Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus dengan Hati #Goresanku 143


Lima belas tahun, selain sebagai kepala sekolah juga mengajar anak-anak balita cukup membuat saya jatuh cinta pada profesi guru anak-anak usia dini atau kelompok bermain. Ada kebahagiaan tersendiri saat mengajar anak-anak, membimbing dan membantu mereka hingga bisa lebih mandiri saat memasuki jenjang pendidikan selanjutnya.

Sejak mengajar di sini, saya mendapat pengalaman menghadapi anak berkebutuhan khusus. Di sekolah tempat saya mengajar kebetulan menerima juga anak berkebutuhan khusus. Ada pertimbangan tersendiri mengapa kami menerima anak berkebutuhan khusus.

Pada awalnya ada beberapa orangtua datang untuk berharap agar anaknya bisa bersekolah di sini. Dengan alasan, sebagian besar sekolah yang lain tidak bisa menerima anak-anak mereka. Dengan dasar itulah kami bisa menerimanya. Hak anak-anak untuk mendapat pendidikan harus dikedepankan, mereka juga perlu mendapat pendidikan yang layak seperti anak-anak normal lainnya. Sepengetahuan saya, selain belajar di sekolah mereka juga ikut terapi-terapi di tempat lain.

Saya salut pada mereka, orangtua yang mau mengupayakan dengan berbagai cara demi kemajuan dan kebaikkan anaknya. Bisa dikatakan mereka tidak malu mempunyai anak berkebutuhan khusus. Mereka tidak menuntut nilai akademik, tetapi lebih mengedepankan sosialisasi dan kemandirian anak.

Memang …. mengajar anak berkebutuhan khusus bukan perkara mudah. Perlu ada ketrampilan khusus untuk menanganinya, disamping pentingnya kerja sama dengan orangtua sang anak.

Sebelumnya,sebagai pendidik saya tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Sebagai penyeimbang, tentunya selalu ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk mereka. Dengan cara membekali diri, belajar dari berbagai media yang ada kaitannya dengan anak berkebutuhan khusus. Satu hal perlu dimiliki oleh guru, adalah mampu membantu tumbuh kembang dan pendidikan anak berkebutuhan khusus dengan hati.

Mengerti psikologi anak penting untuk membantu mereka keluar dari perilakunya yang berbeda dengan anak-anak lain.

Saya pernah mengajar anak berkebutuhan khusus, ini termasuk penanganan yang sederhana. Sebenarnya ada yang lebih rumit dari ini. Dia berusia 4 tahun, tapi masih minum dengan botol. Kebetulan dia juga belum bisa memegang botol sendiri. Saat minum pun, inginnya dipangku dan ditepuk-tepuk punggungnya. Saya berusaha mengajarinya supaya bisa memegang botol sendiri saat minum. Setelah beberapa waktu, tentunya memerlukan waktu yang tidak singkat. Dia mulai bisa minum dengan memegang botol sendiri.

Untuk menangani anak berkebutuhan khusus penting melibatkan orangtua. Biasanya saya selalu memanggil orangtua murid untuk berbicara membahas keadaan dan perkembangan anak.

Sebagai guru saya perlu menyadari ketika berhadapan dengan orangtua, adalah membantu mereka melihat sisi positif anak dan tidak selalu melihat keterbatasannya.

Begitulah ….. benar adanya , mengajar anak berkebutuhan khusus adalah ” mengajar dengan hati “.

Kusuma, Maret’17

Memaksakan Kehendak pada Anak #Goresanku 76


” Ayo pegang pinsilnya yang bener dong, duduknya yang rapi!”

“Lihat tuch, teman-temannya sudah pada pinter !”

Kata orang tua murid yang pada saat itu ikut masuk kelas untuk menemani anaknya belajar.

Memaksakan Kehendak

Orang tua mana sich, yang tidak ingin anaknya pinter?

Dapat dikatakan, kebanyakan orang tua pasti menginginkannya. Sebaiknya perlu diingat, bahwa setiap anak itu berbeda. Apalagi anak masih berumur 18 bulan, untuk berjalan dan berbicara pun belum sempurna. Orang tua menuntut anaknya agar bisa melakukan sesuatu seperti anak yang lain. Tanpa harus  melihat bagaimana kemampuan si anak sendiri.

Tentunya masing-masing anak/individu akan berbeda dalam penguasaan syaraf motoriknya. Jadi yang perlu kita lakukan adalah bersabar dan menikmati masa-masa mengajari si kecil, sehingga anak tumbuh dan berkembang dengan sempurna pada masa perkembangan anak.

Jadi aku rasa, tidak perlu memaksa Si Kecil untuk dapat melakukan sesuatu hal yang mungkin sudah dikuasai teman seusianya dan belum dikuasai oleh Si Kecil.

 

Ditulis kembali oleh :
Catharina Tyas Kusumastuty