Aja Nggege Mangsa, Semua Ada Waktunya ( Prihatin terhadap Anak-Anak yang dipaksa Cepat Dewasa)


Jaman sekarang semua ingin serba cepat, instant, dunia industri mengajak kompetisi, siapa cepat ia yang dapat. Bahkan ada lagunya The Winner Takes It All (ABBA),  Siapa yang menang ia akan mendapatkan semuanya.

Pahami lebih dalam bahwa kecepatan tidaklah harus berupa kompetisi, sekarang saatnya berkolaborasi. Kecepatan tetap dapat dijadikan salah satu acuan, dengan tetap mempertimbangkan banyak hal, orang lain, anggota team, sumber daya yang ada dll. Lanjutkan membaca “Aja Nggege Mangsa, Semua Ada Waktunya ( Prihatin terhadap Anak-Anak yang dipaksa Cepat Dewasa)”

Hubungan Orang Tua dan Anak dengan Psikodrama


Kamis, 20 September 2018 saya mengundang pak Didik untuk bermain psikodrama bersama anak-anak. Setelah itu acara dilanjutkan diskusi bersama orangtua.

Saat itu ruangan disetting menyerupai restoran. Anak-anak terlihat sangat menikmati permainan tersebut. Anak bermain seakan di restoran yang sesungguhnya. Suasana lebih hidup lagi setelah pak Didik ikut terlibat menjadi musisi, dengan memainkan gitarnya di sudut ruangan.

Kurang lebih 1 jam anak-anak bermain psikodrama. Setelah anak masuk ke kelas masing2, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama orangtua.

Mereka nampak antusias sekali berdiskusi. Banyak hal yang ingin mereka tahu tentang tumbuh kembang anak. Pertanyaan satu persatu dijawab pak Didik dengan gayanya yang santai tapi mengena. Kadang juga diselingi dengan canda tawa sehingga suasana terasa hidup dan tidak membosankan.

Yang menarik lagi disini adalah pesertanya kebanyakan ibu-ibu muda. Jadi ya begitulah ….. heboh banget.

Dan hasilnya adalah ada dampak positif yang didapat dari diskusi ini. Perubahan perilaku anak secara bertahap mulai nampak. Orangtua bersyukur banget dengan keadaan ini.

Terimakasih pak Didik atas bantuannya. Semoga hal ini bisa membantu membangun hubungan kuat antara orangtua dan anak. Sehingga orangtua bisa menghantarkan anaknya untuk melewati masa kanak-kanak mereka lebih bermakna.

Psikodrama Parenting dari Diskusi WAG


Berangkat dari sebuah video yang viral tentang kekerasan dalam rumah tangga, lalu muncullah ungkapan perasaan yang menjadi awal dari diskusi yang menarik.

Berikut diskusinya dengan diedit untuk tata tulis dan konfidensialnya.

K : Jangankan Orang lain Mbak,,
Lha Wong anake dewe ki lho…nek dong njengkelke yo di jenggungi😃😜😃

E : Sopo K ? Nek aku ora tau🤭
Soale welinge wong tuaku,sak jengkel-jengkelo mbi anak jok sampe cengkiling…ndak tuman jare
Dadi mpe anakku le cilik kelas 9 aku durung nate cilike njiwit gedhene ngeplak🤭
Ning janagan ditanya…barangng apa yang sudah jadi korban 😜

K : Lha okeh beritane lho ya 😃

J : Aku yo sok esmosi kok, bare, gelone ra ilang-ilang

E : Nah kan,palagi nek ndadak di morotangan,bekase isih ngecap,emosine wis ilang,kari gelone
Tapi ra maido yo,wong nek jengkel mbi anak kiy jiiiaaan😬
Nopo P ?

