Penerapan Psikodrama Melatih Me-Rasa untuk Bahagia


Banyak orang jaman sekarang terlalu banyak berpikir dibandingkan merasa, bahkan ada yang mengungkapkan bahwa mereka tidak dapat mengungkapkan rasa yang sedang dirasakannya. Media sosial dan game online lebih dominan mengambil waktu anak-anak muda. Sementara, sensitivitas Rasa akan terlatih dengan kehadiran, bertemu langsung. Oleh karena itu mereka menjadi kurang terlatih dalam mengolah rasa. Lanjutkan membaca “Penerapan Psikodrama Melatih Me-Rasa untuk Bahagia”

Role Playing adalah Bentuk Utama dalam Praktek Psikodrama.


Masih banyak orang yang belum memahami Psikodrama, (baca Landasan Teori Psikodrama )karena memang relatif baru istilah ini masuk ke Indonesia, itu pun masih sebatas di kalangan Psikologi dan Bimbingan Konseling. Istilah Psikodrama masih belum dikenal luas di masyarakat umum. Maka tulisan ini mencoba memberikan pemahaman singkat agar mudah dipahami. Lanjutkan membaca “Role Playing adalah Bentuk Utama dalam Praktek Psikodrama.”

3 Hal, Penanda Kedalaman Hidup, atau Ukuran Kesehatan Mental


Akhir tahun 2019 lalu, aku mengikuti Lokakarya di Girisonta, mengenai Latihan Rohani yang dibimbing oleh Rm Sardi SJ. Ada salah satu pernyataannya yang menarik, yang aku coba adaptasi dalam dunia Psikologi. Beliau menyatakan perihal Penanda Kedalaman Hidup (diksi Spiritualitas) aku coba selaraskan dengan Ukuran Kesehatan Mental (diksi Psikologi).

Ada 3 Kriterianya, yaitu: Lanjutkan membaca “3 Hal, Penanda Kedalaman Hidup, atau Ukuran Kesehatan Mental”

Pelatihan Integritas dengan Metode Psikodrama


Integritas di sini aku maksudkan keselarasan antara tindakan, ucapan, pikiran dan perasaan. Keselarasan ini bakal terwujud bila seseorang berani jujur pada diri sendiri. Kejujuran pada diri sendiri dilatih dengan mulai mengenal perasaan yang dirasakan.

Psikodrama mengajak setiap orang menjadi Protagonis, aktor utama dari drama hidupnya. Seseorang diajak untuk meyakini bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya sepenuhnya adalah tanggung jawabnya. Seseorang diajak untuk mampu melihat bahwa yang terjadi hari ini adalah konsekuensi dari pilihan-pilihan di masa lalunya, baik pilihan sadar maupun tidak sadarnya. Hal yang utama dari kemampuan ini adalah kemampuan mengenali perasaannya, baik saat ini maupun perasaannya pada masa lalu. Menurut “orang tua” banyak tindakan dilakukan berangkat dari perasaan ini. Sayangnya banyak orang tidak menyadari hal ini, lebih tepatnya tidak mau mengakui, maka langkah pertama adalah mengajak orang berani jujur pada perasaannya sendiri. Dengan berani jujur maka perasaan itu akan disadari, dan tindakan yang dilakukan akan mempertimbangakan konsekuensinya.

Mari kita mulai berpsikodrama mengikuti tahapannya:

Tahap Warming Up

Pada tahap ini dapat dilakukan Lokogram, dengan memilih titik, Benar, Baik, Jujur, (letakkan selendang/atau apa pun, pada tiga tempat berbeda di lantai) dengan instruksi: Apa yang paling penting dalam menjalani hidup, Jujur, Baik, atau Benar.  Silahkan berdiri di titik Jujur, Benar, atau Baik. Selanjutannya tiap peserta diminta menjelaskan pilihannya.

Jujur, Baik, dan Benar adalah nilai (value) yang mendukung Integritas. Di sini peserta di ajak untuk berani jujur pada diri sendiri. Melakukan sesuatu yang tidak benar (salah) boleh, melakukan hal yang tidak baik juga boleh, yang penting jujur. Memang dalam tahap warming up (pemanasan) ini dibangun suasana boleh salah, makin banyak melakukan kesalahan makin banyak belajar.

