Naruto adalah Tontonan dengan Banyak Kebijaksanaan Pelajaran Hidup


Iruka mengajariku … bukan untuk menilai orang berdasarkan reputasinya tetapi dengan kepribadian mereka.

Haku mengajariku … bahwa tidak ada yang baik atau jahat ketika aku melindungi orang yang aku cintai.

Neji mengajariku … bahwa jika aku meninggalkan harga diriku, aku dapat mengubah nasibku. Lanjutkan membaca “Naruto adalah Tontonan dengan Banyak Kebijaksanaan Pelajaran Hidup”

Satu Kata yaitu Menyenangkan, Kesan Saat Praktek Psikodrama di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar


Pada hari Selasa tersebut, saya dan kawan-kawan melaksanakan kegiatan bermain Psikodrama bersama 15 andik yang telah kami pilih sesuai dengan kriteria yang telah kami tentukan dari 160-an andik yang ada di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas I Blitar.

Kegiatan kami laksanakan dari pukul 13.00 WIB hingga pukul 14.30 WIB. Rancangan kegiatan dari warming up terlebih dahulu dengan di mulai dari pengenalan diri dengan berpose, setelah itu dilanjutkan dengan sosiometri, lokogram, dan sculpture. Setelah warming up, dilanjutkan dengan action.

Action berupa “memaafkan” dan teknik membayangkan masa lalu/masa depan. Dalam pelaksanaannya, karena waktunya tidak cukup jadi yang teknik “membayangkan” tidak jadi dilakukan. Setelah semua kegiatan dilakukan, kami menutupnya dengan reflection dari keseluruhan kegiatan.

Kesan saya mengenai kegiatan yang kami lakukan ini jika misal diungkapkan dalam satu kata yaitu menyenangkan. Tidak ada lagi yang bisa saya ungkapkan selain itu. Walaupun memang kegiatannya tidak sesuai dengan apa yang direncanakan, tapi saya benar-benar menikmati kegiatan ini.

Surakarta, 6 Agustus 2019

Hajjy

Supir Itu Aku, Bukan Yang Lain, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta


Selama 23 tahun, aku merasa hidupku terkesan begitu-begitu saja, lempeng-lempeng saja. Aku selalu berusaha mengatakan dan melakukan banyak hal agar orang lain senang, sedangkan aku terkadang merasa sebaliknya. Sejak kecil hingga sekarang hidupku selalu menuruti keinginan orangtuaku. Aku harus juara kelas. Aku harus mendapatkan beasiswa. Aku harus menang lomba. Aku harus ini dan kemudian itu. Lanjutkan membaca “Supir Itu Aku, Bukan Yang Lain, Pengalaman Psikodrama di Yogyakarta”

Belajar Budi Pekerti Melalui Praktek Psikodrama ( Playback ), Berani Jujur dan Bertanggung jawab


Budi pekerti merupakan wujud dari pemahaman akan aturan, tata krama, hukum, agama, adat-istiadat, norma sosial, dan nilai-nilai luhur. Penanaman budi pekerti lebih merasuk bila dilakukan dengan tindakan nyata sehari-hari. Bila seorang anak sejak dini sudah ditanamkan dasar-dasarnya, dengan berjalannya waktu nilai tersebut akan berkembang seturut usianya.

Berikut salah satu praktek Psikodrama, yang dapat mengungkapkan bagaimana budi pekerti merasuk pada seorang anak. Lanjutkan membaca “Belajar Budi Pekerti Melalui Praktek Psikodrama ( Playback ), Berani Jujur dan Bertanggung jawab”

Aja Nggege Mangsa, Semua Ada Waktunya ( Prihatin terhadap Anak-Anak yang dipaksa Cepat Dewasa)


Jaman sekarang semua ingin serba cepat, instant, dunia industri mengajak kompetisi, siapa cepat ia yang dapat. Bahkan ada lagunya The Winner Takes It All (ABBA),  Siapa yang menang ia akan mendapatkan semuanya.