P : Aku tau mukul nyubit anakku😓

E : Ndak papa P, belum terlambat untuk berubah koq
Btw Yo tergantung si anak juga sih, ga bisa dipadakne mbi anak-anakku
Soale aku jinjo P, pernah duluuu banget,sekaline aku nyubit anakku pas masih TK, ya ampuun le nangis kelara-lara, mingsek-mingsek
Ra tegel aku
Trus ditambahi simak ngomongi ngono, ya wes tak eling-eling terus

P : 👍👍👍👍👍👍

E : Tapi sing no 2 rada tamblek juga😬
Nah iku kudu korban sapu mpe tugel, koco rak tv pecah🤭
Saking esmosine aku

Ch : Ga sama kondisi keluarga satu sama lain… kondisi ortu, anak-anak. Bahkan anak 1 dengan yang lain beda cara memperlakukan… meskipun teori parenting sudah banyak sekarangg. Yang terbaik masing-masing yg tau…
Jangan sampai terjadi seperti yang di video tadi. Amin..amin..amin…

E : Yups betul…..aku juga ga pernah ikut seminar parenting koq 🤭
Asal kita mau tanggap dan memahami karakter anak masing-masing ….pasti aman nyaman dan damai🤪
Kata orang-orang tua,wong pitik sak petarangan wae yo bedo-beda endog e😀
Malah ono le buthuk juga

RA : Pengalaman ini dpt direfleksikan, lalu dapat diceritakan pada si anak ketika usianya sudah mulai mengerti,…maka akan jadi cara memutus rantai kekerasan itu.

E: Yang besar terlalu pendiam om, ga di gong ga omong
Beda ma si kecil,paling suka nanya dulu waktu kecil dia gimana, kakak gimana?
Malah curcol🤭

RA : Ceritakan saja semua, dengan seluruh emosi yg menyertai..sebelum, sesaat, dan sesudah peristiwa itu…

P : Oke

RA : Pengenalan emosi yang menyertai menjadi penting…(karena salah satu dan mungkin yang utama, emosi itu adalah Cinta), selanjutnya dipahami bahwa cara mengungkapkannya mungkin tidak tepat atau menyakitkan. Oleh karena itu, sesal dan maaf juga perlu diungkapkan, agar utuh dalam menangkap keseluruhan “peristiwa” itu. Dengan demikian jadilah Rekonsiliasi, berdamai bersatu kembali.

J : 🙏🙏🙏Biyen bapakku gualak puol, tekane saiki aku yen pas galak kadang eling lha iki khan adegan ro dialog ke bapakku,…. njuk geli kemekelen dewe😂😂😂

RA : Pengalaman dirimu yg kauceritakan padaku, secara jujur dan utuh (melibatkan berbagai emosi yg menyertainya) yang jadi inspirasiku…Bro

P : Iya, aku terus minta maaf, kulihat ada kelegaan semoga tak ada dendam🙏

RA : ….dan semua dari kita paham bahwa Dia Sendirilah, Cinta, itu…🙏🙏🙏

E : Jam istirahat siang buat ngangsu kawruh seko dulur-dukurku👍 tq 🙏

 

Semoga bermanfaat. Terima Kasih

Mendidik Anak Berkarakter Jaman Now


Menulis kembali apa yang didapat pada seminar parenting orang tua murid kelas bimbingan Budi Pekerti Tzuchi Medan dengan topik ” Mendidik anak berkarakter jaman Now ” minggu 18 Maret 2018, dengan nara sumber dari Jakarta, Ibu Melly Kiong, seorang penulis dan praktisi Mindful parenting.

Semua orang tua ingin anak nya tumbuh berkarakter baik, prestasi, bijaksana, berbudi pekerti, mandiri dan lain lain. Namun sadarkah orang tua bahwa sebenarnya pendidikan karakter itu bukan dari sekolah tapi dari keluarga, didikan orang tua sejak kecil sangat berpengaruh dalam proses pertumbuhan masa depan anak nantinya.
Semua anak terlahir polos dan bersih, mereka merekam dan meniru apa yang dilakukan orang tuanya kemudian menjadikannya kebiasaan, dari kebiasaan membentuk karakter, bukan orang tua tidak mau mendidik anaknya menjadi berkepribadian atau berkarakter baik, hanya saja mereka tidak tahu bagaimana caranya. Lanjutkan membaca “Mendidik Anak Berkarakter Jaman Now”

