Coretan Lama 26; Pengakuan di Bulan Suci


Ya Tuhanku

Yang Maha Baik,

anugerahilah aku cinta

yang menyehatkan bagi tubuh dan jiwaku.

Jauhkan aku

dari perasaan-perasaan

yang menyesatkan.

Lindungi aku

dari hal-hal

yang merugikan.

Aku sudah terlalu banyak berbuat salah.

Tak jarang pula melampaui batas

yang parah.

Jadikanlah aku

seorang manusia

yang peka pada setiap tanda,

agar tak lagi salah berprasangka.

Dariku,

manusia

yang malah banyak mengotori diri

di bulan suci.

 

Kartasura, 2 Juni 2019

Qanifara

6 Langkah Mengolah Luka Inner Child Menuju Kesembuhan


Ada 6 langkah untuk membantu menyembuhkan inner child kita yang terluka. Menurut John Bradshaw, penulis buku Home Coming: Reclaiming and Championing Your Inner Child, proses ini melibatkan enam langkah:

1. Keyakinan, bahwa apa yang terjadi pastilah memiliki hikmah dan sesuatu yang baik.
2. Validasi, perlu validasi ulang, pastikan yang terjadi dengan melihat dari berbagai sudut pandang.
3. Shock dan kemarahan, mulai menyadari perasaan marah, menemukan sesuatu yang baru, pemahaman baru yang selama ini ditekan atau diingkari, awalnya akan marah pada lingkungan luar dirinya, orang lain, namun selanjutnya akan mengarah pada diri sendiri.
4. Kesedihan, Ada muncul kesedihan, mengapa hal itu bisa terjadi, kesadaran bahwa marah pada diri sendiri tidak cukup untuk memperbaiki situasi. Hingga puncaknya sudah tidak dapat mengungkapkan rasa, tinggallah air mata.
5. Penyesalan, merasa bahwa yang terjadi, juga karena ada kontribusi diri sendiri. Mulai mengasihani diri, menyesal dan bertobat, mohon ampunan
6. Kesunyian diri, Ada kelegaan bahwa semua berasal dari diri sendiri, dan bisa diatasi oleh diri sendiri, dan ada tekad untuk berani menjadi diri sendiri.

Kesemua langkah tersebut adalah proses yang akan dialami dalam pengolahan inner child untuk menuju kesembuhan.

Bila ada yang berminat dengan 6 langkah ini melalui Psikodrama dapat kita lakukan. Silahkan isi kolom komentar atau kontak langsung Jefri 0812 252 0777 untuk pengaturan waktunya.

Yogyakarta, 22022021

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80"><a href="https://retmonoadi.com/about/&quot; target="_blank" rel="noreferrer noopener">Retmono Adi</a>Retmono Adi

Mengambil dari Mengelola Inner Child “HEALING YOUR INNER CHILD”

Coretan Lama 25; Energi dari Orang yang Berarti


Energi

Bahkan

untuk melakukan sesuatu

hal yang kita sukai sekalipun,

kita butuh energi.

Energi bagiku

tidak hanya didapat

dari makanan atau minuman saja.

Bisa pula didapat

dari orang-orang

yang berarti bagimu.

Bisa pula dari seseorang

yang mungkin baru kau dengar

hela nafasnya saja

atau

tawa renyahnya,

atau

baru kau lihat batang hidungnya

yang berminyak saja

kau merasa tenteram dan damai.

Sebab kau menyadari

bahwa ketika bersamanya,

kau diberkahi rasa cukup

dan

kemudahan untuk menikmati

segala yang Tuhan beri.

Untuk bersyukur pun

dibutuhkan cara dan proses.

Dan setiap orang

masing-masing memiliki

cara dan prosesnya sendiri.

 

Kartosura, 26 Juni 2018

Qanifara

Coretan Lama 24; Getar Seperti Hati


Getar

Gersang seperti daun.

Usang seperti sepatu.

Getar seperti hati saat menemui jalan

yang tidak pernah terduga.

Jalan yang senantiasa dipenuhi manusia

dengan ketidakpastiannya masing-masing.

