Ide Menulis Muncul dalam Perjalanan #Tips Menulis


Awalnya diniatkan untuk mengetahui bagaimana prosedurnya dalam mendapatkan Kartu Prakerja. Aku langsung saja mendaftar dan mengikuti arahan yang ada. Perlu fokus dan konsisten terus maju, akhirnya aku lolos mendapatkan Kartu Prakerja. 

Aku mendaftar pelatihan yang memang aku butuhkan, yaitu kelas menulis kreatif non fiksi. Aku ingin meningkatkan kemampuanku menulis untuk meningkatkan penyebaran Psikodrama dan menawarkan kegiatan pelatihannya. Lanjutkan membaca “Ide Menulis Muncul dalam Perjalanan #Tips Menulis”

Pengalaman Mendalami Peran dalam Psikodrama #TerapiMenulis


Namanya Prita. Tidak ada nama belakang. Seorang perempuan. Saat menginjak usia ke sepuluh, ia mulai hidup sebatang kara. Sejak kecil ia tidak tahu siapa ayah kandungnya bahkan hingga dewasa. Sebelum ibunya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, Prita kecil sering mengajak ibunya bicara di kamar dalam sebuah kos-kosan sederhana, tapi hanya sedikit respon yang kerap diterimanya. Tidak ada yang bisa diajaknya bicara selain tetangganya. Seorang ibu-ibu paruh baya yang tinggal bersama dengan cucunya di kamar sebelah, orang pertama yang mengajarinya baca tulis dan naik sepeda. Orang pertama yang menumbuhkan kecintaannya pada buku tepat sebelum Prita tinggal di panti asuhan. Lanjutkan membaca “Pengalaman Mendalami Peran dalam Psikodrama #TerapiMenulis”

WAKTU TERBUANG, WAKTU TERBILANG #Goresanku 146


Hari demi hari berlalu, hampir tidak ada diantara kita yg bisa mengklaim kelebihan waktu. Kita semua terburu-buru di ruang kelas, tempat bermain atau di meja makan keluarga. Bahkan bagi anak sekalipun, hilang kemewahan yg kita rasakan dulu … diajak berbincang dari hati ke hati, dan sekarang  harus dibiarkan melamun menabung mimpi. Lanjutkan membaca “WAKTU TERBUANG, WAKTU TERBILANG #Goresanku 146”

Pada Semesta Aku Bicara, Refleksi setelah Psikodrama Online


Pada semesta aku bicara. Pada ruang-ruang sepi, terperangkap dalam ketidakberdayaan diri. Sebetulnya banyak yang bisa dinikmati. Bila saja kita semua diberi kesempatan untuk memahami.

“Akhiri dulu saja pertanyaanmu. Kalau kau terus banyak bertanya, nggak akan ada habisnya. Nggak setiap pertanyaan harus terjawab sekarang,” ujar Pak Didik ditelepon saat sesi belajar psikodrama seminggu yang lalu. Lanjutkan membaca “Pada Semesta Aku Bicara, Refleksi setelah Psikodrama Online”

Namanya juga Anak-anak, Demonstrasi di Jalanan, UU Cipta Kerja


Demonstrasi mengenai UU Cipta Kerja, berlangsung dengan kericuhan dan pengrusakan fasilitas umum. Sebenarnya kondisi tersebut dapat dengan mudah diprediksi bahwa hal itu akan terjadi, dengan melihat beberapa hal yang memiliki potensi akan terjadinya kericuhan tersebut.

Ada dua teori Psikologi yang dapat menjelaskan dinamikanya.