PENGARUH GADGET DALAM PERTUMBUHAN EMOSI ANAK


Gadget merupakan sumber anak mendapatkan berita berita yg tidak etis pada usianya, 90% anak di Indonesia mengalami kecanduan pornografi yg masuk dari gadget, sering sekali pada saat online ataupun offline bermain game,saat naik level muncul iklan aneh aneh yg muncul keluar tanpa memandang usia berapa pemainnya.jika narkoba merusak 3bagian otak maka pornografi merusak 5dari bagian otak.
Anak yg kecanduan pornografi akan mengalami kerusakan pada bagian prefrontal cortex yg berfungsi sbg pusat pertimbangan, pengambilan keputusan dan membentuk perilaku social . jika mengalami kerusakan maka kepribadian anak bisa berubah.
Pada awalnya respon anak akan jijik melihat sistus porno tsb, lama kelamaan system limbic yg mengatur emosi akan mengeluarkan hormon dopamine yg membuat anak merasa senang hingga ketagihan , jika ketagihan diteruskan maka mengakibatkan kehilangan konsentrasi dan prilaku social yg tidak etis.
Ketika anak bermain gadget mata anak akan sepenuhnya konsentrasi penuh pada layar gadget hingga lupa berkedip sewajarnya . ini yg menyebabkan dehidrasi mata pada anak.
Pemilik perusahaan pencipta gadget seperti bill gates dan steve jobs sendiri tidak mengizinkan anak bermain gadget pada usia dini, dikarenakan memahami memahami dampak bahaya gadget, anak usia 14tahun lah yg layak mengunakan gadget.
Alat elektronik pada umunnya memiliki radiasi, Bubun mempraktikan perbedaan kekuatan otot tubuh sewaktu memegang gadget yg tanpa alat anti radiasi dengan hpnya sdryg ditempeli alat anti radiasi. Hasilnya dapat dilihat peserta seminar secara nyata dampak dari radiasi yg sangat mempengaruhi kekuatan tubuh kita secara tidak terlihat.
Pada umunnya anak yg diberikan gadget sejak dini akan bermain gadget lebih dari 2jam sehari, sehingga mengakibatkan gangguan speech delay, anti social, otak cenderung lebih lemot karena kurangnya stimulasi dan interaksi dengan lingkungan sosialnya.
Gangguan attention deficit disorder(ADD) jua bisa timbul dikarenakan seringnya melihat tampilan warna menarik dilayar gadget akibatnya anak akan cepat bosan dan sering mengamuk ataupun lebih temperamental/ tantrum.
Sadarkah orang tua? kalau orangtua lah yg memberikan gadget kepada anaknya, padahal gadget bukan kebutuhan penting anak pada masa pertumbuhan mereka.
Gadget diberikan sebagai pengalihan perhatian orgtua pada anak, pada saat makan orang tua memberikan gadget supaya dengan alasan agar anak mau makan, atau pun dengan alasan kurang gaul dan gaptek kalau tidak diberikan gadget.
Walaupun demikian gadget masih memiliki efek positive seperti dengan mudahnya kita mencari informasi , menguasai teknologi yang memudahkan kehidupan masyarakat, namun yg disayangkan gadget memudahkan tersebut jua berefek manusia kurang mengoptimalkan fungsi otak. Kemampuan berpikir manusia menjadi serba instann, otak manusia tidak akan menyimpan memori dalam jangka panjang. manusia jd dihadapkan pada masalah yg ingin diselesaikan secara cepat dan instan.
Oleh karenanya sebagai orantua harus lah memiliki kebijaksanaan dan berprinsipdalam mengunakan dan memperkenalkan gadget secara bijak pada anaknya, gadget hanya digunakan sebagai media interaksi dalam beraktivitas bersama dengan anak,bukan sebagai penganti perhatian orang tua.
Jika anak belum mampu diajak berunding untuk mengontrol pengunaan gadget sebaiknya tidak diperkenalkan, kesadaran untuk mengontrol diri harus dimulai dari diri anak.
Orang tua harus membiasakan diri bersikap terbuka terhadap anaknya, jika ada kesalahan dapat dirundingkan bersama, sehingga tidak ada rahasia yang menyimpang.
Pesan bubun sebagai orang tua jua harus mengimbangi perkembangan teknologi dengan kemampuan social, life skill dan kegiatan fisik lainnya.
Dengan adanya kesadaran perubahan diawal maka seseorang akan dapat mengubah keseluruhan jalan hidupnya (change the beginning and you change the whole story)
Oleh karena itu orang tua harus mulai mengubah dirinya terlebih dahulu barulah anaknya akan ikut berubah.

 

Oleh Denny M