Perihal Kekuatan, Kekuasaan, Refleksi dari Film Animasi Black Clover


Film Animasi yang berjudul Black Clover atau Semanggi Hitam, bercerita tentang para penyihir yang melindungi kerajaan, dengan tokoh utama Asta dan Yuno. Aku tidak ingin menuliskan ceritanya, melainkan tentang lambang lambang (metapora) yang ada di animasi itu.

Kekuasan adalah kekuatan untuk mengendalikan, dalam Film Animasi ini adalah Kekuatan Sihir. Kekuatan Sihir tersebut ada pada Buku Sihir, yang akan memilih penggunanya sendiri. Ada orang- orang tertentu yang memiliki bakat memiliki kekuatan sihir. Saat memasuki usia dewasa ada upacara tertentu dan buku sihir akan memilih penggunanya. Lanjutkan membaca “Perihal Kekuatan, Kekuasaan, Refleksi dari Film Animasi Black Clover”

Pernah Tinggal Kelas Mendapat Prioritas Diterima Kerja


Pernah dalam satu acara Retret untuk SMKKI Theresiana Semarang, Pada waktu istirahat waktu jeda, seorang guru menginformasikan adanya permintaan terhadap alumni yang pernah tinggal kelas untuk menjadi karyawan, dari sebuah Perusahaan di Tangerang. Lanjutkan membaca “Pernah Tinggal Kelas Mendapat Prioritas Diterima Kerja”

Masih Ada Orang Baik di Jogja, Pengalaman Hari Senin Kemarin


Aku sudah memutuskan bahwa hari Senin kemarin akan membawa motor ke Bengkel, yang seminggu lalu menservis motorku. Motorku beberapa kali mogok, mati sendiri, untungnya masih bisa dihidupkan lagi sehingga masih bisa pulang ke rumah. Aku menduga mungkin ada yang kurang tepat dalam menservisnya, karena sebelum servis tidak pernah mogok.

Setelah mandi, sekitar jam 10 pagi, aku langsung berangkat. Pagi itu motor memang susah hidup, namun setelah beberapa kali kuengkol akhirnya mesinnya hidup. Motor kujalankan dengan pelan. Lanjutkan membaca “Masih Ada Orang Baik di Jogja, Pengalaman Hari Senin Kemarin”

Para Pendaki lebih Mudah Memahami Perjalanan Hidup


pendiangan rumah pak Kadus Desa terakhir
kehangatan kayu terbakar api
persaudaraan setengah lingkaran
secangkir kopi kadang dicampur jahe
menunggu tengah malam waktu keberangkatan
agar tepat bertemu fajar saat di puncak Lanjutkan membaca “Para Pendaki lebih Mudah Memahami Perjalanan Hidup”

3 Hal, Penanda Kedalaman Hidup, atau Ukuran Kesehatan Mental


Akhir tahun 2019 lalu, aku mengikuti Lokakarya di Girisonta, mengenai Latihan Rohani yang dibimbing oleh Rm Sardi SJ. Ada salah satu pernyataannya yang menarik, yang aku coba adaptasi dalam dunia Psikologi. Beliau menyatakan perihal Penanda Kedalaman Hidup (diksi Spiritualitas) aku coba selaraskan dengan Ukuran Kesehatan Mental (diksi Psikologi).

Ada 3 Kriterianya, yaitu: Lanjutkan membaca “3 Hal, Penanda Kedalaman Hidup, atau Ukuran Kesehatan Mental”

Pelatihan Integritas dengan Metode Psikodrama


Integritas di sini aku maksudkan keselarasan antara tindakan, ucapan, pikiran dan perasaan. Keselarasan ini bakal terwujud bila seseorang berani jujur pada diri sendiri. Kejujuran pada diri sendiri dilatih dengan mulai mengenal perasaan yang dirasakan.

Psikodrama mengajak setiap orang menjadi Protagonis, aktor utama dari drama hidupnya. Seseorang diajak untuk meyakini bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya sepenuhnya adalah tanggung jawabnya. Seseorang diajak untuk mampu melihat bahwa yang terjadi hari ini adalah konsekuensi dari pilihan-pilihan di masa lalunya, baik pilihan sadar maupun tidak sadarnya. Hal yang utama dari kemampuan ini adalah kemampuan mengenali perasaannya, baik saat ini maupun perasaannya pada masa lalu. Menurut “orang tua” banyak tindakan dilakukan berangkat dari perasaan ini. Sayangnya banyak orang tidak menyadari hal ini, lebih tepatnya tidak mau mengakui, maka langkah pertama adalah mengajak orang berani jujur pada perasaannya sendiri. Dengan berani jujur maka perasaan itu akan disadari, dan tindakan yang dilakukan akan mempertimbangakan konsekuensinya.