Teori pertama mengambil dari Teori Psikologi Perkembangan, khususnya Masa Remaja, yang menyatakan, selain pertumbuhan fisik, remaja juga mengalami perkembangan kognitif dan emosi. Seorang yang masuk dalam masa remaja akan mulai berpikir logis dan abstrak, bertindak agresif seperti cenderung akan melawan segala aturan yang diberikan pada dirinya. (5 Masalah Perilaku Remaja dan Cara Mengatasinya )

Karena perubahan-perubahan inilah remaja akan bersikap berbeda kepada orangtuanya. Remaja akan cenderung berprilaku negatif terhadap orangtuanya, misalnya melanggar semua aturan yang telah ditetapkan. Orang tua adalah figur otoritas di rumah, ketika demontrasi di ruang publik  (demonstrasi) figur otoritas yang ditentang adalah pemerintah dan saat di jalanan figur itu adalah polisi sebagai representasinya,  maka para demontran yang anak remaja akan menunjukkan perilaku negatifnya, dengan melanggar aturan yang ada. Dalam peristiwa demo yang lalu anak anak itu melakukan pengrusakan fasilitas umum serta melawan polisi.

Teori kedua adalah Teori Psikologi Kelompok, Penyebab Perilaku Kerumunan oleh Le Bon, menurutnya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kerumunan yaitu:
1. Anonimitas. Karena faktor kebersamaan dengan berkumpulnya individu-individu yang semula dapat mengendalikan diri, merasa dapat kekuatan luar biasa yang mendorongnya untuk tunduk pada dorongan naluri dan terlebur dalam kerumunan sehingga perasaan menyatu dan tidak dikenal mampu melakukan hal hal yang tidak bertanggung jawab. Semakin tinggi kadar anonimitas suatu kerumunan, semakin besar pula kemungkinannya untuk menimbulkan tindakan ekstrim karena anonimitas mengikis rasa individualitas para anggota kerumunan itu.

2. Contagion (penularan). Penularan Sosial (social contagion), adalah penyebaran suasana hati, perasaan atau suatu sikap, yang tidak rasional, tanpa disadari dan secara relatif berlangsung cepat. Penularan ini oleh Le Bon dapat dianggap suatu gejala hipnotis. Individu yang telah tertular oleh perasaan dan tindakan orang lain sudah tidak memikirkan kepentingan individu melainkan kepentingan bersama.

3.Konvergensi (keterpaduan). Orang-orang yang akan menonton festival musik Pop, dengan orang-orang yang menonton festival musik Rock akan memiliki ciri-ciri yang berbeda. Orang-orang yang menonton festival musik rock cenderung akan lebih mudah menimbulkan keributan dibanding dengan orang-orang yang menonton festival musik Pop. Orang-orang yang menonton festival music Rock relatif usianya sama-sama muda, mayoritas laki-laki dan tidak memiliki ikatan kuat terhadap nilai-nilai dan lingkungan setempat, berbeda dengan Orang-orang yang menonton festival music Pop.

4. Suggestibility (mudahnya dipengaruhi). Kerumunan biasanya tidak berstruktur, tidak dikenal adanya pemimpin yang mapan atau pola perilaku yang dapat dipanuti oleh para anggota kerumunan itu sehingga dalam suasana seperti itu, orang berperilaku tidak kritis dan menerima saran begitu saja, terutama jika saran itu meyakinkan dan bersifat otoritatif. Akan tetapi siapa induk atau yang memulai sulit ditentukan . (Teori Kerumunan Le Bon )

Kombinasi dari 2 teori tersebut sudah cukup menjelaskan potensi kerusuhan bakal terjadi. Remaja (rentang usia antara 13 – 19 tahun) berada dalam kerumunan. Dari dalam dirinya sudah ada keinginan menentang otoritas, ditempatkan dalam situasi anonimous. Mereka lebih berani melakukan tindakan ekstrim. Disusul kemudian ketika ada salah satu yang mulai melakukan tindakan pengrusakan atau agresi, maka jadi pemicu  mempengaruhi yang lainnya. Selain karena mereka juga tidak lagi mampu berpikir kritis, sehingga penularannya makin cepat, skalanya makin meluas dan membesar. 

Meskipun sangat mengkuatirkan mengapa hal tersebut sepertinya dibiarkan terjadi. Namun semuanya telah terkendali dan dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak.

