Coretan Lama 43; Peran sebagai Pembawa Pelajaran Kehidupan


Setiap orang yang kau jumpai dalam hidupmu,

siapapun mereka,

tak lain adalah perantara dari Tuhan

untuk mengirimkan kasih sayang-Nya padamu.

Jangan hanya lihat siapa mereka,

tetapi lihatlah dengan seksama,

peran berharga apa

yang sekiranya dihadirkan

untukmu dalam hidupmu.

Sebab setiap orang memiliki peran

sebagai pembawa pelajaran berharga

tentang kehidupan bagi orang lain.

 

Kartasura, 22 Juni 2016

Qanifara

Coretan Lama 42; Bersama Mencari Jawaban


Barangkali di masa yang akan datang,

inginku sederhana.

Bisa menemukan seseorang

yang memiliki keresahan yang sama.

Bersama mencari jawaban

dari setiap ketidakpastian yang ada.

Saling memahami arti dari berbagai sisi.

Dan bertahan dalam waktu

yang tidak hanya sekejap.

 

Kartasura, 2 April 2017

Qanifara

Coretan Lama 41; Belajar Memahami Perbedaan


Dalam lamunanku kala itu,

aku tiba-tiba saja berpikir bahwa terkadang hidup menuntut kita sebagai manusia,

untuk dapat memiliki pemikiran yang terbuka.

Namun tidak hanya sampai di situ saja.

Kita juga dituntut untuk dapat berpikir secara mendalam tentang segala sesuatu yang melekat dalam diri kita serta tentang keadaaan orang-orang lainnya.

Agar kita bisa belajar memahami setiap perbedaan dan menghargai setiap kebaikan.

Agar kita bisa mensyukuri segala pemberian-Nya yang barangkali kadang kita abaikan.

 

Kartasura, 6 Desember 2018

Qanifara

Coretan Lama 40; Agar Aku Lebih Berbahagia


Segala yang ada dalam benak

maupun segala rasa yang tersimpan,

terkadang bagi orang sepertiku

rasanya tidak cukup

bila hanya tersampaikan

secara tertulis saja.

Sebab pada akhirnya,

seperti yang sudah-sudah,

aku hanya butuh bicara.

Pada yang sanggup

menerima baik dan burukku.

Agar tidak salah terima.

Agar aku lebih berbahagia.

 

Kartasura, 1 Juni 2017

Qanifara

Coretan Lama 38; Aku Dapat Menjemput Kebahagiaan Itu Lagi


Tidurlah diriku

Tidak ada yang merindukanku kalau aku terbangun

Tidak ada yang akan merawatku kalau aku jatuh sakit

Tidak ada yang akan menyiapkan makanan kalau aku lapar

Tidak ada yang peduli apakah aku sedang merasa bahagia, sepi, bersedih hati, atau bahkan depresi

Tapi ingatlah selalu bahwa Tuhan masih bersedia mencukupi kebutuhanku walaupun setiap harinya banyak dosa-dosa yang harus kucuci

Supaya aku dapat menjemput kebahagiaan itu lagi, meskipun tidak di hari ini

 

Kartasura, 22 Februari 2021

Qanifara

Coretan Lama 37; Dialog Fiksi #4 Apa yang Kau Takutkan Lagi ?


Dialog Fiksi #4

A : Apa yang kau takutkan lagi?

B : Aku takut jika aku tidak lagi mempunyai hasrat untuk menjalani hidup. Takut jika aku tidak mau melakukan apa-apa. Kemudian tidak bisa menjadi apa-apa.

A : Setidaknya kau masih diberi kesempatan untuk memilih. Untuk dapat meraih sesuatu yang berarti, selalu dibutuhkan pengorbanan dalam bentuk apapun. Kau boleh menangis sesukamu. Tapi setelah itu kau harus bangkit dan ingat bahwa kau masih punya harapan terhadap dirimu sendiri.

