Refleksi Bulan Puasa, Perlu Keberanian untuk Memaafkan.


Deg-degan, tiba-tiba ada orang yang protes, mendominasi dan memaksa. Terpikir bahwa kapasitas dan kompetensi digugat, seolah tidak tahu apa-apa, mungkinkah telah melakukan suatu tindak kebodohan yang membuat orang lain patut mengoreksinya. Lanjutkan membaca “Refleksi Bulan Puasa, Perlu Keberanian untuk Memaafkan.”

Praktek Psikodrama di Tasikmalaya, Membuat Skenario Role Play yang Memberdayakan…


2 Mei 2019

Keledai tak pernah takut terkubur, dia bergembira karena dapat melompati timbunan pasir yang menimpanya.

Ada rasa haru dan harapan baru yang menyeruak dari proses psikodrama yang dilakukan pada hari ini. Lanjutkan membaca “Praktek Psikodrama di Tasikmalaya, Membuat Skenario Role Play yang Memberdayakan…”

Puasa adalah Mengolah Rasa, Mengendalikan Diri, Memberikan Kuasa Ilahi Bekerja


Puasa merupakan proses melatih Rasa untuk membangun hubungan yang baik dengan diri sendiri. Bagaimana Rasaku sekarang berhubungan dengan Masa laluku, dan juga bagaimana caraku menggapai Masa depan. Aku “isa rumangsa” (bisa menyadari) perilaku dalam hidupku.

Aku mengendalikan diri, membangun hubungan yang baik dengan orang lain, lingkungan sosial dan lingkungan alamku. Dengan Rendah Hati berani meminta maaf, dengan Besar Hati memaafkan. Menahan hawa nafsu duniawi, yang lebih banyak merusak hubungan sosial dengan orang lain, dan menciderai alam. Menyerahkan sebagian dari hasil kerjaku untuk orang yang kurang mampu, dengan kesadaran bahwa hasil kerja itu juga merupakan hasil bantuan dari orang-orang lain yang ada di sekitarku, baik langsung maupun tidak langsung.

Aku berserah diri, memberikan diriku ada dalam Kuasa Ilahi. Aku membangun hubungan yang baik dengan Penciptaku. Mempelajari  lagi yang tertulis di Kitab Suci, mendengarkan kata kata orang bijak yang menyejukkan hati, yang menuntun jalanku agar lebih dekat pada-Nya. Serta mohon berkah untuk dimampukan bersyukur atas apa pun yang telah terjadi.

Selamat berpuasa, ……

 

Yogyakarta, 4 Mei 2019

Retmono Adi

Pencerahan dalam Sebuah Drama, Pengalaman Mengikuti Psikodrama


Kembali mengikuti kelas psikodrama, teknik favorit saya. Kali ini untuk komunitas orang orang yang peduli dan mau bersiap untuk menghadapi bencana. Di kelas ini, kami belajar bagaimana caranya menggunakan Psikodrama untuk membantu korban bencana. Lanjutkan membaca “Pencerahan dalam Sebuah Drama, Pengalaman Mengikuti Psikodrama”

Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?


Aku merasa hal ini sepele, namun sulit untuk dilakukan. Kerapuhanku adalah aku terlalu mengingat peristiwa, terutama peristiwa buruk, aku juga kurang aktif menyampaikan pikiran dan perasaanku, kadang kala aku juga lemot mikir, aku juga rigid secara kognitif. Dampak dari kerapuhanku ini sudah jelas terlihat yaitu sulit menjalin relasi interpersonal. Aku menganggap bahwa memaafkan itu adalah kewajiban, bukan ketulusan hati mengakui kesalahan. Permasalahan ini akhirnya aku pendam bahkan dalam hitungan bulan bahkan mungkin sudah tahunan. Hingga suatu ketika : Lanjutkan membaca “Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?”

Refreshing Bersama Psikodrama di Bontang Kalimantan Timur


Ujian nasional menjadi salah satu hal yang memusingkan anakku dan teman temannya. 4 kali try out dan dorongan orangtua yang melulu menyuruh mereka belajar bikin mereka mulai ‘muyek’. Ada inisiatif agar mereka menjadi lebih refresh, dan saya ditunjuk oleh para bunda membantu anak anak. Lanjutkan membaca “Refreshing Bersama Psikodrama di Bontang Kalimantan Timur”

Mari Hidup Bahagia dengan Memaafkan


Apakah kamu siap memaafkan?

Pengampunan menuntut kita melepaskan kebutuhan kita untuk dikasihani, kebutuhan kita untuk menjadi benar, dan kebutuhan kita untuk merasakan hubungan yang intens dengan penyiksa kita melalui kemarahan.
Matt Kramer

Ini adalah kutipan dari buku forgiveness workbook karya Eillen Barker kiriman Mb Niki, seorang kawan yang baik hati padahal kami belum pernah bertemu. Kami sebenarnya bertemu dalam grup WA yang sedang membuat proyek pembuatan buku bahagia dengan memaafkan. Aku hanyalah salah satu kontributor dalam keriuhan pembuatan buku ini. Tentu saja kami riuh karena tema ini memang menukik ke dalam jantung problem kami sehari-hari. Setidaknya untuk Aku pribadi yang notabene pernah mengikuti workshop pemaafan, menerapkan teknik ini dalam ruang praktek. Dan tentu saja telah sempat berjuang untuk menerapkannya terlebih dulu bagi diri sendiri. Lanjutkan membaca “Mari Hidup Bahagia dengan Memaafkan”