Ada pembelajaran yang menarik yang  kudapatkan di Twitter. Bagaimana polisi melakukan penangkapan para pelaku demonstrasi yang kebanyakan masih berusia remaja itu. Polisi menahan mereka semalaman untuk mendata mereka. Keesokan harinya dipanggilkan orang tua mereka. Anak anak itu diminta minta maaf dan dilanjutkan dengan memeluk orang tuanya. Sebuah treatment Psikologis yang bagus, daripada hukuman fisik semata dan diceramahi tentang moral.  (Terjadi di Polsek Pulogadung )

Semoga untuk selanjutnya peristiwa tersebut tidak terulang lagi, dan aparat makin mampu dalam menangani permasalahan Kenakalan Remaja ini dengan lebih bijak. Aku tidak ingin terseret dalam permasalahan politik. Aku tetap fokus pada permasalahan Psikologinya terutama psikologi para Remaja. Bagaimana pun mereka masih dalam masa pertumbuhan dan mereka adalah generasi penerus bangsa.

Yogyakarta, 16 Oktober 2020

Retmono Adi

SENI TAK BOLEH SEPI #Goresanku 145


Setiap berbicara tentang seni dan pendidikan kita sering terperangkap dalam salah kaprah, bahwa pendidikan saat ini terkait dengan ketrampilan semata dan seni sekedar pelajaran tambahan yang tidak ada masalah bila ditinggalkan. Padahal seni adalah pendekatan pendidikan yg sangat berarti.

Pendidikan seni tidak terbatas pada minat dan bakat yg beruntung dimiliki sebagian anak sejak lahir. Tetapi diperlukan semua anak karena mendasari kemampuan BEREMPATI dan MEMECAHKAN MASALAH bagi semua profesi.
Untuk kita, mengapresiasi seni atau berkarya lewat seni adalah bagian penting bagi kehidupan manusia. Begitu banyak kesempatan tersedia untuk terlibat dalam kegiatan seni yg ada di sekitar kita.

Saat ini seni hampir tidak ada hambatan untuk berkreasi, seni bisa digabungkan dengan menggunakan teknologi.
Oleh sebab itu, jangan biarkan anak-anak yang mempunyai potensi untuk berkontribusi dan mencintai seni menjadi anak-anak yg kesepian di halaman rumah ataupun sekolah sendiri.

Ditulis kembali oleh C. Tyas K

Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Tiga)


Aku termenung cukup lama sambil membawa secangkir teh hijauku yang sudah kosong. Aku ndomblong sambil mengamati kucing kakakku yang gemuk sedang tidur pulas tidak jauh dariku. Aku seperti orang yang sedang syok entah kenapa aku tidak tahu. Jantungku berdebar agak kencang seperti saat aku presentasi di depan dosen. Aku belum terbiasa membicarakan kehidupan pribadiku dengan seseorang yang usianya jauh di atasku yang masih belum begitu kukenal dengan baik. Lanjutkan membaca “Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Tiga)”

Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Dua)


Bukankah makna cinta itu luas dan dalam? Tidakkah kau ingat, wahai diriku. Kau sudah mengatakannya di dalam video yang kau buat sendiri. Kau sampaikan disitu bahwa cinta bisa berasal dari siapa saja. Bukankah juga kau sampaikan bahwa cinta adalah tentang belajar mengikhlaskan? Lanjutkan membaca “Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Dua)”

Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Satu)


“Ok. Silahkan mulai ceritakan tentang dirimu. Pilih saja mana yang menurutmu penting untuk aku ketahui sehingga aku dapat memahami hubunganmu dengan psikodrama,” kata Pak Didik.

Membuka diri merupakan langkah awal yang perlu kulakukan di hari pertamaku belajar psikodrama. Kuutarakan saja siapa diriku dan bagaimana latar belakang kehidupanku kepada Pak Didik melalui telepon. Awalnya, rasanya agak canggung.

