Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?


Aku merasa hal ini sepele, namun sulit untuk dilakukan. Kerapuhanku adalah aku terlalu mengingat peristiwa, terutama peristiwa buruk, aku juga kurang aktif menyampaikan pikiran dan perasaanku, kadang kala aku juga lemot mikir, aku juga rigid secara kognitif. Dampak dari kerapuhanku ini sudah jelas terlihat yaitu sulit menjalin relasi interpersonal. Aku menganggap bahwa memaafkan itu adalah kewajiban, bukan ketulusan hati mengakui kesalahan. Permasalahan ini akhirnya aku pendam bahkan dalam hitungan bulan bahkan mungkin sudah tahunan. Hingga suatu ketika : Lanjutkan membaca “Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?”

Mari Hidup Bahagia dengan Memaafkan


Apakah kamu siap memaafkan?

Pengampunan menuntut kita melepaskan kebutuhan kita untuk dikasihani, kebutuhan kita untuk menjadi benar, dan kebutuhan kita untuk merasakan hubungan yang intens dengan penyiksa kita melalui kemarahan.
Matt Kramer

Ini adalah kutipan dari buku forgiveness workbook karya Eillen Barker kiriman Mb Niki, seorang kawan yang baik hati padahal kami belum pernah bertemu. Kami sebenarnya bertemu dalam grup WA yang sedang membuat proyek pembuatan buku bahagia dengan memaafkan. Aku hanyalah salah satu kontributor dalam keriuhan pembuatan buku ini. Tentu saja kami riuh karena tema ini memang menukik ke dalam jantung problem kami sehari-hari. Setidaknya untuk Aku pribadi yang notabene pernah mengikuti workshop pemaafan, menerapkan teknik ini dalam ruang praktek. Dan tentu saja telah sempat berjuang untuk menerapkannya terlebih dulu bagi diri sendiri. Lanjutkan membaca “Mari Hidup Bahagia dengan Memaafkan”

……. yang terjadi Setelah Mengikuti Psikodrama


Sabtu, tanggal 12 Januari 2019, yang lalu, Saya memfasilitasi Psikodrama di Solo. Kali ini kami mengolah Forgiveness dengan Psikodrama. Saya sebelum mengakhirinya selalu menyampaikan bahwa efek Psikodrama tetap bekerja setelah pulang ke rumah, bahkan sampai beberapa hari ( dapat dilihat pada Catatan Dinamika Emosional “Bermain” Psikodrama ). Ini penting disampaikan agar peserta menyadari dan mampu mengantisipasinya, dan kemarin ( Senin, 14 Januari 2019) saya meminta umpan baliknya dengan bertanya :

Apakah ada yang masih berasa efek-nya?

Lanjutkan membaca “……. yang terjadi Setelah Mengikuti Psikodrama”

Tugas Menulis Setelah Mengikuti Psikodrama


Selasa, 25 oktober 2016, aku melangkahkan kaki menuju lantai 10.. Awalnya aku merasa ogah untuk melangkahkan kaki di ruang relaksasi, 8 jam harus berkutat materi, sepintas itu yang terbayang dibenakku. Meski terpaksa, aku meyakinkan diri, semua akan berjalan menyenangkan (nggarepnya sih gitu). Pak Didik, begitulah aku memanggilnya, lengkap dengan ekspresi datarnya. Lewat beliau, aku menemukan istilah baru yang tidak pernah kudengar. Lewat beliau, aku meraih ilmu yang tak pernah kutau (agak alay kayaknya hehe). Menit demi menit berlalu, aku terlarut dalam tawa bersama mereka. Kami berbagi tentang apapun yang telah berlalu dan berlangsung. Menit demi menit berlalu, aku bahagia menghabiskan waktu bersama mereka. Lanjutkan membaca “Tugas Menulis Setelah Mengikuti Psikodrama”