5 Cara Meningkatkan Kehidupan Pribadi dan Profesional dengan Mempelajari “Kecerdasan Emosional”


Apa itu Kecerdasan Emosional?

Sederhananya, Kecerdasan Emosional (E.I.) berarti kemampuan untuk memahami, menggunakan, dan mengelola emosi kita dengan cara yang positif, ternyata studi menunjukkan bahwa Kecerdasan Emosional lebih penting daripada IQ dalam kesuksesan hidup secara keseluruhan.

Kita kadang bereaksi secara emosional dan mengambil tindakan yang nantinya akan kita sesali karena mengalami kesalahan penilaian yang sebagian besar disebut sebagai pembajakan emosional, atau pembajakan amigdala.

Kapasitas untuk berpikir melalui keputusan atau latihan pengendalian diri, biasanya melibatkan lobus frontal, bagian terbesar dari otak.

Tetapi ketika kita merasakan beberapa jenis ancaman emosional, amigdala, struktur berbentuk almond yang ditemukan jauh di dalam otak, membajak prosesnya. Ini sering menghasilkan respons melawan, melarikan diri, atau membekukan.

Kita semua pernah membuat kesalahan di saat-saat emosional, mengatakan atau melakukan hal-hal yang kita harap bisa kita batalkan atau tarik kembali. Tentu saja, akan sangat bagus jika kita dapat mengidentifikasi pemicu tersebut sebelumnya, tetapi seringkali itu akan terjadi dan tidak menyadari apa yang telah kita lakukan hingga terlambat.

Oleh karena itu, inilah 5 cara kita dapat meningkatkan kemampuan untuk mengelola emosi:

1/ Manajemen diri:

Dengan kemampuan untuk mengelola stres dan tetap hadir secara emosional, kita dapat belajar menerima informasi yang mengganggu tanpa membiarkannya mengesampingkan pikiran dan pengendalian diri kita.

Kita akan dapat membuat pilihan yang memungkinkan untuk mengontrol perasaan dan perilaku impulsif. Kita dapat mengelola emosi kita dengan cara yang sehat, mengambil inisiatif, menindaklanjuti komitmen, dan beradaptasi dengan keadaan yang berubah. Misalnya. Berlatih meditasi secara teratur.

2/ Kesadaran diri:

Orang yang cerdas secara emosional adalah orang yang sadar diri dan memiliki intuisi yang tajam. Mereka menyadari emosi mereka sendiri dan bagaimana mereka dapat mempengaruhi orang-orang di sekitar mereka. Misalnya. Dapat menjadi fokus utama.

3/Terima kritik dengan baik:

Bagian penting dari peningkatan kecerdasan emosional kita adalah untuk dapat menerima kritik. Alih-alih tersinggung atau defensif, orang dengan EQ tinggi mengambil beberapa saat untuk memahami kritik. Misalnya, melatih sikap bersyukur, mengucapkan terima kasih, dll.

4/ Sikap positif:

Praktekkan cara-cara untuk mempertahankan sikap positif seperti berpikir positif dalam situasi yang mengecewakan. Misalnya. pikirkan hal ini dengan menjadikan waktu yang buruk ini juga akan berlalu.

5/Menanggapi dan bereaksi terhadap konflik dengan lebih baik:

Dalam konflik, ledakan emosi & kemarahan, orang yang cerdas secara emosional tahu bagaimana tetap tenang dan tidak membuat keputusan impulsif yang mengarah pada masalah yang lebih besar Mis. Dengarkan untuk memahami daripada membalas

 

Semoga bermanfaat.

Diterjemahkan secara bebas dari : Do you want improve your personal and professional life, learn about your “Emotional Intelligence”

utas twitter @MiteshSharma__

Psikodrama untuk Anak PAUD #Goresanku 155


Bahasa Tubuh

Di masa usia toddler / bayi, sebelum bisa berbicara mereka berkomunikasi dengan cara menggunakan BAHASA TUBUHNYA untuk mengekspresikan kebutuhan / emosinya.
Mereka berkomunikasi secara non-verbal dengan menggunakan gerakan tubuh dan suara mereka. Setiap gerakan anak mempunyai makna dan perlu respon.
Ketika kita bisa merespon dan menafsirkan bahasa tubuh mereka, anak akan merasa dipahami perasaannya dan perubahan suasana hatinya.

Kebetulan sudah beberapa kali saya ikut pelatihan PSIKODRAMA. Sebagai pendidik PAUD saya merasa terbantu sekali karena di dalamnya terdapat beberapa unsur, antara lain adalah bahasa tubuh yang dapat saya terapkan dalam mendampingi anak belajar dan bermain di sekolah.

 

Ditulis oleh: C. Tyas Kusumastuty

Ternyata Asmara yang Menjadikanku Terlunta, Sebuah Praktek Proses TeleKonseling via WhatApps


Tulisan ini sudah seijin yang bersangkutan. Dibagikan agar dapat menjadi inspirasi bagi kawan yang ingin melakukan telekonseling dan kawan yang mungkin memiliki permasalahan serupa.
Aku tuliskan seperti yang terjadi pada chat WhatApps, agar tetap otentik.

Oh ya proses ini adalah proses yang kesekian kalinya ya,..jadi telah terjadi proses saling percaya dalam komunikasi lewat WhatApps ini.

Yuks, kita ikuti prosesnya.

