Playback Teater


Apakah Playback Teater itu?

Playback Teater adalah sebuah bentuk improvisasi dari teater yang muncul di Amerika tahun 1975 dan saat ini telah menyebar ke lebih dari 17 negara. Teater ini berawal dari Teater serimonial di Asia dimana tradisi oral dan penceritaan yang diperankan dalam komedi dan drama memainkan peran sangat penting dalam penyebaran budaya kesukuan.

Lanjutkan membaca “Playback Teater”

REALISME DALAM TEATER.


(I).
A Dictionary of the Theatre (John Russel Taylor, l974: 231) menjelaskan, bahwa Realisme merupakan suatu gerakan drama pada akhir abad sembilan belas yang pada dasarnya agak kurang ekstrim ketimbang (aliran) naturalisme. Tokoh-tokoh aliran Realisme mencoba membuang apa yang disebut the theatre of histrionics dalam bidang acting dan ekses yang terlalu dibuat-buat yang terdapat dalam well-made plays ala Victorien Sardou (seorang dramatist Prancis) dan menggantikan semuanya dengan akting-akting yang tampaknya lebih alamiah dengan lakon-lakon yang—yang disusun dengan hati-hati—kurang tergantung pada coups de theatre yang direncanakan dengan tepat, yang terlalu mekanik. Lanjutkan membaca “REALISME DALAM TEATER.”

Akting: Mendalami Diri Sendiri


Akting adalah wilayah abstrak sekaligus konkret. Abstrak ketika instruksi pencariannya disampaikan sutradara pada aktor. Kata dan kalimat sutradara selalu membutuhkan kecerdasan dan daya imajinasi aktor untuk memahaminya. Konkret ketika instruksi tersebut dilakukan melalui gerak-gerik tubuh. Pada saat tubuh bergerak dan vokal aktor membentuk makna instruksi maka saat itulah akting menjadi dunia riil.
Konstantin Stanislavsky
Stanislavsky memusatkan diri pada pelatihan akting dengan pencarian laku secara psikologis. Dalam tulisannya yang terkenal The Method, ia berusaha menemukan akting realis yang mampu meyakinkan penonton bahwa apa yang dilakukan aktor adalah yang sebenarnya terjadi. Lanjutkan membaca “Akting: Mendalami Diri Sendiri”

Mengapa Teater menjadi Pilihan


Masalah realisme dalam teater bukan sekedar “taken directly from actuality”, tetapi ada pengolahan kesadaran tentang hal yang besar hingga yang kecil dan mencoba “menyiasati” penggunaan dan pemanfaatan unsur-unsur dalam pentas—yang akan merangsang adanya refleksi terhadap kenyataan hidup yang getir, pahit, mencemaskan, penuh keputusasaan, tetapi tidak juga membuat kita jera untuk hidup terus. (Bakdi Sumanto, 2001:292)

Belajar Menulis


Masih ingat bahwa dulu waktu Sekolah Dasar ada pelajaran mengarang, pelajaran yang paling sulit. Wong judulnya mengarang kok ditentukan judulnya.  Judulnya Berkunjung ke Rumah Nenek,  aku tiap hari tinggal dengan nenekku, jadi bingung bagaimana mengarangnya, untungnya aku punya tetangga yang juga sudah nenek-nenek, jadi aku menulis cerita tentang berkunjung ke rumah nenek yang tetanggaku itu. hehehehehe

Apa Sekolah Dasar sekarang masih ada tugas untuk Mengarang?