Coretan Lama 02; Arti Rumah adalah Tempat untuk Pulang Hati


Sejauh apa pun kau berkelana,

sekeras apa pun kau memperjuangkan hidup,

sesukses apa pun kau di masa depan,

pada akhirnya kau akan selalu mencari tempat untuk pulang.

Bukan sekadar tempat untuk mengistirahatkan raga

melainkan juga tempat di mana hatimu memutuskan untuk tinggal.

Barangkali ‘rumah’ adalah sebutan yang tepat bagi orang-orang yang dipilihkan Tuhan untukmu.

Mereka yang memeluk mesra hatimu dari jauh, menjagamu lewat doa.

Mereka yang selalu menyambut kepulanganmu dengan penuh suka cita.

Mereka yang tidak segan untuk membantumu bangkit saat kau terjatuh.

Mereka yang dapat membantumu membangkitkan rasa bahagia dalam jiwamu.

Mereka yang mengenalkanmu pada arti ketulusan.

Tidak harus banyak,

bila kau bisa menemukan beberapa atau hanya seseorang saja,

itu sudah lebih dari cukup.

 

Kartasura, 12 September 2016

Qanifara

HATI HATI MOTIVASI ANAK DENGAN HADIAH #Goresanku 154


Prinsip terpenting dari dukungan untuk anak adalah memupuk motivasi diri agar tumbuh secara alamiah. Setiap anak terlahir dengan ini, tidak ada yang mengancam atau mengiming-imingi anak untuk belajar berjalan. Saat anak berada dalam lingkungan yang tidak membatasi, anak punya dorongan untuk mencoba dan mengembangkan potensi diri. Lanjutkan membaca “HATI HATI MOTIVASI ANAK DENGAN HADIAH #Goresanku 154”

STIMULASI ANAK USIA DINI #Goresanku 153


Orangtua dan orang dewasa di sekitar anak sangat menentukan kualitas kehidupan anak dan perkembangannya yang optimal melalui apa yang dilakukan atau tidak dilakukan di lima tahun pertama. Anak mengalami periode sensitif dalam belajar, memiliki keingintahuan alamiah yang sangat besar dan berkembang pesat secara fisik dan mental di bagian awal kehidupannya. Semakin baik stimulasi di usia dini, anak akan semakin siap menghadapi tahap selanjutnya, bisa lebih maju dan tidak kehilangan kesempatan atau mengalami kesenjangan dalam perkembangan. Lanjutkan membaca “STIMULASI ANAK USIA DINI #Goresanku 153”

PENTINGNYA KOMUNIKASI DENGAN SEKOLAH PAUD #Goresanku 152


Komunikasi antara orangtua dan sekolah perlu dimulai dengan prinsip dasar yang disepakati sejak awal. Orangtua sebaiknya jujur, terbuka dan interatif. Tidak menyembunyikan sesuatu, tetapi ceriterakan kekurangan dan kelebihan anak agar guru dapat memberikan respon yang tepat pada anak. Apapun pengalaman orangtua yang pernah alami dengan sekolah, memilih sekolah untuk anak adalah salah satu bentuk kepercayaan. Lanjutkan membaca “PENTINGNYA KOMUNIKASI DENGAN SEKOLAH PAUD #Goresanku 152”

KOMUNIKASI EFEKTIF VS TIDAK EVEKTIV #Goresanku 151


Kita punya pilihan setiap kali berinteraksi dengan anak. Biasakan kita memilih cara yang merangsang komunikasi yang baik dan mencoba melakukannya dengan rutin. Sebagian kita tahu dan pernah menggunakan semua cara ini. Yang menyedihkan seringkali cara yang dipilih hanya itu-itu saja, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda. Lanjutkan membaca “KOMUNIKASI EFEKTIF VS TIDAK EVEKTIV #Goresanku 151”

MEMBUMIKAN LITERASI #Goresanku 150


Membaca adalah memahami rangkaian makna, bukan hanya sekedar mengeja tulisan. Artinya, pandai membaca adalah proses yg terus dipelajari, jauh sesudah kita menggabungkan suku kata yang berarti. Maka, pembaca jagoan adalah yang terus mengusahakan pengenalan lingkungan, bukan sekedar melafalkan tulisan. Lanjutkan membaca “MEMBUMIKAN LITERASI #Goresanku 150”

