Apa itu Doubling, dan Kegunaannya dalam Psikodrama ?


Dalam psikodrama, Doubling adalah teknik di mana seorang peserta, mungkin diminta oleh direktur psikodrama, penambahan-penambahan peran (Self, pertukaran peran) dari protagonis, biasanya dengan berdiri di belakangnya (boleh juga dengan meletakkan tangan di punggungnya) dan mengatakan hal-hal yang mungkin ingin dikatakan atau ditahan oleh sang protagonis. Lanjutkan membaca “Apa itu Doubling, dan Kegunaannya dalam Psikodrama ?”

Ingin Berubah ? Pahami Psikodrama dan Lakukan !


Psikodrama mengolah diri

seperti Metamorfosa, Ulat menjadi Kupu Kupu

Ulat merayap,….kepompong diam,..Kupu kupu terbang,

begitu pun Psikodrama, ibarat kepompong, dari luar sepertinya diam, berserah pada alam, tidak terlihat proses yang terjadi di dalam, hingga tiba waktunya, merobek dari dalam, keluar menjadi kupu- kupu,..terbang indah di angkasa,….

…dan hidup tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Psikodrama adalah Terapi Individu dalam Setting Kelompok, dapat digunakan untuk Pasca Bencana


Selama ini kebanyakan terapi Psikologi dilakukan Individual, sementara beberapa waktu yang lalu banyak terjadi bencana di wilayah Indonesia, dengan banyak korban yang membutuhkan proses penanganan Psikologi. Apabila dilakukan secara individual tentu membutuhkan banyak Psikolog serta waktu yang relatif lama. Untunglah sudah ada PFA/Psychological First Aid (Penanganan pertama pada orang yang mengalami gangguan Psikologi), sehingga korban bencana cukup dapat ditangani lebih cepat. Meskipun demikian ada tindak-lanjut yang perlu dilakukan, untuk menangani permasalahan psikologis mereka. Nah,….. Psikodrama memberikan salah satu alternatif untuk solusi penanganan permasalahan psikologi pasca bencana yang proses terapinya dilakukan dalam setting kelompok.

Lanjutkan membaca “Psikodrama adalah Terapi Individu dalam Setting Kelompok, dapat digunakan untuk Pasca Bencana”

….menjadi Orang yang Tahu Segalanya tidak akan Menyelamatkan


Aku punya pengalaman dulu waktu memfasilitasi Game Kerjasama saat itu masih sebagai Trainer di salah satu Perusahaan Tambang Batubara, temen-temen lulusan SMK, lebih berani segera mencoba dan mempraktekkan sehingga cepat berhasil. Sementara Kelompok yang Lulusan Sarjana, lama sekali berdiskusi mengatur strategi, dan memakan banyak waktu sehingga hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Waktunya habis terpakai untuk berdebat tanpa solusi.

Aku yakin hal itu bukan karena Lulusan Sarjana kalah cerdas, atau tidak mampu. Aku melihat ada keinginan kuat untuk “mengetahui” lebih dulu bagaimana (jalan/cara) yang benar, kemudian baru melakukan. Sementara temen yang lulusan SMK, langsung saja melakukan sambil improvisasi spontan mencari jalan yang tepat.

Jangan jangan temen temen lulusan sarjana ini terjebak pada paham Gnostisisme, mereka lebih penting mengetahui dan lupa waktu untuk segera bertindak. Tanpa sadar menganggap jika sudah mengetahui cara yang benar otomatis mampu melakukan dengan benar.mereka Mau bertindak jika sudah mengetahui.

Sementara temen SMK sudah Mau bertindak (dengan gembira), meski belum mengetahui caranya. Setelah bertindak baru mereka mengetahui. Mereka mendapatkan pengalaman dan pengetahuan.

Kemudian saya menemukan tulisan dari Group WA, mengenai Gnotisisme, yang dituliskan oleh Seorang Pastor Philipina.

 

Gnostisisme adalah Paham yang berasal-usul dari kata Yunani “gnosis”, berarti “mengetahui”. Dalam sejarah Gereja, Gnostisisme adalah ajaran sesat yang mengatakan bahwa yang paling penting adalah “apa yang kita ketahui”. Paham ini menegaskan bahwa yang kita butuhkan hanyalah pendekatan intelektual yang benar.

Paus Fransiskus mengatakan dewasa ini Gnostisisme menggoda orang untuk berpikir bahwa mereka dapat membuat iman “sepenuhnya dapat dipahami” dan menuntun mereka untuk memaksa orang lain mengadopsi cara berpikir mereka. “Ketika seseorang memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan,” kata Francis, “itu adalah tanda bahwa mereka tidak berada di jalan yang benar.”

Dengan kata lain, menjadi orang yang tahu segalanya tidak akan menyelamatkan Anda.

 

Pastor Constan Fatlolon

 

Aku dapat memahami “kegelisahanku atas fenomena peserta yang memiliki hasrat ingin tahu yang besar, untuk mendapatkan jawaban, ingin memiliki banyak pengetahuan.

Di sini aku makin yakin akan kontribusi Psikodrama, yang menekankan pada tindakan, bahkan juga mengajak untuk berani salah. Kondisi ini akan menjadikan seseorang tidak terjebak untuk mengetahui dulu sebelum bertindak, bahkan diajak bertindak agar nanti mengetahui, ujaran orang Jawa, Ilmu Tinemu Kanthi Laku. Pengetahuan akan didapatkan dengan melakukan tindakan (menjalani).

Dalam proses terapi Zerka Moreno mengatakan, “Subyek (pasien, klien, protagonis) memperagakan konfliknya, bukannya berbicara mengenainya.”

 

Retmono Adi

Catatan Psikodrama Dinda


Hai, aku Dinda. Ini cerita pengalaman ku mengikuti Psikodrama ketiga kali nya. Hari ini hari kamis, hari pertama ku masuk kembali ke sekolah. Eh bekerja deh, bekerja nya disekolah hehehhe setelah selama seminggu sebelumnya harus bedrest karena sakit. Aku tau hari ini akan ada Psikodrama di sekolah and I’m so excited!!! Karena akhir-akhir ini aku merasa menghadapi beberapa beban fikiran dan perasaan. Butuh di charge jiwanya, hahahahah… Lanjutkan membaca “Catatan Psikodrama Dinda”

Manfaat Psikodrama bagiku


Mengikuti workshop pertama psikodrama 28 juli 2017.

Diawal masih belum begitu kenal dan belum paham apa itu psikodrama juga belum ada ketertarikan untuk ikut, tapi karena ada rasa ingin tahu dan menambah ilmu juga karena diadakan tidak di luar kota akhirnya saya ikut workshop psikodrama ini. Lanjutkan membaca “Manfaat Psikodrama bagiku”

Psikodrama Bagian dari Psikologi ; Dasar Teori Psikodrama, Adam Blatner, MD, TEP (2)


lanjutan dari :

Beberapa Poin Penting ; Dasar Teori Psikodrama, Adam Blatner, MD, TEP (1) 

Psikodrama Bagian dari Psikologi

Psikodrama harus dianggap sebagai ide-ide kompleks dan metode dalam psikoterapi yang lebih luas, dan lebih dari itu, di luar model medis, yaitu, yang saya sebut “psikologi terapan.” Ini termasuk pendidikan, bisnis, pelatihan keterampilan sosial, agama, rekreasi, struktur masyarakat, dan pengembangan pribadi – perspektif untuk mengoptimalkan potensi individu. Lanjutkan membaca “Psikodrama Bagian dari Psikologi ; Dasar Teori Psikodrama, Adam Blatner, MD, TEP (2)”