Penerapan Psikodrama di Dunia Pendidikan, Teacher Centered atau Student Centered ?


Hari Guru Nasional diperingati bersama hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), yaitu pada tanggal 25 November. Hari Guru Nasional bukan hari libur resmi, dan dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah dan pemberian tanda jasa bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Guru di Indonesia dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Tulisan ini juga masih dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional, semoga bermanfaat.

Guru yang hebat adalah guru yang menguasai pengetahuan, kemampuan dan mampu memberi contoh, sehingga kehebatannya dikagumi murid-muridnya. Guru itu akan mengajarkan dan menularkan kehebatan dirinya itu. Guru akan menginspirasi murid agar menjadi hebat seperti dirinya. Lanjutkan membaca “Penerapan Psikodrama di Dunia Pendidikan, Teacher Centered atau Student Centered ?”

HATI HATI MOTIVASI ANAK DENGAN HADIAH #Goresanku 154


Prinsip terpenting dari dukungan untuk anak adalah memupuk motivasi diri agar tumbuh secara alamiah. Setiap anak terlahir dengan ini, tidak ada yang mengancam atau mengiming-imingi anak untuk belajar berjalan. Saat anak berada dalam lingkungan yang tidak membatasi, anak punya dorongan untuk mencoba dan mengembangkan potensi diri. Lanjutkan membaca “HATI HATI MOTIVASI ANAK DENGAN HADIAH #Goresanku 154”

STIMULASI ANAK USIA DINI #Goresanku 153


Orangtua dan orang dewasa di sekitar anak sangat menentukan kualitas kehidupan anak dan perkembangannya yang optimal melalui apa yang dilakukan atau tidak dilakukan di lima tahun pertama. Anak mengalami periode sensitif dalam belajar, memiliki keingintahuan alamiah yang sangat besar dan berkembang pesat secara fisik dan mental di bagian awal kehidupannya. Semakin baik stimulasi di usia dini, anak akan semakin siap menghadapi tahap selanjutnya, bisa lebih maju dan tidak kehilangan kesempatan atau mengalami kesenjangan dalam perkembangan. Lanjutkan membaca “STIMULASI ANAK USIA DINI #Goresanku 153”

KOMUNIKASI EFEKTIF VS TIDAK EVEKTIV #Goresanku 151


Kita punya pilihan setiap kali berinteraksi dengan anak. Biasakan kita memilih cara yang merangsang komunikasi yang baik dan mencoba melakukannya dengan rutin. Sebagian kita tahu dan pernah menggunakan semua cara ini. Yang menyedihkan seringkali cara yang dipilih hanya itu-itu saja, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda. Lanjutkan membaca “KOMUNIKASI EFEKTIF VS TIDAK EVEKTIV #Goresanku 151”

KECERDASAN YANG TAK BISA DITUNDA #Goresanku 149


Cerdas digital adalah bukan hanya tentang tujuan, tetapi juga tentang cara. Dunia digital penuh pelajaran dan kesempatan, namun tantangannya pun tak kalah besar. Orangtua dan guru bijak justru memilih untuk memberdayakan, bukan memberi larangan tanpa alasan. Kita percaya, latihan ketrampilan hidup di dunia digital, menjadi pintu menumbuhkan kecerdasan yang juga bermanfaat di dunia nyata. Lanjutkan membaca “KECERDASAN YANG TAK BISA DITUNDA #Goresanku 149”

Healing Ternyata merupakan Kemampuan Utama dalam ( Servant ) Leadership


Beberapa waktu yang lalu aku mengikuti seminar online via Zoom tentang Servant Leadership. Ada yang menarik dari seminar tentang kepemimpian ini, yaitu menyebutkan bahwa kemampuan melakukan Healing merupakan salah satu prinsip penting dari kepemimpinan. Aku kemudian mencari tulisan di internet mengenai Servant Leadership ini. Berikut aku temukan di Internet.

