Proses Teater, Bermain Peran (Harusnya) Membantu dalam Menemukan Diri


Teater, Drama, atau Seni Peran Sebagai sarana untuk hiburan, drama selalu memiliki kemampuan untuk menggetarkan, bergerak, dan menginspirasi khalayak. Dari tangan Euripides lalu Shakespeare sampai dengan Scorcese, menunjukkan ketrampilan dari intensitas emosional yang memungkinkan drama dijadikan sarana untuk memusatkan perhatian, meningkatkan kesadaran, dan menyampaikan ide-ide secara dinamis Lanjutkan membaca “Proses Teater, Bermain Peran (Harusnya) Membantu dalam Menemukan Diri”

Pelepasan Peran dalam Praktek Psikodrama dan Aplikasinya di Bisnis Akting


Pelepasan Peran, terjemahan bebas dari teknik De-Roling digunakan sesaat sebelum tahap action, dalam praktek psikodrama, usai. (silahkan baca: Tahap Psikodrama) Proses penutupan ini termasuk pemeriksaan apakah protagonis atau pembantu protagonis perlu dilepaskan dari peran apa pun yang telah dimainkan.

De-roling dapat mencakup berbagi persepsi yang diperoleh dari peran dan mengekspresikan emosi yang tersisa dari memainkan peran selama tahap Action. Itu mungkin termasuk penghinaan secara fisik: “melepas kostum peran; membersihkan energi negatif yang masih menguasai.” Lanjutkan membaca “Pelepasan Peran dalam Praktek Psikodrama dan Aplikasinya di Bisnis Akting”

Solusi Itu Muncul Ketika Berada Dalam Tindakan


Dari Pengalaman saya selama memberikan pelatihan, muncul ide ide baru, cara cara baru ketika berada dalam pelaksanaannya. Psikodrama berangkat dari spontanitas, sering saya menekankan pada dinamika yang terjadi, rancangan memang sudah saya bikin dengan runtut, namun tetap memberikan ruang ruang pengembangannya.

Berdasarkan dinamika peserta sering tidak mengikuti rundown, lalu muncullah ide baru, pengembangan baru, yang selanjutnya dapat menjadi bahan dan dapat disusun menjadi rundown baru. Lanjutkan membaca “Solusi Itu Muncul Ketika Berada Dalam Tindakan”

Ringkasan Materi Pertemuan I, Pelatihan Dasar Keaktoran


Pertama dan utama perlu dipahami oleh aktor teater adalah 3 instrumen ini, yaitu Pikiran, Rasa, dan Tubuh. Hal ini selaras dengan konsep di Ilmu Psikologi, Kognisi (Pikiran), Afeksi (Perasaan) dan Konasi (Tindakan, yang dilakukan tubuh).

Pikiran
Pikiran seorang aktor perlu dilatih dan ditingkatkan wawasannya, dengan :
– Membaca buku
– Berdiskusi
– Observasi
– Mengumpulkan data-data yang ditangkap oleh Indera
– Menganalisa, Menyimpulkan

Rasa
Perasaan aktor juga perlu diolah, dengan :
– Mengenali tiap rasa yang dirasakan sendiri
– Mengenali perasaan yang dirasakan orang lain
– Melatih agar mampu Mengekpresikan rasa dengan tepat
– Melatih agar mampu membangkitkan rasa orang lain
– Berada dalam berbagai situasi
– Bertemu dengan berbagai karakter orang

Tubuh
Tubuh juga perlu dioptimalkan, termasuk dalamnya adalah Indera, dengan :
– Memberi asupan nutrisi yang seimbang
– Berolah raga
– Ikut latihan bela diri
– Menari
– Istirahat yang cukup
– Menjaga kesehatan

Dengan demikian bila dipahami, maka Latihan untuk menjadi aktor dapat dilakukan setiap saat, dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya bila kita mempelajari sesuatu perlu adanya prioritas (Fokus), karena tidaklah mungkin kesemuanya akan dikuasai secara serempak, perlu proses bertahap dan membutuhkan waktu.
Mengenai ‘Fokus”, akan dibahas dalam pertemuan tersendiri.

Mohon masukan dan Feedback nya, terima kasih

Indriya Nati, 22 Juni 2016