B : Kau benar, tetapi tetap saja aku…

A : Selesaikan apa yang menjadi tanggung jawabmu. Upayakan apa yang bisa kau upayakan. Lepaskan segala hal yang menyiksa batinmu. Jangan lupa beri makan jiwamu dengan hal-hal baik. Atau bila kau tidak sanggup lagi, kau bisa datang kepadaku. Tapi ingat, bukan berarti aku benar-benar ada. Kuatkan doamu. Dan ya, segeralah pergi. Kelak kau akan bisa melihat segalanya dengan lebih jernih, tanpa harus ada aku. Jangan tunggu aku. Jangan, sebab aku sendiri belum tahu kapan kira-kira Tuhan akan mengirimkanku di hidupmu. Aku tidak ingin melihatmu kecewa pada penantian yang melelahkan dan serba tak pasti. Entah, akankah aku ada dalam hidupmu atau tidak ada sama sekali. Kini pada saat-saat tertentu, aku hanya sebatas bayanganmu saja. Belum saatnya aku ada. Aku hanyalah aku yang sebatas semu, untukmu, dalam imajimu.

 

Kartasura, 8 Maret 2019 

Qanifara

Selamat, Hari Teater Sedunia


…SELAMAT “ HARI TEATER SEDUNIA“…
Viva La Teater !!!
Salam Budaya!

Pesan untuk Hari Teater Sedunia 27 Maret
ditulis oleh Carlos Celdran, dari Kuba
(digagas oleh International Theatre Institute – UNESCO) Lanjutkan membaca “Selamat, Hari Teater Sedunia”

3 Makna Cinta yang Kita Harapkan sebagai Manusia


Cinta bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Seluruh keberadaan manusia tidak lepas dari cinta. Manusia ada (lahir) karena dan buah dari cinta. Ia menjadi besar dan belajar juga tak lepas dari cinta. Banyak atau sedikit cinta yang dialami oleh seseorang adalah persoalan lain. Yang jelas ialah hidup manusia tidak lepas dari cinta.

Pertanyaan ialah apa itu cinta? Lalu, cinta yang bagaimana yang diharapkan/didambakan oleh manusia?

Dalam bahasa Yunani, ada tiga kata yang digunakan untuk mengungkapkan cinta, yakni: erosphilia dan agapeEros adalah cinta seksual, yang didasarkan pada nafsu/birahi. Di sini, orang lain tidak dipandang sebagai person/subyek melainkan hanya sebagai obyek. Penghargaan terhadap orang lain sebagai pribadi tidak ada. Satu-satunya yang ada ialah nafsu “ego”. Eros merupakan cinta yang terarah kepada orang lain tetapi ditujukan demi kepuasan pribadi orang yang mencintai. Dengan kata lain, cinta ini terarah kepada diri sendiri. Orang lain dilihat bukan karena pribadi melainkan didasarkan pada jenis kelamin semata.

Philia adalah cinta persahabatan. Di sini, cinta bersifat relasional. Orang lain telah dipandang sebagai pribadi yang mempunyai kekhasan/keunikan dan kualitas tersendiri: cantik, lembut, pengertian, dan seterusnya. Cinta philia tidak dibatasi oleh jenis kelamin tetapi terbuka kepada semua, baik pria maupun wanita.

Agape merupakan cinta yang tertinggi. Cinta ini tidak lagi tergantung pada bakat, kualitas-kualitas yang ada di dalam pribadi orang lain (cantik,lembut, ramah, pengertian, dsb); tidak memandang orang lain terbatas sebagai “pribadi yang lain” melainkan melihat orang lain sebagai bagian dari diri sendiri. Gabriel Marcel (seorang filsuf Perancis) membahasakannya dengan ungkapan: “Aku” dan “Engkau” menjadi “Kita”. Dalam konteks ini, “Aku” melihat diriku di dalam “dirimu” dan “Aku” menemukan “Engkau” di dalam “diriku”. Di sini, cinta agape merupakan cinta yang sanggup menderita dan berkorban (sebab “engkau” adalah bagian dari “aku” atau ”diriku” dan demikian juga sebaliknya). Ia keluar dari “ego” dan terarah serta terbuka kepada yang dicintai. Cinta agape melampaui jenis kelamin, cantik-jelek, kaya-miskin, pintar-bodoh; dan mengatasi segala tembok-tembok pemisah seperti perbedaan agama, suku, budaya, dsb.

