Bagaimana Psikodrama Mensikapi New Normal Pasca Pandemi Covid 19 ?


Dunia ini panggung sandiwara ceritanya mudah berubah,…. demikian lirik sebuah lagu yang terkenal di abad 20 lalu. Masih tetap relevan dapat dijadikan inspirasi dalam melihat situasi Normal Baru yang terjadi.

Dalam istilah drama situasi yang ada oleh Stanislavski disebut Given Circumtance, atau situasi terberi. Keadaan yang diberikan diterapkan pada setting total kondisi lingkungan dan situasional yang mempengaruhi tindakan yang dilakukan setiap aktor dalam drama. New Normal adalah Given Circumtance ini. Lanjutkan membaca “Bagaimana Psikodrama Mensikapi New Normal Pasca Pandemi Covid 19 ?”

Tak Mudah Memahami Pesan dari Drama Serial Hanya dari Satu Episode


Episode kali ini tentang berita sedih, yang diterima Konoha tentang Jiraiya yang gugur dalam menjalankan misinya. Kepedihan nampak di setiap tokoh yang ada, dengan ekspresi yang berbeda.

Aku dapat merasakan kepedihan itu, karena aku mengikuti seluruh episode sebelumnya. Cerita masih berlanjut panjang, aku akan tetap merasa pedih jika episode ini adalah yang terakhir. Lanjutkan membaca “Tak Mudah Memahami Pesan dari Drama Serial Hanya dari Satu Episode”

Tips Konseling, Penerimaan Diri Apakah Solusi ?


Tulisan ini ditujukan bagi para konselor dan juga para konseli, yang berada dalam situasi kesulitan dalam beradaptasi. Terutama dalam mensikapi kondisi diri terhadap tuntutan lingkungan. Lanjutkan membaca “Tips Konseling, Penerimaan Diri Apakah Solusi ?”

Gerimis dan Kenangan, Aku Tetap Bertahan


Tiba tiba saja terbersit kenangan,

Gerimis di luar kali ini  melalui semilir angin membelai kulitku. Dingin menjalar keseluruh tubuhku, merasuk dalam mengusik syaraf syarat ingatanku, menguak memori emosiku. Muncul kenangan peristiwa peristiwa pada saat gerimis tiba.

Kucoba susun keping keping kenangan itu, mulai dari rasa yang mulai menyerbu. Waktu besliweran tak menentu. Aku tak mampu menangkap wujud baku.

Rintik gemerintik ibarat musik, titik titik air berisik bersautan, saat menerpa genting tanah rumah kontrakkan. Tak hendak kuganti dengan orkestra dari youtube di laptop. Biarlah rasa ini tetap menyelimuti, meski kenangan tak tergambar jelas dalam ingatanku.

Aku coba bertahan, memegang rasa, meski tak sanggup menggambar peristiwanya. Kudedikasikan pada realita, yang sering aku angap ilusi semata.

ya,…pasti gerimis akan reda, atau malah mungkin tanda badai akan melanda ?

Gerimis dan kenangan, aku tetap bertahan.

 

Yogyakarta, 20 Mei 2020

…….saat gerimis tak rela didahului senja.

Cara Menghadapi Tekanan Masalah Selama Pandemi Covid 19


Selama karantina mandiri, aku bermain catur dengan kawan tetangga rumah. ada yang menarik dari permainan mereka, saat bermain melawan aku mereka bermain rapi bagus, meski mereka tetap kalah. Namun saat mereka main sendiri antar mereka aku melihat langkahnya seperti kacau, saat posisi tertekan mereka membuat langkah bunder salah fatal dan kalah. Lanjutkan membaca “Cara Menghadapi Tekanan Masalah Selama Pandemi Covid 19”

Bertahan dalam Harapan … * Refleksi terhadap Pandemi Corona


Kita, bersama sebagian besar umat manusia di bumi kini sedang meniti hari hari itu, dimana banyak hal mau tidak mau berubah secara mendadak.
Banyak hal yg semula tak terpikirkan, harus dijalani. Kita terhenyak, kaget, panik, ada yang kemudian menggapai-gapai makna atas semua ini. Namun tak sedikit pula yang abai, tak paham dan tak mau paham akan kondisi ini, menutup mata, bahkan menentang atas semua informasi yang diterima, demi merasa bahwa semua ‘baik-baik saja’. Dan merasa bahwa kehidupan masih ‘seperti biasa’. Lanjutkan membaca “Bertahan dalam Harapan … * Refleksi terhadap Pandemi Corona”

Peran ( Kehadiran ) Guru Tidak Dapat Digantikan Oleh Teknologi, Memberi Semangat Psikodramaku


Aku dapat dari dari Group WhatsApp, tentang pentingnya kehadiran.

Seorang dokter, orang tua murid SMP 107 Jakarta menuliskan begini:

O…..BAPAK/IBU GURUKU

🎀Di saat pandemi covid 19 merambah Indonesia ternyata mampu membukakan mata dunia bahwa kehadiran guru di kelas tak bisa tergantikan teknologi. Orang boleh mengagungkan teknologi. Orang boleh berkata bahwa kemajuan pendidikan diukur dari sarana yang berbasis teknologi. Namun, baru 2 s.d 3 minggu ini pembelajaran diterapkan dengan teknologi, ternyata anak anak sudah mulai bosan.

Pembelajaran dianggap melelahkan, menjenuhkan, dll. Artinya, kehadiran guru memang tak bisa digantikan dg teknologi saja. Meskipun pembelajaran daring ini sdh menggunakan zoom shg dapat bertatap muka daring, kehadiran guru sebagai roh pembelajaran di kelas tetap dirindukan siswa.

Guru guru yang hebat seperti sahabat sahabatku, dengan kelihaiannya mengolah kata, dengan kelembutan tuturnya, dan dengan kemenarikan sikapnya mendapatkan tempat tersendiri di hati anak anak. Bayangkan sudah berapa tahun teman teman mengajar, tetapi sosoknya tetap dirindukan kehadirannya oleh anak anak. Baru diselingi sebentar saja dengan moda daring, mereka sdh tidak sabar lagi menunggu kehadiran guru kembali di dalam kelas. Itulah bahagianya seorang guru, kehadirannya selalu dinanti. Hidup guru.

Terharuuuu… Makasih Mama Nabilaaa
#disdikdkijakarta

Aku tidak ingin membahas sebab dan dinamikanya. Aku ingin menyatakan bahwa situasinya mirip dengan psikodramaku sekarang. Psikodrama merupakan Action Method, kekuatannya dengan melakukan tindakan, dan berinteraksi langsung secara spontan dan improvisasional . Psikodrama butuh kehadiran, psikodrama adalah terapi kelompok yang proses terapinya dari interaksi langsung dalam kelompok. Selama Pandemi Covid 19 ini, semua workshop psikodrama ditunda, untuk batas waktu yang belum dapat ditentukan.

Meskipun prinsip prinsipnya tetap dapat diajarkan lewat teknologi secara online, namun hal ini bukanlah proses terapi kelompok. Proses belajar mengajar (psikodrama) tetap dapat dilaksanakan online, namun proses terapeutiknya tidak.

Dengan tulisan di atas aku melihat bahwa pertemuan, kehadiran, interaksi spontan memiliki “rasa” yang beda, dan ini sesuatu yang penting dalam proses terapi kelompok. Maka aku yakin setelah Pandemi Covid 19 ini berlalu, tetap banyak orang yang membutuhkan Psikodrama.

Amin.

Yogyakarta, 21 April 2020

Retmono Adi