Ceritaku Hari Ini, Komunitas Caregiver ODGJ di Yogyakarta.


Hari ini aku ikut Misa khusus untuk Komunitas Caregiver ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) Yogyakarta. Beberapa orang saja yang hadir, tidak lebih dari lima belas orang. Aku senang mengikuti misa dengan sedikit yang hadir, terasa lebih akrab dan menyatu. Lanjutkan membaca “Ceritaku Hari Ini, Komunitas Caregiver ODGJ di Yogyakarta.”

Pelatihan Integritas dengan Metode Psikodrama


Integritas di sini aku maksudkan keselarasan antara tindakan, ucapan, pikiran dan perasaan. Keselarasan ini bakal terwujud bila seseorang berani jujur pada diri sendiri. Kejujuran pada diri sendiri dilatih dengan mulai mengenal perasaan yang dirasakan.

Psikodrama mengajak setiap orang menjadi Protagonis, aktor utama dari drama hidupnya. Seseorang diajak untuk meyakini bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya sepenuhnya adalah tanggung jawabnya. Seseorang diajak untuk mampu melihat bahwa yang terjadi hari ini adalah konsekuensi dari pilihan-pilihan di masa lalunya, baik pilihan sadar maupun tidak sadarnya. Hal yang utama dari kemampuan ini adalah kemampuan mengenali perasaannya, baik saat ini maupun perasaannya pada masa lalu. Menurut “orang tua” banyak tindakan dilakukan berangkat dari perasaan ini. Sayangnya banyak orang tidak menyadari hal ini, lebih tepatnya tidak mau mengakui, maka langkah pertama adalah mengajak orang berani jujur pada perasaannya sendiri. Dengan berani jujur maka perasaan itu akan disadari, dan tindakan yang dilakukan akan mempertimbangakan konsekuensinya.

Mari kita mulai berpsikodrama mengikuti tahapannya:

Tahap Warming Up

Pada tahap ini dapat dilakukan Lokogram, dengan memilih titik, Benar, Baik, Jujur, (letakkan selendang/atau apa pun, pada tiga tempat berbeda di lantai) dengan instruksi: Apa yang paling penting dalam menjalani hidup, Jujur, Baik, atau Benar.  Silahkan berdiri di titik Jujur, Benar, atau Baik. Selanjutannya tiap peserta diminta menjelaskan pilihannya.

Jujur, Baik, dan Benar adalah nilai (value) yang mendukung Integritas. Di sini peserta di ajak untuk berani jujur pada diri sendiri. Melakukan sesuatu yang tidak benar (salah) boleh, melakukan hal yang tidak baik juga boleh, yang penting jujur. Memang dalam tahap warming up (pemanasan) ini dibangun suasana boleh salah, makin banyak melakukan kesalahan makin banyak belajar.

Teknik Sclupture, memahat membuat patung, atau mematung, dapat juga dilakukan. Peserta diminta menjadi pohon dengan tubuhnya, membentuk gesture pohon. Selanjutnya ditanya ia menjadi pohon apa. Diberi instruksi agar tidak berbicara, dan diminta berpasangan menjadi sebuah bentuk pohon. Jika sudah terbentuk berpasang-pasangan, salah satu orang ditanya menjadi pohon apa. tiap pasangan ditanya satu persatu. Sering pasangan yang menunggu giliran ditanya, ada yang bersepakat dan berbicara. Hal ini ditanyakan setelah semua pasangan ditanyai nama pohon.

Siapa yang selama proses tadi bersepakat, berbicara dengan pasangan untuk nama pohonnya. Bukankah tadi sudah diinstruksikan untuk tidak berbicara. Jika ada yang mengaku diberi apresiasi karena kejujurannya. Sedikit direfleksikan betapa sering orang mengusahakan untuk menjadi nampak benar, melakukan tindakan yang melanggar ketentuan, melakukan kecurangan, melakukan hal yang tidak jujur.

Tahap Action

Tawarkan pada peserta, siapa yang bersedia menjadi protagonis, (sesorang yang diminta kesediaannya menceritakan pengalamannya untuk didramakan). Apabila tidak ada dapat dilakukan Sosiometri (salah satu teknik dalam Psikodrama) untuk menentukan protagonisnya.

Protagonis diminta menceritakan pengalamannya pada masa lalu, saat ia melakukan kesalahan dan berani jujur mengakuinya. Pengalamannya itu akan dimainkan lagi (Playback). Jadi Dramanya adalah tentang kejujuran, keberanian bertanggungjawab dan konsekuensinya. (integritas).

Tahap Refleksi

Peserta diminta untuk berdiri melingkar. satu persatu dimintakan untuk mengungkapkan perasaannya sebelum acara, selama acara, dan membagikan pengetahuanya baru apa yang didapatkan selama proses. Acara ditutup dengan saling mengucapkan terima kasih dan bersalaman.

Selesai.

Yogyakarta, 10 Januari 2020

Retmono Adi

 

Mengajar Materi Teknis Menjadi Menarik dengan Psikodrama, Pengalaman di Semarang


Menyampaikan materi hal teknis biasa dilakukan dengan metode ceramah, atau presentasi dengan bagan gambar atau yang cukup menarik dengan film. Selanjutnya baru dengan praktek di lapangannya.

