Saat Jantungku Masih Berdetak, Aku Bersyukur,….


Awalnya biasa saja, seperti seseorang menemukan hal baru dan merasa bergairah. Jantung ku berdegup lebih kencang. Tapi ini gairah yang berbeda. Ini bukan rasa menyenangkan seperti degup jatuh cinta. Ini sensasi aura kemarahan yang terpapar melalui udara. Semacam itu kira-kira yang terimajinasikan dalam benakku. Tidak biasanya aku mendeteksi begitu cepat amarah seseorang dan ini bukan hanya sekali saja. Ku rasa sudah mulai mengalir melalui jalur listrik nirkabel. Mengapa ku bisa merasakan kemarahan seseorang dalam jarak yang tidak ku kenali, bahkan wajah orangnya pun ku tak dapat mengimajinasikannya. Lanjutkan membaca “Saat Jantungku Masih Berdetak, Aku Bersyukur,….”

Membebaskan Jiwa yang Terpenjara, Praktek Psikodrama di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Blitar


Aku masih ingat ketika aku dan teman-teman mahasiswa seangkatan mengikuti workshop psikodrama bersama Pak Retmono Adi di Program Studi Psikologi Universitas Sebelas Maret. Pada saat itu aku berhasil untuk merasakan berbagai gejolak emosional pada diriku. Mulai dari senang, sedih, gembira, murung, syukur, kecewa, dan tentunya lelah. Ternyata psikodrama jauh lebih melelahkan dari yang kukira. Namun di samping berbagai perasaan yang telah kusebutkan tadi, yang paling dominan adalah perasaan bahwa: aku bebas—atau setidaknya, aku merasa ingin membebaskan diriku. Aku ingin membebaskan jiwaku. Lanjutkan membaca “Membebaskan Jiwa yang Terpenjara, Praktek Psikodrama di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Blitar”

Bertemu Teman Lama #TerapiMenulis 08


Depresi dengan gejala psikotik.

Demikianlah yang tertera di surat keterangan dokter spesialis kesehatan jiwa yang kuminta beberapa minggu yang lalu. Sudah satu bulan aku mengonsumsi obat-obatan psikiatri. Ada tiga macam obat yang kutelan setiap hari: antidepresan, antipsikotik, dan anti- dari antipsikotik (psikotropika? Psikoaktif? Aku tidak tahu istilahnya). Lanjutkan membaca “Bertemu Teman Lama #TerapiMenulis 08”

Psikodrama dan Tentang Memilih untuk Benar, untuk Baik, atau untuk Jujur dari Pengalaman di Yogyakarta


Surprised juga ketika keresahan bertahun_tahun itu simply terpetakan secara experiential dalam sebuah permainan psikodrama. Padahal baru tahap warming up. Dengan cepat aku merasa engaged.
.
Ada suatu masa di mana aku mempercayai sebuah quote, bahwa “adalah penting untuk berbuat benar, namun lebih penting untuk berbuat baik”. Buatku ini zona nyaman. Secara naluriah apa yang bikin orang lain hepi mudah membuatku juga hepi. Hingga suatu saat ada yang memantik pemikiran bahwa sesuatu yang tidak lurus tidak akan membawa kebaikan. Kalaupun terasa baik, mungkin itu semu. Lanjutkan membaca “Psikodrama dan Tentang Memilih untuk Benar, untuk Baik, atau untuk Jujur dari Pengalaman di Yogyakarta”

Art, Depth, My Reflection and My Action, Psikodrama di Bandung


Hari ini saya menemukan & berkata pada diriku yang berada di hadapanku:

Setiap orang diuji pada hal/titik yang baginya, adalah titik terlemahnya. Lanjutkan membaca “Art, Depth, My Reflection and My Action, Psikodrama di Bandung”

Refleksi Diri dari Kata-kata Bijak Santa Teresa dari Kalkuta


Buah Keheningan adalah Doa,
Buah Doa adalah Iman,
Buah Iman adalah Cinta,
Buah Cinta adalah Pelayanan,
Buah Pelayanan adalah Damai.

~ Santa Teresa dari Kalkuta

Buah Keheningan adalah Doa,

Masih sering aku pada saat hening, merasa sendiri dan kesepian, merasa kering dan dicampakkan sehingga aku ketakutan dan lari pada keramaian. Lanjutkan membaca “Refleksi Diri dari Kata-kata Bijak Santa Teresa dari Kalkuta”

Aku dan Pilihan Jalan Hidupku,…


Lebih dari 5 tahun yang lalu, aku bertemu dengan Seorang Romo di Girisonta, beliau mengatakan, Manusia itu makhluk menyejarah. Karena aku berlatar belakang Psikologi,maka aku tangkap maknanya bahwa, Pribadi yang sehat mental adalah yang mampu menuliskan sejarah hidupnya.

Waktu itu aku sedang proses pengolahan hidup (retret), mengolah sejarah hidupku untuk menentukan langkah selanjutnya. Aku barusan mengundurkan diri dari tempat kerjaku, perusahaan yang bergerak di pertambangan batu bara. Sebuah pilihan yang ditimbang-timbang lebih dari 2 tahun, dan sekarang adalah usaha untuk memantapkan pilihan tersebut. Lanjutkan membaca “Aku dan Pilihan Jalan Hidupku,…”