Penerapan Psikodrama untuk Perencanaan Strategi Organisasi


Siang tadi bersama Henk2 melayat putra mantan Dosen kami. Setelah mendoakan dan menyalami beliau kami duduk ngobrol sejenak. Kami bertemu dengan beberapa temen yang menjadi Pengajar Psikologi di salah satu Universitas di Yogyakarta. Saya menawarkan diri apakah bisa mengajar psikologi terapan, terapi kelompok Psikodrama. ditanggapi dengan positip, bahwa secara prinsip bisa saja dan nanti secara teknis akan dikabari, karena perkuliahan belum dimulai.

Henk2 punya ide, untuk memperbesar peluang penerapan Psikodrama di ranah yang lebih luas. Ia menyatakan bahwa, psikodrama dapat juga untuk menyusun strategi organisasi. Jadi psikodrama diterapkan untuk Psikologi Organisasi atau Industri. Kami memang sudah lama berdiskusi mengenai pengembangan Psikodrama, selain untuk Psikologi Klinis, Psikologi Terapi, dan Terapi Kelompok. Jadi kemunculan ide-ide seperti ini sering terjadi dan kali ini saya ingin menuliskannya. Lanjutkan membaca “Penerapan Psikodrama untuk Perencanaan Strategi Organisasi”

Solusi Itu Muncul Ketika Berada Dalam Tindakan


Dari Pengalaman saya selama memberikan pelatihan, muncul ide ide baru, cara cara baru ketika berada dalam pelaksanaannya. Psikodrama berangkat dari spontanitas, sering saya menekankan pada dinamika yang terjadi, rancangan memang sudah saya bikin dengan runtut, namun tetap memberikan ruang ruang pengembangannya.

Berdasarkan dinamika peserta sering tidak mengikuti rundown, lalu muncullah ide baru, pengembangan baru, yang selanjutnya dapat menjadi bahan dan dapat disusun menjadi rundown baru. Lanjutkan membaca “Solusi Itu Muncul Ketika Berada Dalam Tindakan”

Sensi dan Baper menjadi Modal Awal untuk Belajar Empati dengan Mengolah Memori Emosi


Sekolah lebih banyak mengajarkan pengetahuan yang mengolah pikiran, sesuatu yang penting dalam membangun bekal untuk menjalani kehidupan. Telah banyak contoh penemuan hebat dari hasil mengolah pikiran ini. Teknologi Informasi, 4.0, Hape, internet, AI, adalah capaian capaian yang belum pernah ada sebelumnya.

Sekarang saatnya  mengolah Rasa juga. Bagaimana pun adanya Rasa, pastilah memiliki guna. Puncak dari kemampuan merasa adalah Empati, dan lembah dari kemampuan merasa adalah Baper terlalu Sensi. Masyarakat umum lebih sering menghindari rasa ini, karena fokus pada kondisi yang di Lembah (Baper terlalu sensi), bahkan mengusahakan jika mungkin untuk tidak berurusan dengan Rasa. Sebuah konsekuensi dari terlalu fokus mengolah pikiran sehingga mengabaikan berkah Rasa ini. Rasa juga merupakan anugerah yang perlu diolah agar mampu berfaedah.

Bagaimana mengolahnya? Lanjutkan membaca “Sensi dan Baper menjadi Modal Awal untuk Belajar Empati dengan Mengolah Memori Emosi”

Mengembangkan Kesadaran Diri #Tulisan 12 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Mempromosikan Individuasi

 Salah satu aplikasi terpenting dari konsep tele adalah bahwa tele mendorong orang untuk lebih memperhatikan preferensi mereka sendiri. Ini pada gilirannya meningkatkan kesadaran diri dan membantu orang dalam individuasi mereka. Karen Horney (1950: 17) menulis tentang perlunya mengembangkan “diri sejati” seseorang seperti yang disebutkan sebelumnya. Salah satu cara paling efektif untuk mencapai hal ini adalah membantu orang memperhatikan preferensi mereka, terutama dalam hal bidang minat, gaya temperamental, dan citra. Banyak orang dalam terapi memiliki sedikit kesadaran akan dimensi pengembangan diri ini. Lanjutkan membaca “Mengembangkan Kesadaran Diri #Tulisan 12 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”

Tele dan Kohesi Kelompok #Tulisan 10 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Tele dan Kohesi Kelompok

Ada tele yang sudah beroperasi di antara anggota grup dari pertemuan pertama “(Moreno 1956b: 95). Kutipan ini adalah contoh dari Moreno menggunakan istilah dalam arti yang lebih inklusif – tele mungkin tidak selalu sangat positif. Kelompok yang anggotanya memiliki sedikit koneksi telik yang saling menyenangkan cenderung tidak stabil. Kohesi kelompok tumbuh sebanding dengan pertumbuhan tele di antara pemimpin dan peserta. Moreno (1959b: 1380), menggunakan istilah yang sekarang dalam pengertian yang lebih positif, tulis bahwa “tele adalah semen yang menyatukan kelompok-kelompok.” Lanjutkan membaca “Tele dan Kohesi Kelompok #Tulisan 10 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”

Tele dan Transferens, #Tulisan 08 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Tele dan Tranferens

Faktanya, tele tidak dapat dibedakan secara bersih dari transferens. Ketika Moreno menulis tentang hal itu, ia merujuk pada cara psikoanalis pada masanya menggunakan gagasan transferens, yang selalu melibatkan distorsi dan proyeksi yang tidak realistis. Namun, perlu dicatat bahwa psikoanalisis telah berevolusi secara signifikan, dan konsep transferens telah meluas, yang diterapkan dalam tulisan-tulisan kontemporer pada pasang surutnya proyeksi psikis dan perasaan di antara semua orang. Lanjutkan membaca “Tele dan Transferens, #Tulisan 08 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”

Tele sebagai Dasar Alasan untuk Pemilihan Jenis Hubungan (Jodoh) #Tulisan 07 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Alasan-alasan untuk Pilihan

Perihal Timbal balik, seperti yang disebutkan, hanyalah salah satu dari banyak faktor yang berkontribusi terhadap tele atau rasa dalam suatu hubungan. Variabel lain termasuk yang berikut: Lanjutkan membaca “Tele sebagai Dasar Alasan untuk Pemilihan Jenis Hubungan (Jodoh) #Tulisan 07 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”