SENI TAK BOLEH SEPI #Goresanku 145


Setiap berbicara tentang seni dan pendidikan kita sering terperangkap dalam salah kaprah, bahwa pendidikan saat ini terkait dengan ketrampilan semata dan seni sekedar pelajaran tambahan yang tidak ada masalah bila ditinggalkan. Padahal seni adalah pendekatan pendidikan yg sangat berarti.

Pendidikan seni tidak terbatas pada minat dan bakat yg beruntung dimiliki sebagian anak sejak lahir. Tetapi diperlukan semua anak karena mendasari kemampuan BEREMPATI dan MEMECAHKAN MASALAH bagi semua profesi.
Untuk kita, mengapresiasi seni atau berkarya lewat seni adalah bagian penting bagi kehidupan manusia. Begitu banyak kesempatan tersedia untuk terlibat dalam kegiatan seni yg ada di sekitar kita.

Saat ini seni hampir tidak ada hambatan untuk berkreasi, seni bisa digabungkan dengan menggunakan teknologi.
Oleh sebab itu, jangan biarkan anak-anak yang mempunyai potensi untuk berkontribusi dan mencintai seni menjadi anak-anak yg kesepian di halaman rumah ataupun sekolah sendiri.

Ditulis kembali oleh C. Tyas K

Sensitivitas Telic, Empati dan Encounter, #Tulisan 11 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Sensitivitas Telic, Empati dan Perjumpaan

Orang dilahirkan dengan kapasitas untuk tele, tetapi pada awalnya itu menyebar dan tidak berdiferensiasi. Kapasitas untuk secara akurat menilai bagaimana orang lain mungkin bereaksi, apakah mereka mungkin merasakan perasaan ketertarikan positif atau negatif yang serupa, atau bahkan netralitas atau ketidakpedulian, disebut “sensitivitas telik”. Ketika dua orang memiliki perasaan yang berbeda satu sama lain, seperti tarik-tolak, atau tarik-netralitas, ini disebut “infra-tele,” dan mencerminkan kurangnya sensitivitas telik yang akurat pada bagian dari setidaknya satu individu (Nehnevajsa). 1956: 62). Lanjutkan membaca “Sensitivitas Telic, Empati dan Encounter, #Tulisan 11 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”

Sebuah Kesadaran yang Menohok


Selama ini saya menargetkan setiap klien yang datang pada saya harus saya bantu dia selesaikan masalahnya dalam satu kali pertemuan. Kebetulan klien klien yang selama ini datang kepada saya memang mampu saya selesaikan dalam satu kali pertemuan. Niat ini membuat saya terkadang melakukan terapi sampai 4 jam lebih. Bagi saya pribadi ini lah wujud totalitas dan “profesionalitas” yang bisa saya berikan bagi profesi saya. Pikiran seperti ini yang membuat saya kadang – kadang berpikiran ‘negatif’ pada rekan rekan seprofesi yang membatasi waktu dalam melakukan terapi. Lanjutkan membaca “Sebuah Kesadaran yang Menohok”

Psikodrama “Sebuah Puisi” dari Bandung


Tertawa
Menangis
Terpancar di wajah
Terasa di hati

Kemampuan mendengarkan
Tidaklah berarti
Tanpa menatap
Tanpa berempati
Banyak bicara
Tanpa mengendalikan diri

Fokus Masalah
Bukanlah solusi
Fokus kenyamanan
Itulah yang dicari

Imeyratu, 2018

(Sebuah Puisi tercipta dari pengalaman ber-Psikodrama di Dispsiad Bandung, 24-25 Oktober 2018. Belajar Komunikasi Non Verbal, dan Empati sebagai dasar melakukan PFA.)