Coretan Lama 04; Rentan, Mencoba Menguatkan Diri


Rentan

Mencoba menguatkan diri,

agar bertahan dalam gejolak yang tak pasti.

agar bertahan meskipun dalam sunyi.

Lalu berbisik pada diri sendiri.

Bahwa barangkali ada saat di mana diri ini

tidak lagi harus berekspektasi tinggi-tinggi.

Nyatanya

hati ini masih rentan

pada mimpi-mimpi

yang tak pasti.

 

 Kartasura, 27 Desember 2018

Qanifara

Kamu Belahan Jiwaku


Jumpa denganmu adalah suatu anugrah
Jauh darimu adalah sesuatu yang membuat ku resah

Suka cita bahagia tercipta
Selalu ada sapa diantara kita

Segala peristiwa kita lalui bersama
Suka ceria dijalani penuh makna

Semua membuat bahagia
Apapun wujud bentuknya

Selamanya kita bersama
Tak terhalang beban rasa
Semua menjadi hidup kita nyaman sentosa

Kartika Widia – 20210121

Coretan Lama 02; Arti Rumah adalah Tempat untuk Pulang Hati


Sejauh apa pun kau berkelana,

sekeras apa pun kau memperjuangkan hidup,

sesukses apa pun kau di masa depan,

pada akhirnya kau akan selalu mencari tempat untuk pulang.

Bukan sekadar tempat untuk mengistirahatkan raga

melainkan juga tempat di mana hatimu memutuskan untuk tinggal.

Barangkali ‘rumah’ adalah sebutan yang tepat bagi orang-orang yang dipilihkan Tuhan untukmu.

Mereka yang memeluk mesra hatimu dari jauh, menjagamu lewat doa.

Mereka yang selalu menyambut kepulanganmu dengan penuh suka cita.

Mereka yang tidak segan untuk membantumu bangkit saat kau terjatuh.

Mereka yang dapat membantumu membangkitkan rasa bahagia dalam jiwamu.

Mereka yang mengenalkanmu pada arti ketulusan.

Tidak harus banyak,

bila kau bisa menemukan beberapa atau hanya seseorang saja,

itu sudah lebih dari cukup.

 

Kartasura, 12 September 2016

Qanifara

Coretan Lama 01; Menjadi Tua


Mudah lelah tubuhku.

Sudah mulai putih helai rambutku.

Sayu dan kuyu tatapanku.

Ringkih hatiku.

Barangkali sudah tua jiwaku, melebihi usiaku yang sebenarnya.

Energiku kerap habis untuk memikirkan hal-hal remeh dan tak pasti.

Tempat berkelanaku adalah luka, tapi aku banyak belajar dari sana.

 

Kartosura, 30 Juli 2017

Qanifara

Puisi Hari Ibu, Aku tetap Anakmu


Deru debu memapar hidupku

aku tak lagi mungil lucu

lebih repotkanmu dengan masalah hidupku

tak kupungkiri aku tetap butuhkan bimbingan kasih sayangmu

Kerut yang terukir di wajahmu,

tak kurangi cantikmu di mataku

Cerita cerita masa kecilku,

pengingat kala kutersesat

pondasi kala kufrustasi

memperingati hari Ibu ini

aku tulis puisi

ungkapan syukurku

kau lahirkanku, membuatku ada

Doamu selalu harapku

Aku tetap anakmu

dulu, sekarang dan nanti

 

Yogyakarta, 22 Desember 2020

Harusnya Malam Ini Berkumpul Bersama Keluarga


Duduk terpaku sendiri di depan Laptop
….teman setia selama Corona

Suara Takbir bersautan dari seluruh penjuru angin
membuka kenangan,
keliling kampung, memukul kentongan
Cahaya obor penerang jalan
sesekali berhenti menyalakan petasan,
suara letusan disusul teriak kegirangan

tak sampai pukul 9 sudah pulang ke rumah
….tersedia makanan berlimpah
…..kue kue kering, hingga sayur berkuah
..baju, sepatu baru ditata rapi
….dielus diraba dibawa mimpi

malam Lebaran selalu dinantikan
sekali tidak bermain di bawah rembulan
suka citanya tak terperikan
berkumpul bersama handai taulan

Tahun ini 2020
pandemi melanda negeri bahkan seluruh bumi
wajib karantina mandiri, jaga jarak untuk peduli
orang tua di kampung tak boleh dikunjungi
demi selamat tak tertulari

jadi kali ini
….sendiri di tanah orang bergelut memori

doa dan puji pada Illahi
….tetap berbunyi meski lirih di hati.

menyeruak sesak mengoyak dada,
…terangkum kata kata

Harusnya malam ini berkumpul bersama keluarga.

Yogyakarta, 23 Mei 2020

Retmono Adi

Kutampar Dirimu dengan Jurus Andalanmu


Kau masih saja berkata-kata, sementara aku sudah merasakan deritanya.
Hidup tak cukup dengan kata kata, itu juga berkali kali ada dalam ucapanmu.
Kontradiksinya adalah kau menghidupi itu dalam bicaramu.

kata kata kata kata kata kata kata kata kata kata kata kata
kata kata kata kata kata kata kata kata
kata kata kata kata kata kata kata

mana makna?
bahkan rasa kau reduksi dalam kata!

dunia sedang merana, atau sedang suka cita…?
itu kau bungkus dalam kata kata

apakah kau hidup dari makan kata kata, sementara banyak orang sudah beralih ke angka?
harusnya kau mulai menyentuh fakta, atau data yang berserak di pelataran realita.

ach,..paling juga akhirnya kaujadikan kata kata.

maka,
Kutampar dirimu dengan jurus andalanmu,
kata kata.

Yogyakarta, 20 Mei 2020

Gerimis dan Kenangan, Aku Tetap Bertahan


Tiba tiba saja terbersit kenangan,

Gerimis di luar kali ini  melalui semilir angin membelai kulitku. Dingin menjalar keseluruh tubuhku, merasuk dalam mengusik syaraf syarat ingatanku, menguak memori emosiku. Muncul kenangan peristiwa peristiwa pada saat gerimis tiba.

Kucoba susun keping keping kenangan itu, mulai dari rasa yang mulai menyerbu. Waktu besliweran tak menentu. Aku tak mampu menangkap wujud baku.

Rintik gemerintik ibarat musik, titik titik air berisik bersautan, saat menerpa genting tanah rumah kontrakkan. Tak hendak kuganti dengan orkestra dari youtube di laptop. Biarlah rasa ini tetap menyelimuti, meski kenangan tak tergambar jelas dalam ingatanku.

Aku coba bertahan, memegang rasa, meski tak sanggup menggambar peristiwanya. Kudedikasikan pada realita, yang sering aku angap ilusi semata.

ya,…pasti gerimis akan reda, atau malah mungkin tanda badai akan melanda ?

Gerimis dan kenangan, aku tetap bertahan.

 

Yogyakarta, 20 Mei 2020

…….saat gerimis tak rela didahului senja.