Hal-hal yang biasanya dengan ceramah atau presentasi dapat diganti dengan Metode Psikodrama, dilakukan langsung, bukan di lapangan atau tempat kejadian namun dengan didramakan…misalnya Alur Proses  Bisnis . Materi atau tema diperagakan oleh peserta yang menjadi alur Proses Bisnis  tersebut dan mengungkapkan apa yang dilakukan saat prosesnya berlangsung. Lanjutkan membaca “Mengajar Materi Teknis Menjadi Menarik dengan Psikodrama, Pengalaman di Semarang”

Menggunakan Psikodrama sebagai Metode Perkenalan bagi Siswa Penerima Beasiswa di Medan Sumatera Utara


Mereka berasal dari sekolah yang berbeda, latar belakang keluarga yang berbeda, serta banyak perbedaan lainnya. Namun disatukan menjadi satu kesatuan siswa penerima beasiswa dari sebuah kelompok pemerhati pendidikan anak yang slogannya ingin mencegah anak putus sekolah di Indonesia. Tentu aja niat luhur ini harus didukung. Saya senang sekali saat diminta untuk menjadi fasilitator perkenalan para siswa ini, di hari pertama mereka dinyatakan diangkat sebagai penerima bea siswa selama satu tahun. Meski dalam waktu relatif singkat untuk mempersiapkan diri, saya juga ingin memberi kontribusi pada kegiatan tersebut. Lanjutkan membaca “Menggunakan Psikodrama sebagai Metode Perkenalan bagi Siswa Penerima Beasiswa di Medan Sumatera Utara”

Bagaimana Menumbuhkan Engagement pada Millennial dengan Psikodrama


Mengutip Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru yang mengklarifikasi perihal teknologi dalam pendidikan :

Banyak persepsi yang salah, menurut Nadiem, karena dengan dirinya menjadi menteri, maka semua akan diganti dengan aplikasi. “Saya cukup lucu dengan itu,” katanya. Nadiem memberikan klarifikasi bahwa pendidikan adalah apa yang terjadi dalam dua ruang, yaitu di kelas, murid dan guru, serta di rumah, orang tua dan anak.

“Itu kuncinya. Teknologi tidak akan mungkin bisa menggantikan koneksi itu. Karena pembelajaran terbaik itu adanya koneksi batin kuat dan bisa timbul rasa percaya,” turur Nadiem. (dapat dibaca Nadiem Makarim Sampaikan 5 Fokus Utama kepada DPR )

Koneksi Batin yang kuat yang dapat menimbulkan rasa saling percaya, dapat disetarakan dengan 3 Hubungan dalam Psikodrama, yaitu, Hubungan Personal, Hubungan Interpersonal, dan Hubungan Transpersonal. Lanjutkan membaca “Bagaimana Menumbuhkan Engagement pada Millennial dengan Psikodrama”

PANDUAN TRAINING BERDASAR DRAMA


Seorang karyawan mengaku kepada manajernya bahwa rekan-rekan kerjanya mengiriminya ofensif e-mail. Seorang sales representative, Afrika-Amerika pertama yang bekerja di tenaga penjualan serba putih (kulit putih), mengatakan kepada manajer bahwa dia ingin mengajukan keluhan EEO. Situasi rumit seperti ini merupakan tantangan sehari-hari di lingkungan perusahaan saat ini.  Misalnya: keterampilan dalam menangani topik hangat seperti keragaman di tempat kerja, pelecehan seksual, dan kekerasan di tempat kerja naik ke posisi utama dalam ukuran keberhasilan kepemimpinan, serta ” people skills ” mendapatkan kredibilitas dan kewibawaan. Seandainya paradigma strategis lebih daripada reaktif, dinamika manusia adalah untuk mengubah pemikiran kita, maka paradigma baru untuk pelatihan harus mengantar pada perubahan.
Lanjutkan membaca “PANDUAN TRAINING BERDASAR DRAMA”

Menjadi Diri Sendiri atau Impulsive? Konseling (Diskusi) Lewat WhatsApp, Cukup Menarik dan Layak Dibagikan


Bgmn membedakan antara bebas menjadi diri dgn malah menjadi impusive/dikendalikan impulsivitas yg biasanya jd kurg baik..?

dilihat dari hasil dan impact nya,….

Kembalikn k dampak ke sosial lg ya mas?

Yups, Sosial, Psikologis, dan Spiritual,….kalau baik ya bersyukur, jika kurang baik ya mohon ampunan (dan belajar),….dan terus move on,….berusaha terus menjadi lebih baik

Salah satu pengaruh Psikodrama adalah makin lebih sensitif, dan mudah baper,….modal utama utk Empati. (baca: Sensi dan Baper menjadi Modal Awal untuk Belajar Empati dengan Mengolah Memori Emosi)

Bersyukur dipertemukan di Bandung, makassar, Palu kala itu mas..

Terimakasih atas kehadiran mas Didi 

Masama, kau juga banyak membantuku lho,….kau yang bawa Psikodrama ke Sulawesi.

Aku juga merasa beruntung bertemu dg mu,..aku merasa kau bakal menjadi orang hebat dari Indonesia Timur,….🙏🙏🙏

Terimakasih banyak mas atas kalimat ini 🙏🏻🙏🏻


Chat di WhatsApp, sengaja aku biarkan tulisan seperti adanya agar terlihat otentik. Nama teman tersebut tidak saya tuliskan, kecuali jika yang bersangkutan menginginkan.

Terima Kasih

Yogyakarta, 7 November 2019

Retmono Adi