Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama, #Tulisan 14 Ringkasan dan Daftar Pustaka


Ringkasan

Moreno menemukan bahwa tele (atau hubungan) adalah kekuatan yang kuat yang bekerja di bidang interpersonal. Membawa perhatian pada fenomena ini membantu orang untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang terlibat dan untuk secara lebih sadar menanggapi isyarat-isyarat dekat-bawah sadar yang sering muncul ini. Menghargai dinamika hubungan dapat membantu orang memilih pasangan dan kelompok mereka dengan lebih bijak dan mengenali preferensi autentik mereka sendiri. Kegiatan-kegiatan yang mempromosikan hubungan di antara anggota kelompok kemudian mengarah pada kohesi kelompok yang meningkat, kapasitas yang lebih besar untuk empati dan pertemuan, dan konteks yang lebih menguntungkan untuk bekerja melalui konflik antarpribadi. Lanjutkan membaca “Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama, #Tulisan 14 Ringkasan dan Daftar Pustaka”

Dasar Logis ! Refleksi setelah Mengikuti Psikodrama di Universitas Sebelas Maret Solo


Sungguh hal yang awalnya tidak bisa saya terima bahwa saya adalah orang yang terlalu logis dan kurang bisa memahami orang lain. Ya meskipun itu sudah sangat sering saya dengar dari berbagai orang. Sejujurnya, dahulu saya berpikir bahwa itu adalah pujian, namun lambat laun justru saya pikir itu adalah judgement yang orang lain berikan pada saya yang sebenarnya memiliki arti “Kamu tuh ga pake perasaan ya cik?! Gampang banget ngomong gituan”. Lanjutkan membaca “Dasar Logis ! Refleksi setelah Mengikuti Psikodrama di Universitas Sebelas Maret Solo”

Sebuah Latihan untuk Melatih Kekuatan Interpersonal


Inilah cara untuk mengetahui seberapa kuat dirimu :

Pikirkan seseorang yang kau kenal; dan kemudian, setelah berpikir demikian, panggil orang itu dan katakan, “Hai, Aku sedang memikirkan kamu.” Untuk sedikit tambahan, ketika kau memikirkan orang itu, fokuskan pada beberapa hal kecil yang mereka lakukan, atau yang kau lakukan bersama….., atau sesuatu yang mereka mainkan, dll.

Dan kemudian ketika kau menelepon, katakan, “… dan aku ingat itu …” dan akhiri kalimat dengan apa yang kau pikirkan. Lanjutkan membaca “Sebuah Latihan untuk Melatih Kekuatan Interpersonal”

Asal Alami Tele #Tulisan 04 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Asal Alami Tele

 Ada dua komponen tele: (1) adalah preferensi antarpribadi; dan (2) timbal balik. Sebenarnya, ini membingungkan di lapangan, karena sering dalam tes sosiometrik ada non-timbal balik – apa yang kadang-kadang disebut “tele campuran” – sebuah istilah yang juga dapat membingungkan, ambivalensi. Lanjutkan membaca “Asal Alami Tele #Tulisan 04 Fenomena Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”

Refleksi Mengenai Terminologinya #Tulisan 03 Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama


Refleksi tentang Terminologinya

Memperkenalkan istilah baru mempersulit orang untuk menghargai konsep: Ini adalah masalah jargon. Apakah kita benar-benar perlu menggunakan kata “tele” atau bisakah kita menyinggung dinamika ini menggunakan istilah lain? Lanjutkan membaca “Refleksi Mengenai Terminologinya #Tulisan 03 Tele : Dinamika Hubungan yang Ajaib dalam Proses Psikodrama”

Aku Kesulitan untuk Membuat Keputusan


Aku mengalami distorsi kognitif. Aku kesulitan untuk membuat keputusan. Aku memiliki tugas psikologi bermain dan pengolahan PAUD.

Satu kelompok 4 orang. 1 dari 4 tidak kontribusi. Tugasnya dia dari 3x print file mulai dari tugas perdana sampai revisi ke 2, dia hanya print tugas perdana. Sebenarnya semua berperan dalam membuat paper beserta revisi, namun 1 anak ini tidak kontribusi apapun dalam membuat paper, hanya print saja.

Hal yang mengecewakan adalah dia selalu saja alasan untuk tidak membantu. Bahkan dia sudah absen beberapa kali di kelas. Aku kecewa sekali dengan permintaan bantuan untuk tugas yang harus sudah dikumpulkan besok pagi, dia hanya menambahkan 1 paragraf.

Dari hasil analisis sudah dijelaskan masalahnya apa, eh dia malah membuat 1 paragraf baru. Tulisannya seperti ini: Gap: menurut permendikbud nomor… tahun… dituliskan perlu media dari guru untuk pembelajaran. Padahal sudah jelas di paragraf sebelumnya isinya mulai dari gap hingga solusi. Aku juga minta dia untuk bantu lanjutkan membuat rancangan pembelajaran harian malah alasannya dia membuat proposal, padahal ada juga teman di kelompokku yang mengerjakan proposal malah di minta oleh dosbing proposal untuk menunda pengerjaan proposal karena ada tugas lain yang batas pengumpulannya lebih dekat. Bagiku sudah luar biasa jika sampai dosbing proposal skripsi meminta mahasiswanya untuk menunda mengerjakan proposal demi tugas lain, yang mestinya bisa selesai jika semua turut kontribusi.