+ Hallo selamat malam kak maaf jika saya menggangu waktu kakak malam-malam Lanjutkan membaca “Ternyata Asmara yang Menjadikanku Terlunta, Sebuah Praktek Proses TeleKonseling via WhatApps”

Sebuah Cerita Menjadi Dewasa, How Wonderful Life Is While You’re In The World


Aku kembali ke tempat itu lagi. Kali ini tidak berniat untuk minum sampai mabuk berat. Inginku hanya meneguk sedikit demi mengenang pertemuan janggal kita beberapa tahun silam.

Pertemuan itu diawali ketika kita duduk di kursi bar berhadapan dengan meja panjang di mana kita bisa menyaksikan para bartender sedang sibuk mengurusi botol-botol minuman beralkohol. Kala itu kita duduk hampir bersebelahan, hanya ada satu kursi kosong yang menghalangi kita. Saat aku masih sadar, sekilas kuperhatikan wajahmu yang tertekuk lesu memandangi gelasmu. Kau hanya memesan air mineral.

Lanjutkan membaca “Sebuah Cerita Menjadi Dewasa, How Wonderful Life Is While You’re In The World”

Coretan Lama 53, Rindukan Aku, Sesempatmu Saja


 Kujumpai satu kalimat kutipan pada dinding di sebuah kafe.

Bunyinya begini,

“Rindukan aku, sesempatmu saja.”

Lalu dalam hati kutambahkan,

“Dan jangan dipaksakan bila rindu itu memang tidak pernah ada. Barangkali itu adalah pertanda bahwa memang sejatinya kita tidak ditakdirkan untuk bahagia bersama.”

 

Kartasura, 14 April 2019

Qanifara

Coretan Lama 52, Menjadi Dewasa Tidak Sederhana


Ketika pulang,

pikiranku seperti melayang.

Hatiku rasanya

seperti terbagi-bagi.

Ingin kurebahkan

tubuh sambil bicara.

Rasanya seperti menonton film suram.

Lalu terperangkap

dalam layar kaca.

Menjalani adegan demi adegan.

Ah, mungkin aku saja

yang terlalu mendalami cerita-cerita gelap mereka.

Namun satu hal yang kusadari

bahwa proses menjadi manusia dewasa

memang tidak pernah sederhana.

 

Kartasura, 31 Mei 2019

Qanifara

Coretan Lama 51, Sibuk Mencari Pembenaran


Dalam setiap pertengkaran,

kebanyakan dari kita terlalu sibuk mencari pembenaran.

Lalu berakhir pada kesalahpahaman

yang tak terlupakan

bahkan tak termaafkan.

Kita terlalu sering menuntut perubahan

dalam diri orang lain.

Seringnya kita lupa untuk belajar

mencari pemahaman

dari berbagai sisi.

Bisa saja sosok

yang selama ini kita butuhkan,

tidak ada dalam dirinya.

Begitu pula sebaliknya.

Maka tak heran

bila kita sudah saling memiliki

tetapi kita masih sibuk mencari-cari.

Ketika penerimaan

tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan.

 

Kartasura, 13 April 2021

Qanifara

Coretan Lama 50, Hidup Bersama untuk Dapat Melihat Harapan


Dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang jauh dari kata ideal,

bagi anak sepertiku,

kehidupan pernikahan sangatlah rumit.

Tapi satu hal yang kupelajari.

Mungkin fisik dapat membuat kita tertarik.

Tetapi karakter dan pemikiran

yang sejalan dapat membuat kita lebih nyaman

dan mampu bertahan bersama pasangan.

Bertahan bukan karena paksaan

tetapi karena ketika kita bersama,

kita dapat melihat adanya harapan.

 

Kartasura, 27 September 2018

Qanifara

Coretan Lama 49, Lebih Baik Sendiri, daripada Saling Menyakiti


Inginku sederhana.

Dapat terbangun dan menjalani hari

tanpa harus menahan emosi

yang tak bisa disalurkan,

tanpa harus bersusah payah

menyatukan kepala-kepala

dengan pemikiran

yang memang tidak sejalan

yang menyebabkan kesalahpahaman

tak berujung.

Meskipun mungkin hanya tinggal bersama seekor kucing.

Sebab bagi orang ringkih sepertiku,

lebih baik sendiri

daripada bersama tapi saling menyakiti.

 

Kartasura, 12 Agustus 2018

Qanifara

Coretan Lama 45, Apa yang Kamu Inginkan Belum Tentu yang Kamu Butuhkan


Diam-diam kala itu langit sedang mendengar pengakuan seseorang.

Sebut saja dia.

Dulu dia mempunyai banyak keinginan.

Sayang, sebagian besar keinginannya selalu menuai kegagalan.

Hatinya kerap resah, gelisah, dan marah tak terarah.

Lalu dia mengeluh kepada Tuhan.

Namun Tuhan justru semakin banyak memberinya kesedihan.

Dia lewati semua kesedihan itu dengan bersusah payah.

Hingga pada akhirnya sebuah tragedi menampar keras kesadarannya.

Seakan ada malaikat berbisik di telinganya, “ketika semua keinginanmu terpenuhi, belum tentu setelah itu kamu akan menjadi lebih baik, sebab apa yang kamu inginkan belum tentu yang kamu butuhkan.”

Lalu dia menangis sejadi-jadinya.

Namun tiap kali dia mengingat pernyataan itu, senyumnya mengembang dan hatinya menjadi lebih mudah untuk menerima dan bergembira.

 

Kartasura, 13 Juni 2016

Qanifara