Resolusi Konflik dengan Metode Psikodrama


Aku dapatkan dari Google,  Teori konflik melihat kehidupan sosial sebagai sebuah kompetisi, dan berfokus pada distribusi sumber daya, kekuasaan, dan ketidaksetaraan. Tidak seperti teori fungsionalis, teori konflik lebih baik dalam menjelaskan perubahan sosial, dan lebih lemah dalam menjelaskan stabilitas sosial.

Masih selaras dengan hal itu, aku memakai pemahamanku yang lebih banyak berperspektif Psikologi. Aku memilih dari Teori Peran, agar dapat diperankan, didramakan. Konflik adalah ketidak-selarasan, berbeda tujuan, berbeda arah, mungkin juga berbeda cara atau berbeda gaya. Setiap orang memainkan sejumlah peran yang berbeda, dan kadang-kadang peran-peran tersebut membawa harapan-harapan yang bertentangan. Lanjutkan membaca “Resolusi Konflik dengan Metode Psikodrama”

PANDUAN TRAINING BERDASAR DRAMA


Seorang karyawan mengaku kepada manajernya bahwa rekan-rekan kerjanya mengiriminya ofensif e-mail. Seorang sales representative, Afrika-Amerika pertama yang bekerja di tenaga penjualan serba putih (kulit putih), mengatakan kepada manajer bahwa dia ingin mengajukan keluhan EEO. Situasi rumit seperti ini merupakan tantangan sehari-hari di lingkungan perusahaan saat ini.  Misalnya: keterampilan dalam menangani topik hangat seperti keragaman di tempat kerja, pelecehan seksual, dan kekerasan di tempat kerja naik ke posisi utama dalam ukuran keberhasilan kepemimpinan, serta ” people skills ” mendapatkan kredibilitas dan kewibawaan. Seandainya paradigma strategis lebih daripada reaktif, dinamika manusia adalah untuk mengubah pemikiran kita, maka paradigma baru untuk pelatihan harus mengantar pada perubahan. Lanjutkan membaca “PANDUAN TRAINING BERDASAR DRAMA”

PANDUAN TRAINING BERDASAR DRAMA, PELATIHAN MODERATE-IMPACT #Psikodrama 5/7


….sambungan dari …. Pelatihan Low-Impact

PELATIHAN MODERATE-IMPACT

Seperti Pelatihan Low-Impact, Pelatihan Moderate-Impact juga berkonsentrasi pada kesadaran umum tentang suatu topik. Selain itu termasuk juga kegiatan partisipatif yang membutuhkan penonton untuk lebih dalam memeriksa berbagai motivasi dan karakter perilaku. Keterlibatan Penonton dalam presentasi Moderate-Impact lebih pada bahwa, mereka diundang untuk “mengajukan pertanyaan” kepada aktor, yang tetap dalam Karakter, yang terdapat dalam pertunjukkan. Melalui interaksi antara Penonton dan “Karakter,” motivasi dalam Karakter ‘dieksplorasi’ dan dibahas dengan bantuan Fasilitator. Kegiatan tambahan juga termasuk membagi audien untuk melakukan kelompok kerja kecil, seperti masing-masing kelompok berkolaborasi dengan aktor untuk mempengaruhi karakter-karakter yang dilakukannya dan mendramatisir cerita. Lanjutkan membaca “PANDUAN TRAINING BERDASAR DRAMA, PELATIHAN MODERATE-IMPACT #Psikodrama 5/7”

5 Fungsi Komunikasi Non Verbal, Bahasa Tubuh, Pikiran Bawah Sadar, dan Psikodrama


Berkomunikasi tidak hanya dilakukan dalam lingkup verbal saja, lebih dari itu kita sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh komunikasi nonverbal. Pemahaman komunikasi non-verbal, akan memudahkan kita berkomunikasi dengan orang lain dan juga bisa membantu kita mengekspresikan diri.

Komunikasi nonverbal lebih sering muncul dalam Bahasa Tubuh, komunikasi pesan non-verbal (tanpa kata-kata). Bahasa tubuh merupakan proses pertukaran pikiran dan gagasan di mana pesan yang disampaikan dapat berupa isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata, sentuhan, artifak (lambang yang digunakan), diam, waktu, suara, serta postur dan gerakan tubuh.

Berikut 5 fungsi pesan nonverbal menurut Mark L. Knapp

  1. Repetisi

Mengulang kembali gagasan yang sudah disampaikan secara verbal.
Contoh:
Anak kecil yang menjawab mau diajak ke dufan akan mengiyakan sambil melompat-lompat senang.

  1. Subtitusi

Menggantikan lambang verbal.
Contoh:
Tanpa mengatakan sepatah katapun, di Indonesia bila seseorang menggeleng, maka lawan bicaranya akan tahu bahwa itu sebagai tanda ketidaksetujuan.

  1. Kontradiksi

Menolak sebuah pesan verbal dengan memberikan makna lain menggunakan pesan nonverbal.
Contoh:
Seseorang mengiyakan dan menganggukkan kepala saat diminta mendekat namun lalu mengambil langkah seribu dan lari secepat-cepatnya.
Bahasa tubuhnya yang menghindari kontak dengan melarikan diri menandakan bahwa ia takut, kontradiktif dengan awal pesan verbalnya saat ia mengiyakan.

  1. Pelengkap (complement)

Melengkapi dan memperkaya pesan nonverbal.
Contoh:
Air muka yang menunjukkan rasa sakit luar biasa tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

  1. Aksentuasi

Menegaskan pesan nonverbal.
Contoh:
Kekesalan diungkapkan dengan memukul lemari.

Selanjutnya bagaimana agar berkomunikasi nonverbal kita mampu berfungsi optimal sementara ada keterhubungan yang erat antara tubuh dan pikiran bawah sadar?  Tubuh adalah manifestasi dari pikiran bawah sadar. Sesungguhnya, apapun yang terjadi di pikiran, dalam hal ini pemikiran dan emosi yang dirasakan individu, pasti, tanpa kecuali termanifestasi di tubuh fisik.

Pertama kita perlu memahami pikiran bawah sadar kita sendiri, agar bahasa tubuh yang akan kita gunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif. Kedua kita perlu belajar menangkap pikiran bawah sadar lawan bicara. Apa yang sebenarnya sedang dirasakannya, apa yang diinginkannya dan dibutuhkannya, yang tidak terungkap dalam kata kata.

Psikodrama menawarkan cara meningkatkan kesadaran tersebut, seperti yang diungkapkan Adam Blatner ketika menjelaskan istilah baru Eksplorasi Tindakan untuk psikodrama, yaitu cara meningkatkan kesadaran, berbagi aktivitas yang lebih dari sekedar berbicara, dan melalui tindakannya, berinteraksi dan bereksperimen. Jadi kita dapat melatih kemampuan berkomunikasi nonverbal kita dengan psikodrama.

Come out and play

Sumber

https://www.adiwgunawan.com/articles/tubuh-anda-adalah-pikiran-bawah-sadar-anda

https://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_tubuh

Hal-hal Penting yang Perlu Diketahui Soal Bahasa Tubuh