Coretan Lama 50, Hidup Bersama untuk Dapat Melihat Harapan


Dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang jauh dari kata ideal,

bagi anak sepertiku,

kehidupan pernikahan sangatlah rumit.

Tapi satu hal yang kupelajari.

Mungkin fisik dapat membuat kita tertarik.

Tetapi karakter dan pemikiran

yang sejalan dapat membuat kita lebih nyaman

dan mampu bertahan bersama pasangan.

Bertahan bukan karena paksaan

tetapi karena ketika kita bersama,

kita dapat melihat adanya harapan.

 

Kartasura, 27 September 2018

Qanifara

3 Makna Cinta yang Kita Harapkan sebagai Manusia


Tadi malam ada teman curhat perihal keinginannya untuk menikah. Sudah ada seorang perempuan yang menanyakan padanya kapan akan melamarnya. Namun ia masih belum yakin akan dirinya sendiri. Aku menemukan tulisan ini di internet, kusimpan disini. Semoga dia membacanya.

Cinta bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Seluruh keberadaan manusia tidak lepas dari cinta. Manusia ada (lahir) karena dan buah dari cinta. Ia menjadi besar dan belajar juga tak lepas dari cinta. Banyak atau sedikit cinta yang dialami oleh seseorang adalah persoalan lain. Yang jelas ialah hidup manusia tidak lepas dari cinta.

Pertanyaannya adalah apa itu cinta?

Lalu, cinta yang bagaimana yang diharapkan/didambakan oleh manusia? Lanjutkan membaca “3 Makna Cinta yang Kita Harapkan sebagai Manusia”

MENGATASI IRI HATI #Goresanku 99


Dengan bergurau, seseorang mendefinisikan kebahagiaan sebagai “suatu sensasi menyenangkan yang muncul karena membayangkan kesengsaraan orang lain.”

Barangkali hanya sedikit dari kita yang mengaku setuju dengan definisi ini. Yang aku khawatirkan adalah bahwa sebenarnya kita semua membenarkan hal itu. Memang dapat dimengerti bila kita menginginkan kesuksesan seperti orang lain. Namun, kita salah jika berpikir, “Jika aku tidak bisa memiliki sesuatu, maka orang lain tidak boleh mendapatkan sesuatu yang aku inginkan itu.” Lanjutkan membaca “MENGATASI IRI HATI #Goresanku 99”

Contoh Terapi Keluarga, Argumen vs Rekonsiliasi


Istri tersayang saya, Allee dan saya memiliki beberapa kenikmatan terbesar dalam berbicara dari hati ke hati. Daripada berdebat, kita mendengarkan dan kemudian mencoba untuk tidak hanya memahami, tetapi mengungkapkan dalam hal apa mungkin berpikir dan merasa satu sama lain.

Kami menjelajahi dua arketipe kunci tadi malam: aku menyadari aku berhenti pada perasaan “menjadi” dan aku merasa terhormat dalam berpikir bahwa aku dapat membantu meskipun dalam hal yang sepele. Hal ini penting dan memuaskan bagi saya. Allee menemukan sesuatu yang mengganggu, tetapi hanya sejauh itu membawa semangat abad ke-20 yaitu Argumentasi, yang berdasar pada bahwa kebenaran lebih baik “menang” lebih dari pada bahwa kebenaran adalah baik.

Lanjutkan membaca “Contoh Terapi Keluarga, Argumen vs Rekonsiliasi”

Mengapa banyak dari kita yang tidak mau dikritik? #Goresanku 24


Hidup kita dipenuhi dengan berbagai aturan, baik tulisan maupun lisan. Aturan-aturan yang melandasi hidup tersebut bertujuan untuk mengembangkan suatu sistem yang baik dalam hidup bersama.

Aturan-aturan tersebut ada karena ada rasa kepedulian terhadap sesama dan kita dituntut untuk mengatur hidup kita dengan baik. Saling mengingatkan dan saling menguatkan dalam menjalankan suatu aturan, akan membuat hidup kita layak dan pantas.

Sering kali dalam menyikapi hidup, kita tidak dapat berinteraksi dengan baik dengan sesama, dikarenakan kita tidak ingin dikritik oleh orang lain.

Menerima suatu saran dan pendapat dari orang lain adalah BAIK. Mengapa banyak dari kita yang tidak mau dikritik?
Apakah karena diri kita sudah layak dan pantas?

Mari kita renungkan!

Ditulis kembali oleh :
Catharina Tyas Kusumastuty