Belajar menjadi Diri Sendiri dari Film Marvel End Game, Iron Man


Aku meyakini bahwa film yang baik dibuat dengan persiapan dan riset yang sungguh sungguh, sehingga terlihat seperti kehidupan nyata. Tiap karakter tokohnya dibangun dari dinamika psikologis yang “sewajar” mungkin. Dalam arti diusahakan mendekati kenyataan dinamika psikologi manusia. Maka dari itu aku banyak mengambil pelajaran dari film-film yang bermutu untuk praktek Psikodramaku.

Aku tertarik pada akhir dari perjuangan para Avengersber dalam film Marvel End Game. Kali ini karakter Iron Man yang menjadi Pahlawan. Iron Man gugur, mengorbankan diri, tidak memakai topeng besinya. Tony Stark pahlawan itu yang juga Iron Man. Lanjutkan membaca “Belajar menjadi Diri Sendiri dari Film Marvel End Game, Iron Man”

7 Paparan Menemukan “The Essential-Man” Maksud Sebenarnya dari Realisme dalam Teater


Stanislavski—seorang aktor-direktor besar Rusia—memberikan suatu derajat pada kata aktor, suatu dignity, yang tak diperoleh sebelumnya. Ia membuat para aktornya sebagai orang-orang humanis dan psikologis, orang-orang yang memahami dan mengekspresikan perasaan-perasaannya, motif-motifnya , action dan strategi-strategi tingkah-laku manusia.

Ia menolak aktor-aktor yang malas, bebal, yang suka mejeng, melacur yang hidupnya hanya untuk dikeploki orang atau penonton. Aktor harus menghidupkan hidupnya “dalam seni”—latihan-latihan dan disiplin yang ketat, selalu menguji dirinya, standar-standar etika yang tinggi, mengejar selera yang baik di atas dan di luar pentas. Lanjutkan membaca “7 Paparan Menemukan “The Essential-Man” Maksud Sebenarnya dari Realisme dalam Teater”

Ketukan Pintu Hati, Drama Perjuangan Hidup Prita #11 Cerita Pendek


 Sesi Konseling Kedelapan

“Pada suatu malam, dia mengetuk pintu kamarku. Kuperhatikan matanya sembab seperti habis menangis. Dia bertanya, ‘Kau sedang apa? Sibuk tidak? Seperti biasa, aku hanya ingin bercerita.’

“Sambil kubawakan teh hangat, di ruang tamu, dia meminumnya. Lalu dia berkata, ‘mendiang istriku benar-benar berselingkuh dengan sahabatku dan Gia…Gia terbukti bukan anak kandungku.’ Dia menitikkan air matanya sambil menundukkan kepalanya, aku terdiam sebentar. Aku bisa merasakan kepiluan itu. Mungkin saat itu aku sudah tidak lagi bisa membendung perasaan sukaku padanya. Aku sudah tidak bisa menahan perasaan itu lagi. Lanjutkan membaca “Ketukan Pintu Hati, Drama Perjuangan Hidup Prita #11 Cerita Pendek”

Cara Mudah Mengatasi Kesepian


Kesepian adalah ketiadaan hubungan yang berkualitas, hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia dan hubungan dengan diri sendiri. Jadi untuk mengatasi kesepian adalah dengan membangun hubungan yang berkualitas.

Ini membutuhkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri terlebih dahulu. Lakukan Self Assesment (penilaian diri) seberapa berkualitasnya hubungan dengan Tuhan, dengan orang lain, dan dengan diri sendiri. Gunakan sosiometri spektogram, beri angka 1 -100, untuk menentukan kualitas hubungan tersebut. Angka lebih tinggi untuk kualitas hubungan yang lebih baik. Bila sudah mendapatkan hasilnya silahkan mulai.

Ketiga hubungan tersebut saling mempengaruhi dan selaras, salah satu hubungan buruk, lainnya pasti buruk, memperbaiki salah satu, maka yang lainnya juga akan turut membaik.

Berdasar selarasnya ketiga hubungan tersebut, maka cukup pilih salah satu saja dari hubungan itu yang paling mudah untuk dibangun terlebih dahulu.

Berikut cara untuk membangun hubungan yang berkualitas :

Membangun hubungan baik dengan Tuhan, rajinlah berdoa. Cara berdoanya dengan berusaha mendekatkan diri, berdialog akrab. Bayangkan bahwa Tuhan hadir duduk bersebelahan dan ngobrol santai seperti dengan sahabat.

Membangun hubungan baik dengan orang lain. Mulailah berani untuk percaya bahwa orang lain juga membutuhkan teman, sehingga berani mengawali untuk menjalin hubungan. Bergerak mengekplorasi tempat baru dan berusaha bertemu dengan orang baru, pikniklah!. Boleh juga berkunjung ke rumah kawan lama sekedar ngopi bersama dan berbincang tentang apa saja. Kurangi niatan untuk mencari keuntungan dalam hubungan interpersonal ini. Utamakan rasa akrab dan gembira. Jadikan hal ini indikator kualitas hubungannya.

