Pada Semesta Aku Bicara, Refleksi setelah Psikodrama Online


Pada semesta aku bicara. Pada ruang-ruang sepi, terperangkap dalam ketidakberdayaan diri. Sebetulnya banyak yang bisa dinikmati. Bila saja kita semua diberi kesempatan untuk memahami.

“Akhiri dulu saja pertanyaanmu. Kalau kau terus banyak bertanya, nggak akan ada habisnya. Nggak setiap pertanyaan harus terjawab sekarang,” ujar Pak Didik ditelepon saat sesi belajar psikodrama seminggu yang lalu. Lanjutkan membaca “Pada Semesta Aku Bicara, Refleksi setelah Psikodrama Online”

Namanya juga Anak-anak, Demonstrasi di Jalanan, UU Cipta Kerja


Demonstrasi mengenai UU Cipta Kerja, berlangsung dengan kericuhan dan pengrusakan fasilitas umum. Sebenarnya kondisi tersebut dapat dengan mudah diprediksi bahwa hal itu akan terjadi, dengan melihat beberapa hal yang memiliki potensi akan terjadinya kericuhan tersebut.

Ada dua teori Psikologi yang dapat menjelaskan dinamikanya.

Teori pertama mengambil dari Teori Psikologi Perkembangan, khususnya Masa Remaja, yang menyatakan, selain pertumbuhan fisik, remaja juga mengalami perkembangan kognitif dan emosi. Seorang yang masuk dalam masa remaja akan mulai berpikir logis dan abstrak, bertindak agresif seperti cenderung akan melawan segala aturan yang diberikan pada dirinya. (5 Masalah Perilaku Remaja dan Cara Mengatasinya )

Karena perubahan-perubahan inilah remaja akan bersikap berbeda kepada orangtuanya. Remaja akan cenderung berprilaku negatif terhadap orangtuanya, misalnya melanggar semua aturan yang telah ditetapkan. Orang tua adalah figur otoritas di rumah, ketika demontrasi di ruang publik  (demonstrasi) figur otoritas yang ditentang adalah pemerintah dan saat di jalanan figur itu adalah polisi sebagai representasinya,  maka para demontran yang anak remaja akan menunjukkan perilaku negatifnya, dengan melanggar aturan yang ada. Dalam peristiwa demo yang lalu anak anak itu melakukan pengrusakan fasilitas umum serta melawan polisi.

Teori kedua adalah Teori Psikologi Kelompok, Penyebab Perilaku Kerumunan oleh Le Bon, menurutnya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kerumunan yaitu:
1. Anonimitas. Karena faktor kebersamaan dengan berkumpulnya individu-individu yang semula dapat mengendalikan diri, merasa dapat kekuatan luar biasa yang mendorongnya untuk tunduk pada dorongan naluri dan terlebur dalam kerumunan sehingga perasaan menyatu dan tidak dikenal mampu melakukan hal hal yang tidak bertanggung jawab. Semakin tinggi kadar anonimitas suatu kerumunan, semakin besar pula kemungkinannya untuk menimbulkan tindakan ekstrim karena anonimitas mengikis rasa individualitas para anggota kerumunan itu.

2. Contagion (penularan). Penularan Sosial (social contagion), adalah penyebaran suasana hati, perasaan atau suatu sikap, yang tidak rasional, tanpa disadari dan secara relatif berlangsung cepat. Penularan ini oleh Le Bon dapat dianggap suatu gejala hipnotis. Individu yang telah tertular oleh perasaan dan tindakan orang lain sudah tidak memikirkan kepentingan individu melainkan kepentingan bersama.

3.Konvergensi (keterpaduan). Orang-orang yang akan menonton festival musik Pop, dengan orang-orang yang menonton festival musik Rock akan memiliki ciri-ciri yang berbeda. Orang-orang yang menonton festival musik rock cenderung akan lebih mudah menimbulkan keributan dibanding dengan orang-orang yang menonton festival musik Pop. Orang-orang yang menonton festival music Rock relatif usianya sama-sama muda, mayoritas laki-laki dan tidak memiliki ikatan kuat terhadap nilai-nilai dan lingkungan setempat, berbeda dengan Orang-orang yang menonton festival music Pop.