KECERDASAN YANG TAK BISA DITUNDA #Goresanku 149


Cerdas digital adalah bukan hanya tentang tujuan, tetapi juga tentang cara. Dunia digital penuh pelajaran dan kesempatan, namun tantangannya pun tak kalah besar. Orangtua dan guru bijak justru memilih untuk memberdayakan, bukan memberi larangan tanpa alasan. Kita percaya, latihan ketrampilan hidup di dunia digital, menjadi pintu menumbuhkan kecerdasan yang juga bermanfaat di dunia nyata. Lanjutkan membaca “KECERDASAN YANG TAK BISA DITUNDA #Goresanku 149”

MERDEKA BELAJAR SEJAK USIA DINI #Goresanku 148


Masa prasekolah adalah masa yang sangat penting dalam pendidikan seorang anak. Pada usia 0-6 tahun banyak disebut sebagai masa emas perkembangan anak, karena otak anak mampu menyerap informasi hingga 80 persen. Di masa ini, anak mulai terbentuk aspek perkembangannya: kognisi, bahasa, fisik motorik, sosial emosi, moral, kemandirian dan seni.
Melihat hal tersebut, saya sebagai pendidik ingin memaksimalkan aspek-aspek perkembangan murid secara menyenangkan dan bermakna. Belajar yang menyenangkan dan langsung pada obyek pembelajaran, membuat anak akan mampu mengembangkan aspek-aspek perkembangan yang dimilikinya. Lanjutkan membaca “MERDEKA BELAJAR SEJAK USIA DINI #Goresanku 148”

MELAWAN PERUNDUNGAN DI SEKOLAH PAUD #Goresanku 147


Masalah perundungan adalah salah satu masalah dalam pendidikan dan pengasuhan. Bahkan hal itu bisa juga terjadi pada anak pra sekolah (PAUD). Kadang kita tidak menyadarinya, seringkali perudungan terjadi pada saat anak-anak bermain bersama di sekolah. Ibarat alarm, begitu mendengar kata ” bully ” orang langsung peduli. Sayangnya kesadaran tinggi di masyarakat masih banyak miskonsepsi. Terlepas dari semangat melakukan perbaikan, kesalahpahaman masih sering kali memperburuk keadaan. Lanjutkan membaca “MELAWAN PERUNDUNGAN DI SEKOLAH PAUD #Goresanku 147”

Namanya juga Anak-anak, Demonstrasi di Jalanan, UU Cipta Kerja


Demonstrasi mengenai UU Cipta Kerja, berlangsung dengan kericuhan dan pengrusakan fasilitas umum. Sebenarnya kondisi tersebut dapat dengan mudah diprediksi bahwa hal itu akan terjadi, dengan melihat beberapa hal yang memiliki potensi akan terjadinya kericuhan tersebut.

Ada dua teori Psikologi yang dapat menjelaskan dinamikanya.

Teori pertama mengambil dari Teori Psikologi Perkembangan, khususnya Masa Remaja, yang menyatakan, selain pertumbuhan fisik, remaja juga mengalami perkembangan kognitif dan emosi. Seorang yang masuk dalam masa remaja akan mulai berpikir logis dan abstrak, bertindak agresif seperti cenderung akan melawan segala aturan yang diberikan pada dirinya. (5 Masalah Perilaku Remaja dan Cara Mengatasinya )

Karena perubahan-perubahan inilah remaja akan bersikap berbeda kepada orangtuanya. Remaja akan cenderung berprilaku negatif terhadap orangtuanya, misalnya melanggar semua aturan yang telah ditetapkan. Orang tua adalah figur otoritas di rumah, ketika demontrasi di ruang publik  (demonstrasi) figur otoritas yang ditentang adalah pemerintah dan saat di jalanan figur itu adalah polisi sebagai representasinya,  maka para demontran yang anak remaja akan menunjukkan perilaku negatifnya, dengan melanggar aturan yang ada. Dalam peristiwa demo yang lalu anak anak itu melakukan pengrusakan fasilitas umum serta melawan polisi.

