Memaknai Kebahagiaan  


Sejujurnya saya masih belum tahu persis apa makna bahagia. Setiap orang sangat subjektif dan berhak bahagia oleh karena alasan2 apapun. Dari mulai hal yang ideal sampai sepele seperti merasakan angin segar saat bangun di pagi hari.

Bagi saya sendiri, menemukan kebahagiaan adalah sebuah perjalanan hidup itu sendiri. Layaknya sebuah perjalanan, sering saya  mampir dan tergoda oleh sesuatu  di pinggir jalan kehidupan saya untuk menikmati suatu hal yang sesungguhnya hanya sesaat. Sama saja seperti kita sedang menuju suatu tempat, di perjalanan-katakanlah dalam kendaraan atau kereta api menuju suatu kota-  kadang kita bertemu dengan keindahan-keindahan dan kenikmatan yang sebenarnya belumlah menjadi tujuan akhir dari  perjalanan itu sendiri. Lanjutkan membaca “Memaknai Kebahagiaan  “

Terapi Menulis #05 Aku Merasa Kosong dan Kesepian


oleh Ayati Rini

Sejatinya, manusia adalah susunan atom-atom yang kita sepakati sebagai makhluk hidup. Sebagai makhluk hidup, ada mekanisme-mekanisme instingtif yang terjadi untuk mempertahankan hidup. Rasa sakit merupakan tanda bahwa kita sedang menghadapi ancaman fisik. Kesepian merupakan tanda bahwa kita membutuhkan manusia lain agar bertahan hidup. Selain itu, ada pula insting untuk menyelamatkan hidup orang lain dan juga bereproduksi alias melanjutkan keturunan. Insting-insting itu adalah mekanisme alamiah untuk menjaga agar diri kita tetap “hidup”.

Setelah merasakan kesepian dalam beberapa hari silam, kini aku merasa… kosong? Semua hal yang menyenangkan terasa fana. Menarik hanya sesaat, sebelum kemudian tidak menarik lagi untuk digubris. Hari ini bukan tidak menyenangkan, aku pun merindukan masa lalu dan akan merindukan masa ini di masa depan. Tetapi tetap saja, semua terasa hampa. Aku hanya mengikuti keteracakan peluang yang membentuk jalan-jalan di hadapanku.

Manusia, hewan, tumbuhan, batuan, mesin, dan sebagainya, sesungguhnya tidak memiliki batas yang jelas. Batas itu kita tentukan sendiri agar memudahkan kita untuk mempelajarinya. Aku tidak lebih dari susunan atom yang kebetulan punya “kesadaran”. Aku merasa seolah sadar karena memang prosesorku tidak kuat mengalkulasi perhitungan alam semesta yang sangat besar angkanya.

Lalu apa yang berharga dari kehidupan ini? Tidak ada. Mari maknai sendiri? Masih belum bisa menerima. Untuk apa?

Karya, tanya, dan cinta adalah tiga komponen utama dalam kehidupan yang selama ini aku kejar. Saat ini, karya tidak lagi menggairahkanku untuk mencoba mempelajari cara membuatnya. Demikian pula dengan tanya, ia tak lagi seksi bagiku. Cinta?

Aku mencintai beberapa orang. Tetapi apalah artinya itu? Barangkali aku sedang egois, sehingga kupikir meskipun meninggalkan mereka, mereka akan bisa beradaptasi tanpaku. Apa makna cintaku kepada orang lain? Cinta yang baik, menurutku, adalah memberi tanpa mengharap imbalan. Namun, kupikir aku telah kehilangannya. Aku tahu orang-orang yang kucintai memedulikanku dan mungkin mencintaiku balik. Tetapi aku sedang hampa dalam rasa. Aku merasa kosong dan kesepian. Aku kurang tergerak untuk berbuat sesuatu demi cinta.

Hilanglah ketiga komponen itu. Hilang pula segala hasrat. Apalah artinya melukai diri. Apalah artinya berprestasi. Apalah artinya menangis. Apalah artinya bahagia.

Aku merindukan kehampaan yang sejati.

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Pelacur Hati


Kemarin aku bertemu lagi dengannya. Dia, lelaki pertama yang membawaku ke dalam kehidupan seksual. Sejak pertama kali bertemu, entah sudah berapa kali kami melakukan hubungan badan. Dia, lelaki pertama yang memberiku bayangan bahwa cinta dan seks adalah satu, lalu seks dan kenikmatan adalah satu. Bagiku, dia adalah sosok lelaki yang kuinginkan, entah….mungkin aku termakan bualannya. Entah juga bualannya yang mana, tentang amannya cinta, atau tentang nikmatnya seks. Lanjutkan membaca “Pelacur Hati”

Bercermin dari Nisan


Pemakaman. Apa yang terbayang? Kematian, suasana suram, isak tangis? Dulu itu yang ada di benak saya, namun ternyata pemakaman lebih dari sekedar itu. Hari ini saya menghadiri pemakaman ibu seorang teman, beliau meninggal mendadak karena sakit 2 hari yang lalu. Ini adalah pengalaman pertama bagi saya, pemakaman dengan budaya dan agama yang berbeda. Segalanya terasa lebih membingungkan, terlebih lagi saya datang sendirian. Saya bingung bagaimana menempatkan diri di tengah suasana duka ini, rasanya tidak nyaman sama sekali! Lanjutkan membaca “Bercermin dari Nisan”

Wajah Kasih


Pekan ini saya mengikuti retreat, 3 hari 2 malam di Ungaran. Tujuannya adalah untuk berdamai kembali dengan Tuhan, untuk mencari saya yang hilang. Dalam retreat ini, saya membaca dan merenung, mencoba menemukan apa yang salah. Jawabannya saya temukan tadi malam di kapel, lalu diperkuat lagi, tadi pagi dalam misa. Berkaca pada kisah hidup Salomo, ia meminta hikmat pengetahuan pada Allah. Saya meminta hal yang sama, karena bagi saya yang terpenting adalah otak, pengetahuan. Saya selalu mengadili, menghakimi segala sesuatu apakah itu baik atau jahat, hitam atau putih harus jelas. Maka, yang selalu saya minta adalah hikmat pengetahuan, pun dengan hikmat ini saya berusaha menemukan siapa diri saya, mencari Tuhan. Lanjutkan membaca “Wajah Kasih”