Perihal Menulis, Mencoba BerBuah dalam Kekeringan


Apa yang harus aku lakukan dengan kekeringan ini?
Sampai kapan aku terus mencari dan menunggu?
Pesan apa yang perlu dipetik dari proses ini?
Entah mengapa tidak ada yang datang

Kering, kering, kering

Aku mengerti sekarang mengapa banyak penulis atau mereka yang masuk di bidang sastra terlihat berbeda, eksentrik, unik, kadang juga terlihat moody, berada di dunianya sendiri, dan seterusnya. Saya yakin banyak yang akan tidak setuju dengan pernyataanku ini, mohon maaf, tapi tidak ada niat dan maksud untuk menyinggung perasaan. Saya menyadari kalau pernyataan itu berdasarkan stereotipe, paham. Lanjutkan membaca “Perihal Menulis, Mencoba BerBuah dalam Kekeringan”

Menangislah Jika Itu Dianggap Penyelesaian


Terinspirasi oleh lagu Iwan Fals “Nyanyian Jiwa” yang menemani malam malam di Kampus jaman kuliah dulu. Mengapa kami begitu suka dengan lagu ini, selain karena lagu ini mampu mewakili kegelisahan kami waktu itu, saya berkeyakinan bahwa Pemilihan kata Menangis, tentu memiliki makna yang istimewa bagi pencipta lagu tersebut. Lanjutkan membaca “Menangislah Jika Itu Dianggap Penyelesaian”

Terapi Menulis Juga, Psikodrama dalam Soliloquy ku


Pernah dengar lagu kehidupan yang dinyanyikan Ahmad Albar?. Kira-kira syairnya begini; Dunia ini… panggung sandiwara, ceritanya .. mudah berubah. Ada peran wajar, ada peran berpura-pura… mengapa kita bersandiwara… mengapa kita bersandiwara…..Dunia ini penuh peranan….dunia ini jembatan kehidupan. Mengapa kita ….. bersandiwara…. Lanjutkan membaca “Terapi Menulis Juga, Psikodrama dalam Soliloquy ku”

Psikodrama adalah Terapi Individu dalam Setting Kelompok, dapat digunakan untuk Pasca Bencana


Selama ini kebanyakan terapi Psikologi dilakukan Individual, sementara beberapa waktu yang lalu banya terjadi bencana di wilayah Indonesia, dengan banyak korban yang membutuhkan proses penanganan Psikologi. Apabila dilakukan secara individual tentu membutuhkan banyak Psikolog serta waktu yang relatif lama. Untunglah sudah ada PFA/Psychological First Aid (Penanganan pertama pada orang yang mengalami gangguan Psikologi), sehingga korban bencana cukup dapat ditangani lebih cepat. Meskipun demikian ada tindak-lanjut yang perlu dilakukan, untuk menangani permasalahan psikologis mereka. Nah,….. Psikodrama memberikan salah satu alternatif untuk solusi penanganan permasalahan psikologi pasca bencana yang proses terapinya dilakukan dalam setting kelompok.

Lanjutkan membaca “Psikodrama adalah Terapi Individu dalam Setting Kelompok, dapat digunakan untuk Pasca Bencana”

Terapi Menulis #02 Ia Semakin Mengerti Tanda-tanda Orang…..


oleh Ayati Rini

“Jangan tuliskan apa-apa. Aku tidak ingin ketahuan. Jangan katakan apa-apa. Jangan temukan aku. Jangan ceritakan. Ujarkan pada dirimu sendiri. Kalian menyedihkan. Tidak mau. Aku takut dengan kalian.”
Ia meracau sendiri sembari menangis dengan lebih keras dari biasanya siang itu. Sebelumnya, ia memainkan melodi keyboar di kunci minor. Lantunan musik dan puisi sedih membawanya pada air mata, hingga ia mencoba membuka pintu itu. Pintu itu diganjal dari dalam; gelap dan tak terlihat apapun. Ada sesuatu–atau bahkan seseorang–di dalam sana. Ialah Sang Penjemput yang telah Warni ketahui juga bahwa keadaannya pun tidak baik-baik saja.

Warni tidak berani melakukan apa-apa, ia melangkah ke lantai dua untuk melanjutkan tangisannya dan meracau lebih hebat. Ia tahu bahwa dirinya harus menulis atau menghubungi orang yang lebih mengetahui bagaimana ia harus bertindak, namun dirinya menolak untuk itu. Kegelisahan yang ada di dalamnya menolak untuk diidentifikasi dan ditenangkan. Ia masih ingin memuaskan dirinya dengan merusak tubuh yang ditinggalinya semakin dalam.

Maka ia menghubungi kekasihnya yang selanjutnya mendengarkan, mencoba membantunya menarik napas panjang, dan membantu menguatkannya untuk kembali beraktivitas sebagaimana seharusnya. Warni mengikutinya, meski ia masih resah karena Sang Penjemput dan seorang lainnya telah ia ketahui sedang tidak baik-baik saja. Warni mencemaskan mereka berdua. Sejak Warni memasuki masa-masa ini, tampaknya kepekaannya semakin meningkat. Ia semakin mengerti seperti apa tanda-tanda orang yang sedang baik-baik saja dan seperti apa tanda-tanda orang yang sedang tidak baik-baik saja.

