Aku Kesulitan untuk Membuat Keputusan


Aku mengalami distorsi kognitif. Aku kesulitan untuk membuat keputusan. Aku memiliki tugas psikologi bermain dan pengolahan PAUD.

Satu kelompok 4 orang. 1 dari 4 tidak kontribusi. Tugasnya dia dari 3x print file mulai dari tugas perdana sampai revisi ke 2, dia hanya print tugas perdana. Sebenarnya semua berperan dalam membuat paper beserta revisi, namun 1 anak ini tidak kontribusi apapun dalam membuat paper, hanya print saja.

Hal yang mengecewakan adalah dia selalu saja alasan untuk tidak membantu. Bahkan dia sudah absen beberapa kali di kelas. Aku kecewa sekali dengan permintaan bantuan untuk tugas yang harus sudah dikumpulkan besok pagi, dia hanya menambahkan 1 paragraf.

Dari hasil analisis sudah dijelaskan masalahnya apa, eh dia malah membuat 1 paragraf baru. Tulisannya seperti ini: Gap: menurut permendikbud nomor… tahun… dituliskan perlu media dari guru untuk pembelajaran. Padahal sudah jelas di paragraf sebelumnya isinya mulai dari gap hingga solusi. Aku juga minta dia untuk bantu lanjutkan membuat rancangan pembelajaran harian malah alasannya dia membuat proposal, padahal ada juga teman di kelompokku yang mengerjakan proposal malah di minta oleh dosbing proposal untuk menunda pengerjaan proposal karena ada tugas lain yang batas pengumpulannya lebih dekat. Bagiku sudah luar biasa jika sampai dosbing proposal skripsi meminta mahasiswanya untuk menunda mengerjakan proposal demi tugas lain, yang mestinya bisa selesai jika semua turut kontribusi.

Dimataku jika semua kontribusi, kecil sekali kemungkinan terjadinya hal ini.
Aku dan 2 anggota lain sudah konsul ke dosen mengenai kejadian ini, dosen membuat keputusan bahwa terserah keputusan kita. Dalam hati kecil kita sebenarnya kita masih mau beri kesempatan, namun sampai pembuatan projek hari ini dia tetap tidak muncul, padahal di grup sudah ramai dibahas, dan aku juga melihat bahwa dia membaca isi chat di grup.

Aku memiliki ide untuk memberi kabar di grup bahwa rancangan kegiatan harian di paud sudah jadi, aku kirim di grup, kemudian aku tag anak yang tidak kontribusi tersebut untuk mengeprint dan membawanya pada hari senin 22 april karena kita juga masih perlu melengkapi atribut di paud. Pemikiranku jika dia sampai tidak print dan tidak hadir maka dia di keluarkan karena ini sudah titik peringatan terakhir bahwa dia sudah di keluarkan dari grup karena dia tidak kontribusi.

Menurut Anda masih perlukah memberi peringatan kepada orang yang sudah keterlaluan kontribusi minim seperti ini, dia datangnya terlambat 1 jam lebih, pulang juga duluan dengan alasan mengurus gereja, kemudian alasan lagi mengurus pemilu, dan fatalnya lagi adalah dia berdalih mengerjakan proposal, padahal ada anggota lain yang juga proposal skripsi.

Perlu seperti apa lagi diriku, aku sudah mendapatkan data mengenai perilaku anak yang kurang kontribusi ini, dia memang sudah keterlaluan hampir pada seluruh mata kuliah (ia kini semester 8).
Perlukah mengasihi dia, perlukah mengIYAkan semua kemauan dia sedangkan ada anggota kelompok yang mengalami DEMOTIVASI karena sang anak yang kurang kontribusi ini? Tegas, Jujur, Musyawarah, chat pribadi, sudah dilakukan namun….

Perlukah aku mengIYAkan perkataan dosen waliku untuk analogi: Orang masuk psikologi untuk dapat uang banyak dengan mudah, Cuma dengerin orang saja dapat duit (konteks memeras jika menurut pemahamanku). Mungkin saja Tuhan mengabulkan permintaannya masuk psikologi kemudian konseling dan mudah dapatkan uang, hanya saja Tuhan memberikan cobaan kepada orang tersebut entah apa bentuknya. Aku bisa saja membuat pemikiran bahwa mungkin saja ia aktif di gereja, kemudian masuk psikologi untuk membantu jemaat di gereja, hanya saja perilakunya ini menunjukkan sikap tidak bertanggung jawab.

Menurut anak-anak yang pernah berkelompok dengan si kontribusi minimal ini, sang kontribusi minimal ini selalu selamat, selalu dapat nilai bagus, ada juga yang beranggapan dia super pandai mencontek.

