Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar – Lanjutan Terapi Menulis


Saya ingin menanggapi mengenai komentar Mas Didik di tulisanku sebelumnya yang berjudul “Ungkapan Jujur Hati”. Terima kasih atas masukannya. Selamat membaca. Semoga ada yang bisa didapatkan dan bermanfaat bagi yang membaca.

Memang benar, masa laluku dipenuhi dengan pesan-pesan antara “salah” dan “benar”. Tidak ada yang abu-abu. Sebagai anak kecil pun aku sudah dituntut untuk berperilaku yang benar, karena kalau tidak, ‘akan membawa malu bagi keluarga’. Lanjutkan membaca “Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar – Lanjutan Terapi Menulis”

Ungkapan Jujur Hati, Anggap Ini Sebagai Terapi Menulis ku


Kapan terakhir anda merasa disalahpahami? Kapan terakhir anda merasa sangat frustrasi karena usaha yang selama ini anda lakukan untuk berubah menjadi lebih baik sepertinya tidak ada artinya? Kata-kata atau niat baik yang keluar itu terus disalahartikan oleh orang lain dan menjadi senjata yang diarahkan kembali ke aku karena ujung-ujungnya kata-kataku itu dipakai sebagai alasan untuk menolak melakukan apa yang aku katakan. Lanjutkan membaca “Ungkapan Jujur Hati, Anggap Ini Sebagai Terapi Menulis ku”