Silabus Training Membangun Karakter Remaja


PENGANTAR

Masa Remaja adalah proses pencarian identitas. Proses ini mengeksplorasi seluruh potensi, baik, emosi, pikiran, maupun spiritual mereka, agar terungkap dan berkembang seluruh potensi terbaiknya. Psikodrama adalah metode belajar aktif dengan berdasarkan prinsip Psikologi dan Drama, suatu bentuk teknik belajar yang memungkinkan individu untuk mengeksplorasi Emosi, Kognisi, dan Tindakan, secara menyeluruh.
Isi dari pelatihan ini difokuskan pada 5 bidang kunci kesuksesan di masa depan:
• Rasa Percaya Diri
• Keterampilan Berkomunikasi
• Keterampilan Membina Hubungan Sosial
• Keterampilan Memimpin dan Teamwork
• Efektif Mengelola Sikap
Program ini tepat dilakukan saat MOS (Masa Orientasi Siswa Baru), Orientasi Mahasiswa Baru, LDK, dan Persiapan memasuki Dunia Kerja

BAHASAN

• Berpikir Kreatif
• Kecerdasan Emosi
• Tipe – tipe Kepribadian
• Kepemimpinan.
• Prinsip dan Nilai Universal

METODE

Psikodrama, Belajar Aktif berdasar prinsip Psikologi dan Drama

SASARAN

Setelah mengikuti pelatihan, peserta diharapkan mampu:
• Lebih mengenal potensi diri
• Disiplin diri dan berkepribadian yang sehat
• Memiliki sikap mental yang kuat.
• Memiliki semangat kepemimpinan yang baik.
• Menginternalisasi nilai-nilai dan prinsip-prinsip keutamaan hidup

PESERTA

Remaja – Dewasa Awal (usia 14 – 21 th) Efektif per kelas 20 peserta

WAKTU

Dilaksanakan selama total waktu 16 jam selama 2 hari @ 8 jam. Tepat sekali jika dilakukan selama Week End.

Kontak

Jefry Simanullang  0812 2542 0777

Deddy YE 0815 7500 0571

Penerapan Psikodrama untuk Membawa Spiritualitas ke dalam Lingkungan Kerja


Setiap orang memiliki definisi spiritualitas mereka sendiri, tidak ada peraturan, tidak ada dogma yang harus diikuti. Sebagian besar berhubungan dengan hubungan pribadi dengan apa yang dirasakan setiap orang pada Sang Sumber atau Penciptanya. Ini adalah ruang batin dimana mereka terhubung dengan bimbingan mereka dan aspek tertinggi dan terbaik dari keberadaan mereka. Lanjutkan membaca “Penerapan Psikodrama untuk Membawa Spiritualitas ke dalam Lingkungan Kerja”

HATI HATI MOTIVASI ANAK DENGAN HADIAH #Goresanku 154


Prinsip terpenting dari dukungan untuk anak adalah memupuk motivasi diri agar tumbuh secara alamiah. Setiap anak terlahir dengan ini, tidak ada yang mengancam atau mengiming-imingi anak untuk belajar berjalan. Saat anak berada dalam lingkungan yang tidak membatasi, anak punya dorongan untuk mencoba dan mengembangkan potensi diri. Lanjutkan membaca “HATI HATI MOTIVASI ANAK DENGAN HADIAH #Goresanku 154”

STIMULASI ANAK USIA DINI #Goresanku 153


Orangtua dan orang dewasa di sekitar anak sangat menentukan kualitas kehidupan anak dan perkembangannya yang optimal melalui apa yang dilakukan atau tidak dilakukan di lima tahun pertama. Anak mengalami periode sensitif dalam belajar, memiliki keingintahuan alamiah yang sangat besar dan berkembang pesat secara fisik dan mental di bagian awal kehidupannya. Semakin baik stimulasi di usia dini, anak akan semakin siap menghadapi tahap selanjutnya, bisa lebih maju dan tidak kehilangan kesempatan atau mengalami kesenjangan dalam perkembangan. Lanjutkan membaca “STIMULASI ANAK USIA DINI #Goresanku 153”