Lanjutkan membaca “Healing Ternyata merupakan Kemampuan Utama dalam ( Servant ) Leadership”

Namanya juga Anak-anak, Demonstrasi di Jalanan, UU Cipta Kerja


Demonstrasi mengenai UU Cipta Kerja, berlangsung dengan kericuhan dan pengrusakan fasilitas umum. Sebenarnya kondisi tersebut dapat dengan mudah diprediksi bahwa hal itu akan terjadi, dengan melihat beberapa hal yang memiliki potensi akan terjadinya kericuhan tersebut.

Ada dua teori Psikologi yang dapat menjelaskan dinamikanya.

Teori pertama mengambil dari Teori Psikologi Perkembangan, khususnya Masa Remaja, yang menyatakan, selain pertumbuhan fisik, remaja juga mengalami perkembangan kognitif dan emosi. Seorang yang masuk dalam masa remaja akan mulai berpikir logis dan abstrak, bertindak agresif seperti cenderung akan melawan segala aturan yang diberikan pada dirinya. (5 Masalah Perilaku Remaja dan Cara Mengatasinya )

Karena perubahan-perubahan inilah remaja akan bersikap berbeda kepada orangtuanya. Remaja akan cenderung berprilaku negatif terhadap orangtuanya, misalnya melanggar semua aturan yang telah ditetapkan. Orang tua adalah figur otoritas di rumah, ketika demontrasi di ruang publik  (demonstrasi) figur otoritas yang ditentang adalah pemerintah dan saat di jalanan figur itu adalah polisi sebagai representasinya,  maka para demontran yang anak remaja akan menunjukkan perilaku negatifnya, dengan melanggar aturan yang ada. Dalam peristiwa demo yang lalu anak anak itu melakukan pengrusakan fasilitas umum serta melawan polisi.

Teori kedua adalah Teori Psikologi Kelompok, Penyebab Perilaku Kerumunan oleh Le Bon, menurutnya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kerumunan yaitu:
1. Anonimitas. Karena faktor kebersamaan dengan berkumpulnya individu-individu yang semula dapat mengendalikan diri, merasa dapat kekuatan luar biasa yang mendorongnya untuk tunduk pada dorongan naluri dan terlebur dalam kerumunan sehingga perasaan menyatu dan tidak dikenal mampu melakukan hal hal yang tidak bertanggung jawab. Semakin tinggi kadar anonimitas suatu kerumunan, semakin besar pula kemungkinannya untuk menimbulkan tindakan ekstrim karena anonimitas mengikis rasa individualitas para anggota kerumunan itu.

2. Contagion (penularan). Penularan Sosial (social contagion), adalah penyebaran suasana hati, perasaan atau suatu sikap, yang tidak rasional, tanpa disadari dan secara relatif berlangsung cepat. Penularan ini oleh Le Bon dapat dianggap suatu gejala hipnotis. Individu yang telah tertular oleh perasaan dan tindakan orang lain sudah tidak memikirkan kepentingan individu melainkan kepentingan bersama.

3.Konvergensi (keterpaduan). Orang-orang yang akan menonton festival musik Pop, dengan orang-orang yang menonton festival musik Rock akan memiliki ciri-ciri yang berbeda. Orang-orang yang menonton festival musik rock cenderung akan lebih mudah menimbulkan keributan dibanding dengan orang-orang yang menonton festival musik Pop. Orang-orang yang menonton festival music Rock relatif usianya sama-sama muda, mayoritas laki-laki dan tidak memiliki ikatan kuat terhadap nilai-nilai dan lingkungan setempat, berbeda dengan Orang-orang yang menonton festival music Pop.