Dimataku jika semua kontribusi, kecil sekali kemungkinan terjadinya hal ini.
Aku dan 2 anggota lain sudah konsul ke dosen mengenai kejadian ini, dosen membuat keputusan bahwa terserah keputusan kita. Dalam hati kecil kita sebenarnya kita masih mau beri kesempatan, namun sampai pembuatan projek hari ini dia tetap tidak muncul, padahal di grup sudah ramai dibahas, dan aku juga melihat bahwa dia membaca isi chat di grup.

Aku memiliki ide untuk memberi kabar di grup bahwa rancangan kegiatan harian di paud sudah jadi, aku kirim di grup, kemudian aku tag anak yang tidak kontribusi tersebut untuk mengeprint dan membawanya pada hari senin 22 april karena kita juga masih perlu melengkapi atribut di paud. Pemikiranku jika dia sampai tidak print dan tidak hadir maka dia di keluarkan karena ini sudah titik peringatan terakhir bahwa dia sudah di keluarkan dari grup karena dia tidak kontribusi.

Menurut Anda masih perlukah memberi peringatan kepada orang yang sudah keterlaluan kontribusi minim seperti ini, dia datangnya terlambat 1 jam lebih, pulang juga duluan dengan alasan mengurus gereja, kemudian alasan lagi mengurus pemilu, dan fatalnya lagi adalah dia berdalih mengerjakan proposal, padahal ada anggota lain yang juga proposal skripsi.

Perlu seperti apa lagi diriku, aku sudah mendapatkan data mengenai perilaku anak yang kurang kontribusi ini, dia memang sudah keterlaluan hampir pada seluruh mata kuliah (ia kini semester 8).
Perlukah mengasihi dia, perlukah mengIYAkan semua kemauan dia sedangkan ada anggota kelompok yang mengalami DEMOTIVASI karena sang anak yang kurang kontribusi ini? Tegas, Jujur, Musyawarah, chat pribadi, sudah dilakukan namun….

Perlukah aku mengIYAkan perkataan dosen waliku untuk analogi: Orang masuk psikologi untuk dapat uang banyak dengan mudah, Cuma dengerin orang saja dapat duit (konteks memeras jika menurut pemahamanku). Mungkin saja Tuhan mengabulkan permintaannya masuk psikologi kemudian konseling dan mudah dapatkan uang, hanya saja Tuhan memberikan cobaan kepada orang tersebut entah apa bentuknya. Aku bisa saja membuat pemikiran bahwa mungkin saja ia aktif di gereja, kemudian masuk psikologi untuk membantu jemaat di gereja, hanya saja perilakunya ini menunjukkan sikap tidak bertanggung jawab.

Menurut anak-anak yang pernah berkelompok dengan si kontribusi minimal ini, sang kontribusi minimal ini selalu selamat, selalu dapat nilai bagus, ada juga yang beranggapan dia super pandai mencontek.

Kasus ini mengingatkanku kepada pepatah sepandai-pandainya tupai melompat toh akan jatuh juga. Mungkin saja tampak dari luar di mata anak-anak dia selalu mujur dengan perilakunya yang lari dari tanggung jawab, kontribusi sangat ngawur minimalnya, ada hal laten yang tidak di ketahui.

Hal ini mengingatkan moto keluargaku jika terkena masalah yaitu GUSTI ORA SARE. Ya terlepas dendam kesumat karena si minim kontribusi ini, projek tetap harus jalan. Tetap cari solusi dan cara terbaik melalui masalah itu, gusti ora sare, Tuhan tidak pernah memberikan cobaan di luar kemampuan hambanya. Untuk sementara ini hanya ini yang bisa aku lakukan untuk meredam tidak seimbangan pikiran dan emosi negatif, ini.

Diskusi:
Menurut anda apa yang bisa aku lakukan jika menghadapi orang demikian (si minim kontribusi), sudah aku chat pribadi, chat grup tetap tidak ada resspon, apa iya aku keluarkan saja dari grup karena aku merasa bersalah telah memasukan dia yang ternyata hama buat kelompok? Kelompok sudah memutuskan akan mencabut namanya dan tidak praktik, jika sampai hari senin besok kumpul dia tidak datang tanpa penjelasan. So… mungkin ada feedback dari anda ?

Surabaya, 18 April 2019

Setiti

Bagaimana Eksplorasi Tindakan (Psikodrama) Bekerja


diposting pertama pada 14 Maret 2012

Saya melihat Eksplorasi Tindakan sebagai sintesis dari semua hal berikut:

1. Prinsip umumnya adalah “Kreativitas” sebagai tujuan umum — yang berbeda dengan tujuan umum abad ke-20 yang berharap “menyelesaikannya dengan benar” (seolah-olah ada pihak berwenang yang tahu apa jawaban yang benar). Adanya pergeseran seluruh pandangan dunia di sini, dari dunia sebagai tempat yang relatif stabil di mana kita harus beradaptasi, ke perubahan pascamodern, aktif dan akseleratif, co-evolusi pikiran, budaya, dan teknologi. Ini juga merupakan tujuan yang lebih positif, tidak begitu memberi kesan memalukan bahwa seseorang telah melakukan kesalahan atau tidak cukup mengerjakan pekerjaan rumahnya. Lanjutkan membaca “Bagaimana Eksplorasi Tindakan (Psikodrama) Bekerja”