Harusnya Malam Ini Berkumpul Bersama Keluarga


Duduk terpaku sendiri di depan Laptop
….teman setia selama Corona

Suara Takbir bersautan dari seluruh penjuru angin
membuka kenangan,
keliling kampung, memukul kentongan
Cahaya obor penerang jalan
sesekali berhenti menyalakan petasan,
suara letusan disusul teriak kegirangan

tak sampai pukul 9 sudah pulang ke rumah
….tersedia makanan berlimpah
…..kue kue kering, hingga sayur berkuah
..baju, sepatu baru ditata rapi
….dielus diraba dibawa mimpi

malam Lebaran selalu dinantikan
sekali tidak bermain di bawah rembulan
suka citanya tak terperikan
berkumpul bersama handai taulan

Tahun ini 2020
pandemi melanda negeri bahkan seluruh bumi
wajib karantina mandiri, jaga jarak untuk peduli
orang tua di kampung tak boleh dikunjungi
demi selamat tak tertulari

jadi kali ini
….sendiri di tanah orang bergelut memori

doa dan puji pada Illahi
….tetap berbunyi meski lirih di hati.

menyeruak sesak mengoyak dada,
…terangkum kata kata

Harusnya malam ini berkumpul bersama keluarga.

Yogyakarta, 23 Mei 2020

Retmono Adi

Kutampar Dirimu dengan Jurus Andalanmu


Kau masih saja berkata-kata, sementara aku sudah merasakan deritanya.
Hidup tak cukup dengan kata kata, itu juga berkali kali ada dalam ucapanmu.
Kontradiksinya adalah kau menghidupi itu dalam bicaramu.

kata kata kata kata kata kata kata kata kata kata kata kata
kata kata kata kata kata kata kata kata
kata kata kata kata kata kata kata

mana makna?
bahkan rasa kau reduksi dalam kata!

dunia sedang merana, atau sedang suka cita…?
itu kau bungkus dalam kata kata

apakah kau hidup dari makan kata kata, sementara banyak orang sudah beralih ke angka?
harusnya kau mulai menyentuh fakta, atau data yang berserak di pelataran realita.

ach,..paling juga akhirnya kaujadikan kata kata.

maka,
Kutampar dirimu dengan jurus andalanmu,
kata kata.

Yogyakarta, 20 Mei 2020

Gerimis dan Kenangan, Aku Tetap Bertahan


Tiba tiba saja terbersit kenangan,

Gerimis di luar kali ini  melalui semilir angin membelai kulitku. Dingin menjalar keseluruh tubuhku, merasuk dalam mengusik syaraf syarat ingatanku, menguak memori emosiku. Muncul kenangan peristiwa peristiwa pada saat gerimis tiba.

Kucoba susun keping keping kenangan itu, mulai dari rasa yang mulai menyerbu. Waktu besliweran tak menentu. Aku tak mampu menangkap wujud baku.

Rintik gemerintik ibarat musik, titik titik air berisik bersautan, saat menerpa genting tanah rumah kontrakkan. Tak hendak kuganti dengan orkestra dari youtube di laptop. Biarlah rasa ini tetap menyelimuti, meski kenangan tak tergambar jelas dalam ingatanku.

Aku coba bertahan, memegang rasa, meski tak sanggup menggambar peristiwanya. Kudedikasikan pada realita, yang sering aku angap ilusi semata.

ya,…pasti gerimis akan reda, atau malah mungkin tanda badai akan melanda ?

Gerimis dan kenangan, aku tetap bertahan.

 

Yogyakarta, 20 Mei 2020

…….saat gerimis tak rela didahului senja.

…dan saatnya mengatakan, cukup !


saatnya mengatakan cukup!
menimbun harta
bertamasya berbagai kota
berebut tahta
bahkan
untuk bercita cita

saatnya hidup nyata
cukup sehat saja

rasa bergolak
tak kuasa menolak

cemas
takut
marah
putus asa

sisa
….sebuah tanya mengapa ?

jawaban adalah harapan

cukup ! ,
…juga untuk sebuah tanya

hening
…entah sampai berapa lama

jaga sehat
sikap tobat
cukup.

Yogyakarta, 26 April 2020

Retmono Adi

Apa Yang Ingin Kau Buktikan ?


