6 Langkah Mengolah Luka Inner Child Menuju Kesembuhan


Ada 6 langkah untuk membantu menyembuhkan inner child kita yang terluka. Menurut John Bradshaw, penulis buku Home Coming: Reclaiming and Championing Your Inner Child, proses ini melibatkan enam langkah:

1. Keyakinan, bahwa apa yang terjadi pastilah memiliki hikmah dan sesuatu yang baik.
2. Validasi, perlu validasi ulang, pastikan yang terjadi dengan melihat dari berbagai sudut pandang.
3. Shock dan kemarahan, mulai menyadari perasaan marah, menemukan sesuatu yang baru, pemahaman baru yang selama ini ditekan atau diingkari, awalnya akan marah pada lingkungan luar dirinya, orang lain, namun selanjutnya akan mengarah pada diri sendiri.
4. Kesedihan, Ada muncul kesedihan, mengapa hal itu bisa terjadi, kesadaran bahwa marah pada diri sendiri tidak cukup untuk memperbaiki situasi. Hingga puncaknya sudah tidak dapat mengungkapkan rasa, tinggallah air mata.
5. Penyesalan, merasa bahwa yang terjadi, juga karena ada kontribusi diri sendiri. Mulai mengasihani diri, menyesal dan bertobat, mohon ampunan
6. Kesunyian diri, Ada kelegaan bahwa semua berasal dari diri sendiri, dan bisa diatasi oleh diri sendiri, dan ada tekad untuk berani menjadi diri sendiri.

Kesemua langkah tersebut adalah proses yang akan dialami dalam pengolahan inner child untuk menuju kesembuhan.

Bila ada yang berminat dengan 6 langkah ini melalui Psikodrama dapat kita lakukan. Silahkan isi kolom komentar atau kontak langsung Jefri 0812 252 0777 untuk pengaturan waktunya.

Yogyakarta, 22022021

<p value="<amp-fit-text layout="fixed-height" min-font-size="6" max-font-size="72" height="80"><a href="https://retmonoadi.com/about/&quot; target="_blank" rel="noreferrer noopener">Retmono Adi</a>Retmono Adi

Mengambil dari Mengelola Inner Child “HEALING YOUR INNER CHILD”

7 Prinsip Mengendalikan Pikiran untuk Kebahagiaan Hidup


Pada saat Anda akan mengambil keputusan, sebaiknya kita melihat beberapa prinsip dasar berikut:

1. Kekuatan terbesar kita adalah kemampuan untuk memilih pikiran.
Manusia dapat memilih pikiran. Pada bukuThe 7 Habits of Highly Effecttive People, Stephen R. Covey (dalam 7 Laws of Happiness, 104) mengatakan bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih respons terhadap stimulus yang datang. Intinya dalam 1 kondisi kita dapat memilih pemikiran dan respon.
Misalnya saat santai mengemudikan sepeda motor, tiba-tiba ada mobil yang menyalip dan memotong jalur tepat di depan Anda. Tentu saja kejadian ini dapat membahayakan pengguna jalan pada saat itu. Respon kita bisa memotong balik jalan ke orang tadi sambil marah, atau kita hanya diam dan membiarkan kejadian itu berlalu. Membiarkan berlalu artinya kita berpikiran bahwa mungkin di dalam sana ada orang yang sakit parah dan perlu segera ke RS, atau yang lebih umumnya lagi berpikiran bahwa pengemudi tersebut ingin buang air, atau bensin akan habis. Lanjutkan membaca “7 Prinsip Mengendalikan Pikiran untuk Kebahagiaan Hidup”

7 Tipe Kemarahan ; Belajar Menggunakan Kemarahan secara Konstruktif


Kemarahan adalah emosi alami dan memberi sinyal kebutuhan akan perubahan lingkungan. Namun, mungkin dan biasanya merupakan keinginan kuat untuk mengekspresikan kemarahan dalam bentuk mengatur / mengontrol, dan belajar melakukan ini adalah ciri kedewasaan.

Bermain peran adalah cara terbaik untuk mempelajari keterampilan ini, karena setiap tingkat kemarahan melibatkan kompleksitas perilaku yang berbeda, namun juga harapan. Hal ini berguna untuk mempertimbangkan berbagai peran yang berbeda dengan tingkat kemarahan yang dialami.
Lanjutkan membaca “7 Tipe Kemarahan ; Belajar Menggunakan Kemarahan secara Konstruktif”

PENGARUH EMOSI #Goresanku 107


” Berpikirlah dua kali sebelum engkau melakukan sesuatu, agar bisa dipertimbangkan dengan bijaksana, dan membawamu pada keselamatan.”-Anne Ahira.

 

Sering kita menemukan, bagaimana emosi memberi dampak yang tidak pernah kita inginkan. Tidak sedikit emosi yang meninggalkan efek yg tidak baik. Andaikan saja kita bisa memahami makhluk apa sesungguhnya emosi itu, tentu kita bisa menjadi lebih bijaksana.

Emosi bisa jadi merupakan reaksi atas berbagai kejadian yang berlaku dalam kehidupan kita. Emosi juga dapat menentukan bagaimana sebuah kejadian dipahami dan disikapi. Sebuah emosi biasanya berangkat dari prasangka seseorang.

Emosi merupakan bagian dari perasaan kita. Bila tidak dikendalikan, emosi bisa membatasi persepsi kita.

Itu sebabnya, sebaiknya emosi bisa dikendalikan, bukan yang mengendalikan. Sebab bila emosi dibiarkan masuk dalam logika maka akan jadi berbahaya. Persepsi kita bisa menjadi selektif. Membuat kita hanya melihat apa yang sesuai dengan perasaan kita.

 

Ditulis kembali oleh:
Catharina Tyas Kusumastuty