Mari kita mulai berpsikodrama mengikuti tahapannya:

Tahap Warming Up

Pada tahap ini dapat dilakukan Lokogram, dengan memilih titik, Benar, Baik, Jujur, (letakkan selendang/atau apa pun, pada tiga tempat berbeda di lantai) dengan instruksi: Apa yang paling penting dalam menjalani hidup, Jujur, Baik, atau Benar.  Silahkan berdiri di titik Jujur, Benar, atau Baik. Selanjutannya tiap peserta diminta menjelaskan pilihannya.

Jujur, Baik, dan Benar adalah nilai (value) yang mendukung Integritas. Di sini peserta di ajak untuk berani jujur pada diri sendiri. Melakukan sesuatu yang tidak benar (salah) boleh, melakukan hal yang tidak baik juga boleh, yang penting jujur. Memang dalam tahap warming up (pemanasan) ini dibangun suasana boleh salah, makin banyak melakukan kesalahan makin banyak belajar.

Teknik Sclupture, memahat membuat patung, atau mematung, dapat juga dilakukan. Peserta diminta menjadi pohon dengan tubuhnya, membentuk gesture pohon. Selanjutnya ditanya ia menjadi pohon apa. Diberi instruksi agar tidak berbicara, dan diminta berpasangan menjadi sebuah bentuk pohon. Jika sudah terbentuk berpasang-pasangan, salah satu orang ditanya menjadi pohon apa. tiap pasangan ditanya satu persatu. Sering pasangan yang menunggu giliran ditanya, ada yang bersepakat dan berbicara. Hal ini ditanyakan setelah semua pasangan ditanyai nama pohon.

Siapa yang selama proses tadi bersepakat, berbicara dengan pasangan untuk nama pohonnya. Bukankah tadi sudah diinstruksikan untuk tidak berbicara. Jika ada yang mengaku diberi apresiasi karena kejujurannya. Sedikit direfleksikan betapa sering orang mengusahakan untuk menjadi nampak benar, melakukan tindakan yang melanggar ketentuan, melakukan kecurangan, melakukan hal yang tidak jujur.

Tahap Action

Tawarkan pada peserta, siapa yang bersedia menjadi protagonis, (sesorang yang diminta kesediaannya menceritakan pengalamannya untuk didramakan). Apabila tidak ada dapat dilakukan Sosiometri (salah satu teknik dalam Psikodrama) untuk menentukan protagonisnya.

Protagonis diminta menceritakan pengalamannya pada masa lalu, saat ia melakukan kesalahan dan berani jujur mengakuinya. Pengalamannya itu akan dimainkan lagi (Playback). Jadi Dramanya adalah tentang kejujuran, keberanian bertanggungjawab dan konsekuensinya. (integritas).

Tahap Refleksi

Peserta diminta untuk berdiri melingkar. satu persatu dimintakan untuk mengungkapkan perasaannya sebelum acara, selama acara, dan membagikan pengetahuanya baru apa yang didapatkan selama proses. Acara ditutup dengan saling mengucapkan terima kasih dan bersalaman.

Selesai.

Yogyakarta, 10 Januari 2020

Retmono Adi

 

Pola Dasar (Archetype) dari Anima dan Animus, Penerapan Teori Jung, oleh Stephen Farah


Salah satu arketipe yang paling menarik dan provokatif yang kami temui dalam Jungian Psychology adalah Anima dan Animus.

Anima / Animus berhubungan dengan kehidupan batin atau jiwa kita. Bukan jiwa yang dipahami dalam istilah metafisik sebagai sesuatu yang hidup di luar keberadaan fisik kita, melainkan jiwa seperti dalam kekuatan batin yang menjiwai kita. Lanjutkan membaca “Pola Dasar (Archetype) dari Anima dan Animus, Penerapan Teori Jung, oleh Stephen Farah”