3 Makna Cinta yang Kita Harapkan sebagai Manusia


Cinta bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Seluruh keberadaan manusia tidak lepas dari cinta. Manusia ada (lahir) karena dan buah dari cinta. Ia menjadi besar dan belajar juga tak lepas dari cinta. Banyak atau sedikit cinta yang dialami oleh seseorang adalah persoalan lain. Yang jelas ialah hidup manusia tidak lepas dari cinta.

Pertanyaan ialah apa itu cinta? Lalu, cinta yang bagaimana yang diharapkan/didambakan oleh manusia?

Dalam bahasa Yunani, ada tiga kata yang digunakan untuk mengungkapkan cinta, yakni: erosphilia dan agapeEros adalah cinta seksual, yang didasarkan pada nafsu/birahi. Di sini, orang lain tidak dipandang sebagai person/subyek melainkan hanya sebagai obyek. Penghargaan terhadap orang lain sebagai pribadi tidak ada. Satu-satunya yang ada ialah nafsu “ego”. Eros merupakan cinta yang terarah kepada orang lain tetapi ditujukan demi kepuasan pribadi orang yang mencintai. Dengan kata lain, cinta ini terarah kepada diri sendiri. Orang lain dilihat bukan karena pribadi melainkan didasarkan pada jenis kelamin semata.

Philia adalah cinta persahabatan. Di sini, cinta bersifat relasional. Orang lain telah dipandang sebagai pribadi yang mempunyai kekhasan/keunikan dan kualitas tersendiri: cantik, lembut, pengertian, dan seterusnya. Cinta philia tidak dibatasi oleh jenis kelamin tetapi terbuka kepada semua, baik pria maupun wanita.

Agape merupakan cinta yang tertinggi. Cinta ini tidak lagi tergantung pada bakat, kualitas-kualitas yang ada di dalam pribadi orang lain (cantik,lembut, ramah, pengertian, dsb); tidak memandang orang lain terbatas sebagai “pribadi yang lain” melainkan melihat orang lain sebagai bagian dari diri sendiri. Gabriel Marcel (seorang filsuf Perancis) membahasakannya dengan ungkapan: “Aku” dan “Engkau” menjadi “Kita”. Dalam konteks ini, “Aku” melihat diriku di dalam “dirimu” dan “Aku” menemukan “Engkau” di dalam “diriku”. Di sini, cinta agape merupakan cinta yang sanggup menderita dan berkorban (sebab “engkau” adalah bagian dari “aku” atau ”diriku” dan demikian juga sebaliknya). Ia keluar dari “ego” dan terarah serta terbuka kepada yang dicintai. Cinta agape melampaui jenis kelamin, cantik-jelek, kaya-miskin, pintar-bodoh; dan mengatasi segala tembok-tembok pemisah seperti perbedaan agama, suku, budaya, dsb.

Ketiga jenis cinta di atas ada di dalam diri setiap manusia, kendatipun kadarnya berbeda dalam diri masing-masing orang. Ada orang yang di dalam dirinya lebih menonjol cinta eros daripada philia dan agape. Ada juga orang yang di dalam dirinya lebih menonjol cinta philia atau agape daripada cinta eros.

Tentunya kita tidak mau hanya tinggal pada level eros saja. Manusia memiliki keinginan dan kemampuan untuk meraih sesuatu yang lebih. Usaha untuk melatih diri sangat dibutuhkan untuk sampai pada kedalaman jiwa/hidup. Pemikiran-pemikiran positif tentang orang lain (tidak hanya sekedar cantik, ganteng, jelek, lawan jenis, dll) akan membantu dalam usaha memurnikan eros dan philia sehingga menjadi agape.

Refleksi mendalam tentang nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan pasti sangat membantu untuk melihat orang lain (secara khusus orang yang kita cintai) sebagai bagian dari diri kita sendiri; bukan sebagai obyek pelampiasan nafsu (dalam arti luas). Hal itu akan menjadi kenyataan bila di dalam diri mulai dibangun penghargaan terhadap nilai dan kemurnian diri sendiri; tidak menjadikan diri sendiri sebagai obyek eros (baik oleh orang lain maupun oleh diri sendiri).