4. Suggestibility (mudahnya dipengaruhi). Kerumunan biasanya tidak berstruktur, tidak dikenal adanya pemimpin yang mapan atau pola perilaku yang dapat dipanuti oleh para anggota kerumunan itu sehingga dalam suasana seperti itu, orang berperilaku tidak kritis dan menerima saran begitu saja, terutama jika saran itu meyakinkan dan bersifat otoritatif. Akan tetapi siapa induk atau yang memulai sulit ditentukan . (Teori Kerumunan Le Bon )

Kombinasi dari 2 teori tersebut sudah cukup menjelaskan potensi kerusuhan bakal terjadi. Remaja (rentang usia antara 13 – 19 tahun) berada dalam kerumunan. Dari dalam dirinya sudah ada keinginan menentang otoritas, ditempatkan dalam situasi anonimous. Mereka lebih berani melakukan tindakan ekstrim. Disusul kemudian ketika ada salah satu yang mulai melakukan tindakan pengrusakan atau agresi, maka jadi pemicu  mempengaruhi yang lainnya. Selain karena mereka juga tidak lagi mampu berpikir kritis, sehingga penularannya makin cepat, skalanya makin meluas dan membesar. 

Meskipun sangat mengkuatirkan mengapa hal tersebut sepertinya dibiarkan terjadi. Namun semuanya telah terkendali dan dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak.

Ada pembelajaran yang menarik yang  kudapatkan di Twitter. Bagaimana polisi melakukan penangkapan para pelaku demonstrasi yang kebanyakan masih berusia remaja itu. Polisi menahan mereka semalaman untuk mendata mereka. Keesokan harinya dipanggilkan orang tua mereka. Anak anak itu diminta minta maaf dan dilanjutkan dengan memeluk orang tuanya. Sebuah treatment Psikologis yang bagus, daripada hukuman fisik semata dan diceramahi tentang moral.  (Terjadi di Polsek Pulogadung )

Semoga untuk selanjutnya peristiwa tersebut tidak terulang lagi, dan aparat makin mampu dalam menangani permasalahan Kenakalan Remaja ini dengan lebih bijak. Aku tidak ingin terseret dalam permasalahan politik. Aku tetap fokus pada permasalahan Psikologinya terutama psikologi para Remaja. Bagaimana pun mereka masih dalam masa pertumbuhan dan mereka adalah generasi penerus bangsa.

Yogyakarta, 16 Oktober 2020

Retmono Adi

Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Tiga)


Aku termenung cukup lama sambil membawa secangkir teh hijauku yang sudah kosong. Aku ndomblong sambil mengamati kucing kakakku yang gemuk sedang tidur pulas tidak jauh dariku. Aku seperti orang yang sedang syok entah kenapa aku tidak tahu. Jantungku berdebar agak kencang seperti saat aku presentasi di depan dosen. Aku belum terbiasa membicarakan kehidupan pribadiku dengan seseorang yang usianya jauh di atasku yang masih belum begitu kukenal dengan baik. Lanjutkan membaca “Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Tiga)”

Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Dua)


Bukankah makna cinta itu luas dan dalam? Tidakkah kau ingat, wahai diriku. Kau sudah mengatakannya di dalam video yang kau buat sendiri. Kau sampaikan disitu bahwa cinta bisa berasal dari siapa saja. Bukankah juga kau sampaikan bahwa cinta adalah tentang belajar mengikhlaskan? Lanjutkan membaca “Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Dua)”

Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Satu)


“Ok. Silahkan mulai ceritakan tentang dirimu. Pilih saja mana yang menurutmu penting untuk aku ketahui sehingga aku dapat memahami hubunganmu dengan psikodrama,” kata Pak Didik.

