Psikodrama? Apakah ini Jalanku Menjemput Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 03


Bagaimana cara memperoleh kebahagiaan yang kuingini? Aku belum siap menikah. Aku belum bisa bekerja lagi karena masih perlu menyelesaikan studi. Aku belum siap menghadapi tuntutan, beban, dan tanggung jawab yang besar. Mengurusi diriku saja aku belum becus. Bahkan untuk jatuh cinta lagi dengan seseorang saja, sepertinya aku belum siap. Belum siap menanggung perihnya tersakiti oleh ekspektasiku sendiri. Lagi dan lagi. Lanjutkan membaca “Psikodrama? Apakah ini Jalanku Menjemput Bahagia? Sebuah Testimoni Belajar Psikodrama 03”

Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar – Lanjutan Terapi Menulis


Saya ingin menanggapi mengenai komentar Mas Didik di tulisanku sebelumnya yang berjudul “Ungkapan Jujur Hati”. Terima kasih atas masukannya. Selamat membaca. Semoga ada yang bisa didapatkan dan bermanfaat bagi yang membaca.

Memang benar, masa laluku dipenuhi dengan pesan-pesan antara “salah” dan “benar”. Tidak ada yang abu-abu. Sebagai anak kecil pun aku sudah dituntut untuk berperilaku yang benar, karena kalau tidak, ‘akan membawa malu bagi keluarga’. Lanjutkan membaca “Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar – Lanjutan Terapi Menulis”

7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu


Kita semua memiliki sisi gelap di dalam diri kita. Setiap hari, kita bertarung melawan mereka – terkadang kita kalah, kadang kita menang. Sisi gelap ini yang menghantui kita dapat dilihat dalam pandangan sekilas atau dalam keadaan penuh kekalutan. Dan karena kesalahan dan rasa malu kita, kita cenderung mengabaikan dan menguburkan mereka.

Kita berpikir bahwa mereka harus tetap tersembunyi karena mereka tidak dapat dan tidak seharusnya ada dalam diri kita yang sadar. Masyarakat mengatakan pada kita untuk fokus pada pemikiran positif/ hal baik seperti cinta dan terang, tetapi tidak pada sisi gelap atau shadow. Fokus pada sisi positif itu mudah dan nyaman. Lanjutkan membaca “7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu”

Bahagia Menjadi Diriku Sendiri : Pengalaman Psikodrama di Jakarta Timur


Salam Psikologi
Psikologi untukku
Psikologi untuk kita

 

Pertama kali mendengar kata Psikodrama, rasanya kembali ke masa kecil dimana aku sering memainkan peran serial pendekar …aku suka memainkan peran sebagai kesatria wanita.

Begitu antusias aku mengikuti sesi Psikodrama HARI INI … Begitu semangat …dan bagiku kembali ke masa kecil saat aku harus memainkan sebuah peran adalah kembali ke KEBAHAGIAAN sesungguhnya….

Satu hal yang aku dapat setelah sesi Psikodrama hari ini adalah ” Jadilah dirimu sendiri Mei… karena tidak akan ada yang dapat melakukannya lebih baik dari dirimu sendiri ”

Terimakasih mas Didik atas ilmunya,
Terimakasih sudah mengembalikan kebahagiaan masa kecilku,
Terimakasih juga sudah membuatku sejenak menyadari bagaimana proses PERAN – PERAN yang ada di dalam diriku membuatku bahagia menjadi DIRIKU SENDIRI .

16122018
Mei – DEPOK

Kesadaran Nonverbal


Apa lagi yang bisa saya sebut kewaspadaan mental perilaku nonverbal sendiri. Ada orang-orang yang memperhatikan penampilan mereka tentang make – up, potongan rambut, pakaian , tetapi hanya sedikit orang memperhatikan cara mereka berperilaku: Periksa postur, sudut mata, lamanya kontak mata, kecenderungan untuk tersenyum atau cemberut, dll. Biarlah menjadi sebuah kategori, Anda periksa sebanyak apakah Anda terbuka (untuk cowok) – apabila itu wanita periksa untuk menghindari rasa malu?
Kategori lain yang telah saya sadari adalah modulasi suara agar sesuai dengan ukuran ruangan dan jarak ke audien. Banyak orang yang seharusnya lebih baik tahu menjadi terbiasa untuk berbicara pelan atas berhadapan satu lawan satu, dan mereka tidak tahu atau tidak peduli untuk menaikkan ( “Proyek ” ) suara mereka di seminar, dalam konferensi. Seolah-olah mereka tidak menyadari dari cara mereka berbicara , hanya memikirkan apa yang ingin mereka katakan. Tapi itu sebuah artefak fokus pada konten, logosentrisme, Berapa banyak kata-katanya, dan apakah atau tidak mereka diartikulasikan dengan baik, diucapkan dengan jelas, atau terdengar namun tidak ada perhatian dan / atau keluar dari kesadaran pembicara. Ini adalah bentuk dihapuskan kesadaran -yaitu , penolakan terhadap kecenderungan inner-child’s (jiwa kanak-kanak) untuk berbicara terlalu keras. Seolah-olah ada yang dorongan diri sendiri.
Dalam hal ini , lihat paper on nonverbal communication di website saya, dan surat-surat terkait. Jadi, untuk alasan ini saya tertarik untuk merajut beberapa elemen kesadaran nonverbal menjadi melek psikologis, mungkin diinformasikan oleh kegiatan tari dan terapi gerakan.

 

Diterjemahkan bebas dari:
“Nonverbal Awareness”
Originally posted on November 13, 2012 oleh Adam Blatner