4. Suggestibility (mudahnya dipengaruhi). Kerumunan biasanya tidak berstruktur, tidak dikenal adanya pemimpin yang mapan atau pola perilaku yang dapat dipanuti oleh para anggota kerumunan itu sehingga dalam suasana seperti itu, orang berperilaku tidak kritis dan menerima saran begitu saja, terutama jika saran itu meyakinkan dan bersifat otoritatif. Akan tetapi siapa induk atau yang memulai sulit ditentukan . (Teori Kerumunan Le Bon )

Kombinasi dari 2 teori tersebut sudah cukup menjelaskan potensi kerusuhan bakal terjadi. Remaja (rentang usia antara 13 – 19 tahun) berada dalam kerumunan. Dari dalam dirinya sudah ada keinginan menentang otoritas, ditempatkan dalam situasi anonimous. Mereka lebih berani melakukan tindakan ekstrim. Disusul kemudian ketika ada salah satu yang mulai melakukan tindakan pengrusakan atau agresi, maka jadi pemicu  mempengaruhi yang lainnya. Selain karena mereka juga tidak lagi mampu berpikir kritis, sehingga penularannya makin cepat, skalanya makin meluas dan membesar. 

Meskipun sangat mengkuatirkan mengapa hal tersebut sepertinya dibiarkan terjadi. Namun semuanya telah terkendali dan dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak.

Ada pembelajaran yang menarik yang  kudapatkan di Twitter. Bagaimana polisi melakukan penangkapan para pelaku demonstrasi yang kebanyakan masih berusia remaja itu. Polisi menahan mereka semalaman untuk mendata mereka. Keesokan harinya dipanggilkan orang tua mereka. Anak anak itu diminta minta maaf dan dilanjutkan dengan memeluk orang tuanya. Sebuah treatment Psikologis yang bagus, daripada hukuman fisik semata dan diceramahi tentang moral.  (Terjadi di Polsek Pulogadung )

Semoga untuk selanjutnya peristiwa tersebut tidak terulang lagi, dan aparat makin mampu dalam menangani permasalahan Kenakalan Remaja ini dengan lebih bijak. Aku tidak ingin terseret dalam permasalahan politik. Aku tetap fokus pada permasalahan Psikologinya terutama psikologi para Remaja. Bagaimana pun mereka masih dalam masa pertumbuhan dan mereka adalah generasi penerus bangsa.

Yogyakarta, 16 Oktober 2020

Retmono Adi

Proses Teater, Bermain Peran (Harusnya) Membantu dalam Menemukan Diri


Teater, Drama, atau Seni Peran Sebagai sarana untuk hiburan, drama selalu memiliki kemampuan untuk menggetarkan, bergerak, dan menginspirasi khalayak. Dari tangan Euripides lalu Shakespeare sampai dengan Scorcese, menunjukkan ketrampilan dari intensitas emosional yang memungkinkan drama dijadikan sarana untuk memusatkan perhatian, meningkatkan kesadaran, dan menyampaikan ide-ide secara dinamis Lanjutkan membaca “Proses Teater, Bermain Peran (Harusnya) Membantu dalam Menemukan Diri”

Obrolan Santai Mengenai Assesmen Kompetensi Integritas


Beberapa waktu yang lalu, temenku mempresentasikan desertasi Doktoralnya via online, mengenai Autentik Organisasi, yang dilanjutkan dengan obrolan santai di WAG. Kebetulan waktu Ujian Desertasinya aku hadir, namun saat presentasi online (setelah beliau dinyatakan lulus) aku tidak dapat mengikuti karena ada mengisi even online di waktu yang sama.

Lanjutkan membaca “Obrolan Santai Mengenai Assesmen Kompetensi Integritas”

Hari Orang Tua dan Anak dari Animasi Boruto


Terinspirasi dari film serial Boruto,  Naruto Next Generation, Episode Hari Orang Tua dan Anak. Disana diceritakan pentingnya membangun hubungan yang baik antara orang tua dan anak. Sebuah refleksi pada saat menjalani Karantina Mandiri di rumah aja. Lanjutkan membaca “Hari Orang Tua dan Anak dari Animasi Boruto”