Menahan Diri, Serial White Rose (3)


Hai hai semua… aku D5 kembali lagi… aku bukanlah anak manja lagi saat ini. Tapi aku akan melanjutkan kisahku.

Kakak sekalian disaat aku memilih untuk mencoba selalu tersenyum, disanalah segalanya terjadi. Kelas 5 SD adalah awal dari semuanya. Mungkin aku terlalu cepat dewasa, harusnya aku bermain dengan kawan kawan dan sebagainya. Akan tetapi sejak sakitku mulai, aku tidak memiliki teman. Mereka mengganggapku merepotkan. Lanjutkan membaca “Menahan Diri, Serial White Rose (3)”

Cerita Mawar #part 02 Aku Jadi Sendiri


Saat aku masuk SD pada saat pendaftaran sekolah, aku mendaftar di sekolah kakak kandungku, Boyo. Sekolah tersebut tidak menerima diriku karena aku masih takut ditinggal bahkan ditunggu di depan kelaspun aku masih takut. Tes saat itu menulis namaku, nama ibuku dan ayahku, berhitung, dan sisanya aku lupa. Aku bisa menuliskan nama ibuku dengan lengkap, namun tidak dengan ayahku dimana namanya terbalik misal realita nama sandal merah tali menjadi sandal tali merah.

Tes kemudian dilanjutkan ke sekolah negri dimana saat itu dalam 1 lahan ada 2 sekolah dasar dimana 1 sekolah gedung bertingkat 2 dan sekolah lain 1 lantai saja., menurut orang tuaku memilihkan aku di sekolah tingkat gedung untuk membujuk aku sekolah. Lanjutkan membaca “Cerita Mawar #part 02 Aku Jadi Sendiri”

Bercermin dari Nisan


Pemakaman. Apa yang terbayang? Kematian, suasana suram, isak tangis? Dulu itu yang ada di benak saya, namun ternyata pemakaman lebih dari sekedar itu. Hari ini saya menghadiri pemakaman ibu seorang teman, beliau meninggal mendadak karena sakit 2 hari yang lalu. Ini adalah pengalaman pertama bagi saya, pemakaman dengan budaya dan agama yang berbeda. Segalanya terasa lebih membingungkan, terlebih lagi saya datang sendirian. Saya bingung bagaimana menempatkan diri di tengah suasana duka ini, rasanya tidak nyaman sama sekali! Lanjutkan membaca “Bercermin dari Nisan”

Marah adalah KEBIASAAN


Marah,…adalah KEBIASAAN

Sangat mudah untuk membayangkan kebiasaan seperti minum setelah makan, menggigit kuku atau mengatakan “iya kan?” setelah setiap kalimat. Sesuatu yang memicu kita, dan kita membawa kebiasaan ini kemana pun. Ini lebih mudah daripada membayangkan suatu konsep baru – hal ini hanyalah sebuah pemicu untuk respon tanpa dipikirkan

Nah, disini emosi dapat menjadi sebuah kebiasaan juga. Lanjutkan membaca “Marah adalah KEBIASAAN”