Puasa adalah Mengolah Rasa, Mengendalikan Diri, Memberikan Kuasa Ilahi Bekerja


Puasa merupakan proses melatih Rasa untuk membangun hubungan yang baik dengan diri sendiri. Bagaimana Rasaku sekarang berhubungan dengan Masa laluku, dan juga bagaimana caraku menggapai Masa depan. Aku “isa rumangsa” (bisa menyadari) perilaku dalam hidupku.

Aku mengendalikan diri, membangun hubungan yang baik dengan orang lain, lingkungan sosial dan lingkungan alamku. Dengan Rendah Hati berani meminta maaf, dengan Besar Hati memaafkan. Menahan hawa nafsu duniawi, yang lebih banyak merusak hubungan sosial dengan orang lain, dan menciderai alam. Menyerahkan sebagian dari hasil kerjaku untuk orang yang kurang mampu, dengan kesadaran bahwa hasil kerja itu juga merupakan hasil bantuan dari orang-orang lain yang ada di sekitarku, baik langsung maupun tidak langsung.

Aku berserah diri, memberikan diriku ada dalam Kuasa Ilahi. Aku membangun hubungan yang baik dengan Penciptaku. Mempelajari  lagi yang tertulis di Kitab Suci, mendengarkan kata kata orang bijak yang menyejukkan hati, yang menuntun jalanku agar lebih dekat pada-Nya. Serta mohon berkah untuk dimampukan bersyukur atas apa pun yang telah terjadi.

Selamat berpuasa, ……

 

Yogyakarta, 4 Mei 2019

Retmono Adi

Pengalaman mengikuti Workshop Psikodrama di Jakarta


Pada hari itu, Minggu 28 April aku pergi bersama dengan temanku untuk mengikuti workshop Psikodrama. Selama perjalanan, otakku dipenuhi dengan banyak pertanyaan dan rasa cemas. Kira-kira bagaimana ya nanti kegiatannya, apa saja ya yang akan dilakukan. Hal ini ditambah lagi dengan pemikiranku seputar tesis yang ikut bergejolak di dalam benakku. Lanjutkan membaca “Pengalaman mengikuti Workshop Psikodrama di Jakarta”

Psikodrama di Jakarta, Prosesnya Diungkapkan Lewat Rasa


Prosesnya diungkapkan lewat Rasa

Dalam upaya memastikan keyakinan dan mencari dukungan
Diri menyerahkan seutuhnya,tanpa melupakan sang kuasa
Jika jodoh ada atas kuasa-Nya
Maka diri ini harus memastikan Kekuasaan-Nya itu

Diri bersepakat bahwa tidak ada yang benar atau yang salah
Tapi diri dengan kepalanya tetap saja mencari pembenaran dan menyalahkan.
Diri dengan begitu percaya mengatakan bahwa diri itu unik dan berbeda
Tapi diri masih saja secara yakin bersikap seperti norma kebanyakan diri yang lain

Berterima bukan tanda lemah
Mencoba berserah, bukannya berarti pasrah
Dari leher ke kepala perlu rehat
Biarkan dada yang menerima karena rasa seharusnya tak pernah dusta

Bertatap saat itu menjadi sulit, apalagi diharuskan untuk berucap
Sebuah kata terimakasih anehnya terasa begitu sangat dalam
Kala airmata dianggap sebagai makna kedalaman
Semua diri merelakannya, tak khawatir habis, malah bersyukur bisa lebih lega

Ketika sang Protagonis diminta mengeksplorasi memori
Dibuatnya sang memori keluar dari diri agar setiap orang bisa melihat
Menjadi adalah cara efektif untuk lebih mengerti dan paham
Tapi jangan lupa kembali, lebih untuk menjaga agar tidak tersesat

Kalau tikar dan termos saja berterima atas kelebihannya,
Mengapa harus dibahas lagi kekurangan-kekurangannya??
Manusia adalah makhluk kompleks yang berakal.
Tapi juga berperasaan, camkan itu.

Jika jujur masih disanksikan hadir dari orang lain
Maka, kenapa tidak berbicara pada diri sendiri saja?
Naif jika pada diri sendiri saja masih tidak jujur.
Setidaknya diri akan tau jika diri membohongi dirinya sendiri.

Melingkar sebagai sebuah tanda akan usai
Saling menatap berupaya mendapat rasa yang sama
Saling menggenggam agar berusaha satu frekuensi
Diri-diri akhirnya menyepakati, rasa ini harus disebar

Mereka bukan lagi diri-diri yang datang tadi pagi
Ini bukan hanya belajar, tapi berobat juga tentu saja
Selamat.. Kalian memang benar-benar berjodoh.
Psikologi dan Drama dalam Psikodrama…. Terimakasih

28 April 2019
Di Laboratorium Psikologi AU

Faldhy Dwi Budiansyah

Pencerahan dalam Sebuah Drama, Pengalaman Mengikuti Psikodrama


Kembali mengikuti kelas psikodrama, teknik favorit saya. Kali ini untuk komunitas orang orang yang peduli dan mau bersiap untuk menghadapi bencana. Di kelas ini, kami belajar bagaimana caranya menggunakan Psikodrama untuk membantu korban bencana. Lanjutkan membaca “Pencerahan dalam Sebuah Drama, Pengalaman Mengikuti Psikodrama”

Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?


Aku merasa hal ini sepele, namun sulit untuk dilakukan. Kerapuhanku adalah aku terlalu mengingat peristiwa, terutama peristiwa buruk, aku juga kurang aktif menyampaikan pikiran dan perasaanku, kadang kala aku juga lemot mikir, aku juga rigid secara kognitif. Dampak dari kerapuhanku ini sudah jelas terlihat yaitu sulit menjalin relasi interpersonal. Aku menganggap bahwa memaafkan itu adalah kewajiban, bukan ketulusan hati mengakui kesalahan. Permasalahan ini akhirnya aku pendam bahkan dalam hitungan bulan bahkan mungkin sudah tahunan. Hingga suatu ketika : Lanjutkan membaca “Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?”

Perihal Menulis, Mencoba BerBuah dalam Kekeringan


Apa yang harus aku lakukan dengan kekeringan ini?
Sampai kapan aku terus mencari dan menunggu?
Pesan apa yang perlu dipetik dari proses ini?
Entah mengapa tidak ada yang datang

Kering, kering, kering

Aku mengerti sekarang mengapa banyak penulis atau mereka yang masuk di bidang sastra terlihat berbeda, eksentrik, unik, kadang juga terlihat moody, berada di dunianya sendiri, dan seterusnya. Saya yakin banyak yang akan tidak setuju dengan pernyataanku ini, mohon maaf, tapi tidak ada niat dan maksud untuk menyinggung perasaan. Saya menyadari kalau pernyataan itu berdasarkan stereotipe, paham. Lanjutkan membaca “Perihal Menulis, Mencoba BerBuah dalam Kekeringan”

Terapi Menulis #07 Sang Penari, Lampu, dan Bayangannya


Oleh Ayati Rini

Seorang penari menggerakkan jemarinya satu demi satu, kemudian melentingkan kakinya di bawah sorot lampu putih. Sang penari tak sendirian, ia menari bersama bayangan yang ada di bawah kakinya. Ketika sang penari bergerak ke kanan, bayangan itu ikut bergerak ke kanan. Jika sang penari berputar, maka bayangan itu ikut berputar. Lanjutkan membaca “Terapi Menulis #07 Sang Penari, Lampu, dan Bayangannya”