Kesombongan Spiritual yang Masih Sering Mengusikku, Apakah Mentalku Sehat?


Dipicu oleh twitwar di Twitter tentang pemahaman mengenai Surga dan Neraka, dan memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 10 Oktober.

Aku merasa lebih tahu dari mereka.

Aku merasa lebih paham dari mereka.

Aku merasa lebih berpengalaman dari mereka, karena aku sudah banyak makan asam garam kehidupan.

Aku merasa lebih Suci dari mereka, karena lebih banyak buku yang kubaca dan dibimbing oleh Guru  yang betul betul telah teruji ilmu agamanya.

Aku merasa lebih dewasa dari mereka dalam mensikapi kehidupan.

Aku lebih khusyuk berdoa dari mereka.

Aku merasa lebih banyak bersyukur daripada mereka.

dan

Aku mentertawakan mereka,

Aku mencibir mereka.

Apakah aku lebih sehat mental daripada mereka?

 

Jakarta, 8 Oktober 2019

Retmono Adi

Terapi Menulis #02 Ia Semakin Mengerti Tanda-tanda Orang…..


oleh Ayati Rini

“Jangan tuliskan apa-apa. Aku tidak ingin ketahuan. Jangan katakan apa-apa. Jangan temukan aku. Jangan ceritakan. Ujarkan pada dirimu sendiri. Kalian menyedihkan. Tidak mau. Aku takut dengan kalian.”
Ia meracau sendiri sembari menangis dengan lebih keras dari biasanya siang itu. Sebelumnya, ia memainkan melodi keyboar di kunci minor. Lantunan musik dan puisi sedih membawanya pada air mata, hingga ia mencoba membuka pintu itu. Pintu itu diganjal dari dalam; gelap dan tak terlihat apapun. Ada sesuatu–atau bahkan seseorang–di dalam sana. Ialah Sang Penjemput yang telah Warni ketahui juga bahwa keadaannya pun tidak baik-baik saja.

Warni tidak berani melakukan apa-apa, ia melangkah ke lantai dua untuk melanjutkan tangisannya dan meracau lebih hebat. Ia tahu bahwa dirinya harus menulis atau menghubungi orang yang lebih mengetahui bagaimana ia harus bertindak, namun dirinya menolak untuk itu. Kegelisahan yang ada di dalamnya menolak untuk diidentifikasi dan ditenangkan. Ia masih ingin memuaskan dirinya dengan merusak tubuh yang ditinggalinya semakin dalam.

Maka ia menghubungi kekasihnya yang selanjutnya mendengarkan, mencoba membantunya menarik napas panjang, dan membantu menguatkannya untuk kembali beraktivitas sebagaimana seharusnya. Warni mengikutinya, meski ia masih resah karena Sang Penjemput dan seorang lainnya telah ia ketahui sedang tidak baik-baik saja. Warni mencemaskan mereka berdua. Sejak Warni memasuki masa-masa ini, tampaknya kepekaannya semakin meningkat. Ia semakin mengerti seperti apa tanda-tanda orang yang sedang baik-baik saja dan seperti apa tanda-tanda orang yang sedang tidak baik-baik saja.

 

&&&&&&&

 

*Tulisan diatas merupakan proses konseling lanjutan. Ada teman ingin bertemu dengan saya minta konseling, dan saya menawarkan terapi menulis ini. Silahkan menulis apa saja, boleh dengan nama samaran, dan nama orang-orang juga disamarkan. Dasar Teorinya  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Bencana dan Anugrah adalah Kehendak-Nya, Kemanakah kehendakku ?


Kubuka FB ku, seperti hari yang lalu aku online menenggok kawan kawan di media sosial ini.
Sambil kedengar musik “The Best Relaxing Piano Flute Music Ever” .

Kulihat berita yang di share temen temen, telah terjadi banjir dan tanah longsor di beberapa tempat di Jawa Tengah. Wajah wajah tegang dan gelisah, serta pasrah.

Disaat bersamaan, Aku lihat juga foto-foto cantik pemadangan dan tempat wisata yang dikunjungi temen-teman. Wajah wajah cerah, bangga dan bahagia. Lanjutkan membaca “Bencana dan Anugrah adalah Kehendak-Nya, Kemanakah kehendakku ?”

IKAN KECIL DAN AIR #Goresanku 29


Suatu hari Seorang Ayah dan Anaknya sedang duduk dan berbincang-bincang di tepi sungai. Kata Ayah kepada Anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati”.

Pada saat yang bersamaan, Seekor Ikan Kecil mendengarkan percakapan itu dari bawah permukaan air, Ia mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Lanjutkan membaca “IKAN KECIL DAN AIR #Goresanku 29”