Kasus ini mengingatkanku kepada pepatah sepandai-pandainya tupai melompat toh akan jatuh juga. Mungkin saja tampak dari luar di mata anak-anak dia selalu mujur dengan perilakunya yang lari dari tanggung jawab, kontribusi sangat ngawur minimalnya, ada hal laten yang tidak di ketahui.

Hal ini mengingatkan moto keluargaku jika terkena masalah yaitu GUSTI ORA SARE. Ya terlepas dendam kesumat karena si minim kontribusi ini, projek tetap harus jalan. Tetap cari solusi dan cara terbaik melalui masalah itu, gusti ora sare, Tuhan tidak pernah memberikan cobaan di luar kemampuan hambanya. Untuk sementara ini hanya ini yang bisa aku lakukan untuk meredam tidak seimbangan pikiran dan emosi negatif, ini.

Diskusi:
Menurut anda apa yang bisa aku lakukan jika menghadapi orang demikian (si minim kontribusi), sudah aku chat pribadi, chat grup tetap tidak ada resspon, apa iya aku keluarkan saja dari grup karena aku merasa bersalah telah memasukan dia yang ternyata hama buat kelompok? Kelompok sudah memutuskan akan mencabut namanya dan tidak praktik, jika sampai hari senin besok kumpul dia tidak datang tanpa penjelasan. So… mungkin ada feedback dari anda ?

Surabaya, 18 April 2019

Setiti

Kesadaran dan Pengendalian Diri menjadi Dasar Memaafkan


Lanjutan dari apa perlu memaafkan orang lain…

Saya merasa sangat terbantu sekali dengan materi kotbah bapak dan juga saat doa setelah kotbah dimana saya bisa benar benar bertemu musuh saya. Oleh karena itu saya ingin berdiskusi dengan bapak. Pak Didik langsung mensetujui kita akan bertemu di akhir pekan.

Kemudian saat yang paling aku nantikan tiba juga, Sabtu 6 april 2019 aku memiliki relasi dengan orang yang berasal dari teologia dan masih nyambung dengan psikologi. Jarang sekali aku bertemu orang yang berasal dari teologia namun ketika bertemu kasus psikologi bisa membantu. Adapun aku bertemu pasti usianya sudah hampir 60 tahun. Untuk isi percakapan detailnya aku sudah lupa karena aku mengetik ini 1 minggu kemudian, jadi aku mencoba menjadikan berdasarkan memoriku. Lanjutkan membaca “Kesadaran dan Pengendalian Diri menjadi Dasar Memaafkan”

Teman kerja ? #8 Life Career Employee Faith


Saya sudah melangkah di tempat yang baru. Pekerjaan yang baru. Apa yang saya takutkan tidak sebegitu menakutkan ketika semua itu sudah dijalani. Masalahnya, saya jadi sibuk sekali. Baru beberapa hari mengerjakan pekerjaan baru, jerawat-jerawat sudah bermunculan di wajah. Tidur sekitar pukul 12 sampai 1 pagi. Hampir beberapa hari kerja lembur. Olahraga yang biasanya seminggu 3-4x, kali ini hanya 2x. Untungnya minggu ini saya masih sempat berenang dan ikut kelas yoga. Lanjutkan membaca “Teman kerja ? #8 Life Career Employee Faith”

Apakah saatnya Maju atau Berhenti Mengubah Jalur? #3 Life, Career and Employee Faith


Thursday, 26 November 2015

Pagi hari dimulai dengan senyuman manis dan baju rapi. Tidak ada yang salah. Tidak tersandung, dan wajah full of make up. Ok hari ini saya sangat percaya diri. Hari ini ada meeting besar satu divisi, membicarakan apa yang menjadi objective 2016 dan apa hasil yang sudah dilakukan di 2015. Segalanya berjalan baik, sampai ketika saya merasa kejanggalan dan saya mulai tidak mengerti apa yang orang-orang sedang bicarakan di depan. Apa yang mereka presentasikan saya tidak tahu. Tiba-tiba saya seperti tertarik ke dunia saya sendiri. Terpencil, sendiri dan tidak bisa berinteraksi. Saya mendengar si ini berbicara; si itu menanggapi, ada yang bertanya dan saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Saya tidak mengerti situasi yang membawa saya jadi seperti orang yang autis. Apa yang membuat saya begini? Lanjutkan membaca “Apakah saatnya Maju atau Berhenti Mengubah Jalur? #3 Life, Career and Employee Faith”