Mengobati Diri Sendiri Dapat Dilatih dengan Psikodrama?


Kudapat dari Group WhatsApp, tulisan yang cukup menarik, beberapa penyakit yang umum dan sering diderita banyak orang, dijelaskan berasal dari beban pikiran dan suasana hati serta cara mengelolanya yang tidak tepat.

Dijelaskan (lihat lampiran di bawah) bahwa :

Presentase Indikator penyebab munculnya penyakit adalah karena masalah:
#Spiritual 50%
#Psikis. 25%
#Sosial. 15%
#Fisik. 10%

Jadi kalau kita ingin selalu sehat, perbaiki :
#Diri kita
#Pikiran kita
terutama #Hati kita dari segala jenis penyakit. Lanjutkan membaca “Mengobati Diri Sendiri Dapat Dilatih dengan Psikodrama?”

Bertengkar di Depan Anak #Goresanku 141


Pagi itu, baru saja aku sampai di kantor dan meletakkan tas di meja kerjaku. Datang seorang anak, dia langsung saja mendekapku. Aku kira dia ingin bergurau denganku saja. Ternyata perkiraanku tidak benar. Dia menangis sesenggukan ……. semula terdengar lirih, lama kelamaan semakin keras tangisannya. Sesaat ku biarkan dia menangis dalam dekapanku. Ku elus punggungnya, dengan tujuan agar dia bisa tenang. Setelah agak reda aku berusaha untuk menatap wajahnya. Lanjutkan membaca “Bertengkar di Depan Anak #Goresanku 141”

Perbedaan Pekerja Keras Dan Workaholic #Goresanku 130


Cemas jika tidak bekerja
Anda menjadi workaholic ketika Anda akan melakukan apa saja demi pekerjaan. Anda akan merasa panik, cemas, atau bahkan merasa kehilangan ketika Anda tidak bekerja. Perilaku itu akan muncul terus-menerus, walaupun Anda sadar itu berbahaya bagi kesehatan maupun kualitas kerja.

Workaholic bagai kecanduan
Banyak opini yang berbeda mengenai hal ini, namun banyak yang menyamakan workaholic dengan perilaku tak sehat lainnya, seperti kecanduan narkoba dan alkohol. Workaholic ini juga disebut memiliki dampak buruk bagi mental dan fisik. Salah satu masalah mental para workaholic adalah mereka mengharapkan pujian dan penghargaan karena telah bekerja keras.

Pekerja yang perfeksionis
Para workaholic biasanya perfeksionis dan memiliki kebutuhan untuk mengontrol. Selain itu, bekerja terlalu keras juga bisa merupakan cara untuk ‘kabur’ dari sebuah hubungan buruk atau untuk mengisi kekosongan hidup.

Pekerja keras bukan workaholic
Pada dasarnya perbedaan keduanya terletak pada pikirannya. Pekerja keras mampu bekerja efisien dan efektif, serta masih mampu memiliki kehidupan di luar pekerjaan.

Sementara workaholic pada kenyataannya tak mampu melakukan manajemen waktu yang baik. Jika mereka bisa melakukannya, tentu mereka tak harus bekerja sampai melampaui jam kerja tiap harinya.

 

Ditulis kembali oleh :
Catharina Tyas Kusumastuty