 

Kartosura, 11 Maret 2017

Qanifara

Hidup Bersama Wajib Dijaga


Hidup Bersama Wajib Dijaga

Hari ini aku mendatangai rumah temen yang empat hari lalu bapaknya meninggal.

Baru hari ini aku bisa ikut berbela sungkawa. Di rumahnya ada sembahyangan untuk mengingat jasa baik yang meninggal dan menguatkan yang ditinggalkan. Setelah acara selesai dan disuguhi makanan kecil. Bercakap akrab. Mereka pamit dan bersalaman dengan seluruh anggota keluarga yang ditinggalkan. Suasana akrab terasa.

Aku jadi ingat suasana ini di kampung halamanku dulu. Seluruh warga kampung saling mengenal dan akrab. Aku merasa waktu kecil bisa merasakan kepedulian antar warga. Apalagi jika ada anggota warga yang meninggal dunia. Warga akan meninggalkan pekerjaannya untuk merasa berbela sungkawa. Dan berlangsung selama tujuh hari berturut turut. Tiap malam keluarga yang berduka, tidak dibiarkan sendiri.

Aku tahu sekarang bahwa tiap orang pasti memiliki masalahnya sendiri, namun disini dalam acara lek-lek an, warga kampung bersedia meluangkan waktunya demi menjaga hidup bersama.

Entah sampai kapan, bukan soal untuk dibicarakan….

 

Bantul, 13 Juni 2016

Retmono Adi

Belajar menjadi Diri Sendiri dari Film Marvel End Game, Iron Man


Aku meyakini bahwa film yang baik dibuat dengan persiapan dan riset yang sungguh sungguh, sehingga terlihat seperti kehidupan nyata. Tiap karakter tokohnya dibangun dari dinamika psikologis yang “sewajar” mungkin. Dalam arti diusahakan mendekati kenyataan dinamika psikologi manusia. Maka dari itu aku banyak mengambil pelajaran dari film-film yang bermutu untuk praktek Psikodramaku.

Aku tertarik pada akhir dari perjuangan para Avengersber dalam film Marvel End Game. Kali ini karakter Iron Man yang menjadi Pahlawan. Iron Man gugur, mengorbankan diri, tidak memakai topeng besinya. Tony Stark pahlawan itu yang juga Iron Man. Lanjutkan membaca “Belajar menjadi Diri Sendiri dari Film Marvel End Game, Iron Man”

Coretan Lama 23; Berada di Titik Balik


Pernahkah kau berada di titik balik

di mana kau sudah tidak lagi mencari

dan

menginginkan apa-apa

selain suatu tempat

di mana kau bisa didekatkan

dengan orang-orang

yang kau harap dapat membuatmu

lebih mudah

dalam mencintai dirimu sendiri,

terutama mencintai Tuhan,

dan

mencintai kehidupan dengan lebih baik?

 

Kartasura, 10 Mei 2017

Qanifara

Coretan Lama 21; Berjalan Walaupun Sendiri


Berjalan

Terus saja berjalan

walaupun orang-orang

yang berarti dalam hidupmu

harus pergi,

meninggalkanmu sendiri.

Dalam gelap,

dalam tidurmu

yang lelap,

selipkanlah mimpi

bahwa semuanya akan baik-baik saja

dengan bersama

atau pun

sendiri.

 

Kartasura, 26 September 2018

Qanifara

Coretan Lama 20; Jahitan Amatiran seperti Menjalani Pilihan Hidup


Lewat jahit menjahit amatiran ini,

aku menyadari lagi dan lagi.

Merampungkan jahitan 

terasa mirip

seperti menjalani pilihan hidup.

Ada jahitan yang bisa terkejar

sesuai dengan tenggat waktu

dan

ada yang tidak bisa

karena beberapa alasan.

Sedangkan di dunia ini

ada pilihan-pilihan

yang bisa diusahakan.

Namun,

ada pula pilihan-pilihan

yang tidak bisa diusahakan

karena memang sejatinya

tidak ditakdirkan untuk berkesempatan.

 

Kartasura, 25 Desember 2018

Qanifara