Membangun hubungan baik dengan diri sendiri. Belajarlah menerima pengalaman masa lalu, dan yakin terhadap masa depan serta menikmati hari ini. Temukan sesuatu yang baru pada hari ini, dan jadikan alasan untuk bersyukur. Hal ini juga akan mendukung hubungan yang baik dengan Tuhan. Lakukan juga kegiatan kreatif seperti menulis, melukis, bernyanyi, intinya berkarya, atau berekspresi.

Sepertinya mudah untuk dilakukan, namun banyak orang yang sudah melakukan hal itu, masih saja belum berhasil mengatasi kesepiannya. Kondisi ini biasanya karena banyak orang lebih senang menipu diri, tidak berani menerima kenyataan, atau mungkin tidak terlatih, sehingga tidak tahu caranya.

Bagaimana agar mampu mendapatkan hasil seperti yang diharapkan ? Kunci utamanya adalah berani jujur pada diri sendiri dalam penilaian diri mengenai kualitas hubungan yang dimiliki. Apakah ada “cinta” di dalam hubungan itu. (baca : Hanya Orang yang Merasa Dicintai yang Mampu Mencintai, Refleksi Pengalaman Cinta ).

Yogyakarta, 17 Desember 2020

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80">Retmono AdiRetmono Adi

Renungan Akhir Tahun dan Resolusi ; Berani Menyatakan, Inilah yang Kuperjuangkan Sepenuh Hidupku ?


Terinspirasi dari jawaban seorang peserta ajang kompetisi pencari bakat yang mengatakan diawal audisi bahwa, inilah hidupku, yang kuperjuangkan dengan sepenuh hidupku, (whole life ) Louisa Johnson – The X Factor 

Sebuah jawaban yang berani !

Totalitas !

Ditanggapi Simon Cowell dengan bertanya lebih lanjut, “Apa yang kau maksud dengan sepenuh hidupmu ?” Lanjutkan membaca “Renungan Akhir Tahun dan Resolusi ; Berani Menyatakan, Inilah yang Kuperjuangkan Sepenuh Hidupku ?”

Apakah Bahagia itu? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 01


“Apakah bahagia itu, apakah ia kebulatan dari segala kecukupan perasaan, ketika memiliki segala-galanya lebih dari orang lain, atau ketika kita tak rela memiliki apa-apa bahkan memberikan kemenangan kepada orang lain, atau di tengah-tengah dalam keseimbangan?” – Uap (hal. 94), Putu Wijaya.

Kutipan itu pertama kali kubaca dalam buku yang kutemukan di perpustakaan, di sela-sela pencarian jati diriku. Hampir sekitar lima tahun yang lalu, tapi aku masih mengingatnya sampai hari ini. Lanjutkan membaca “Apakah Bahagia itu? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 01”

Pengalaman Belajar Psikodrama di Hari Pertama Secara Online


“Ok. Silahkan mulai ceritakan tentang dirimu. Pilih saja mana yang menurutmu penting untuk aku ketahui sehingga aku dapat memahami hubunganmu dengan psikodrama,” kata Pak Didik.

Membuka diri merupakan langkah awal yang perlu kulakukan di hari pertamaku belajar psikodrama. Kuutarakan saja siapa diriku dan bagaimana latar belakang kehidupanku kepada Pak Didik melalui telepon. Lanjutkan membaca “Pengalaman Belajar Psikodrama di Hari Pertama Secara Online”

Pelatihan Integritas dengan Metode Psikodrama


Integritas di sini aku maksudkan keselarasan antara tindakan, ucapan, pikiran dan perasaan. Keselarasan ini bakal terwujud bila seseorang berani jujur pada diri sendiri. Kejujuran pada diri sendiri dilatih dengan mulai mengenal perasaan yang dirasakan.

Psikodrama mengajak setiap orang menjadi Protagonis, aktor utama dari drama hidupnya. Seseorang diajak untuk meyakini bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya sepenuhnya adalah tanggung jawabnya. Seseorang diajak untuk mampu melihat bahwa yang terjadi hari ini adalah konsekuensi dari pilihan-pilihan di masa lalunya, baik pilihan sadar maupun tidak sadarnya. Hal yang utama dari kemampuan ini adalah kemampuan mengenali perasaannya, baik saat ini maupun perasaannya pada masa lalu. Menurut “orang tua” banyak tindakan dilakukan berangkat dari perasaan ini. Sayangnya banyak orang tidak menyadari hal ini, lebih tepatnya tidak mau mengakui, maka langkah pertama adalah mengajak orang berani jujur pada perasaannya sendiri. Dengan berani jujur maka perasaan itu akan disadari, dan tindakan yang dilakukan akan mempertimbangakan konsekuensinya.

