…dan tetap tersisa tanya


…dan tersisa tanya lagi,……
Mengapa ???
….tetap tak ada jawaban yang memuaskanmu
Kau marah,….
…merusak apa saja yang tidak seperti inginmu
…..
…….
…..
dinding tebal….
….teriakan putus asa

…dan tetap tersisa tanya
Apakah kebodohan?
…bebal
….mungkin….
terlalu pintar….
…merasa wakil Tuhan
…dimanakah Dia?
…jauh di sana?
…atau
…terpendam dalam di dasar hatimu?

….beku

Yogyakarta, 4 November 2019

Di Mana Lagi Akan Kau Sembunyikan Puisi ?


Beberapa hari ini aku dapatkan flyer-flyer pengumunan di media sosial, tentang pembacaan puisi yang akan dilakukan di sudut sudut kotaku. Rupanya kalian sudah tak mampu lagi menyimpan gelisahmu itu. Gelisah yang kau balut dalam diam, dalam senyum palsu, dalam foto-foto selfie indah dan tampak bahagia.

Gelisah itu adalah pemberontakan dari Nurani yang terjebak dalam Super Egomu. Super Egomu yang kau bangun sendiri sebagai perlindungan untuk ketakutanmu, menjadi Benteng cantik munafik, topeng tebal berlapis bebal.

Gelisah menyesah mendesah mereka-reka mewujud kata. Kata-kata itu sudah mulai menyeruak di tenggorokan untuk segera kau suarakan. Selama ini hanya kau tulis di buku atau secarik kertas dan kau simpan saja dalam laci meja kerjamu. Bahkan ada juga yang hanya kau simpan dalam darahmu, hingga mengental melambat alirannya menuju jantung dan otakmu.

Kata-kata adalah puisi, berasal dari nurani. Telah tiba saatnya mewarnai dunia. Mari sambut dengan suka cita, meski duka dan lara masih arus utama hingga tinggallah Perjuangan untuk pelaksanaannya.

 ….. dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata ~ WS Rendra

 

Yogyakarta, 28 Agustus 2019

Retmono Adi

 

MENYADARI, Puisi Hasil Refleksi setelah Belajar Psikodrama di UNS Surakarta


MENYADARI

Terkadang hidup hanya rutinitas
Melaksanakan kewajiban dan mendapatkan hak
Berdinamika dengan kesibukan
Namun lupa untuk menyadari bahwa
Inti dari semua itu adalah
Aku, diriku sendiri

Aku mulai menyadari
Bahwa hidupku ada di tanganku
Terlepas dari takdir Sang Ilahi
Aku menyadari bahwa aku mampu
Untuk menjadi lebih baik dari sekarang
Menjadi diriku yang pemaaf
Dan tak sungkan untuk meminta maaf

Menyadari bahwa menerima realita kehidupan
Walau berbeda dengan harapan adalah pembelajaran
Pembelajaran untuk bersyukur dan ikhlas menerima
Mulai menyadari kembali bahwa
Mempercayai orang lain itu okay
Semua baik-baik saja

Dan aku memahami bahwa
Bertahan dalam suatu proses
Serta menghargai proses itu hingga akhir
Akan membawa hal baik dalam diri

Colomadu, 16 Juni 2019

Anis Syarifah Madyarti
Terimakasih @psikodrama_id

Coretan “For Got Aen” by Adina Hafidhah Amalia


FOR GOT ӔN

18 OURS

Sometimes nothing
Sometimes reaching

Sometimes broken
Sometimes forgives

Sometimes lose
Sometimes learn

There is always
For got an
But there is always
Forgotten

Thank U,
@psikodrama_id
Solo, 16 Juni 2019

Adina Hafidhah Amalia

Kau Kawin, Beranak dan berbahagia


…..kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros
Dikutuk-disumpahi Eros….

