Di Mana Lagi Akan Kau Sembunyikan Puisi ?


Beberapa hari ini aku dapatkan flyer-flyer pengumunan di media sosial, tentang pembacaan puisi yang akan dilakukan di sudut sudut kotaku. Rupanya kalian sudah tak mampu lagi menyimpan gelisahmu itu. Gelisah yang kau balut dalam diam, dalam senyum palsu, dalam foto-foto selfie indah dan tampak bahagia.

Gelisah itu adalah pemberontakan dari Nurani yang terjebak dalam Super Egomu. Super Egomu yang kau bangun sendiri sebagai perlindungan untuk ketakutanmu, menjadi Benteng cantik munafik, topeng tebal berlapis bebal.

Gelisah menyesah mendesah mereka-reka mewujud kata. Kata-kata itu sudah mulai menyeruak di tenggorokan untuk segera kau suarakan. Selama ini hanya kau tulis di buku atau secarik kertas dan kau simpan saja dalam laci meja kerjamu. Bahkan ada juga yang hanya kau simpan dalam darahmu, hingga mengental melambat alirannya menuju jantung dan otakmu.

Kata-kata adalah puisi, berasal dari nurani. Telah tiba saatnya mewarnai dunia. Mari sambut dengan suka cita, meski duka dan lara masih arus utama hingga tinggallah Perjuangan untuk pelaksanaannya.

 ….. dan Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata ~ WS Rendra

 

Yogyakarta, 28 Agustus 2019

Retmono Adi