Psikodrama di Jakarta, Prosesnya Diungkapkan Lewat Rasa


Prosesnya diungkapkan lewat Rasa

Dalam upaya memastikan keyakinan dan mencari dukungan
Diri menyerahkan seutuhnya,tanpa melupakan sang kuasa
Jika jodoh ada atas kuasa-Nya
Maka diri ini harus memastikan Kekuasaan-Nya itu

Diri bersepakat bahwa tidak ada yang benar atau yang salah
Tapi diri dengan kepalanya tetap saja mencari pembenaran dan menyalahkan.
Diri dengan begitu percaya mengatakan bahwa diri itu unik dan berbeda
Tapi diri masih saja secara yakin bersikap seperti norma kebanyakan diri yang lain

Berterima bukan tanda lemah
Mencoba berserah, bukannya berarti pasrah
Dari leher ke kepala perlu rehat
Biarkan dada yang menerima karena rasa seharusnya tak pernah dusta

Bertatap saat itu menjadi sulit, apalagi diharuskan untuk berucap
Sebuah kata terimakasih anehnya terasa begitu sangat dalam
Kala airmata dianggap sebagai makna kedalaman
Semua diri merelakannya, tak khawatir habis, malah bersyukur bisa lebih lega

Ketika sang Protagonis diminta mengeksplorasi memori
Dibuatnya sang memori keluar dari diri agar setiap orang bisa melihat
Menjadi adalah cara efektif untuk lebih mengerti dan paham
Tapi jangan lupa kembali, lebih untuk menjaga agar tidak tersesat

Kalau tikar dan termos saja berterima atas kelebihannya,
Mengapa harus dibahas lagi kekurangan-kekurangannya??
Manusia adalah makhluk kompleks yang berakal.
Tapi juga berperasaan, camkan itu.

Jika jujur masih disanksikan hadir dari orang lain
Maka, kenapa tidak berbicara pada diri sendiri saja?
Naif jika pada diri sendiri saja masih tidak jujur.
Setidaknya diri akan tau jika diri membohongi dirinya sendiri.

Melingkar sebagai sebuah tanda akan usai
Saling menatap berupaya mendapat rasa yang sama
Saling menggenggam agar berusaha satu frekuensi
Diri-diri akhirnya menyepakati, rasa ini harus disebar

Mereka bukan lagi diri-diri yang datang tadi pagi
Ini bukan hanya belajar, tapi berobat juga tentu saja
Selamat.. Kalian memang benar-benar berjodoh.
Psikologi dan Drama dalam Psikodrama…. Terimakasih

28 April 2019
Di Laboratorium Psikologi AU

Faldhy Dwi Budiansyah

Puisi Cinta dalam Hubungan Dewasa


Cintamu
Apakah kau temukan utuh.
Atau sedang tumbuh,
Berupa lukisan indah.
Atau serpihan, yang sedang kau rangkai?
Menunggu menjadi sesuatu yang selesai indah.
Atau misteri yang terbengkelai kau tinggalkan.
Semampu apa, rasa diterjemahkan dalam satu rasa.
Apa yang bisa di lakukan,
Dua pribadi menjadi satu,
Apa harus dimatikan keindahan yang satu untuk yang lain.
Membangun dan meniadakan diri untuk memberi ruang yang lain.
Sering menyesakkan ,
Itukah cinta .
Saling lomba ?
Atau terhanyut dalam misteri rasanya.
Yang selalu diam tersembunyi
Yang tak pernah habis
Dalam sunyi.
Biarlah saja
Cinta cukup untuk cinta

Muntilan, 28 April 2019

AJP

Psikodrama “Sebuah Puisi” dari Bandung


Tertawa
Menangis
Terpancar di wajah
Terasa di hati

Kemampuan mendengarkan
Tidaklah berarti
Tanpa menatap
Tanpa berempati
Banyak bicara
Tanpa mengendalikan diri

Fokus Masalah
Bukanlah solusi
Fokus kenyamanan
Itulah yang dicari

Imeyratu, 2018

(Sebuah Puisi tercipta dari pengalaman ber-Psikodrama di Dispsiad Bandung, 24-25 Oktober 2018. Belajar Komunikasi Non Verbal, dan Empati sebagai dasar melakukan PFA.)