Kau berjuang keras selama ini, untuk apa?

Kau ingin membuktikan sesuatu ?

Apa itu?

Seberapa besar kemampuanmu?

Perlukah dengan menghancurkan orang lain?

Bukankah lebih menyenangkan bila dapat bersama?

Baiklah aku mengakui kamu hebat,….lalu apa?

Oke, lah,..kamu benar,….selanjutnya apa?

Apakah kamu bahagia?

 

Yogyakarta, 1 Maret 2020

Retmono Adi

 

Para Pendaki lebih Mudah Memahami Perjalanan Hidup


pendiangan rumah pak Kadus Desa terakhir
kehangatan kayu terbakar api
persaudaraan setengah lingkaran
secangkir kopi kadang dicampur jahe
menunggu tengah malam waktu keberangkatan
agar tepat bertemu fajar saat di puncak Lanjutkan membaca “Para Pendaki lebih Mudah Memahami Perjalanan Hidup”

…dan tetap tersisa tanya


…dan tersisa tanya lagi,……
Mengapa ???
….tetap tak ada jawaban yang memuaskanmu
Kau marah,….
…merusak apa saja yang tidak seperti inginmu
…..
…….
…..
dinding tebal….
….teriakan putus asa

…dan tetap tersisa tanya
Apakah kebodohan?
…bebal
….mungkin….
terlalu pintar….
…merasa wakil Tuhan
…dimanakah Dia?
…jauh di sana?
…atau
…terpendam dalam di dasar hatimu?

….beku

Yogyakarta, 4 November 2019

Di Mana Lagi Akan Kau Sembunyikan Puisi ?


Beberapa hari ini aku dapatkan flyer-flyer pengumunan di media sosial, tentang pembacaan puisi yang akan dilakukan di sudut sudut kotaku. Rupanya kalian sudah tak mampu lagi menyimpan gelisahmu itu. Gelisah yang kau balut dalam diam, dalam senyum palsu, dalam foto-foto selfie indah dan tampak bahagia.

Gelisah itu adalah pemberontakan dari Nurani yang terjebak dalam Super Egomu. Super Egomu yang kau bangun sendiri sebagai perlindungan untuk ketakutanmu, menjadi Benteng cantik munafik, topeng tebal berlapis bebal.

Gelisah menyesah mendesah mereka-reka mewujud kata. Kata-kata itu sudah mulai menyeruak di tenggorokan untuk segera kau suarakan. Selama ini hanya kau tulis di buku atau secarik kertas dan kau simpan saja dalam laci meja kerjamu. Bahkan ada juga yang hanya kau simpan dalam darahmu, hingga mengental melambat alirannya menuju jantung dan otakmu.

Kata-kata adalah puisi, berasal dari nurani. Telah tiba saatnya mewarnai dunia. Mari sambut dengan suka cita, meski duka dan lara masih arus utama hingga tinggallah Perjuangan untuk pelaksanaannya.

 ….. dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata ~ WS Rendra

 

Yogyakarta, 28 Agustus 2019

Retmono Adi

 

MENYADARI, Puisi Hasil Refleksi setelah Belajar Psikodrama di UNS Surakarta


MENYADARI

Terkadang hidup hanya rutinitas
Melaksanakan kewajiban dan mendapatkan hak
Berdinamika dengan kesibukan
Namun lupa untuk menyadari bahwa
Inti dari semua itu adalah
Aku, diriku sendiri

Aku mulai menyadari
Bahwa hidupku ada di tanganku
Terlepas dari takdir Sang Ilahi
Aku menyadari bahwa aku mampu
Untuk menjadi lebih baik dari sekarang
Menjadi diriku yang pemaaf
Dan tak sungkan untuk meminta maaf

Menyadari bahwa menerima realita kehidupan
Walau berbeda dengan harapan adalah pembelajaran
Pembelajaran untuk bersyukur dan ikhlas menerima
Mulai menyadari kembali bahwa
Mempercayai orang lain itu okay
Semua baik-baik saja

Dan aku memahami bahwa
Bertahan dalam suatu proses
Serta menghargai proses itu hingga akhir
Akan membawa hal baik dalam diri

Colomadu, 16 Juni 2019

Anis Syarifah Madyarti
Terimakasih @psikodrama_id