Apa itu Doubling, dan Kegunaannya dalam Psikodrama ?


Dalam psikodrama, Doubling adalah teknik di mana seorang peserta, mungkin diminta oleh direktur psikodrama, penambahan-penambahan peran (Self, pertukaran peran) dari protagonis, biasanya dengan berdiri di belakangnya (boleh juga dengan meletakkan tangan di punggungnya) dan mengatakan hal-hal yang mungkin ingin dikatakan atau ditahan oleh sang protagonis. Lanjutkan membaca “Apa itu Doubling, dan Kegunaannya dalam Psikodrama ?”

Teater Dalam Dunia Pendidikan, Mari Diskusi……


Teater adalah salah satu bentuk seni yang paling kuat, namun paling sedikit dimanfaatkan dalam pendidikan, dalam eksplorasi tentang keterkaitan diri dengan orang lain, pengembangan pemahaman tentang diri, dan empati kritis. Tidak hanya bagi manusia tetapi juga terhadap lingkungan alam, dan sosial, teater adalah media yang lebih baik.

Drama mengunakan teks atau berskenario hanya satu bagian kecil dari teater, pengalaman yang jauh lebih signifikan dimungkinkan terwujud melalui permainan peran, latihan teater, Olah tubuh dan Olah suara, pengendalian tindakannya dalam kelompok dan berlakunya spontanitas. Pengalaman seperti itu penting tidak hanya bagi guru dalam perkembangan mereka sendiri, tetapi juga untuk mempersiapkan anak-anak.

Terjemahan dari status Instagram @rangbumi_applied_theatre

Adakah yang tertarik dan ingin mendiskusikan lebih dalam ? Atau bahkan ingin sharing karena sudah menerapkannya?

Mari berbagi…..

 

Yogyakarta, 2 September 2019

 

Naruto adalah Tontonan dengan Banyak Kebijaksanaan Pelajaran Hidup


Iruka mengajariku … bukan untuk menilai orang berdasarkan reputasinya tetapi dengan kepribadian mereka.

Haku mengajariku … bahwa tidak ada yang baik atau jahat ketika aku melindungi orang yang aku cintai.

Neji mengajariku … bahwa jika aku meninggalkan harga diriku, aku dapat mengubah nasibku. Lanjutkan membaca “Naruto adalah Tontonan dengan Banyak Kebijaksanaan Pelajaran Hidup”

Di Akhir Hidupnya Dr. Jung Sudah Tidak Mengalami Mimpi Lagi


Suzanne Percheron: Saya mengira bahwa Anda memiliki/mengalami mimpi (dalam tidur) ?

Dr. Jung: Tidak, saya hampir sudah tidak pernah bermimpi lagi (!!!)

Saya dulu biasanya bermimpi ketika saya mulai untuk mengungkap/menemukan alam bawah sadar/unconscious saya

Bermimpi ketika alam bawah sadar memiliki pesan atau suatu hal yang ingin disampaikan kepada saya (semacam existential message), tapi alam sadarku/my consciousness selalu menerima/reseptif sekarang sejak pintu itu terbuka (pintu penghubung alam bawah sadar)
Saya sekarang siap menerima apapun.

Melalui diriku alam bawah sadar dapat mengalir ke dalam alam sadarku/my consciousness.

Saya sudah tidak lagi memiliki prasangka, rasa takut, atau resisten (menolak pada hal-hal yang datang/terjadi dalam hidup).

Mimpi adalah suatu cara dimana alam bawah sadar/unconscious membuat dirinya dikenal/diketahui di dalam alam kesadaran/consciousness.

Banyak orang yang tidak mengingat mengenai mimpi mereka karena alam bawah sadar/the unconscious tahu bahwa dia tetap tidak akan didengarkan oleh si orang tersebut, jadi apa gunanya; sehingga mereka tidak mengingat mimpi mereka.

[apa gunanya Anda ingat mimpi itu, toh Anda tidak akan mau mendengarkan saya (unconsciousness) juga.

