Overthinking #10 Life Career Employee Faith


Kemarin sore saya dan atasan saling bicara. Dia bertanya apa yang saya suka dan tidak suka, apa kendalanya, ada masalah dimana, apakah saya happy atau tidak, dan lain-lain. Pertanyaan ini bagus dan sangat saya tunggu-tunggu dari kemarin. Saya stuck dengan pekerjaan ini. Saya tidak bahagia. Saya tidak suka dengan perlakuan orang-orang disini. Saya tidak suka ketidak harmonisan dan ketidak teraturan disini. Kebodohan di meeting. Terlalu hirarki. Banyak hal ingin saya utarakan. Lanjutkan membaca “Overthinking #10 Life Career Employee Faith”

Lelah #9 Life Career Employee Faith


Aku lelah. Setiap orang yang melihatku sekarang bisa melihat dengan jelas kalau cahaya di wajahku berhenti bersinar. Aku bisa tersenyum, berbicara layaknya tidak terjadi apa-apa – normal, namun jiwaku merana kesakitan. Orang-orang mendiagnosis penyakitku adalah cape hati. Secara fisik masih sehat-sehat saja, tapi wajah yang muram ini asalnya jelas dari dalam hati.
Saking lelahnya, aku lupa beberapa nama orang terdekat disini. Aku sulit mengingat-ingat siapa nama mereka. Ada beberapa, jelas-jelas baru kenalan dan jelas-jelas sering berhubungan, aku tidak dapat menyebut nama mereka.
Aku melihat wajah mereka, hati mereka, mendengar suara orang-orang yang sedang berbicara padaku, namun aku tidak mengerti apa yang mereka sedang bicarakan. Pikiranku memprogram untuk setiap perkataan ini, adalah jawaban ini. Karena semua hanya di permukaan, memoriku tidak cukup kuat mengingat setiap perkataan mereka. Jangankan perkataan yang baik, perkataan yang menyakitipun tidak mudah kuingat. Hari ini dengar, besok paginya aku sudah tidak ingat kejadian hari ini. Bukan terhapus dari memori begitu saja, tapi kalau ada yang bertanya bagaimana kejadian kemarin, jiwaku tertekan, aku tak mampu mengatakannya.
Jiwaku lesu. Hati yang gembira terbang dariku. Aku tertawa, tapi hatiku tidak merasakan kegembiraan itu. Aku menangis, tapi hatiku tidak benar-benar sedih. Wajah dan prilakuku tidak terkoneksi dengan hati. Aku layaknya robot.
Aku tidak lagi bisa toleran. Ada yang tertawa di sebelah sana, ada sesuatu menggangguku. Ada yang tersenyum padaku, aku tahu senyumannya tidak tulus, dan aku masih harus menghadapi orang itu lagi dan lagi. Aku bertahan. Setidaknya aku mencoba untuk bertahan. Tidak boleh menyerah, kata-kata itu terus menerus mengiang di telinga. Apakah aku bekerja karena aku perlu membuktikan diri kalau aku bisa, sehingga aku mengorbankan kebahagiaanku sendiri? Apakah aku harus terus bertahan demi tujuan yang aku set untuk orang lain lihat ini tujuanku, padahal bukan ini yang aku inginkan?
Aku makan dan tidak ingat apakah sudah kukunyah. Aku menelpon dan berbicara, tapi aku lupa apa yang sudah aku bicarakan. Aku melihat orang, tapi tak mengenalnya. Aku terdiam dan lebih nyaman terdiam. Aku mencoba untuk gembira. Berusaha memberi kebahagiaan pada diri sendiri, namun mengapa jiwa ini menahan perasaan gembiraku.
Apakah semua karena faktor eksternal yang mempengaruhi diriku begini, atau faktor internalku yang justru membuat aku begini?
Ketika dulu teman cerita begini sama aku, aku akan menyarankannya untuk memperbaiki faktor internalnya dulu. Sekarang, internalku sedang berjuang. Terus melangkah atau harus menyerah. Apapun pilihanku, bukan berarti aku kalah. Benarkah?