Mari kita mulai berpsikodrama mengikuti tahapannya:

Tahap Warming Up

Pada tahap ini dapat dilakukan Lokogram, dengan memilih titik, Benar, Baik, Jujur, (letakkan selendang/atau apa pun, pada tiga tempat berbeda di lantai) dengan instruksi: Apa yang paling penting dalam menjalani hidup, Jujur, Baik, atau Benar.  Silahkan berdiri di titik Jujur, Benar, atau Baik. Selanjutannya tiap peserta diminta menjelaskan pilihannya.

Jujur, Baik, dan Benar adalah nilai (value) yang mendukung Integritas. Di sini peserta di ajak untuk berani jujur pada diri sendiri. Melakukan sesuatu yang tidak benar (salah) boleh, melakukan hal yang tidak baik juga boleh, yang penting jujur. Memang dalam tahap warming up (pemanasan) ini dibangun suasana boleh salah, makin banyak melakukan kesalahan makin banyak belajar.

Teknik Sclupture, memahat membuat patung, atau mematung, dapat juga dilakukan. Peserta diminta menjadi pohon dengan tubuhnya, membentuk gesture pohon. Selanjutnya ditanya ia menjadi pohon apa. Diberi instruksi agar tidak berbicara, dan diminta berpasangan menjadi sebuah bentuk pohon. Jika sudah terbentuk berpasang-pasangan, salah satu orang ditanya menjadi pohon apa. tiap pasangan ditanya satu persatu. Sering pasangan yang menunggu giliran ditanya, ada yang bersepakat dan berbicara. Hal ini ditanyakan setelah semua pasangan ditanyai nama pohon.

Siapa yang selama proses tadi bersepakat, berbicara dengan pasangan untuk nama pohonnya. Bukankah tadi sudah diinstruksikan untuk tidak berbicara. Jika ada yang mengaku diberi apresiasi karena kejujurannya. Sedikit direfleksikan betapa sering orang mengusahakan untuk menjadi nampak benar, melakukan tindakan yang melanggar ketentuan, melakukan kecurangan, melakukan hal yang tidak jujur.

Tahap Action

Tawarkan pada peserta, siapa yang bersedia menjadi protagonis, (sesorang yang diminta kesediaannya menceritakan pengalamannya untuk didramakan). Apabila tidak ada dapat dilakukan Sosiometri (salah satu teknik dalam Psikodrama) untuk menentukan protagonisnya.

Protagonis diminta menceritakan pengalamannya pada masa lalu, saat ia melakukan kesalahan dan berani jujur mengakuinya. Pengalamannya itu akan dimainkan lagi (Playback). Jadi Dramanya adalah tentang kejujuran, keberanian bertanggungjawab dan konsekuensinya. (integritas).

Tahap Refleksi

Peserta diminta untuk berdiri melingkar. satu persatu dimintakan untuk mengungkapkan perasaannya sebelum acara, selama acara, dan membagikan pengetahuanya baru apa yang didapatkan selama proses. Acara ditutup dengan saling mengucapkan terima kasih dan bersalaman.

Selesai.

Yogyakarta, 10 Januari 2020

Retmono Adi

 

Perihal Menangis Saat Menangani Klien; Konseling (Diskusi) Lewat WhatsApp, Cukup Menarik dan Layak Dibagikan


Mas. Ketika ak nangani klien, dan dia bercerita dan kemudian menangis.
Dan ak tergugah dan menangis jg.
Ak memilih tdk menahan air mataku.

Perlu kah ak mengontrolnya?
Atau biarkan sj..

Kalau aku akan ikuti aja airmata itu,…dengan tetap menjaga alur proses terapi,….🤗👍👍 …dan mengatakan terima kasih mau berbagi……tetap berusaha jujur pada diri sendiri….👍👍👍

Makasih mas didi 🤗


Chat di WhatsApp, sengaja aku biarkan tulisan seperti adanya agar terlihat otentik. Nama teman tersebut tidak saya tuliskan, kecuali jika yang bersangkutan menginginkan.

Terima Kasih

Yogyakarta, 7 November 2019

Retmono Adi

Psikodrama dan Tentang Memilih untuk Benar, untuk Baik, atau untuk Jujur dari Pengalaman di Yogyakarta


Surprised juga ketika keresahan bertahun_tahun itu simply terpetakan secara experiential dalam sebuah permainan psikodrama. Padahal baru tahap warming up. Dengan cepat aku merasa engaged.
.
Ada suatu masa di mana aku mempercayai sebuah quote, bahwa “adalah penting untuk berbuat benar, namun lebih penting untuk berbuat baik”. Buatku ini zona nyaman. Secara naluriah apa yang bikin orang lain hepi mudah membuatku juga hepi. Hingga suatu saat ada yang memantik pemikiran bahwa sesuatu yang tidak lurus tidak akan membawa kebaikan. Kalaupun terasa baik, mungkin itu semu. Lanjutkan membaca “Psikodrama dan Tentang Memilih untuk Benar, untuk Baik, atau untuk Jujur dari Pengalaman di Yogyakarta”