~~C. G. Jung, Emma Jung and Toni Wolff – A Collection of Remembrances; Pages 51-70

 

Penerjemah

Muslimah A. Salam.
Explorer dari Kota Palu, Sulawesi Tengah.

*diterjemahkan bebas dari :  Late in his life Dr. Jung stopped dreaming

 

Lagu ini Memberi Pengaruh Kuat di Psikodramaku, Tears Of The Dragon, Bruce Dickinson


For too long now, there were secrets in my mind 
For too long now, there were things I should have said 
In the darkness…I was stumbling for the door 
To find a reason – to find the time, the place, the hour
Waiting for the winter sun, and the cold light of day 
The misty ghosts of childhood fears 
The pressure is building, and I can’t stay away
I throw myself into the sea 
Release the wave, let it wash over me 
To face the fear I once believed 
The tears of the dragon, for you and for me
Where I was, I had wings that couldn’t fly 
Where I was, I had tears I couldn’t cry 
My emotions frozen in an icy lake 
I couldn’t feel them until the ice began to break
I have no power over this, you know I’m afraid 
The walls I built are crumbling 
The water is moving, I’m slipping away…
I throw myself into the sea 
Release the wave, let it wash over me 
To face the fear I once believed 
The tears of the dragon, for you and for me
Slowly I awake, slowly I rise 
The walls I built are crumbling 
The water is moving, I’m slipping away…
I throw (I throw) 
Myself (myself) 
Into the sea 
Release the wave, let it wash over me 
To face (to face) 
The fear (the fear) 
I once believed 
The tears of the dragon, for you and for me
I throw (I throw) 
Myself (myself) 
Into the sea 
Release the wave, let it wash over me 
To face (to face) 
The fear (the fear) 
I once believed 
The tears of the dragon, for you and for me
Source: LyricFind
Songwriters: Bruce Dickinson
Tears Of The Dragon lyrics © Universal Music Publishing Group

Lanjutkan membaca “Lagu ini Memberi Pengaruh Kuat di Psikodramaku, Tears Of The Dragon, Bruce Dickinson”

6 Tanda Kematangan Emosi dan 7 Cara Meraihnya #02


sambungan dari : 6 Tanda Kematangan Emosi dan 7 Cara Meraihnya #01

Kedewasaan emosional bukanlah sesuatu yang Anda miliki sejak lahir; itu adalah sesuatu yang perlu Anda usahakan.

Tidak semua orang akan mengambil keuntungan dari situasi untuk belajar tentang kedewasaan emosional mereka sendiri, tetapi bagi mereka yang cukup beruntung untuk memperhatikan dan membuat sebagian besar situasi itu, perubahan dapat terjadi.

Kedewasaan emosional berarti Anda berpikir sebelum bertindak, meluangkan waktu untuk berhenti sejenak, dan bertanya-tanya tentang dunia pada umumnya – alih-alih berpikir bahwa Anda sudah tahu semua yang perlu diketahui tentang diri Anda, orang lain, dan dunia di sekitar Anda.

Berikut adalah 7 (tujuh) cara Anda bisa menjadi lebih dewasa secara emosional. Lanjutkan membaca “6 Tanda Kematangan Emosi dan 7 Cara Meraihnya #02”

6 Tanda Kematangan Emosi dan 7 Cara Meraihnya #01


Sering kali lingkungan menilai individu berdasarkan usia kronologis.

Jika Anda pernah bertemu seorang remaja dewasa sebelum waktunya, mengetahui seorang pria paruh baya berperilaku konyol/bodoh. Anda tahu bahwa usia tidak berhubungan dengan cara seseorang tampil di dunia.

Di  dunia ini, usia bukan garansi kematangan. Meskipun terdapat banyak contoh seperti ini dalam lingkungan sekitar kita. Kita cenderung percaya bahwa orang-orang harus “berperilaku sesuai usia”, dan terkejut ketika mengetahui mereka tidak melakukannya. Lanjutkan membaca “6 Tanda Kematangan Emosi dan 7 Cara Meraihnya #01”