Ketiga jenis cinta di atas ada di dalam diri setiap manusia, kendatipun kadarnya berbeda dalam diri masing-masing orang. Ada orang yang di dalam dirinya lebih menonjol cinta eros daripada philia dan agape. Ada juga orang yang di dalam dirinya lebih menonjol cinta philia atau agape daripada cinta eros.

Tentunya kita tidak mau hanya tinggal pada level eros saja. Manusia memiliki keinginan dan kemampuan untuk meraih sesuatu yang lebih. Usaha untuk melatih diri sangat dibutuhkan untuk sampai pada kedalaman jiwa/hidup. Pemikiran-pemikiran positif tentang orang lain (tidak hanya sekedar cantik, ganteng, jelek, lawan jenis, dll) akan membantu dalam usaha memurnikan eros dan philia sehingga menjadi agape.

Refleksi mendalam tentang nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan pasti sangat membantu untuk melihat orang lain (secara khusus orang yang kita cintai) sebagai bagian dari diri kita sendiri; bukan sebagai obyek pelampiasan nafsu (dalam arti luas). Hal itu akan menjadi kenyataan bila di dalam diri mulai dibangun penghargaan terhadap nilai dan kemurnian diri sendiri; tidak menjadikan diri sendiri sebagai obyek eros (baik oleh orang lain maupun oleh diri sendiri).

Salam penuh cinta buat anda semua….!!!!

Tulisan diatas aku copas dari Cinta: Eros, Philia, dan Agape tulisan Oleh: Frans R. Zai agar tersimpan di sini.

Ada dua peristiwa yang menjadikan aku mencarinya di google mengenai makna cinta ini.

Pertama tadi malam ada teman curhat perihal keinginannya untuk menikah dan sudah ada seorang perempuan yang menanyakan kapan ia akan melamarnya. Namun ia masih belum yakin akan dirinya sendiri.

Kedua, Kotbah Romo saat Misa hari ini tadi, menyebut tentang 3 makna Kasih dalam bahasa Yunani.

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80">Tulisan ini akan aku share ke temanku itu, agar ia dapat mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya.Tulisan ini akan aku share ke temanku itu, agar ia dapat mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya.

Sebenarnya Aku ini Siapa?


Sebenarnya aku ini siapa?

Tiga puluh tahun lebih usia, masih juga aku susah mengenalinya.

Kebanggaan orang tua? 

Ah, orang tuaku sudah tak ada. Jadi kurasa bukan lagi itu.

Kebanggaan guru-guru? 
Ah, itu sungguh dari cerita lampau.

Kebanggan saudara-saudara? Bisa saja.
Tapi apa aku bahagia karena orang bangga padaku? 
Ah, enggak, aku biasa saja.
Jujur saja, aku lebih suka kaya raya.

Sebenarnya aku ini siapa?
Belasan tahun menjauh dari akar lahirku,
Tapi tak juga aku mengenal dirku.

Kadang sering takjub dengan cara semesta bekerja
Aku tak tahu apa-apa, tapi masih bisa hidup juga.
Ah, Tuhan memang serba tak terduga.

Tak kenal diri membuatku seperti sampan di tengah badai
Terombang ambing ke sana kemari
Tak ada jangkar, atau dayung untuk kupegang kendali
Aku, tak tahu harus apa lagi
Haruskah aku diam menunggu mati?

Sementara badai, terus mengamuk tak peduli
Dan aku memohon badai agar mau berhenti.

Cih. Memangnya aku siapa?
Mengharap badai reda demi sebutir manusia
Lagi-lagi, aku tak tahu harus menjawab pertanyaanku sendiri:

Sebenarnya, aku ini siapa?

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80">Depok 9 Maret 2021Depok 9 Maret 2021

Serat Sembadra