PENTINGNYA KOMUNIKASI DENGAN SEKOLAH PAUD #Goresanku 152


Komunikasi antara orangtua dan sekolah perlu dimulai dengan prinsip dasar yang disepakati sejak awal. Orangtua sebaiknya jujur, terbuka dan interatif. Tidak menyembunyikan sesuatu, tetapi ceriterakan kekurangan dan kelebihan anak agar guru dapat memberikan respon yang tepat pada anak. Apapun pengalaman orangtua yang pernah alami dengan sekolah, memilih sekolah untuk anak adalah salah satu bentuk kepercayaan. Lanjutkan membaca “PENTINGNYA KOMUNIKASI DENGAN SEKOLAH PAUD #Goresanku 152”

KOMUNIKASI EFEKTIF VS TIDAK EVEKTIV #Goresanku 151


Kita punya pilihan setiap kali berinteraksi dengan anak. Biasakan kita memilih cara yang merangsang komunikasi yang baik dan mencoba melakukannya dengan rutin. Sebagian kita tahu dan pernah menggunakan semua cara ini. Yang menyedihkan seringkali cara yang dipilih hanya itu-itu saja, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda. Lanjutkan membaca “KOMUNIKASI EFEKTIF VS TIDAK EVEKTIV #Goresanku 151”

MEMBUMIKAN LITERASI #Goresanku 150


Membaca adalah memahami rangkaian makna, bukan hanya sekedar mengeja tulisan. Artinya, pandai membaca adalah proses yg terus dipelajari, jauh sesudah kita menggabungkan suku kata yang berarti. Maka, pembaca jagoan adalah yang terus mengusahakan pengenalan lingkungan, bukan sekedar melafalkan tulisan. Lanjutkan membaca “MEMBUMIKAN LITERASI #Goresanku 150”

MERDEKA BELAJAR SEJAK USIA DINI #Goresanku 148


Masa prasekolah adalah masa yang sangat penting dalam pendidikan seorang anak. Pada usia 0-6 tahun banyak disebut sebagai masa emas perkembangan anak, karena otak anak mampu menyerap informasi hingga 80 persen. Di masa ini, anak mulai terbentuk aspek perkembangannya: kognisi, bahasa, fisik motorik, sosial emosi, moral, kemandirian dan seni.
Melihat hal tersebut, saya sebagai pendidik ingin memaksimalkan aspek-aspek perkembangan murid secara menyenangkan dan bermakna. Belajar yang menyenangkan dan langsung pada obyek pembelajaran, membuat anak akan mampu mengembangkan aspek-aspek perkembangan yang dimilikinya. Lanjutkan membaca “MERDEKA BELAJAR SEJAK USIA DINI #Goresanku 148”

Psikodrama untuk Melatih Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skill)


Apa sebenarnya konsep Higher Order Thinking Skills yang menjadi sasaran baru untuk pendidikan saat ini. Sebuah dasar untuk Pendidikan yang membebaskan, Merdeka Belajar Kampus Merdeka, menyiapkan kemampuan untuk menjalani Revolusi Industri 4.0.

Alice Thomas dan Glenda Thorne mendefinisikan istilah HOTS dalam artikel yang berjudul How to Increase Higher Order Thinking (2009) sebagai cara berpikir pada tingkat yang lebih tinggi daripada menghafal, atau menceritakan kembali sesuatu yang diceritakan orang lain.

Keterampilan mental ini awalnya ditentukan berdasarkan Taksonomi Bloom yang mengategorikan berbagai tingkat pemikiran, mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.

Konsep Benjamin S. Bloom dkk. dalam buku Taxonomy of Educational Objectives (1956) itu, sejatinya merupakan tujuan-tujuan pembelajaran yang terbagi dalam tiga ranah.

