Sejenak Merenungkan Hidup di Dunia Saat Ini, Demi Kesehatan Mental Kita


Terinspirasi setelah kemarin tanggal 2 Oktober 2020, mengikuti Seminar online SERUM (Seminar Umum) CIRCLES Indonesia.

Topik: “ETIKA POLITIK: MENILIK HAK ASASI MANUSIA”
Pembicara: Rm. Dr. C. B. Kusmarayanto, SCJ (Rohaniwan/Pengajar Etika dan Teologi di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pokok pesannya menekankan pentingnya Harkat dan Martabat Manusia.

Hari ini aku mendapatkan sebuah link dari group WhatApps, tentang mengapa dunia menuju kehancuran (Why is The World Going to Hell ), aku tertarik dan kuterjemahkan sebagian untuk bahan perenungan demi menjaga kesehatan mental kita. Ya mumpung kita akan memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia.

Mari kita renungkan kutipan di bawah ini.

“Kita hidup di dunia di mana pohon lebih berharga, secara finansial, ketika mati daripada hidup. Dunia tempat di mana ikan paus lebih berharga mati daripada hidup. Selama ekonomi kita bekerja dengan cara itu, dan perusahaan tidak diatur, mereka akan terus menghancurkan pohon, membunuh ikan paus, menambang bumi, dan terus mengeluarkan minyak dari tanah, meskipun kita tahu itu menghancurkan planet, dan kita tahu itu akan memberi tinggalan dunia yang lebih buruk untuk generasi mendatang.

“Ini adalah pemikiran jangka pendek yang didasarkan pada keyakinan untuk mendapatkan keuntungan dengan segala cara. Seolah-olah, secara ajaib, setiap perusahaan yang bertindak demi kepentingannya sendiri akan memberikan hasil terbaik. … Apa yang menakutkan – dan yang mudah-mudahan menjadi sedotan terakhir dan akan membuat kita bangun sebagai manusia beradab tentang betapa cacatnya teori ini sejak semula – adalah melihat bahwa sekarang kita adalah pohonnya, kita adalah ikan paus. Perhatian kita bisa ditambang. Kita lebih menguntungkan bagi perusahaan jika kita menghabiskan waktu menatap layar, melihat iklan, daripada jika kita menghabiskan waktu untuk menjalani hidup dengan cara menikmatinya . ”

Ditambah dengan kutipan ini :

Hal itu terlihat dalam kisah sedih pria yang membantu menciptakan tombol “Suka” untuk Facebook. Dia pikir kreasinya akan membanjiri dunia dengan kehangatan persaudaraan, menyebarkan cinta seperti iklan Coca Cola. Faktanya, hal itu akhirnya memperburuk rasa tidak aman dan kebutuhan kita akan persetujuan sosial, dan secara dramatis meningkatkan angka bunuh diri di kalangan gadis remaja.

GUSTI NYUWUN KAWELASAN

Yogyakarta, 3 Oktober 2020

Retmono Adi

Sumber dari : Why is the World Going to Hell? BY JONATHAN COOK

Penerapan Improvisasi dan Drama dalam berbagai situasi


Ada pesan / blog yang saya sampaikan pada jaringan baru: Jaringan Improvisasi Terapan.

Anda bisa melihat perkembangannya saat ini. Ternyata ada lebih dari seribu orang sejauh ini mengeksplorasi cara improvisasi yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi.

Hore! Saya berharap untuk mengetahui lebih banyak tentang ini dan mungkin mendukungnnya! Lanjutkan membaca “Penerapan Improvisasi dan Drama dalam berbagai situasi”

Sudahkah dalam pekerjaan sehari-hari selalu berjalan dalam sebuah “KEBENARAN” ??


Biarlah saya dan saudara memilih KEBENARAN , meski sulit……
Dari pada kesalahan walaupun itu lebih mudah.
Biarlah saya dan saudara tidak puas dengan “SETENGAH KEBENARAN” bila KEBENARAN yang seutuhnya dapat dimenangkan…
Biarlah saya dan saudara berani dan tidak mengenal rasa takut bila KEBENARAN terancam…

Lanjutkan membaca “Sudahkah dalam pekerjaan sehari-hari selalu berjalan dalam sebuah “KEBENARAN” ??”