 

&&&&&&&

 

*Tulisan diatas merupakan proses konseling lanjutan. Ada teman ingin bertemu dengan saya minta konseling, dan saya menawarkan terapi menulis ini. Silahkan menulis apa saja, boleh dengan nama samaran, dan nama orang-orang juga disamarkan. Dasar Teorinya  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

….menjadi Orang yang Tahu Segalanya tidak akan Menyelamatkan


Aku punya pengalaman dulu waktu memfasilitasi Game Kerjasama saat itu masih sebagai Trainer di salah satu Perusahaan Tambang Batubara, temen-temen lulusan SMK, lebih berani segera mencoba dan mempraktekkan sehingga cepat berhasil. Sementara Kelompok yang Lulusan Sarjana, lama sekali berdiskusi mengatur strategi, dan memakan banyak waktu sehingga hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Waktunya habis terpakai untuk berdebat tanpa solusi.

Aku yakin hal itu bukan karena Lulusan Sarjana kalah cerdas, atau tidak mampu. Aku melihat ada keinginan kuat untuk “mengetahui” lebih dulu bagaimana (jalan/cara) yang benar, kemudian baru melakukan. Sementara temen yang lulusan SMK, langsung saja melakukan sambil improvisasi spontan mencari jalan yang tepat.

Jangan jangan temen temen lulusan sarjana ini terjebak pada paham Gnostisisme, mereka lebih penting mengetahui dan lupa waktu untuk segera bertindak. Tanpa sadar menganggap jika sudah mengetahui cara yang benar otomatis mampu melakukan dengan benar.mereka Mau bertindak jika sudah mengetahui.

Sementara temen SMK sudah Mau bertindak (dengan gembira), meski belum mengetahui caranya. Setelah bertindak baru mereka mengetahui. Mereka mendapatkan pengalaman dan pengetahuan.

Kemudian saya menemukan tulisan dari Group WA, mengenai Gnotisisme, yang dituliskan oleh Seorang Pastor Philipina.

 

Gnostisisme adalah Paham yang berasal-usul dari kata Yunani “gnosis”, berarti “mengetahui”. Dalam sejarah Gereja, Gnostisisme adalah ajaran sesat yang mengatakan bahwa yang paling penting adalah “apa yang kita ketahui”. Paham ini menegaskan bahwa yang kita butuhkan hanyalah pendekatan intelektual yang benar.

Paus Fransiskus mengatakan dewasa ini Gnostisisme menggoda orang untuk berpikir bahwa mereka dapat membuat iman “sepenuhnya dapat dipahami” dan menuntun mereka untuk memaksa orang lain mengadopsi cara berpikir mereka. “Ketika seseorang memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan,” kata Francis, “itu adalah tanda bahwa mereka tidak berada di jalan yang benar.”

Dengan kata lain, menjadi orang yang tahu segalanya tidak akan menyelamatkan Anda.

 

Pastor Constan Fatlolon

 

Aku dapat memahami “kegelisahanku atas fenomena peserta yang memiliki hasrat ingin tahu yang besar, untuk mendapatkan jawaban, ingin memiliki banyak pengetahuan.

Di sini aku makin yakin akan kontribusi Psikodrama, yang menekankan pada tindakan, bahkan juga mengajak untuk berani salah. Kondisi ini akan menjadikan seseorang tidak terjebak untuk mengetahui dulu sebelum bertindak, bahkan diajak bertindak agar nanti mengetahui, ujaran orang Jawa, Ilmu Tinemu Kanthi Laku. Pengetahuan akan didapatkan dengan melakukan tindakan (menjalani).

Dalam proses terapi Zerka Moreno mengatakan, “Subyek (pasien, klien, protagonis) memperagakan konfliknya, bukannya berbicara mengenainya.”

 

Retmono Adi

Bagaimana Eksplorasi Tindakan (Psikodrama) Bekerja


diposting pertama pada 14 Maret 2012

Saya melihat Eksplorasi Tindakan sebagai sintesis dari semua hal berikut:

1. Prinsip umumnya adalah “Kreativitas” sebagai tujuan umum — yang berbeda dengan tujuan umum abad ke-20 yang berharap “menyelesaikannya dengan benar” (seolah-olah ada pihak berwenang yang tahu apa jawaban yang benar). Adanya pergeseran seluruh pandangan dunia di sini, dari dunia sebagai tempat yang relatif stabil di mana kita harus beradaptasi, ke perubahan pascamodern, aktif dan akseleratif, co-evolusi pikiran, budaya, dan teknologi. Ini juga merupakan tujuan yang lebih positif, tidak begitu memberi kesan memalukan bahwa seseorang telah melakukan kesalahan atau tidak cukup mengerjakan pekerjaan rumahnya. Lanjutkan membaca “Bagaimana Eksplorasi Tindakan (Psikodrama) Bekerja”