Salam penuh cinta buat anda semua….!!!!

Tulisan diatas aku copas dari Cinta: Eros, Philia, dan Agape tulisan Oleh: Frans R. Zai agar tersimpan di sini.

Ada dua peristiwa yang menjadikan aku mencarinya di google mengenai makna cinta ini.

Pertama tadi malam ada teman curhat perihal keinginannya untuk menikah dan sudah ada seorang perempuan yang menanyakan kapan ia akan melamarnya. Namun ia masih belum yakin akan dirinya sendiri.

Kedua, Kotbah Romo saat Misa hari ini tadi, menyebut tentang 3 makna Kasih dalam bahasa Yunani.

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80">Tulisan ini akan aku share ke temanku itu, agar ia dapat mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya.Tulisan ini akan aku share ke temanku itu, agar ia dapat mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya.

MENGATASI IRI HATI #Goresanku 99


Dengan bergurau, seseorang mendefinisikan kebahagiaan sebagai “suatu sensasi menyenangkan yang muncul karena membayangkan kesengsaraan orang lain.”

Barangkali hanya sedikit dari kita yang mengaku setuju dengan definisi ini. Yang aku khawatirkan adalah bahwa sebenarnya kita semua membenarkan hal itu. Memang dapat dimengerti bila kita menginginkan kesuksesan seperti orang lain. Namun, kita salah jika berpikir, “Jika aku tidak bisa memiliki sesuatu, maka orang lain tidak boleh mendapatkan sesuatu yang aku inginkan itu.” Lanjutkan membaca “MENGATASI IRI HATI #Goresanku 99”

Contoh Terapi Keluarga, Argumen vs Rekonsiliasi


Istri tersayang saya, Allee dan saya memiliki beberapa kenikmatan terbesar dalam berbicara dari hati ke hati. Daripada berdebat, kita mendengarkan dan kemudian mencoba untuk tidak hanya memahami, tetapi mengungkapkan dalam hal apa mungkin berpikir dan merasa satu sama lain.

Kami menjelajahi dua arketipe kunci tadi malam: aku menyadari aku berhenti pada perasaan “menjadi” dan aku merasa terhormat dalam berpikir bahwa aku dapat membantu meskipun dalam hal yang sepele. Hal ini penting dan memuaskan bagi saya. Allee menemukan sesuatu yang mengganggu, tetapi hanya sejauh itu membawa semangat abad ke-20 yaitu Argumentasi, yang berdasar pada bahwa kebenaran lebih baik “menang” lebih dari pada bahwa kebenaran adalah baik.

Lanjutkan membaca “Contoh Terapi Keluarga, Argumen vs Rekonsiliasi”

Mengapa banyak dari kita yang tidak mau dikritik? #Goresanku 24


Hidup kita dipenuhi dengan berbagai aturan, baik tulisan maupun lisan. Aturan-aturan yang melandasi hidup tersebut bertujuan untuk mengembangkan suatu sistem yang baik dalam hidup bersama.

Aturan-aturan tersebut ada karena ada rasa kepedulian terhadap sesama dan kita dituntut untuk mengatur hidup kita dengan baik. Saling mengingatkan dan saling menguatkan dalam menjalankan suatu aturan, akan membuat hidup kita layak dan pantas.

Sering kali dalam menyikapi hidup, kita tidak dapat berinteraksi dengan baik dengan sesama, dikarenakan kita tidak ingin dikritik oleh orang lain.

Menerima suatu saran dan pendapat dari orang lain adalah BAIK. Mengapa banyak dari kita yang tidak mau dikritik?
Apakah karena diri kita sudah layak dan pantas?

Mari kita renungkan!

Ditulis kembali oleh :
Catharina Tyas Kusumastuty