Terinspirasi dari bait Puisi nya Chairil Anwar, ada pada satu masa di tahun 90an, saat aku masih sebagai mahasiswa, memberikan saran pada Yunior kami, di Keluarga Rapat Sebuah Teater.

Demikian aku menyarankannya : Lanjutkan membaca “Kau Kawin, Beranak dan berbahagia”

Psikodrama di Jakarta, Prosesnya Diungkapkan Lewat Rasa


Prosesnya diungkapkan lewat Rasa

Dalam upaya memastikan keyakinan dan mencari dukungan
Diri menyerahkan seutuhnya,tanpa melupakan sang kuasa
Jika jodoh ada atas kuasa-Nya
Maka diri ini harus memastikan Kekuasaan-Nya itu

Diri bersepakat bahwa tidak ada yang benar atau yang salah
Tapi diri dengan kepalanya tetap saja mencari pembenaran dan menyalahkan.
Diri dengan begitu percaya mengatakan bahwa diri itu unik dan berbeda
Tapi diri masih saja secara yakin bersikap seperti norma kebanyakan diri yang lain

Berterima bukan tanda lemah
Mencoba berserah, bukannya berarti pasrah
Dari leher ke kepala perlu rehat
Biarkan dada yang menerima karena rasa seharusnya tak pernah dusta

Bertatap saat itu menjadi sulit, apalagi diharuskan untuk berucap
Sebuah kata terimakasih anehnya terasa begitu sangat dalam
Kala airmata dianggap sebagai makna kedalaman
Semua diri merelakannya, tak khawatir habis, malah bersyukur bisa lebih lega

Ketika sang Protagonis diminta mengeksplorasi memori
Dibuatnya sang memori keluar dari diri agar setiap orang bisa melihat
Menjadi adalah cara efektif untuk lebih mengerti dan paham
Tapi jangan lupa kembali, lebih untuk menjaga agar tidak tersesat

Kalau tikar dan termos saja berterima atas kelebihannya,
Mengapa harus dibahas lagi kekurangan-kekurangannya??
Manusia adalah makhluk kompleks yang berakal.
Tapi juga berperasaan, camkan itu.

Jika jujur masih disanksikan hadir dari orang lain
Maka, kenapa tidak berbicara pada diri sendiri saja?
Naif jika pada diri sendiri saja masih tidak jujur.
Setidaknya diri akan tau jika diri membohongi dirinya sendiri.

Melingkar sebagai sebuah tanda akan usai
Saling menatap berupaya mendapat rasa yang sama
Saling menggenggam agar berusaha satu frekuensi
Diri-diri akhirnya menyepakati, rasa ini harus disebar

Mereka bukan lagi diri-diri yang datang tadi pagi
Ini bukan hanya belajar, tapi berobat juga tentu saja
Selamat.. Kalian memang benar-benar berjodoh.
Psikologi dan Drama dalam Psikodrama…. Terimakasih

28 April 2019
Di Laboratorium Psikologi AU

Faldhy Dwi Budiansyah

Puisi Cinta dalam Hubungan Dewasa


Cintamu
Apakah kau temukan utuh.
Atau sedang tumbuh,
Berupa lukisan indah.
Atau serpihan, yang sedang kau rangkai?
Menunggu menjadi sesuatu yang selesai indah.
Atau misteri yang terbengkelai kau tinggalkan.
Semampu apa, rasa diterjemahkan dalam satu rasa.
Apa yang bisa di lakukan,
Dua pribadi menjadi satu,
Apa harus dimatikan keindahan yang satu untuk yang lain.
Membangun dan meniadakan diri untuk memberi ruang yang lain.
Sering menyesakkan ,
Itukah cinta .
Saling lomba ?
Atau terhanyut dalam misteri rasanya.
Yang selalu diam tersembunyi
Yang tak pernah habis
Dalam sunyi.
Biarlah saja
Cinta cukup untuk cinta

Muntilan, 28 April 2019

AJP