Konseling dengan Proyeksi Diri pada Film Avengers Endgame


Konseling, 28 June 2019

Aku mendapat klien, dengan permasalahan kesulitan berhubungan dengan Orang Tuanya. Perempuan, usia 20-an tahun, Karyawati sebuah perusahaan Nasional, status belum menikah, Sarjana S1. Posisi kerjanya di bagian Administrasi.

Setelah perkenalan dan menceritakan latar belakang permasalahan yang dihadapinya. Aku menanyakan film apa yang terakhir dia tonton. Ia menjawab, Avengers Endgame. Karena aku juga mengikuti film Avengers, dan mengenal karakter tokoh tokohnya, maka aku mencoba menggunakan teknik Proyeksi dalam proses konseling ini. Lanjutkan membaca “Konseling dengan Proyeksi Diri pada Film Avengers Endgame”

Pengalaman Mengikuti Psikodrama,…. Aku Merasa Lebih Tenang


Hai, Aku Iis. Aku anak pertama dari dua bersaudara, aku tinggal bersama Ayah dan Adik ku laki laki ku yang baru berusia 10 tahun. Usiaku baru menginjak 21 tahun bulan juli kemarin namun ku kira masalah yang kuhadapi dan kehidupanku begitu berat. Ayahku orangnya kasar dan keras tak pernah aku lihat dia lembut kepadaku atau adik ku, yang kulihat hanya kekerasan, yaaa.. Ini aku dan tanggungjawabku, Aku sebagai mahasiswi semester 5 di fakultas psikologi, aku sebagai kakak dan penengah di keluargaku, aku sebagai seorang pekerja untuk masa depanku dan aku sebagai teman yang mengasyikkan untuk mereka yang mengenalku.

Hai, Aku Iis, Aku sebelum mengikuti kegiatan Psikodrama di Kuliah Psikologi Bencana di UNISS aku termasuk orang yang bertindak tanpa berfikir, kalaupun aku bisa ya aku lakukan, tanpa berfikir panjang untuk ke depannya. Aku tak begitu peduli dengan nanti bagaimana, yang pasti aku saat itu bahagia. Aku sibuk dengan kegiatan diluar rumah dan organisasi ku, karena dari situ aku bertemu orang baru dan aku bahagia. Aku yang melihat permasalahan begitu rumit bahkan pernah mencoba untuk mengakhiri kehidupan dan marah dengan Tuhan, kenapa kehidupan tak seperti mereka, yang kulihat begitu menyenangkan, dengan keluarga yang harmonis, orangtua selalu di temui di rumah dan nyaman dengan rumahnya, tanpa perlu mencari kebahagian di luar rumah yang sifatnya semu, yang sering ku lakukan sebelumnya.

Hai, Aku Iis, setelah mengikuti kegiatan Psikodrama di Kuliah Psikologi Bencana di UNISS, aku merasa lebih tenang, karena dapat berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan apa yang telah terjadi di kehidupanku yang lampau. Aku lebih dewasa ketika ada permasalahan tidak cuma melihat permasalahan dari satu sudut pandang saja, melainkan dari sudut pandang lain atau pun dari global, ketika bertindak aku mulai berfikir untuk ke depannya. Apakah yang ku lakukan tidak mengganggu aktifitasku yang lain atau berdampak tidak baik untuk ke depannya.

Hai, Aku Iis, Aku beruntung saat itu menjadi salah satu peserta workshop Psikodrama di Kuliah Psikologi Bencana di UNISS, selain bertemu dengan mereka orang-orang hebat aku juga mendapatkan ilmu yang belum kudapat di lain waktu. Waktu itu adalah salah satu hal yang aku syukuri bahwa aku masih ada di dunia ini. Dari apa yang telah aku dapat, aku berencana untuk berbagi dengan yang lain namun dengan maksud dan tujuan yang berbeda. Psikodrama untuk kegiatan game maupun kegiatan yang menggembirakan lainnya.

Terimakasih semua……

Kendal, 24 November 2018

Iis

Berdamai dengan Diri Membuat Hidup lebih Baik #Goresanku 144


Saya menulis ini berawal dari obrolan dengan salah satu teman guru yang bulan September lalu juga ikut Psikodrama. Sebenarnya dia sudah sering mendengar tentang apa itu psikodrama. Setelah merasakan sendiri dengan ikut Psikodrama, ternyata banyak hal positif yang dia dapatkan.

Ada beberapa teknik yang diberikan dalam ber-Psikodrama. Menurutnya yang paling berkesan adalah saat dia menjadi tokoh Protagonis, yang mana ceritera masa kecilnya direcall dan dimainkan. Di situ dia bisa dengan lepas mengeluarkan semua uneg2 yang ada selama ini.

Selama ini ada perasaan dendam yang sangat dalam terhadap bapaknya, karena merasa diperlakukan tidak adil. Dia merasa bapak pilih kasih dalam memberikan perhatian di antara saudara2 dan dirinya. Bahkan perlakuan fisik pun sering dia terima. Perasaan dendam itu masih terus ada di kala bapak dipanggil Tuhan. Seakan dia tidak bisa terima semua perlakuan yang dia terima.

