Coretan “For Got Aen” by Adina Hafidhah Amalia


FOR GOT ӔN

18 OURS

Sometimes nothing
Sometimes reaching

Sometimes broken
Sometimes forgives

Sometimes lose
Sometimes learn

There is always
For got an
But there is always
Forgotten

Thank U,
@psikodrama_id
Solo, 16 Juni 2019

Adina Hafidhah Amalia

Bagaimana Belajar Mengungkapkan Pikiran yang Runtut dari Teori ke Aplikasi Tindakannya ?


Beberapa hari yang lalu Selasa, 19 Maret 2019, saya membantu kawan Psikolog dan mahasiswa S2 Psikologi, dalam mempraktekkan Psikodrama di Salah satu Panti asuhan di Medan.  Beberapa Teknik yang dipakai adalah Lokogram, Spektogram, Sculpture, dan Imagery. Saya tidak ingin menceritakan proses praktek teknik-teknik Psikodrama ini, melainkan membagikan pengalaman dalam mengevaluasi, merefleksikan proses yang dilakukan oleh  Mahasiswa S2 Psikologi dalam praktek tersebut. Lanjutkan membaca “Bagaimana Belajar Mengungkapkan Pikiran yang Runtut dari Teori ke Aplikasi Tindakannya ?”

Karena Rasa itu Nyata…Refleksi Psikodrama di Maranatha Bandung


“Ketika berbicara tentang pengalaman mengikuti psikodrama, maka yang paling mendominasi adalah pengalaman rasa… Dan ketika berbicara mengenai pengalaman rasa, maka “harus” siap kembali berkaca pada diri – karena pikir bisa diajari, laku bisa dipengaruhi, tapi rasa muncul murni dari dalam hati…”

Kurang lebih itulah yang saya rasakan selama mengikuti proses workshop psikodrama pada 19 – 20 Desember 2018 yang lalu. Berawal dari tujuan “sekedar” mengisi hari-hari terakhir di semester ini dengan sesuatu untuk menambah ilmu, ternyata saya bukan hanya mendapatkan ilmu, tapi juga banyak peneguhan dan pembelajaran, baik dari pengalaman pribadi saya sendiri, maupun pengalaman-pengalaman peserta lain yang turut dibagikan melalui setiap proses dalam workshop psikodrama ini.

Awalnya saya pikir hanya aspek kognitif alias alam pikiran saya saja yang akan banyak “bermain” ketika saya mengikuti workshop psikodrama ini. Tapi ternyata, justru aspek afeksi alias perasaan saya justru yang paling banyak diacak-acak, diubek-ubek, sampai pulang-pulang merasa lemas dan lunglai…

Anehnya, justru perasaan senang, syukur, dan excited-lah yang paling banyak mendominasi selama saya mengikuti prosesnya – bahkan setidaknya hingga hari ini saya menuliskan sharing saya, tepat 3 hari setelah workshop berlalu, saya masih bisa mengingat dengan jelas setiap proses yang saya lalui selama 2 hari mengikuti workshop psikodrama.

Mungkin karena meskipun perasaan saya diacak-acak dan diubek-ubek, tapi seolah saya tidak hanya menambah ilmu baru, melainkan juga disadarkan dan diingatkan kembali mengenai diri saya sendiri melalui prosesnya. Seolah workshop ini adalah paket all in one. Hehehe…

Maka, terima kasih kepada Mas Didik untuk ilmu dan proses pembelajaran yang luar biasa dan tidak akan saya lupakan… Terima kasih juga untuk obrolan-obrolan singkat, yang semoga bisa bermanfaat juga ke depannya, bukan hanya bagi saya, tapi juga bagi semakin banyak orang di luar sana…

Terima kasih juga kepada Bu Wiene dan Mas Yun, serta para panitia…
Terima kasih untuk para peserta yang juga bersedia menjadi kelompok belajar yang nyaman dan menyenangkan…

Semoga semuanya selalu berani jujur pada diri sendiri, berani memancarkan warna asli dari dalam diri… Karena semesta lebih indah justru karena keunikan masing-masing pribadi yang mendiaminya…

= Puspa_Psikologi_Universitas Kristen Maranatha_Bandung_23122018 =

Seniman Lima Belas Menit Goes To Jogja: Rasa yang Tak Pernah Ada


Seniman Lima Belas Menit adalah sebuah komunitas drama maupun psikodrama yang berada di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Komunitas ini awalnya terbentuk karena adanya Olimpiade Psikologi 3 tahun 2015 di Surabaya dengan cabang Psychodrama. Komunitas ini sudah melakukan pentas di internal maupun eksternal Fakultas Psikologi UKWMS. Komunitas ini beranggotakan mahasiswa aktif yang tertarik dalam bidang psikodrama, maupun teatre itu sendiri, komunitas ini dibawah bimbingan 2 dosen Psikologi UKWMS, yaitu Pak Danto dan Bu Erlyn, serta dibawah bimbingan langsung praktisi psikodrama asal Yogjakarta, yaitu Pak Didik. Lanjutkan membaca “Seniman Lima Belas Menit Goes To Jogja: Rasa yang Tak Pernah Ada”

Rasa Empatiku Muncul Lagi ; Refleksi Psikodrama di Salatiga


Hari ini tanggal 19 Juli 2017, saya belajar Psikodrama untuk pertama kalinya. Awalnya saya kira psikodrama itu seperti teater, berakting seperti pemain sinetron yang ‘alay’, tapi ternyata tidak seperti itu. Kelas hari ini lebih lama dari biasanya, namun karena banyak praktek, kelas tidak begitu terasa lama. Saya belajar banyak hari ini, di psikodrama ada 3 tahapan yaitu warming up, action, pemaknaan (reflection). Lanjutkan membaca “Rasa Empatiku Muncul Lagi ; Refleksi Psikodrama di Salatiga”

Kesan Mahasiswa Psikologi mengikuti Psikodrama di Yogyakarta


18 Maret 2017 adalah saat pertama saya mengenal Psikodrama. Sebagai seorang mahasiswa Psikologi saya merasa perlu untuk tahu banyak tentang terapi psikologi yang suatu saat akan berguna untuk klien klien saya nantinya.

Tidak sedikitpun terbersit dalam pikiran saya bahwa Psikodrama inilah yg menjadi “obat” bagi rasa marah dan ketidakmampuan saya menerima kepergian papa yang sangat dekat dengan saya. Seriously???? Lanjutkan membaca “Kesan Mahasiswa Psikologi mengikuti Psikodrama di Yogyakarta”

Pengalaman Kelas Psikodrama di Salatiga


Tadi pagi saya baru saja mengikuti pelatihan psikodrama. Awalnya hampir tidak niat untuk ikut karna kelasnya dadakan dan pasti akan banyak yang dikorbankan jika tetap ikut. Tapi rasa penasaranku membuatku tetap ingin ikut dan akhirnya aku ikut.

Pas awal masuk kelas, saya langsung dikagetkan dengan kata “frezz” artinya untuk menghentikan gerakan dalam drama. Saya lalu berhenti beserta teman-teman yang juga datang bersama saya. Itu dilakukan bapaknya karna ia mau menjelaskan betapa pentingnya etika ketika kita berada di lingkungan sosial. Lanjutkan membaca “Pengalaman Kelas Psikodrama di Salatiga”