Membuka diri merupakan langkah awal yang perlu kulakukan di hari pertamaku belajar psikodrama. Kuutarakan saja siapa diriku dan bagaimana latar belakang kehidupanku kepada Pak Didik melalui telepon. Awalnya, rasanya agak canggung.

Aku pribadi memiliki mistrust issue ketika berbicara dengan orang yang usianya jauh di atasku. Aku cenderung skeptis karena pengalaman komunikasiku dengan orang tuaku sendiri tidak cukup baik, seringnya berakhir dengan kesalahpahaman.

Saat aku mulai bercerita, sekelebat munculah perasaan-perasaan di masa lalu seperti diabaikan, disepelekan, disalahkan, dianggap membosankan, tidak menarik dan tidak penting, serta takut bila pada akhirnya apa yang kuceritakan justru mengakibatkan kesalahpahaman tak berujung. Sebab sepanjang aku bercerita, Pak Didik lebih banyak diam. Mungkin karena beliau sedang mencoba mendengarkan, agar dapat memahami akar permasalahanku.

Rasanya juga seperti berbicara dengan orang asing. Meski begitu, aku tetap mencoba percaya. Kepercayaan yang muncul didasari oleh beberapa pertimbangan dan perenungan yang mungkin tidak bisa kuceritakan kepada siapa-siapa bahkan kepada Pak Didik.

Meskipun masih ada sisi-sisi lain dari diriku yang tidak kusampaikan.

Selesai aku bercerita, Pak Didik langsung menuju ke inti. “Jadi permasalahanmu apa?”

Aku menjawab dengan berbelit-belit.

Pak Didik bertanya lagi, “Tadi pertanyaanku apa?”

Aku seperti sedang disidang dosen. Aku bingung.

Pak Didik berkata, “Coba sebutkan satu teori psikologi yang sudah kamu pelajari.”

Aku belum makan siang. Aku gugup. Aku sedang tidak bisa mengingat teori-teori apapun karena rasanya aku baru saja menenggelamkan diri dalam palung kerapuhanku sendiri tapi aku diminta untuk kembali lagi ke daratan. Untungnya ada satu yang paling kuingat, teori kebutuhan Abraham Maslow. Permasalahanku berada di kebutuhan kasih sayang. Kebutuhan yang menurutku masih belum terpenuhi secara maksimal.

Kalau aku masih menuntut orang lain untuk memberikan kasih sayang padaku itu tandanya masih menjadi masalah, tapi kalau aku bisa memberikannya kepada orang lain itu tandanya sudah menjadi value dalam diri. Begitu penjelasan Pak Didik.

“Maukah kau menjadi aktor protagonis yang mencoba memberikan kasih sayangmu kepada orang lain? Ataukah menjadi aktor antagonis yang ingin terus menuntut orang lain untuk memenuhi kebutuhanmu?” tanya Pak Didik.

“Aktor protagonis lah. Capek dan tidak akan ada habisnya kalau hanya berharap kepada orang lain,” pikirku. Tapi apakah aku bisa? Lalu bagaimana caranya jika aku saja tidak pernah merasa betul-betul dicintai oleh siapa-siapa. Bagaimana bisa jika kehadiranku saja sering tidak diharapkan orang lain bahkan mungkin oleh orang tuaku sendiri?

Apakah betul aku tidak pernah dicintai? Ataukah selama ini ada cinta-cinta yang telah kuperoleh tapi tidak kusadari? Tapi mengapa aku sering merasa tidak dicintai?

Bersambung…

Kartasura, 09 Oktober 2020

Qanifara

Apakah Bahagia itu? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 01


“Apakah bahagia itu, apakah ia kebulatan dari segala kecukupan perasaan, ketika memiliki segala-galanya lebih dari orang lain, atau ketika kita tak rela memiliki apa-apa bahkan memberikan kemenangan kepada orang lain, atau di tengah-tengah dalam keseimbangan?” – Uap (hal. 94), Putu Wijaya.

