Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?


Aku merasa hal ini sepele, namun sulit untuk dilakukan. Kerapuhanku adalah aku terlalu mengingat peristiwa, terutama peristiwa buruk, aku juga kurang aktif menyampaikan pikiran dan perasaanku, kadang kala aku juga lemot mikir, aku juga rigid secara kognitif. Dampak dari kerapuhanku ini sudah jelas terlihat yaitu sulit menjalin relasi interpersonal. Aku menganggap bahwa memaafkan itu adalah kewajiban, bukan ketulusan hati mengakui kesalahan. Permasalahan ini akhirnya aku pendam bahkan dalam hitungan bulan bahkan mungkin sudah tahunan. Hingga suatu ketika : Lanjutkan membaca “Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?”

Bagaimana Menjadi Lebih Spontan ?


Salah satu dari sejumlah misi yang dipilih dalam hidup adalah untuk membantu orang kembali lagi pada potensi alami mereka sendiri untuk spontanitas dan kapasitasnya untuk eksplorasi yang penuh permainan. Sebagaimana Allee dan saya menulis dalam The Art of Play (yang saat ini kita tulis ulang), spontanitas dan bermain tidak dengan sendirinya kekanak-kanakan. Meskipun akarnya dimulai pada anak usia dini, dan itu akan menahan pada pertengahan masa kanak-kanak dan seterusnya, bahkan bermain imajinatif, seperti menari atau bernyanyi, bisa juga dipupuk dan disalurkan sepanjang hidup. (Ya, yang mungkin memerlukan budaya yang lebih tercerahkan, tapi itulah yang saya sedang mencoba untuk membantu mewujudkannya!) Lanjutkan membaca “Bagaimana Menjadi Lebih Spontan ?”

BELAJAR DARI KESALAHAN #Goresanku 15


Mengenang peristiwa dalam hidup, akan membuat kita bahagia dan membuat kita bersedih. Kita mungkin akan merasa nyaman dan bahagia, bila mengenang peristiwa-peristiwa yang indah. Kita akan merindukan berbagai moment yang indah tersebut.
Kita pun akan merasa bersedih, tidak nyaman, dan tidak bahagia bila teringat akan peristiwa-peristiwa yang buruk. Lanjutkan membaca “BELAJAR DARI KESALAHAN #Goresanku 15”