Sensitivitas Telic, Empati dan Encounter, #Tulisan 11 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Sensitivitas Telic, Empati dan Perjumpaan

Orang dilahirkan dengan kapasitas untuk tele, tetapi pada awalnya itu menyebar dan tidak berdiferensiasi. Kapasitas untuk secara akurat menilai bagaimana orang lain mungkin bereaksi, apakah mereka mungkin merasakan perasaan ketertarikan positif atau negatif yang serupa, atau bahkan netralitas atau ketidakpedulian, disebut “sensitivitas telik”. Ketika dua orang memiliki perasaan yang berbeda satu sama lain, seperti tarik-tolak, atau tarik-netralitas, ini disebut “infra-tele,” dan mencerminkan kurangnya sensitivitas telik yang akurat pada bagian dari setidaknya satu individu (Nehnevajsa). 1956: 62). Lanjutkan membaca “Sensitivitas Telic, Empati dan Encounter, #Tulisan 11 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”

Seseorang Tidak Bisa Mencintai bila Tidak Pernah Dicintai, karena Hanya Rasa yang Mampu Menyentuh Rasa


Kata orang, seseorang tak bisa mencintai bila tak pernah di cintai. Ku rasa ini terlalu ekstrim ya. Sepertinya sulit menemukan fakta bahwa seseorang tak pernah mendapatkan cinta. Hanya saja cinta itu apa, seperti apa rasanya bagi seseorang tentu sangatlah subjektif. Jenis cinta pun sepertinya beragam, tetapi aku tak ingin membahas teori cinta atau pun bernostalgia soal cinta. Cinta itu rasa, itu saja. Biarlah setiap orang memaknakannya dengan cara nya masing-masing. Lanjutkan membaca “Seseorang Tidak Bisa Mencintai bila Tidak Pernah Dicintai, karena Hanya Rasa yang Mampu Menyentuh Rasa”