 

Rabu, 2 Maret 2016

 

~SJU~

About Getting Marriage : Bukan Jawaban Kapan Menikah….Page 3 of 3


 Page 3 of 3

Saya lelah. Halah, lebay! (itu menurut orang-orang yang sudah berpengalaman menanggapi). Orang lain menasehati untuk tetap berusaha. Mungkin itu belum jalannya. Jodoh memang sulit dicari. Kalau sudah ketemu, pasti juga akan ketemu. Seberapa besar usahamu, kalau bukan jodoh ya akan berpisah juga. Kalau itu jodohmu, sedikit usaha saja akan tetap bersatu. Kalau saya tidak berusaha lagi, bagaimana saya bisa menemukan suami potensial untuk masa depan saya?

Saya berpikir ulang, kenapa saya harus melakukan semua usaha ini? Segala usaha haruslah menghasilkan sesuatu. Apa yang kita tabur, pasti ada tuaiannya, bagus atau buruk. Semua usaha ini untuk bisa menikah? Kenapa saya harus menikah? Benarkah saya membutuhkan pria disamping saya?

1 tahun pengalaman dengan pria-pria aneh membuat saya belajar, bahwa wanita cerdas tidak seharusnya menyusahkan hidup dengan pria bodoh. Mungkin inilah kenapa akhirnya banyak wanita jaman sekarang memutuskan hidup sendiri. Ya, disamping alasan-alasan lain, seperti: kekecewaan, karenapenyakit, tujuan hidup tertentu, dan lain sebagainya. Makanya ada orang bilang, “hanya wanita bodoh yang akan menikah oleh buaian pria di masa muda.”

Saya juga tidak bermaksud merendahkan pria dengan mengatakan mereka bodoh, walau Saya juga pernah mendengar bahwa laki-laki itu tak pernah dewasa. Ada benarnya, ada tidaknya juga. Menurut saya ini bukan soal siapa bodoh, siapa cerdas. Ini lebih ke masalah pengalaman hidup. Keputusan yang diambil, dan tujuan yang ingin dicapai.

Ketika terlalu banyak pengalaman pahit masuk dalam kehidupan seorang wanita, dia akan jauh lebih selektif. Dia akan jauh lebih peka terhadap hal-hal yang bisa membahayakannya. Segala upaya akan dilakukannya supaya dia tidak sakit. Ketulusan dan cinta menjadi sesuatu yang sulit dipercayai lagi.

Apakah masih ada cinta sejati? Hal ini pun berlaku pada pria. Pria juga lebih hati-hati. Apabila hati pria yang tulus telah dirusak oleh penghianatan, entah siapa yang bisa memperbaikinya kembali. Begitupun dengan wanita, banyak pemandangan pria berselingkuh, tidak lagi mencintai istrinya, meninggalkan istrinya saat istrinya hamil dan sedang susah-susahnya setelah melahirkan. Kalau rumah tangga segitu rapuhnya, masih adakah kepercayaan akan pernikahan?

Kembali ke pertanyaan haruskah saya menikah? Saya berpikir keras lagi menjawab itu. Menikah berarti menyerahkan hidup saya terhadap suami. Memiliki kehidupan baru di rumah bersama. Setiap hari bertemu. Melakukan hubungan yang dianggap tabu kalau bukan suami istri. Hamil 9 bulan. Merasakan stresnya melahirkan. Punya anak. Mengurus anak. Mengurus suami. Kisah hidup di kalangan saudara-saudara dan keluarga dekat suami. Kisah hidup suami dan teman-temannya. Melewati kisah hidup anak-anak yang telah dilahirkan. Dan masih banyak kisah hidup baru yang dilewati baik senang maupun sedih.

Pertanyaan selanjutnya lagi adalah apakah saya membutuhkan anak untuk masa tua saya?

Apakah saya membutuhkan pria yang bisa saya andalkan di hari tua?

Apakah saya rela mengikut suami dan tunduk dalam segala keadaan dan kondisi apapun?

Apakah saya bisa bertahan dalam gejolak atau masalah-masalah yang akan timbul di rumah tangga?

Kalau saya memang harus melewati semua ini seumur hidup, kenapa saya harus terburu-buru mencari pasangan?

Kenapa juga saya diminta instan menjalani hubungan untuk keputusan menikah, kalau masih mentah?

Jangan hanya karena terpatok usia yang terus menerus bertambah, saya merelakan diri kepada siapa saja yang ingin menikahi saya.

Keyakinan saya adalah apapun yang kita kerjakan, lakukan itu semua seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia. Ini berarti bukan hanya soal pemikiran, tapi juga perasaan. Memiliki hati dan memberi 100%. Melakukan dengan segenap hati dan memberi yang terbaik. Saya akan dengan rela kalau saya mendapatkan cinta itu. Kalau saya dan pasangan saling mencintai. Kalau kami sama-sama mencintai Tuhan, kami juga percaya akan cinta yang tulus.

