Menulis untuk Menjaga Kesehatan Mental Menghadapi Pandemi Corona


Pandemi yang terjadi saat ini tentu telah menjadikan berbagai perubahan kebiasaan, perubahan perilaku, keadaan menjadi tidak pasti. Bagi kebanyakkan orang perubahan dapat membawa tekanan emosi, apalagi dibanjiri berita yang menakutkan dengan penularan Covid-19 yang cepat dan korban yang terus bertambah tiap hari. Lanjutkan membaca “Menulis untuk Menjaga Kesehatan Mental Menghadapi Pandemi Corona”

Sejenak Merenungkan Hidup di Dunia Saat Ini, Demi Kesehatan Mental Kita


Terinspirasi setelah kemarin tanggal 2 Oktober 2020, mengikuti Seminar online SERUM (Seminar Umum) CIRCLES Indonesia.

Topik: “ETIKA POLITIK: MENILIK HAK ASASI MANUSIA”
Pembicara: Rm. Dr. C. B. Kusmarayanto, SCJ (Rohaniwan/Pengajar Etika dan Teologi di Univ. Sanata Dharma, Yogyakarta. Pokok pesannya adalah menekankan pentingnya Harkat dan Martabat Manusia.

Hari ini aku mendapatkan sebuah link dari group WhatApps, tentang mengapa dunia menuju kehancuran (Why is The World Going to Hell ), aku tertarik dan kuterjemahkan sebagian untuk bahan perenungan demi menjaga kesehatan mental kita. Ya mumpung kita akan memperingati Hari Kesehatan Mental Dunia.

Mari kita renungkan kutipan di bawah ini.

“Kita hidup di dunia di mana pohon lebih berharga, secara finansial, ketika mati daripada hidup. Dunia tempat dimana ikan paus lebih berharga mati daripada hidup. Selama ekonomi kita bekerja dengan cara itu, dan perusahaan tidak diatur, mereka akan terus menghancurkan pohon, membunuh ikan paus, menambang bumi, dan terus mengeluarkan minyak dari tanah, meskipun kita tahu itu menghancurkan planet dan kita tahu itu akan meninggalkan dunia yang lebih buruk untuk generasi mendatang.

“Ini adalah pemikiran jangka pendek yang didasarkan pada keyakinan untuk mendapatkan keuntungan dengan segala cara. Seolah-olah, secara ajaib, setiap perusahaan yang bertindak demi kepentingannya sendiri akan memberikan hasil terbaik. … Apa yang menakutkan – dan yang mudah-mudahan menjadi sedotan terakhir dan akan membuat kita bangun sebagai manusia beradab tentang betapa cacatnya teori ini sejak semula – adalah melihat bahwa sekarang kita adalah pohonnya, kita adalah ikan paus. Perhatian kita bisa ditambang. Kita lebih menguntungkan bagi perusahaan jika kita menghabiskan waktu menatap layar, melihat iklan, daripada jika kita menghabiskan waktu untuk menjalani hidup dengan cara menikmatinya . ”

Ditambah dengan kutipan ini :

Hal itu terlihat dalam kisah sedih pria yang membantu menciptakan tombol “Suka” untuk Facebook. Dia pikir kreasinya akan membanjiri dunia dengan kehangatan persaudaraan, menyebarkan cinta seperti iklan Coca Cola. Faktanya, hal itu akhirnya memperburuk rasa tidak aman dan kebutuhan kita akan persetujuan sosial, dan secara dramatis meningkatkan angka bunuh diri di kalangan gadis remaja.

GUSTI NYUWUN KAWELASAN

Yogyakarta, 3 Oktober 2020

Retmono Adi

Sumber dari : Why is the World Going to Hell? BY JONATHAN COOK

Menulis sebagai Cara Terapi Jangka Pendek


Aku mengikuti Webinar, dan mendapatkan materi The Use of Writing as Therapy in the Short-termoleh Nadine Santos. Aku ingin tulis ulang dan kusimpan di sini, agar dapat kubaca ulang dan dibaca orang lain yang mungkin membutuhkan.

Ada 3 hal yang disampaikan yaitu :

  1. Menulis memiliki sifat Terapeutik
  2. Bukti bagaimana menuliskan cerita berpengaruh terhadap kehidupan kita
  3. Cara Mempraktekkannya.

Kekuatan Tranformasi Menulis

Menulis sebagai cara penyembuhan – bagaimana kita menceritakan kisah kita, mengubah hidup kita (Louise De Salvo,)

Menulis adalah Keberanian (Pramoedya Ananta Toer) * ini tambahanku sendiri. Lanjutkan membaca “Menulis sebagai Cara Terapi Jangka Pendek”

Tips Konseling, Penerimaan Diri Apakah Solusi ?


