tapi hati, pikiran, dan jiwa mereka saling melebur menjadi satu. Saling bersinergi. Ada keterlibatan afeksi, emosi, dan koneksi yang begitu kuat dalam hubungan mereka. Bahkan tidak harus selalu dengan bercinta, sering hanya sekadar dengan pelukan hangat, kecupan singkat, atau hanya saling mendengar cerita masing-masing, menertawakan hal-hal tidak penting, atau hanya menatap dalam diam tanpa saling menyentuh saja. Itu semua sudah dapat menghantarkan energi tersendiri bagi keduanya. Sebuah energi yang membuat kehidupan mereka menjadi lebih berarti dan berkontribusi.

…bersambung

Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #04 Sekolah Kehidupan


Sekolah Kehidupan (Sesi Konseling Kedua)

“Jadi Anda tidak diadopsi?” tanya Tunjung kepada Prita di sesi konseling kedua.

Prita menggelengkan kepala. Kemudian ia kembali  bercerita.

“Hari pertamaku di panti, tidurku tidak nyenyak. Aku benar-benar merasa sebatang kara. Ada kekosongan yang begitu dingin masuk ke dalam diriku. Ada luka tak kasat mata yang terasa begitu sakit. Aku menangis tersengal-sengal sampai agak sesak nafas. Kenapa aku sengaja ditinggal? Apakah aku ini tidak berarti untuk mereka? Kenapa aku harus lahir? Aku lahir untuk siapa? Lanjutkan membaca “Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #04 Sekolah Kehidupan”

Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #03


Pada Suatu Gerimis di Sore yang Manis

Mereka tinggal di sebuah rumah bergaya minimalis yang di setiap sudut ruangannya berwarna putih. Lengkap dengan taman kecil di samping kamar tidur mereka. Prita berdiri di depan jendela, memandangi gerimis yang turun membasahi taman. Rio duduk di tempat tidur, memandangi Prita dari agak jauh. Memperhatikan rambut Prita yang tergulung dan agak sedikit basah terkena gerimis dari luar. Prita mengenakan daster berwarna krem dengan bahu yang agak terbuka. Rio bangkit dari tempat tidurnya. Ia dekap tubuh Prita dari belakang. Dagunya ia tempelkan pada pundak kanan Prita. Lanjutkan membaca “Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #03”

Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #02 Kepergian Ibu


“Mungkin ada pengalaman yang ingin diceritakan saat Anda tinggal di panti?”

Prita terdiam. Matanya sekilas memandangi perempuan yang sedang duduk di hadapannya. Tatapannya beralih ke name-tag yang dikenakan perempuan itu. Namanya Tunjung Mekar Sari, tertulis lengkap dengan gelar psikolog di belakang tulisannya. Prita menarik napas dalam-dalam, ia menyandarkan bahunya pada kursi empuk berwarna hitam. Pikirannya terlempar jauh, ketika ia berusia sepuluh tahun. Perlahan, dengan tatapan melamun, ia memulai ceritanya. Lanjutkan membaca “Cerita Pendek ; Drama Perjuangan Hidup Prita #02 Kepergian Ibu”

Cara Mudah Mengatasi Kesepian


Kesepian adalah ketiadaan hubungan yang berkualitas, hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia dan hubungan dengan diri sendiri. Jadi untuk mengatasi kesepian adalah dengan membangun hubungan yang berkualitas.

Ini membutuhkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri terlebih dahulu. Lakukan Self Assesment (penilaian diri) seberapa berkualitasnya hubungan dengan Tuhan, dengan orang lain, dan dengan diri sendiri. Gunakan sosiometri spektogram, beri angka 1 -100, untuk menentukan kualitas hubungan tersebut. Angka lebih tinggi untuk kualitas hubungan yang lebih baik. Bila sudah mendapatkan hasilnya silahkan mulai.

Ketiga hubungan tersebut saling mempengaruhi dan selaras, salah satu hubungan buruk, lainnya pasti buruk, memperbaiki salah satu, maka yang lainnya juga akan turut membaik.

Berdasar selarasnya ketiga hubungan tersebut, maka cukup pilih salah satu saja dari hubungan itu yang paling mudah untuk dibangun terlebih dahulu.

Berikut cara untuk membangun hubungan yang berkualitas :

Membangun hubungan baik dengan Tuhan, rajinlah berdoa. Cara berdoanya dengan berusaha mendekatkan diri, berdialog akrab. Bayangkan bahwa Tuhan hadir duduk bersebelahan dan ngobrol santai seperti dengan sahabat.

Membangun hubungan baik dengan orang lain. Mulailah berani untuk percaya bahwa orang lain juga membutuhkan teman, sehingga berani mengawali untuk menjalin hubungan. Bergerak mengekplorasi tempat baru dan berusaha bertemu dengan orang baru, pikniklah!. Boleh juga berkunjung ke rumah kawan lama sekedar ngopi bersama dan berbincang tentang apa saja. Kurangi niatan untuk mencari keuntungan dalam hubungan interpersonal ini. Utamakan rasa akrab dan gembira. Jadikan hal ini indikator kualitas hubungannya.

Membangun hubungan baik dengan diri sendiri. Belajarlah menerima pengalaman masa lalu, dan yakin terhadap masa depan serta menikmati hari ini. Temukan sesuatu yang baru pada hari ini, dan jadikan alasan untuk bersyukur. Hal ini juga akan mendukung hubungan yang baik dengan Tuhan. Lakukan juga kegiatan kreatif seperti menulis, melukis, bernyanyi, intinya berkarya, atau berekspresi.

Sepertinya mudah untuk dilakukan, namun banyak orang yang sudah melakukan hal itu, masih saja belum berhasil mengatasi kesepiannya. Kondisi ini biasanya karena banyak orang lebih senang menipu diri, tidak berani menerima kenyataan, atau mungkin tidak terlatih, sehingga tidak tahu caranya.

Bagaimana agar mampu mendapatkan hasil seperti yang diharapkan ? Kunci utamanya adalah berani jujur pada diri sendiri dalam penilaian diri mengenai kualitas hubungan yang dimiliki. Apakah ada “cinta” di dalam hubungan itu. (baca : Hanya Orang yang Merasa Dicintai yang Mampu Mencintai, Refleksi Pengalaman Cinta ).

Yogyakarta, 17 Desember 2020

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80">Retmono AdiRetmono Adi

Belajar dari Masa Lalu untuk Merangkai Masa Depan? Modal Utama Resolusi


Mumpung bulan Desember, banyak orang mulai berrefleksi mengenai perjalanan hidup selama setahun ini, untuk selanjutnya membuat resolusi di tahun depan 2021. Aku mengcopy beberapa pernyataan yang cukup membingungkan, namun juga mengajak untuk merenung sebagai modal unutk membuat Resolusi. Sengaja aku copy apa adanya agar siapa pun dapat menemukan pemahamannya sendiri. Lanjutkan membaca “Belajar dari Masa Lalu untuk Merangkai Masa Depan? Modal Utama Resolusi”