Teknik Sclupture, memahat membuat patung, atau mematung, dapat juga dilakukan. Peserta diminta menjadi pohon dengan tubuhnya, membentuk gesture pohon. Selanjutnya ditanya ia menjadi pohon apa. Diberi instruksi agar tidak berbicara, dan diminta berpasangan menjadi sebuah bentuk pohon. Jika sudah terbentuk berpasang-pasangan, salah satu orang ditanya menjadi pohon apa. tiap pasangan ditanya satu persatu. Sering pasangan yang menunggu giliran ditanya, ada yang bersepakat dan berbicara. Hal ini ditanyakan setelah semua pasangan ditanyai nama pohon.

Siapa yang selama proses tadi bersepakat, berbicara dengan pasangan untuk nama pohonnya. Bukankah tadi sudah diinstruksikan untuk tidak berbicara. Jika ada yang mengaku diberi apresiasi karena kejujurannya. Sedikit direfleksikan betapa sering orang mengusahakan untuk menjadi nampak benar, melakukan tindakan yang melanggar ketentuan, melakukan kecurangan, melakukan hal yang tidak jujur.

Tahap Action

Tawarkan pada peserta, siapa yang bersedia menjadi protagonis, (sesorang yang diminta kesediaannya menceritakan pengalamannya untuk didramakan). Apabila tidak ada dapat dilakukan Sosiometri (salah satu teknik dalam Psikodrama) untuk menentukan protagonisnya.

Protagonis diminta menceritakan pengalamannya pada masa lalu, saat ia melakukan kesalahan dan berani jujur mengakuinya. Pengalamannya itu akan dimainkan lagi (Playback). Jadi Dramanya adalah tentang kejujuran, keberanian bertanggungjawab dan konsekuensinya. (integritas).

Tahap Refleksi

Peserta diminta untuk berdiri melingkar. satu persatu dimintakan untuk mengungkapkan perasaannya sebelum acara, selama acara, dan membagikan pengetahuanya baru apa yang didapatkan selama proses. Acara ditutup dengan saling mengucapkan terima kasih dan bersalaman.

Selesai.

Yogyakarta, 10 Januari 2020

Retmono Adi

 

Mengajar Materi Teknis Menjadi Menarik dengan Psikodrama, Pengalaman di Semarang


Menyampaikan materi hal teknis biasa dilakukan dengan metode ceramah, atau presentasi dengan bagan gambar atau yang cukup menarik dengan film. Selanjutnya baru dengan praktek di lapangannya.

Hal-hal yang biasanya dengan ceramah atau presentasi dapat diganti dengan Metode Psikodrama, dilakukan langsung, bukan di lapangan atau tempat kejadian namun dengan didramakan…misalnya Alur Proses  Bisnis . Materi atau tema diperagakan oleh peserta yang menjadi alur Proses Bisnis  tersebut dan mengungkapkan apa yang dilakukan saat prosesnya berlangsung. Lanjutkan membaca “Mengajar Materi Teknis Menjadi Menarik dengan Psikodrama, Pengalaman di Semarang”

Percakapan di WhatsApp tentang Spiritualitas yang Bekerja dalam Diri


– Aku ingin retreat2 spiritual sprti di foto2 IG mas didi
Aku terbantu bgt kmrin selama souldrama dan sesi terapi 1 kali bersama Connie..

+ Setiap kau berproses Psikodrama (Souldrama) dapat juga kau jadikan itu Retreat mu,…
Setiap saat kau merasa perlu “berhenti sejenak” dan merefleksikan Masa Lalu, atau apa yg sudah kau lakukan,…itu adalah retreat,…
sebaiknya memang ada Mentor yg membimbingmu,…utk menjaga obyektivitas nya,…. Lanjutkan membaca “Percakapan di WhatsApp tentang Spiritualitas yang Bekerja dalam Diri”

Menggunakan Psikodrama sebagai Metode Perkenalan bagi Siswa Penerima Beasiswa di Medan Sumatera Utara


Mereka berasal dari sekolah yang berbeda, latar belakang keluarga yang berbeda, serta banyak perbedaan lainnya. Namun disatukan menjadi satu kesatuan siswa penerima beasiswa dari sebuah kelompok pemerhati pendidikan anak yang slogannya ingin mencegah anak putus sekolah di Indonesia. Tentu aja niat luhur ini harus didukung. Saya senang sekali saat diminta untuk menjadi fasilitator perkenalan para siswa ini, di hari pertama mereka dinyatakan diangkat sebagai penerima bea siswa selama satu tahun. Meski dalam waktu relatif singkat untuk mempersiapkan diri, saya juga ingin memberi kontribusi pada kegiatan tersebut. Lanjutkan membaca “Menggunakan Psikodrama sebagai Metode Perkenalan bagi Siswa Penerima Beasiswa di Medan Sumatera Utara”