Teori kedua adalah Teori Psikologi Kelompok, Penyebab Perilaku Kerumunan oleh Le Bon, menurutnya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kerumunan yaitu:
1. Anonimitas. Karena faktor kebersamaan dengan berkumpulnya individu-individu yang semula dapat mengendalikan diri, merasa dapat kekuatan luar biasa yang mendorongnya untuk tunduk pada dorongan naluri dan terlebur dalam kerumunan sehingga perasaan menyatu dan tidak dikenal mampu melakukan hal hal yang tidak bertanggung jawab. Semakin tinggi kadar anonimitas suatu kerumunan, semakin besar pula kemungkinannya untuk menimbulkan tindakan ekstrim karena anonimitas mengikis rasa individualitas para anggota kerumunan itu.

2. Contagion (penularan). Penularan Sosial (social contagion), adalah penyebaran suasana hati, perasaan atau suatu sikap, yang tidak rasional, tanpa disadari dan secara relatif berlangsung cepat. Penularan ini oleh Le Bon dapat dianggap suatu gejala hipnotis. Individu yang telah tertular oleh perasaan dan tindakan orang lain sudah tidak memikirkan kepentingan individu melainkan kepentingan bersama.

3.Konvergensi (keterpaduan). Orang-orang yang akan menonton festival musik Pop, dengan orang-orang yang menonton festival musik Rock akan memiliki ciri-ciri yang berbeda. Orang-orang yang menonton festival musik rock cenderung akan lebih mudah menimbulkan keributan dibanding dengan orang-orang yang menonton festival musik Pop. Orang-orang yang menonton festival music Rock relatif usianya sama-sama muda, mayoritas laki-laki dan tidak memiliki ikatan kuat terhadap nilai-nilai dan lingkungan setempat, berbeda dengan Orang-orang yang menonton festival music Pop.

4. Suggestibility (mudahnya dipengaruhi). Kerumunan biasanya tidak berstruktur, tidak dikenal adanya pemimpin yang mapan atau pola perilaku yang dapat dipanuti oleh para anggota kerumunan itu sehingga dalam suasana seperti itu, orang berperilaku tidak kritis dan menerima saran begitu saja, terutama jika saran itu meyakinkan dan bersifat otoritatif. Akan tetapi siapa induk atau yang memulai sulit ditentukan . (Teori Kerumunan Le Bon )

Kombinasi dari 2 teori tersebut sudah cukup menjelaskan potensi kerusuhan bakal terjadi. Remaja (rentang usia antara 13 – 19 tahun) berada dalam kerumunan. Dari dalam dirinya sudah ada keinginan menentang otoritas, ditempatkan dalam situasi anonimous. Mereka lebih berani melakukan tindakan ekstrim. Disusul kemudian ketika ada salah satu yang mulai melakukan tindakan pengrusakan atau agresi, maka jadi pemicu  mempengaruhi yang lainnya. Selain karena mereka juga tidak lagi mampu berpikir kritis, sehingga penularannya makin cepat, skalanya makin meluas dan membesar. 

Meskipun sangat mengkuatirkan mengapa hal tersebut sepertinya dibiarkan terjadi. Namun semuanya telah terkendali dan dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak.

Ada pembelajaran yang menarik yang  kudapatkan di Twitter. Bagaimana polisi melakukan penangkapan para pelaku demonstrasi yang kebanyakan masih berusia remaja itu. Polisi menahan mereka semalaman untuk mendata mereka. Keesokan harinya dipanggilkan orang tua mereka. Anak anak itu diminta minta maaf dan dilanjutkan dengan memeluk orang tuanya. Sebuah treatment Psikologis yang bagus, daripada hukuman fisik semata dan diceramahi tentang moral.  (Terjadi di Polsek Pulogadung )

Semoga untuk selanjutnya peristiwa tersebut tidak terulang lagi, dan aparat makin mampu dalam menangani permasalahan Kenakalan Remaja ini dengan lebih bijak. Aku tidak ingin terseret dalam permasalahan politik. Aku tetap fokus pada permasalahan Psikologinya terutama psikologi para Remaja. Bagaimana pun mereka masih dalam masa pertumbuhan dan mereka adalah generasi penerus bangsa.

Yogyakarta, 16 Oktober 2020

Retmono Adi