PANDUAN TRAINING BERDASAR DRAMA


Seorang karyawan mengaku kepada manajernya bahwa rekan-rekan kerjanya mengiriminya ofensif e-mail. Seorang sales representative, Afrika-Amerika pertama yang bekerja di tenaga penjualan serba putih (kulit putih), mengatakan kepada manajer bahwa dia ingin mengajukan keluhan EEO. Situasi rumit seperti ini merupakan tantangan sehari-hari di lingkungan perusahaan saat ini.  Misalnya: keterampilan dalam menangani topik hangat seperti keragaman di tempat kerja, pelecehan seksual, dan kekerasan di tempat kerja naik ke posisi utama dalam ukuran keberhasilan kepemimpinan, serta ” people skills ” mendapatkan kredibilitas dan kewibawaan. Seandainya paradigma strategis lebih daripada reaktif, dinamika manusia adalah untuk mengubah pemikiran kita, maka paradigma baru untuk pelatihan harus mengantar pada perubahan.
Lanjutkan membaca “PANDUAN TRAINING BERDASAR DRAMA”

PSIKODRAMA dan Bibliodrama pada Rekoleksi Siswa-siswi SMP


Akhir Maret lalu, memfasilitasi Rekoleksi di SMP Marganingsih Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Pingin aja mencatat urutan prosesnya, mungkin bisa dipakai lain kali, atau juga kalau ada rekan lain yang ingin memakainya.

Menjalin hubungan dengan Diri Sendiri, Orang Lain, dan Tuhan, (Personal, Interpersonal, dan Transpersonal)

A. Lingkaran Pembukaan

1. Berdiri melingkar, tangan kanan, diletakkan di Dada kiri, berkata Personal, tangan kanan di tepukan ke punggung orang sebelahnya sambil berkata Interpersonal, dan selanjutnya tangan kanan diangkat ke atas dan berkata Transpersonal. Lanjutkan membaca “PSIKODRAMA dan Bibliodrama pada Rekoleksi Siswa-siswi SMP”

Penerapan Drama, Sebuah Surat Terbuka


Ada bidang baru yang bisa disebut “Applied Drama” atau “Teater Terapan,” tapi belum ada yang benar-benar mengetahuinya. Ini adalah istilah untuk berbagai macam upaya yang menggunakan drama/teater untuk mempromosikan kesadaran pribadi dan kelompok. Lanjutkan membaca “Penerapan Drama, Sebuah Surat Terbuka”

PERSPEKTIF SEJARAH; SEBUAH PANDUAN UNTUK TRAINING BERDASAR DRAMA #Psikodrama 2/7


….sambungan dari ….Sebuah Panduan Training Berbasis Drama

Sebagai sarana untuk hiburan, drama selalu memiliki kemampuan untuk menggetarkan, bergerak, dan menginspirasi khalayak. Dari tangan Euripides lalu Shakespeare sampai dengan Scorcese, menunjukkan ketrampilan dari intensitas emosional yang memungkinkan drama dijadikan sarana untuk memusatkan perhatian, meningkatkan kesadaran, dan menyampaikan ide-ide secara dinamis.

Menggunakan drama sebagai alat bantu mengajar bukanlah hal baru. Dari filsuf Yunani dan Romawi kuno sampai dramawan kontemporer, drama telah digunakan sebagai cara yang menarik untuk bercermin dan mengeksplorasi kondisi manusia. Plato mendorong anak-anak untuk belajar melalui improvisasi dan tari. Hrosvitha, seorang biarawati Saxon abad kesepuluh, menulis drama untuk mendidik jemaat tentang isu-isu moral. Aktor-aktor komedi keliling dell’arte membuat drama untuk membawakan isu-isu sosial masyarakat Italia dari abad pertengahan akhir. Lanjutkan membaca “PERSPEKTIF SEJARAH; SEBUAH PANDUAN UNTUK TRAINING BERDASAR DRAMA #Psikodrama 2/7”

Penerapan Psikodrama, Memperluas Cita-cita Moreno (Bapak Psikodrama)


Psikodrama telah berkembang, dan sekarang memiliki sejumlah “sepupu,” termasuk :
– Seniman teater, aktor dan sutradara yang menyadari bahwa improvisasi memiliki estetika sendiri, dan lebih dari itu, aplikasi praktisnya melampaui tujuan hiburan – yaitu, penerapan improvisasi
– Terapis drama yang menekankan kekuatan penyembuhan menciptakan sesuatu estetis menarik dan semakin lengkap
– Terapis ekspresif yang menekankan bahwa musik, seni, tari, gerakan, puisi, menulis kreatif, kostum atau kain, dan sejenisnya, semua memiliki kekuatan untuk mempercepat pemahaman dengan mengungkapkan pada energi dari media tersebut Lanjutkan membaca “Penerapan Psikodrama, Memperluas Cita-cita Moreno (Bapak Psikodrama)”