Kutipan itu pertama kali kubaca dalam buku yang kutemukan di perpustakaan, di sela-sela pencarian jati diriku. Hampir sekitar lima tahun yang lalu, tapi aku masih mengingatnya sampai hari ini. Lanjutkan membaca “Apakah Bahagia itu? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 01”

Pengalaman Belajar Psikodrama di Hari Pertama Secara Online


“Ok. Silahkan mulai ceritakan tentang dirimu. Pilih saja mana yang menurutmu penting untuk aku ketahui sehingga aku dapat memahami hubunganmu dengan psikodrama,” kata Pak Didik.

Membuka diri merupakan langkah awal yang perlu kulakukan di hari pertamaku belajar psikodrama. Kuutarakan saja siapa diriku dan bagaimana latar belakang kehidupanku kepada Pak Didik melalui telepon. Lanjutkan membaca “Pengalaman Belajar Psikodrama di Hari Pertama Secara Online”

Aku dan Anakku Nanti, Mencoba Menggagas Parenting untuk Remaja


Aku merasa bahwa pilihan sekolah adalah pilihanku. Dari Sekolah Dasar aku sudah berdasar pada pilihanku. Waktu itu alasannya adalah karena banyak teman-temanku sekolah di situ. Demikian juga waktu SMP, dan SMA, karena memang aku ingin sekolah di tempat itu. Apalagi kuliah, aku memilih karena memang aku inginkan. Bekerja ya, melamar sendiri memilih sendiri bahkan memilih ke lain pulau dan ke daerah pedalaman ke tempat yang belum pernah aku kunjungi. Orang tuaku mendukung dengan berpesan hati hati dan jaga diri, meskipun dengan berat hati. Aku mengetahui hal tersebut dari adikku setelah beberapa tahun kemudian. Sekarang aku memutuskan untuk menjadi pekerja mandiri. Keputusan untuk meninggalkan pekerjaan mapan dan memilih untuk menjadi pekerja mandiri juga karena keinginanku (dapat baca Tentangku ) Lanjutkan membaca “Aku dan Anakku Nanti, Mencoba Menggagas Parenting untuk Remaja”

Nilai-Nilai Keutamaan dalam Film Serial Anime yang Sesuai untuk Remaja


Selama Pandemi Covid 19, aku melakukan karantina mandiri, dengan memilih lebih banyak waktu di rumah saja. Selain untuk membuat tulisan dan melakukan Zoominar mengenai Psikodrama, aku menonton film Serial Anime, Naruto, Black Clover, Boruto, Chou Yuu Sekai: Being the Reality dan beberapa yang lain. Ada yang masih tayang serialnya, dan ada yang sudah tamat. Hal ini juga menjadi cara mencari bahan yang dapat dibagikan saat  memfasilitasi workshop psikodrama. Lanjutkan membaca “Nilai-Nilai Keutamaan dalam Film Serial Anime yang Sesuai untuk Remaja”

Menata File Memori Lama agar Lebih Cepat Menerima File Baru


Hape-ku mulai lelet untuk membuka dan menerima informasi baru. Membutuhkan waktu relatif lama hanya sekedar membuka saja. Maka aku lakukan proses menata (membuang) file file lama, terutama video dan foto yang aku dapatkan dari media sosial.

Dari proses itu aku terpikirkan pada apa yang sering terjadi pada kebanyakkan pikiran orang. Banyak orang kesulitan menerima pemahaman baru, serta sulit belajar hal yang baru, karena banyaknya pengalaman dan ingatan yang membebani. Orang perlu menata (membuang) pikiran pikiran lama, agar tersusun rapi dan membuka jalan mempermudah menerima pikiran baru. Lanjutkan membaca “Menata File Memori Lama agar Lebih Cepat Menerima File Baru”