Aku pribadi memiliki mistrust issue ketika berbicara dengan orang yang usianya jauh di atasku. Aku cenderung skeptis karena pengalaman komunikasiku dengan orang tuaku sendiri tidak cukup baik, seringnya berakhir dengan kesalahpahaman.

Saat aku mulai bercerita, sekelebat munculah perasaan-perasaan di masa lalu seperti diabaikan, disepelekan, disalahkan, dianggap membosankan, tidak menarik dan tidak penting, serta takut bila pada akhirnya apa yang kuceritakan justru mengakibatkan kesalahpahaman tak berujung. Sebab sepanjang aku bercerita, Pak Didik lebih banyak diam. Mungkin karena beliau sedang mencoba mendengarkan, agar dapat memahami akar permasalahanku.

Rasanya juga seperti berbicara dengan orang asing. Meski begitu, aku tetap mencoba percaya. Kepercayaan yang muncul didasari oleh beberapa pertimbangan dan perenungan yang mungkin tidak bisa kuceritakan kepada siapa-siapa bahkan kepada Pak Didik.

Meskipun masih ada sisi-sisi lain dari diriku yang tidak kusampaikan.

Selesai aku bercerita, Pak Didik langsung menuju ke inti. “Jadi permasalahanmu apa?”

Aku menjawab dengan berbelit-belit.

Pak Didik bertanya lagi, “Tadi pertanyaanku apa?”

Aku seperti sedang disidang dosen. Aku bingung.

Pak Didik berkata, “Coba sebutkan satu teori psikologi yang sudah kamu pelajari.”

Aku belum makan siang. Aku gugup. Aku sedang tidak bisa mengingat teori-teori apapun karena rasanya aku baru saja menenggelamkan diri dalam palung kerapuhanku sendiri tapi aku diminta untuk kembali lagi ke daratan. Untungnya ada satu yang paling kuingat, teori kebutuhan Abraham Maslow. Permasalahanku berada di kebutuhan kasih sayang. Kebutuhan yang menurutku masih belum terpenuhi secara maksimal.

Kalau aku masih menuntut orang lain untuk memberikan kasih sayang padaku itu tandanya masih menjadi masalah, tapi kalau aku bisa memberikannya kepada orang lain itu tandanya sudah menjadi value dalam diri. Begitu penjelasan Pak Didik.

“Maukah kau menjadi aktor protagonis yang mencoba memberikan kasih sayangmu kepada orang lain? Ataukah menjadi aktor antagonis yang ingin terus menuntut orang lain untuk memenuhi kebutuhanmu?” tanya Pak Didik.

“Aktor protagonis lah. Capek dan tidak akan ada habisnya kalau hanya berharap kepada orang lain,” pikirku. Tapi apakah aku bisa? Lalu bagaimana caranya jika aku saja tidak pernah merasa betul-betul dicintai oleh siapa-siapa. Bagaimana bisa jika kehadiranku saja sering tidak diharapkan orang lain bahkan mungkin oleh orang tuaku sendiri?

Apakah betul aku tidak pernah dicintai? Ataukah selama ini ada cinta-cinta yang telah kuperoleh tapi tidak kusadari? Tapi mengapa aku sering merasa tidak dicintai?

Bersambung…

Kartasura, 09 Oktober 2020

Qanifara

Psikodrama? Apakah ini Bagian dari Takdirku? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 04


Aku baru tahu jika dalam psikodrama, setiap pose memiliki maknanya tersendiri. Pertanyaan seperti: Apakah aku sudah nyaman menjadi diriku sendiri? Apakah aku ingin terlihat baik-baik saja dan terpaku melakukan hal-hal yang dianggap benar agar tidak dianggap salah? Apakah aku ada masalah di masa lalu? Apakah aku ada ketakutan di masa depan? Apakah aku ada kesulitan dalam menjalin relasi hubungan dengan seseorang? Itu semua bisa terbaca dan terjawab hanya dengan berpose menjadi pohon.