Saya juga tidak ingin menikah hanya karena keinginan untuk saling memiliki dan menguasai. Itu hanya sementara. Masing-masing orang mempunyai hidupnya sendiri-sendiri. Itu berarti bertanggung jawab terhadap pribadinya sendiri. Jangan berpikir dengan memiliki suami sekarang, suami melepaskan kebebasannya. Menjadi istri memiliki tanggung jawab seorang istri. Tunduk pada suami. Percaya sepenuhnya. Kunci pernikahan adalah memiliki hubungan dengan Kristus sebagai kepala keluarga tertinggi. Dia punya rencana apabila saya dan calon pasangan bersama. Itu berarti menjadi keluarga yang melayani dan berbagi bagi sesama.

 

Selesai

Love Seeker

About Getting Marriage : Bukan Jawaban Kapan Menikah….Page 2 of 3


 Page 2 of 3

Apakah itu arti dari pernikahan? Menciptakan keluarga baru dengan adanya suami, aktifitas bersama, adanya anak, dan bersama-sama melewati hari dengan bahagia? Atau sebenarnya itu hanya tahap dalam kehidupan manusia tentang level kehidupan. Lahir, bermain, belajar, sekolah, kuliah, bekerja, menikah, punya anak, merawat anak, jadi tua, mati. Lanjutkan membaca “About Getting Marriage : Bukan Jawaban Kapan Menikah….Page 2 of 3”

Pekerjaan Baru #4 Life, Career and Employee Faith


Monday, December 07, 2015

Masih ingat cerita posisiku sekarang? Kalau belum baca, teman-teman bisa baca di (Maju atau Berhenti)…

Disana saya bercerita saya seperti sedang mengendarai mobil di jalan. Posisi aman terancam, banyak mobil ingin cepat-cepat menuju tujuan.  Saya hanya harus memutuskan kemana langkah selanjutnya. Apakah keluar dari jalur untuk mencari jalan lain, atau tetap disana, berjalan lambat atau melaju dengan kecepatan yang hampir sama dengan mobil-mobil lain. Lanjutkan membaca “Pekerjaan Baru #4 Life, Career and Employee Faith”

Apakah saatnya Maju atau Berhenti Mengubah Jalur? #3 Life, Career and Employee Faith


Thursday, 26 November 2015

Pagi hari dimulai dengan senyuman manis dan baju rapi. Tidak ada yang salah. Tidak tersandung, dan wajah full of make up. Ok hari ini saya sangat percaya diri. Hari ini ada meeting besar satu divisi, membicarakan apa yang menjadi objective 2016 dan apa hasil yang sudah dilakukan di 2015. Segalanya berjalan baik, sampai ketika saya merasa kejanggalan dan saya mulai tidak mengerti apa yang orang-orang sedang bicarakan di depan. Apa yang mereka presentasikan saya tidak tahu. Tiba-tiba saya seperti tertarik ke dunia saya sendiri. Terpencil, sendiri dan tidak bisa berinteraksi. Saya mendengar si ini berbicara; si itu menanggapi, ada yang bertanya dan saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Saya tidak mengerti situasi yang membawa saya jadi seperti orang yang autis. Apa yang membuat saya begini? Lanjutkan membaca “Apakah saatnya Maju atau Berhenti Mengubah Jalur? #3 Life, Career and Employee Faith”

Bagian #2 My Life, Career, and Employee Faith


Kalau baca kisahku seminggu lalu, ini lanjutannya. Aku berpikir lebih dalam apa yang membuat aku bosan dan tidak menikmati bekerja di perusahaan bonafit ini. Apakah keluar dari sini adalah satu-satunya jalan keluar. Merenung. Merenung tidak sama dengan dengan melamun. Dulu aku selalu berpendapat, orang yang merenung hanya menghabis-habiskan waktu. Karena bagiku merenung adalah kegiatan melamun. Ternyata aku salah. Merenung adalah bagian dari hidup. Disitu saatnya saya merefleksikan hidup. Berpikir lebih dalam. Berbicara pada diri saya sendiri atau Tuhan sebagai sahabat tertinggi. Lanjutkan membaca “Bagian #2 My Life, Career, and Employee Faith”