Pahami lebih dalam bahwa kecepatan tidaklah harus berupa kompetisi, sekarang saatnya berkolaborasi. Kecepatan tetap dapat dijadikan salah satu acuan, dengan tetap mempertimbangkan banyak hal, orang lain, anggota team, sumber daya yang ada dll. Lanjutkan membaca “Aja Nggege Mangsa, Semua Ada Waktunya ( Prihatin terhadap Anak-Anak yang dipaksa Cepat Dewasa)”

Program Mari Peduli Biaya Pendidikan Anak LKSA Indriyanati


Aku sekarang mengelola Lembaga Kesejahteraan Sosial di D.I. Yogyakarta, yang fokus pada Anak dan Perempuan, nama lembaga nya Indriyanati, yang berarti Perempuan yang bertekad baja. Lembaga ini telah aktif sejak akhir tahun 90an. Telah banyak kawan yang berproses belajar bersama, dan sekarang sudah banyak “alumni” yang tersebar ke berbagai tempat.

Hari ini kedatangan “dedengkot”nya, Mr Kelex,  (nama panggilan beken-nya) dulu waktu masih Mahasiswa Psikologi Gadjah Mada, telah merintis dan mengawal hingga lebih dari 10 tahun. Sekarang sudah berkarya dan domisili di Jakarta bersama keluarganya.

Sebenarnya Beliau sudah rutin untuk silaturahmi, namun kali ini terasa istimewa dengan obrolan yang terjadi. Beliau memberikan saran program yang menarik, yaitu mengumpulkan dana untuk biaya sekolah anak-anak yang menjadi anggota keluarga besar Indriyanati.

Programnya mirip dengan orang tua asuh. Kawan-kawan Alumni yang sudah memiliki penghasilan serta mapan secara ekonomi, diajak untuk peduli dan bersedia memberikan sumbangan sebagai tambahan biaya pendidikan Anak-anak, hingga lulus SLTA. Besaran sumbangannya sukarela, dan waktu memberikannya juga tidak ditentukan. Dana tersebut langsung ditranfer ke rekening anak dan pemanfaatannya dalam monitoring Lembaga Indriyanati (teknis detailnya dapat didiskusikan).

Usulan ini terasa tepat, sudah satu tahun ini Indriyanati, memonitor dan mendampingi Pemanfaatan Dana Program TASA (Tabungan Sosial Anak), Anak-anak memiliki Tabungan sendiri, yang dana nya awal diisi oleh Pemerintah (Kemensos/Dinsos) untuk peningkatan Gizi dan Sanitasi juga untuk keperluan Sekolah. Nah,…dengan anak sudah memiliki tabungan maka ..klop dah,…:-)

Indriyanati akan menginformasikan data anak yang membutuhkan bantuan biaya sekolahnya kepada calon orang tua asuhnya. Bahkan jika dirasa lebih baik, Orang tua asuh dapat berhubungan langsung dengan anak asuh dan orang tua aslinya. Setiap terima raport, hasilnya diinfokan ke orang tua asuh.

Program ini juga terbuka bagi siapa saja yang ingin terlibat membantu, dengan menghubungi langsung Pengurus Indriyanati. Informasi bisa melihat di page Facebook  Indriyanati atau di IG @indriyanati silahkan diikuti.

Demikian semoga menjadi berkah bagi semua.

 

Yogyakarta, 18 Juni 2019

Retmono Adi

Haruskah Ranking I untuk menjadi Istimewa dan Bahagia ?


Era saat ini sudah tidak tepat untuk berkompetisi, Era sekarang saatnya berkolaborasi, kerjasama dan bersinergi. Sistem Ranking memacu tiap siswa berkompetisi untuk menjadi juara dengan mengalahkan siswa lain.

Sudah banyak kejadian bahwa yang dulu pernah ranking satu setelah dewasa dan menjalani kehidupan nyata, prestasinya tidak dapat dibedakan dengan yang tidak menduduki ranking. Lanjutkan membaca “Haruskah Ranking I untuk menjadi Istimewa dan Bahagia ?”