Psikodrama membantu individu mencari tahu tentang need/value yang ada dalam diri tiap individu. Saat webinar psikodrama pertama, aku masih belum dapat memahami need-ku. Berdasarkan pengalaman yang kuceritakan, kata Pak Didik, need-ku berkaitan dengan rasa percaya. Memang betul, aku memiliki mistrust issue kepada orang-orang yang usianya jauh di atasku. Tapi setelah sesi ini selesai aku kembali berpikir ulang. Apakah hanya itu? Kok aku ragu.

Psikodrama mengajak individu untuk bercerita secara spontan tentang peristiwa yang pernah dialami, biasanya dalam setting kelompok. Nah, di sinilah letak kesulitanku. Kebetulan aku tipe orang yang cukup grogi dan bingung kalau harus berbicara secara spontan di depan orang banyak yang belum kukenal, meskipun itu dalam webinar. Terlalu banyak mata, membuatku kurang nyaman.

Selesai webinar pertama, aku baru bisa menyadari bahwa sepertinya ada beberapa need-ku yang belum terpenuhi. Bukan hanya tentang rasa percaya. Ada need lain, tapi aku belum dapat memahami pasti apa itu.

Bagian yang paling kusenangi dalam perkenalanku dengan psikodrama di hari itu adalah individu diajak untuk berani jujur kepada diri sendiri dengan tetap menjadi dirinya sendiri. Lalu belajar berperan sebagai aktor kehidupan yang kelak dapat menebar manfaat untuk orang lain. Seperti yang pernah kutulis, bisa menjadi diri sendiri dan menjadi orang yang bermanfaat adalah salah satu kebahagiaan yang kuingini. Satu hal yang semakin sangat kuyakini di sini adalah setiap manusia mungkin tidak tahu kelak akan dipertemukan dan didekatkan dengan siapa saja di hidupnya, tapi setiap manusia pasti akan dipertemukan dan didekatkan dengan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Apapun tujuannya.

Aku masih penasaran dengan psikodrama. Aku kira aku tidak akan menemukan event itu lagi dalam waktu terdekat, tapi nyatanya malah kutemukan info webinar psikodrama berturut-turut sampai keempat kalinya. Justru karena corona, psikodrama bisa dipelajari melalui webinar sambil duduk santai di rumah. Kalau tidak ada corona, belum tentu aku bisa bepergian mengikuti workshop psikodrama dari satu kota ke kota lainnya. Jadi sampai di sini, apakah belajar psikodrama adalah bagian dari takdirku?

Pun kuikuti lagi webinar psikodrama kedua, ketiga, dan keempat. Hal menarik dalam webinar kedua adalah ketika peserta diminta membayangkan seseorang di masa lalu. Kemudian mencoba memaafkannya dengan mengatakannya secara langsung di depan peserta lainnya. Kali ini aku bisa melakukannya karena sambil memejamkan mata. Setidaknya dengan memejamkan mata, aku bisa mengurangi rasa grogiku.

Sebelum tidur aku sering rebahan sambil berimajinasi tentang cerita fiksi yang kukarang sendiri. Seperti misalnya, membayangkan sepasang kekasih yang saling mencintai tapi dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Di situ aku berperan sebagai tokoh perempuan dan laki-laki, berdialog sendirian secara spontan. Kukarang sendiri ucapan-ucapan perpisahan yang menyesakkan dada. Kubayangkan mereka berdua berdiri di pinggir jalan, saling berhadapan sambil menangis, keduanya sama-sama tak mau melepas pelukan terakhir itu. Kemudian sambil membayangkannya, aku benar-benar menangis sendirian di kamar. Keesokan harinya aku merasa sedih sepanjang hari.