Ketiga ranah tersebut adalah Kognitif, merupakan keterampilan mental (seputar pengetahuan); Afektif, sisi emosi (seputar sikap dan perasaan); dan Psikomotorik, yang berhubungan dengan kemampuan fisik (keterampilan).

Taksonomi untuk menentukan tujuan belajar ini bisa disebut sebagai “tujuan akhir dari sebuah proses pembelajaran”. Setelah menjalani proses pembelajaran tertentu, siswa diharapkan dapat mengadopsi keterampilan, pengetahuan, atau sikap yang baru.

Tingkatan kemampuan berpikir yang dibagi menjadi tingkat rendah dan tinggi, merupakan bagian dari salah satu ranah yang dikemukakan Bloom, yaitu ranah kognitif. Dua ranah lainnya, afektif dan psikomotorik, punya tingkatannya tersendiri.

Ranah kognitif ini kemudian direvisi oleh Lorin Anderson, David Krathwohl, dkk. pada 2001. Urutannya diubah menjadi (1) mengingat (remember); (2) memahami (understand); (3) mengaplikasikan (apply); (4) menganalisis (analyze); (5) mengevaluasi (evaluate); dan (6) mencipta (create).

Tingkatan 1 hingga 3, sesuai konsep awalnya, dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat rendah (LOTS). Sedangkan butir 4 sampai 6 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS).

*Untuk lebih jelasnya dapat mengunjungi  (Apa itu Higher Order Thinking Skills (HOTS))

Bapak Psikodrama JL Moren0 mengajak setiap orang menjadi Protagonis, Aktor Utama dari drama hidupnya. Stanislavski tokoh Drama Realis menyatakan bahwa untuk menjadi aktor yang baik perlu mengolah tiga instrument utama yaitu, Perasaan, Pikiran dan Tubuhnya, agar mampu membangun karakter yang hidup dari tokoh. Psikodrama sendiri bertujuan ambisius menjadi sarana untuk merubah perilaku.

Dengan kata lain Psikodrama mengolah ketiga ranah Afeksi, Kognisi, dan Psikomotor untuk membentuk perilaku yang baru. Dengan demikian maka apa yang dilakukan selama proses Psikodrama sama dengan latihan cara berpikir tingkat tinggi (HOTS).

Selain itu,  di atas juga disebutkan bahwa salah satu hal yang menunjukkan hasil dari HOTS adalah kemampuan mencipta. Psikodrama adalah Drama Spontan, melakukan Akting secara spontan dan otentik. Iswadi Pratama Sutradara Teater Satu Lampung, di BUKU SAKU AKTOR, mengungkapkan bahwa akting adalah mencipta, Bahan, Alat, dan hasil karyanya adalah diri sendiri. Tidak seperti seniman di bidang lain, aktor/aktris adalah pencipta sekaligus  materi dan instrumen (alat), dan hasil ciptaan (karya), semuanya menyatu dalam dirimu sendiri.

Jelas sudah sekarang bahwa memperaktekkan Psikodrama adalah belajar berpikir tingkat tinggi (HOTS). Dengan kata lain dunia pendidikan dapat menggunakan Metode Psikodrama untuk megajar dan melatih siswa agar mampu berpikir lebih tinggi. Yuks Belajar Psikodrama !

Yogyakarta, 23 Oktober 2020

Retmono Adi

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-teman yang lain.

Healing Ternyata merupakan Kemampuan Utama dalam ( Servant ) Leadership


Beberapa waktu yang lalu aku mengikuti seminar online via Zoom tentang Servant Leadership. Ada yang menarik dari seminar tentang kepemimpian ini, yaitu menyebutkan bahwa kemampuan melakukan Healing merupakan salah satu prinsip penting dari kepemimpinan. Aku kemudian mencari tulisan di internet mengenai Servant Leadership ini. Berikut aku temukan di Internet.

Lanjutkan membaca “Healing Ternyata merupakan Kemampuan Utama dalam ( Servant ) Leadership”