Menggunakan Psikodrama sebagai Metode Perkenalan bagi Siswa Penerima Beasiswa di Medan Sumatera Utara


Mereka berasal dari sekolah yang berbeda, latar belakang keluarga yang berbeda, serta banyak perbedaan lainnya. Namun disatukan menjadi satu kesatuan siswa penerima beasiswa dari sebuah kelompok pemerhati pendidikan anak yang slogannya ingin mencegah anak putus sekolah di Indonesia. Tentu aja niat luhur ini harus didukung. Saya senang sekali saat diminta untuk menjadi fasilitator perkenalan para siswa ini, di hari pertama mereka dinyatakan diangkat sebagai penerima bea siswa selama satu tahun. Meski dalam waktu relatif singkat untuk mempersiapkan diri, saya juga ingin memberi kontribusi pada kegiatan tersebut. Lanjutkan membaca “Menggunakan Psikodrama sebagai Metode Perkenalan bagi Siswa Penerima Beasiswa di Medan Sumatera Utara”

Aja Nggege Mangsa, Semua Ada Waktunya ( Prihatin terhadap Anak-Anak yang dipaksa Cepat Dewasa)


Jaman sekarang semua ingin serba cepat, instant, dunia industri mengajak kompetisi, siapa cepat ia yang dapat. Bahkan ada lagunya The Winner Takes It All (ABBA),  Siapa yang menang ia akan mendapatkan semuanya.

Pahami lebih dalam bahwa kecepatan tidaklah harus berupa kompetisi, sekarang saatnya berkolaborasi. Kecepatan tetap dapat dijadikan salah satu acuan, dengan tetap mempertimbangkan banyak hal, orang lain, anggota team, sumber daya yang ada dll. Lanjutkan membaca “Aja Nggege Mangsa, Semua Ada Waktunya ( Prihatin terhadap Anak-Anak yang dipaksa Cepat Dewasa)”

Cerita Mawar #part 20 Tindak Lanjut Analisa Mimpi


Pada suatu hari terdapat seorang anak perempuan yang mengalami mimpi buruk. Kisah dalam mimpi buruk ini berisikan pengalaman buruk yang sangat membekas, dan anak ini mengalami ketakutan yang sangat hebat ketika ada trigger mengenai pengalaman tersebut. Anak ini pun menghubungi ayahnya yang sedang di luar kota (karena urusan kantor) melalui Line.

Anak: Papi aku mimpi buruk (emotikon nangis).

Ayah: Kenapa sayang, kamu mimpi apa? Ceritakan ke Papi dengan detil ya! Lanjutkan membaca “Cerita Mawar #part 20 Tindak Lanjut Analisa Mimpi”

Program Mari Peduli Biaya Pendidikan Anak LKSA Indriyanati


Aku sekarang mengelola Lembaga Kesejahteraan Sosial di D.I. Yogyakarta, yang fokus pada Anak dan Perempuan, nama lembaga nya Indriyanati, yang berarti Perempuan yang bertekad baja. Lembaga ini telah aktif sejak akhir tahun 90an. Telah banyak kawan yang berproses belajar bersama, dan sekarang sudah banyak “alumni” yang tersebar ke berbagai tempat.

Hari ini kedatangan “dedengkot”nya, Mr Kelex,  (nama panggilan beken-nya) dulu waktu masih Mahasiswa Psikologi Gadjah Mada, telah merintis dan mengawal hingga lebih dari 10 tahun. Sekarang sudah berkarya dan domisili di Jakarta bersama keluarganya.

Sebenarnya Beliau sudah rutin untuk silaturahmi, namun kali ini terasa istimewa dengan obrolan yang terjadi. Beliau memberikan saran program yang menarik, yaitu mengumpulkan dana untuk biaya sekolah anak-anak yang menjadi anggota keluarga besar Indriyanati.

Programnya mirip dengan orang tua asuh. Kawan-kawan Alumni yang sudah memiliki penghasilan serta mapan secara ekonomi, diajak untuk peduli dan bersedia memberikan sumbangan sebagai tambahan biaya pendidikan Anak-anak, hingga lulus SLTA. Besaran sumbangannya sukarela, dan waktu memberikannya juga tidak ditentukan. Dana tersebut langsung ditranfer ke rekening anak dan pemanfaatannya dalam monitoring Lembaga Indriyanati (teknis detailnya dapat didiskusikan).

Usulan ini terasa tepat, sudah satu tahun ini Indriyanati, memonitor dan mendampingi Pemanfaatan Dana Program TASA (Tabungan Sosial Anak), Anak-anak memiliki Tabungan sendiri, yang dana nya awal diisi oleh Pemerintah (Kemensos/Dinsos) untuk peningkatan Gizi dan Sanitasi juga untuk keperluan Sekolah. Nah,…dengan anak sudah memiliki tabungan maka ..klop dah,…:-)

Indriyanati akan menginformasikan data anak yang membutuhkan bantuan biaya sekolahnya kepada calon orang tua asuhnya. Bahkan jika dirasa lebih baik, Orang tua asuh dapat berhubungan langsung dengan anak asuh dan orang tua aslinya. Setiap terima raport, hasilnya diinfokan ke orang tua asuh.

Program ini juga terbuka bagi siapa saja yang ingin terlibat membantu, dengan menghubungi langsung Pengurus Indriyanati. Informasi bisa melihat di page Facebook  Indriyanati atau di IG @indriyanati silahkan diikuti.

Demikian semoga menjadi berkah bagi semua.

 

Yogyakarta, 18 Juni 2019

Retmono Adi

Haruskah Ranking I untuk menjadi Istimewa dan Bahagia ?


Era saat ini sudah tidak tepat untuk berkompetisi, Era sekarang saatnya berkolaborasi, kerjasama dan bersinergi. Sistem Ranking memacu tiap siswa berkompetisi untuk menjadi juara dengan mengalahkan siswa lain.

Sudah banyak kejadian bahwa yang dulu pernah ranking satu setelah dewasa dan menjalani kehidupan nyata, prestasinya tidak dapat dibedakan dengan yang tidak menduduki ranking. Lanjutkan membaca “Haruskah Ranking I untuk menjadi Istimewa dan Bahagia ?”

Tanggapan Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar saat Kanak-kanak


Terkait pemikiran benar dan salah saat kanak-kanak atau mungkin menurutku bagi semua anak kecil memang menjadi satu-satunya acuan dalam berperilaku, anak-anak masih sederhana dalam kemampuan berpikirnya. Lagi pula satu-satu nya ukuran adalah norma keluarga yang direfepresentasikan oleh orang tua. Saat orang tua memiliki otoritas untuk menerapkan apa yang menurut mereka benar dan salah, maka sebagai anak kecil pun aku dan siapa pun mungkin akan menyakini itulah kebenaran dan kesalahan. Lanjutkan membaca “Tanggapan Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar saat Kanak-kanak”

Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar – Lanjutan Terapi Menulis


Saya ingin menanggapi mengenai komentar Mas Didik di tulisanku sebelumnya yang berjudul “Ungkapan Jujur Hati”. Terima kasih atas masukannya. Selamat membaca. Semoga ada yang bisa didapatkan dan bermanfaat bagi yang membaca.

Memang benar, masa laluku dipenuhi dengan pesan-pesan antara “salah” dan “benar”. Tidak ada yang abu-abu. Sebagai anak kecil pun aku sudah dituntut untuk berperilaku yang benar, karena kalau tidak, ‘akan membawa malu bagi keluarga’. Lanjutkan membaca “Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar – Lanjutan Terapi Menulis”