Pernah juga aku berimajinasi menjadi seorang perempuan yang mandiri, tangguh, semangat bekerja, dan tidak begitu peduli tentang urusan percintaan. Keesokan harinya aku merasa lebih bersemangat dalam melakukan berbagai kegiatan daripada hari-hari biasanya. Aku juga pernah berimajinasi mempunyai seorang laki-laki yang sayang padaku. Selalu ada bersamaku saat senang dan susah. Aku menjadi salah satu alasannya bersyukur setiap hari, karena sosok yang selama ini dia butuhkan, ada dalam diriku. Kami bukan pasangan sempurna, tapi kami bahagia. Seharian aku merasa seperti dicintai, walaupun setelahnya aku kembali merasa sedih karena itu hanya ada dalam imajinasi dan belum pernah benar-benar terjadi.

Aku tidak tahu bagaimana imaginary bisa berpengaruh padaku, tapi itu benar-benar terjadi padaku walaupun efeknya tidak permanen. Apakah ini yang dinamai sugesti?

Rasanya lega setelah memaafkan seseorang yang tidak menginginkanku di masa lalu. Lagi pula itu bukan kesalahannya. Aku bersyukur tidak dipilih. Kalaupun dipilih, jika kupikir-pikir lagi, kami belum tentu bahagia bila hidup bersama. Perlahan aku makin sadar bahwa barangkali sejatinya aku tidak bisa membuat orang lain jatuh cinta padaku. Aku hanya bisa mengupayakan yang terbaik. Tentang bagaimana perasaan orang lain kepadaku itu sudah di luar kuasaku. Sudah menjadi kuasa Tuhan. Orang pertama yang perlu kubuat jatuh cinta padaku ya adalah diriku sendiri.

Saat mengikuti webinar psikodrama ketiga, didepan orang banyak, aku menganggap diriku sudah resilient, tapi kemudian aku bertanya lagi dalam hati apakah aku benar-benar sudah resilient? Dalam beberapa hal mungkin iya. Namun jika dihadapkan pada masalah tertentu, aku merasa belum setangguh itu. Ibarat gelas kaca yang pecah tapi hanya dibalut isolasi plastik biasa yang tidak lengket. Kurang kuat balutannya. Senggol sithik langsung ambyar. Ibarat ingin melumurinya dengan lem emas seperti kisah yang diceritakan Pak Didik di akhir sesi, tapi aku belum mampu membelinya dan belum tau bisa membelinya di mana. Ya, mungkin aku perlu mencari sumber kekuatan lain untuk menambalnya atau merekatkannya. Supaya aku lebih tangguh. Meskipun dalam sesi ini aku jadi makin sadar kalau aku tidak pernah rapuh, aku tidak akan bertumbuh.

Setelah melalui perenungan yang cukup panjang, kuputuskan untuk belajar lebih lanjut tentang psikodrama dengan Pak Didik secara langsung. Dari semua webinar yang pernah aku ikuti, sesi inilah yang menurutku paling efektif. Paling mengena untukku. Tidak banyak mata. Hanya aku dan Pak Didik saja lewat suara telepon, aku jadi lebih leluasa dan spontan saat berbicara daripada saat di webinar. Pada akhirnya, sesi ini mungkin lebih tepat jika disebut sebagai sesi konseling.

Aku lebih banyak curhat di sini. Belajar di webinar membantuku memahami konsep dasar psikodrama, rasanya seperti berada di pinggiran kolam. Mengamati orang yang sedang berenang, lalu aku banyak kecipratan airnya. Sedangkan dalam sesi ini, aku ditenggelamkan cukup dalam. Aku megap-megap. Tapi di sini aku dituntun menemukan value yang ada dalam diriku. Cukup emosional dan mengaduk-aduk perasaan. Padahal itu hanya lewat telepon. Mungkin kalau melakukannya dengan bertemu langsung, aku sudah nggeblak kali ya.

Aku dikasih PR oleh Pak Didik untuk menuliskan pengalamanku pada sesi ini, sebagai bagian dari terapi psikodrama. Sudah lama aku tidak menulis. Baru kali ini seumur-umur, aku menulis sambil menangis.