Di persimpangan


sekian tahun ini
aku hanya mengalir
mengikuti arus kehidupan
kadang naik, kadang turun, kadang berbelok tajam, kadang menghantam batu. tapi aku tetap mengalir

sekarang aku sudah tiba di persimpangan
kini tak bisa lagi kuberserah pada arus
aku harus memilih
ke cabang yang mana aku mau pergi melanjutkan petualanganku.

aku gamang…
arus ini kini diam
tak lagi mengarahkan, tak lagi mendorong
tidak juga dia menarik
pilihan ada padaku
aku yang punya daya
semua simpang sama indahnya
semua simpang sama menakutkannya

aku mau semua
tapi..
aku juga takut semua

MW

Lukaku Menjadi Lukamu (Puisi berdasar KDRT)


Anakku..
aku tahu kau luka,
lukamu mungkin parah
tapi aku ini sudah hancur..
duniaku pecah..
sekeping demi sekeping
kini..
tinggal dia lah satu satunya tempat berpijak
atau aku jatuh dalam jurang tak berujung
meski pijakan inipun rapuh, tajam, dan melukai
tapi..
hanya ini yang kupunya

aku tau kau sakit
dan aku terlebih sakit
aku jauh lebih sakit karena tak berdaya
karena tidak kuasa membela
karena ikut mencerca

oh Tuhan..
aku ibu seperti apa
kenapa tak kukorbankan nyawaku
demi melindungi harkatmu
malah aku diam membatu
melihat kau berjuang seorang diri
bukankah semua ibu akan begitu

aku terlalu takut
kehilangan demi kehilangan yang kualami
membuatku makin miris
tak mampu lagi kutanggung
jika harus merasakan pedihnya lagi

demi apapun
aku harus bertahan

Maafkan aku anakku
Maafkan jiwa rapuhku
Maafkan egoisku

walau mulai saat itu aku tak lagi mampu
tuk menutup mataku dalam tidur yang damai
bagaimana mungkin bisa damai
menyaksikanmu didera masalah
dan aku ikut menambah

kau pergi dengan kepala terangkat..
angkuh dan berani
aku bangga terlebih iri

kau gadis kecilku yang pemberani
sedang berjuang seorang diri
dalam dunia yang terlampau kejam untuk kita berdua.

aku tau kau kuat
dan aku bangga sekali padamu.
meski tak pernah kuucapkan…
tapi itulah yang kurasakan

kau bisa Nak
semangatmu menyala dalam tubuh kecilmu
sementara aku tinggal puing dan abu

pergilah…
kejarlah masa depanmu
pasti jauh lebih cemerlang

atau kebenaran
jika itu yang kau inginkan
meski nanti meluluh lantakkan
jika itu yang kau inginkan

 

MW

Sebuah Puisi berdasar Kasus Kekerasan Seksual dalam Keluarga


Jerit Tak Bersuara

Aku bagai layang kecil
Melayang…memandang jauh
melihat dunia tanpa cemas
karena ku punya tali pengikat
yang hubungkan aku dengan bumi
tempat cinta dan kasih hangatkan hati

Adamu buatku sempurna, walau dunia ini jauh dari sempurna

Hidup kita jauh dari sempurna
Hidup kita berkubang duka
tapi bersamamu aku bahagia
kau ibuku..
dikakimu ada surgaku..

tapi,

surga itu jugalah yang menendangku
orang yang lahir dari perutmu
orang yang kau peluk erat
Saat semua masalah jatuh dan menerpa kita

dukaku dalam,
perihku tak tertahan..
saat kau membuangku
demi laki laki yang sudah mengirimku ke neraka.

MW

Aku Ingin Menulis Kota yang Penuh Suara


Aku ingin menulis tentang kota yang penuh suara
Namun
Aku tahu…
Pikiranmu sudah penuh suara
Perasaanmu sdh penuh  suara
Lalu
Untuk apa aku menulis kota yang penuh suara?
Tidak…
Aku tidak ingin menulis sampah
Tidak
Aku tidak ingin menulis haram
Tidak
aku tidak ingin menulis najis
Tidak
Aku tidak ingin menulis dosa
Aku
Ingin
Mengajakmu
Menemukan
Suara
Nurani

Jkt 22.2.2016