Tulisan ini ditujukan bagi para konselor dan juga para konseli, yang berada dalam situasi kesulitan dalam beradaptasi. Terutama dalam mensikapi kondisi diri terhadap tuntutan lingkungan. Lanjutkan membaca “Tips Konseling, Penerimaan Diri Apakah Solusi ?”

3 Penanda Kedalaman Hidup, Ukuran Kesehatan Mental untuk Deradikalisasi


Akhir tahun 2019 lalu, aku mengikuti Lokakarya di Girisonta, mengenai Latihan Rohani yang dibimbing oleh Rm Sardi SJ. Ada salah satu pernyataannya yang menarik, yang aku coba adaptasi dalam dunia Psikologi. Beliau menyatakan perihal Penanda Kedalaman Hidup (diksi Spiritualitas) aku coba selaraskan dengan Ukuran Kesehatan Mental (diksi Psikologi).

Ada 3 Kriterianya, yaitu: Lanjutkan membaca “3 Penanda Kedalaman Hidup, Ukuran Kesehatan Mental untuk Deradikalisasi”

Mengobati Diri Sendiri Dapat Dilatih dengan Psikodrama?


Kudapat dari Group WhatsApp, tulisan yang cukup menarik, beberapa penyakit yang umum dan sering diderita banyak orang, dijelaskan berasal dari beban pikiran dan suasana hati serta cara mengelolanya yang tidak tepat.

Dijelaskan (lihat lampiran di bawah) bahwa :

Presentase Indikator penyebab munculnya penyakit adalah karena masalah:
#Spiritual 50%
#Psikis. 25%
#Sosial. 15%
#Fisik. 10%

Jadi kalau kita ingin selalu sehat, perbaiki :
#Diri kita
#Pikiran kita
terutama #Hati kita dari segala jenis penyakit. Lanjutkan membaca “Mengobati Diri Sendiri Dapat Dilatih dengan Psikodrama?”

Bertengkar di Depan Anak #Goresanku 141


Pagi itu, baru saja aku sampai di kantor dan meletakkan tas di meja kerjaku. Datang seorang anak, dia langsung saja mendekapku. Aku kira dia ingin bergurau denganku saja. Ternyata perkiraanku tidak benar. Dia menangis sesenggukan ……. semula terdengar lirih, lama kelamaan semakin keras tangisannya. Sesaat ku biarkan dia menangis dalam dekapanku. Ku elus punggungnya, dengan tujuan agar dia bisa tenang. Setelah agak reda aku berusaha untuk menatap wajahnya. Lanjutkan membaca “Bertengkar di Depan Anak #Goresanku 141”

Perbedaan Pekerja Keras Dan Workaholic #Goresanku 130


Cemas jika tidak bekerja
Anda menjadi workaholic ketika Anda akan melakukan apa saja demi pekerjaan. Anda akan merasa panik, cemas, atau bahkan merasa kehilangan ketika Anda tidak bekerja. Perilaku itu akan muncul terus-menerus, walaupun Anda sadar itu berbahaya bagi kesehatan maupun kualitas kerja.

Workaholic bagai kecanduan
Banyak opini yang berbeda mengenai hal ini, namun banyak yang menyamakan workaholic dengan perilaku tak sehat lainnya, seperti kecanduan narkoba dan alkohol. Workaholic ini juga disebut memiliki dampak buruk bagi mental dan fisik. Salah satu masalah mental para workaholic adalah mereka mengharapkan pujian dan penghargaan karena telah bekerja keras.

Pekerja yang perfeksionis
Para workaholic biasanya perfeksionis dan memiliki kebutuhan untuk mengontrol. Selain itu, bekerja terlalu keras juga bisa merupakan cara untuk ‘kabur’ dari sebuah hubungan buruk atau untuk mengisi kekosongan hidup.

Pekerja keras bukan workaholic
Pada dasarnya perbedaan keduanya terletak pada pikirannya. Pekerja keras mampu bekerja efisien dan efektif, serta masih mampu memiliki kehidupan di luar pekerjaan.

Sementara workaholic pada kenyataannya tak mampu melakukan manajemen waktu yang baik. Jika mereka bisa melakukannya, tentu mereka tak harus bekerja sampai melampaui jam kerja tiap harinya.

 

Ditulis kembali oleh :
Catharina Tyas Kusumastuty