Awalnya aku tidak yakin kalau aku bisa menuliskan apa yang kualami, tapi ternyata tulisan pertamaku bisa kuselesaikan menjadi sebanyak empat halaman. Sungguh ajaib. Intinya, lewat psikodrama aku menjadi lebih mudah membahasakan apa yang aku rasakan dan pikirkan. Aku jadi teringat lirik dari lagu dari James Morrison…

When my head is strong but my heart is weak
I’m full of arrogance and uncertainty
But I can find the words
You teach my heart to speak

Psychodrama teaches my heart to speak…

Dari situ aku menyadari bahwa psikodrama dapat membantu individu membebaskan pikiran dan perasaannya. Kemudian membantu mengekspresikannya dalam bentuk tindakan. Psikodrama menurutku adalah teknik psikoterapi yang kaya akan rasa karena sangat lekat dengan unsur drama. Di sini, individu diajak berkelana menjelajahi tiap-tiap emosi melalui berbagai pengalaman yang pernah terjadi di masa lalu. Serta diajak belajar merangkai harapan baik di masa depan.

Akhir-akhir ini aku juga merasa lebih gampang tersentuh dari biasanya. Terutama sejak aku belajar psikodrama secara langsung dengan Pak Didik lewat telepon. Aku merasa lebih jernih dalam memandang suatu hal. Aku menjadi lebih mudah melihat kebaikan-kebaikan orang lain dari sudut pandang yang berbeda dari biasanya.

Biasanya aku cenderung lebih dingin dalam menanggapi dan menyikapi suatu hal. Namun setelah aku menyadari value kasih sayang ada dalam diriku, aku menjadi lebih sensitif terhadap apa yang terjadi padaku dan orang lain. Rasanya aku ingin berbuat baik kepada siapa saja, sebagai wujud kasih sayangku yang bisa kuberikan kepada orang lain tanpa menuntut balasan. Ini sejujurnya adalah bagian tersulit. Sering aku masih menuntut tapi aku tetap mencoba belajar untuk berhenti menuntut. Sambil kemudian berpikir lagi, seperti yang pernah dikatakan Pak Didik, tentang cinta dari sumber segala sumber.

Tapi ada satu hal yang belum kuketahui pasti, apakah efek-efek baik ini akan terus melekat di diriku khususnya ketika aku dihadapkan pada situasi sulit atau ketika aku kembali berada di titik nol lagi? Ini baru sesi konseling pertama. Belum tahu bagaimana yang kedua, ketiga, dan seterusnya…

Sampai pada webinar psikodrama keempat, ada beberapa point penting yang mungkin bisa kugaris bawahi. Setiap orang memiliki waktu dan prosesnya masing-masing dalam mengenali dirinya sendiri, termasuk dalam menemukan value yang ada dalam dirinya. Menurutku, psikodrama sangat cocok bagi orang-orang yang telah siap membuka diri, khususnya tentang kerapuhan yang ada dalam diri mereka. Psikodrama membantu individu belajar membuka pintu-pintu kesadaran. Sekaligus membuka pintu kesempatan bagi individu untuk bertumbuh menjadi aktor utama yang lebih baik dalam panggung drama kehidupannya sendiri. Psikodrama adalah tentang kejujuran, belajar berani jujur kepada diri sendiri di tengah-tengah panggung drama kehidupan yang serba tak pasti.

Barangkali salah satu tujuan akhir dari psikodrama itu sendiri adalah tentang keikhlasan, belajar melakukan kebaikan tanpa menuntut balasan dari orang lain. Kalau bagi orang sepertiku, psikodrama juga tentang melepaskan, belajar melepaskan beban-beban perasaan dan pikiran. Serta juga belajar melepaskan harapan-harapan tentang hal-hal yang sejatinya memang tidak ditakdirkan untuk berkesempatan…

“To live in this world you must be able to do three things: to love what is mortal; to hold it against your bones knowing your life depends on it; and, when the time comes to let it go, to let it go.” Mary Oliver.

Kartasura, 01 Oktober 2020

Qanifara