Dan setelah mengikuti Psikodrama, dia mulai bisa membuka hati untuk membuang rasa dendam yang selama ini tertutup rapat dalam hati. Dia pun sadar bila rasa dendam itu adalah penyakit hati yang bisa merusak diri dan harus segera dihilangkan. Dan dengan memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri itu bisa membuat ” kelegaan hati “.

Yang menarik dari obrolan kami dan itu sempat membuat saya merinding, adalah disaat dia mengatakan ” Psikodrama bisa membuat saya menjadi seorang Pemaaf “.

Benarlah …. bisa berdamai dengan diri sendiri akan mampu membuat hidup lebih baik.

Terimakasih psikodrama …… katanya.

 

Semarang, 24 November 2018

Kusuma

Cerita Dinda dari Samarinda : Psikodrama Semakin Masuk ke Diri Saya


Sabtu pagi di bulan Oktober, bulan penghujan tapi kata Pak Adi, Beliau suka suasana seperti pagi ini, walau menurut saya rada sendu. Tapi saya juga suka.

Bulan ini saya dan rekan rekan dari IKAPSI UNTAG Samarinda mengundang Pak Adi untuk mengisi pelatihan Psikodrama mengenai Management Stress dan Self Compassion. Selain untuk memperkenalkan Psikodrama ke lingkup yang lebih luas, ini juga ajang belajar buat diri saya sendiri, karna nampaknya saya mulai jatuh cinta sama metode ini dan ingin belajar lebih dalam😜
Lanjutkan membaca “Cerita Dinda dari Samarinda : Psikodrama Semakin Masuk ke Diri Saya”

SELF COMPASSION RASA JAWA


Ada ungkapan di masyarakat Jawa, Jagad Gedhe (Dunia Besar) dan Jagad Cilik (Dunia Kecil)
Jagad Gedhe, adalah dunia luar, Lingkungan Sosial, Alam dan Semesta
Jagad Cilik, adalah Diri Sendiri, Self, Pikiran, Perasaan, Masa Lalu, Harapan, dll
Ada keselarasan antara dua Jagad tersebut, ada saling mempengaruhi, salah satu baik maka satunya juga baik, begitu pun sebaliknya.
Dengan pemahaman seperti itu, maka Orang Jawa diarahkan untuk mengelola Jagad Ciliknya sebelum merasa mampu untuk mengelola di Jagad Gedhe-nya (menjadi Pemimpin , Keluarga, Masyarakat, Bangsa atau Negara). Ada banyak “Laku” (cara) untuk itu, misalnya, Puasa, Meditasi, Puasa Bicara, dll
Kesemua Laku tersebut diarahkan untuk mendapatkan kedamaian diri, bila Orang mampu berdamai dengan dirinya, maka dalam menjalani hidup di Jagad Gedhe orang tersebut akan membawa damai itu serta. Ning, Cipta, Rasa, Karsa, Ning berusaha dalam Keheningan, Cipta berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru, Rasa mengelola ciptaan dalam Keharmonisan, dan Karsa melaksanakan Kehendak yang Maha Baik.
Lalu bagaimana dengan Self Compassion itu?
Mari kita diskusikan……

16 Mei 2017

Kebohongan, Cinta dan Tipu Daya


Monday, April 18, 2016 11:56PM

Aku bertemu dengan seorang pria baik hati dan memiliki kepintaran yang luar biasa. Wawasannya luas. Pria ini mengaku jatuh cinta padaku. Memilikinya adalah keberuntunganku sebagai seorang wanita. Dia tahu cara memenangkan hatiku. Dia tahu daerah mana yang boleh disentuh, dan daerah mana yang terlarang disentuh. Dia tahu kapan harus maju, dan kapan harus berhenti. Semua itu terus dilakukan dengan segala upaya untuk mendapatkan hatiku. ATAU menunjukkan cintanya padaku. Aku yang terus terkejut dengan segala upayanya, akhirnya luluh juga. Aku menyukainya. Aku menginginkannya. Alasan apakah? Tidak banyak. Pikiran-pikirannya, perbuatannya, sifat-sifatnya membuat aku membutuhkan pria ini lebih dari seorang teman. Aku jatuh hati padanya, dan memintanya menjadi kekasihku. Lanjutkan membaca “Kebohongan, Cinta dan Tipu Daya”

Tugas Menulis Setelah Mengikuti Psikodrama


Selasa, 25 oktober 2016, aku melangkahkan kaki menuju lantai 10.. Awalnya aku merasa ogah untuk melangkahkan kaki di ruang relaksasi, 8 jam harus berkutat materi, sepintas itu yang terbayang dibenakku. Meski terpaksa, aku meyakinkan diri, semua akan berjalan menyenangkan (nggarepnya sih gitu). Pak Didik, begitulah aku memanggilnya, lengkap dengan ekspresi datarnya. Lewat beliau, aku menemukan istilah baru yang tidak pernah kudengar. Lewat beliau, aku meraih ilmu yang tak pernah kutau (agak alay kayaknya hehe). Menit demi menit berlalu, aku terlarut dalam tawa bersama mereka. Kami berbagi tentang apapun yang telah berlalu dan berlangsung. Menit demi menit berlalu, aku bahagia menghabiskan waktu bersama mereka. Lanjutkan membaca “Tugas Menulis Setelah Mengikuti Psikodrama”