Dasar Logis ! Refleksi setelah Mengikuti Psikodrama di Universitas Sebelas Maret Solo


Sungguh hal yang awalnya tidak bisa saya terima bahwa saya adalah orang yang terlalu logis dan kurang bisa memahami orang lain. Ya meskipun itu sudah sangat sering saya dengar dari berbagai orang. Sejujurnya, dahulu saya berpikir bahwa itu adalah pujian, namun lambat laun justru saya pikir itu adalah judgement yang orang lain berikan pada saya yang sebenarnya memiliki arti “Kamu tuh ga pake perasaan ya cik?! Gampang banget ngomong gituan”. Lanjutkan membaca “Dasar Logis ! Refleksi setelah Mengikuti Psikodrama di Universitas Sebelas Maret Solo”

Sensi dan Baper menjadi Modal Awal untuk Belajar Empati dengan Mengolah Memori Emosi


Sekolah lebih banyak mengajarkan pengetahuan yang mengolah pikiran, sesuatu yang penting dalam membangun bekal untuk menjalani kehidupan. Telah banyak contoh penemuan hebat dari hasil mengolah pikiran ini. Teknologi Informasi, 4.0, Hape, internet, AI, adalah capaian capaian yang belum pernah ada sebelumnya.

Sekarang saatnya  mengolah Rasa juga. Bagaimana pun adanya Rasa, pastilah memiliki guna. Puncak dari kemampuan merasa adalah Empati, dan lembah dari kemampuan merasa adalah Baper terlalu Sensi. Masyarakat umum lebih sering menghindari rasa ini, karena fokus pada kondisi yang di Lembah (Baper terlalu sensi), bahkan mengusahakan jika mungkin untuk tidak berurusan dengan Rasa. Sebuah konsekuensi dari terlalu fokus mengolah pikiran sehingga mengabaikan berkah Rasa ini. Rasa juga merupakan anugerah yang perlu diolah agar mampu berfaedah.

Bagaimana mengolahnya? Lanjutkan membaca “Sensi dan Baper menjadi Modal Awal untuk Belajar Empati dengan Mengolah Memori Emosi”

WASPADALAH TERHADAP KEKUATAN DRAMA! : SEBUAH PANDUAN UNTUK TRAINING BERDASAR DRAMA #Psikodrama 7/7


Sambungan dari  Pelatihan High-Impact ……

WASPADALAH TERHADAP KEKUATAN DRAMA!
Sejauh drama memiliki potensi untuk menciptakan kesempatan belajar yang tajam dan sangat sukses, mungkin juga memiliki kapasitas untuk memanipulasi, mendistorsi, dan berkompromi dengan tujuan pelatihan dan integritas peserta. Menjadi sangat penting bahwa Trainer harus terampil dalam merancang, mengembangkan, dan memfasilitasi pelatihan berbasis drama, terutama ketika digunakan untuk mengatasi topik kontroversial, seperti SARA. Script harus ditulis untuk menghindari stereotip kelompok atau mengorbankan etika. Lanjutkan membaca “WASPADALAH TERHADAP KEKUATAN DRAMA! : SEBUAH PANDUAN UNTUK TRAINING BERDASAR DRAMA #Psikodrama 7/7”