Aku dan Pilihan Jalan Hidupku,…


Lebih dari 5 tahun yang lalu, aku bertemu dengan Seorang Romo di Girisonta, beliau mengatakan, Manusia itu makhluk menyejarah. Karena aku berlatar belakang Psikologi,maka aku tangkap maknanya bahwa, Pribadi yang sehat mental adalah yang mampu menuliskan sejarah hidupnya.

Waktu itu aku sedang proses pengolahan hidup (retret), mengolah sejarah hidupku untuk menentukan langkah selanjutnya. Aku barusan mengundurkan diri dari tempat kerjaku, perusahaan yang bergerak di pertambangan batu bara. Sebuah pilihan yang ditimbang-timbang lebih dari 2 tahun, dan sekarang adalah usaha untuk memantapkan pilihan tersebut. Lanjutkan membaca “Aku dan Pilihan Jalan Hidupku,…”

Cerita Mawar #part 01 Namaku Mawar


Perkenalan 

Nama : Mawar
Usia : 19 tahun.
Cita-cita: Melakukan pendampingan pada keluarga dengan kondisi penyakit terminal atau pun langka, melakukan pendampingan pada siapapun yang berurusan dengan BNN terutama perilaku alkohol, membantu anak yang pengalaman.

Hal yang berkesan dalam hidup: Ada seseorang yang berkata kepadaku bahwa tujuanku ini mulia untuk membantu orang lain yang lemah (lihat cita-cita) dan sosok imajinasiku berkata bahwa aku Mawar tidak akan meninggal dunia dengan mudah (disebabkan bunuh diri) karena tujuan hidup dan mungkin takdir dari Tuhan.
Okay semua mari kita mulai ceritanya…

Namaku Mawar, aku lahir pada 21 juli 1999, aku lahir dari keluarga yang sederhana. Mungkin alangkah lebih baik jika aku jelaskan dulu silsilah keluargaku. Aku lahir pada kondisi prematur yaitu usia kandungan 6 bln menurut medis. Jika menurut tradisi jawa aku mendapati kelahiran dengan weton yang cukup besar (aku tidak bisa menuliskan disini karena ada anggapan bahwa bisa jadi guna-guna menurut tradisi).

Menurut ibuku saat hamil sebenarnya baik saja hanya ibu sering keguguran dan juga saat mengandungku sering flek sehingga diberi penguat keguguran. Menurut tradisi jika pasutri sulit dapat keturunan bisa adopsi anak dalam bentuk ambil di panti asuhan maupun merawat anak saudara yang kurang mampu. Jadi ibuku angkat anak dari adik nenek karena saat itu anak kecil itu berusia 1 tahun dan baru saja orang tuanya bercerai. Aku memiliki kakak kandung laki laki yang lahir pada desember 1989.

Saat aku berusia 2 bulan dibawa ke RS ternama yang cukup mahal saat itu dan di diagnosa TAPVD dan pembuluh darah terbalik oleh profesor SP.JP terkenal saat itu. Menurut diagosa tersebut akan terjadi keterlambatan perkembangan pada diriku. TAPVD ini membuat kekurangan oksigen di otak dan tubuh jadi sianosis ataupun biru pada seluruh tubuh. Ditambah lagi keadaan kongenital atau bawaan lahir demikian membuat aku rawan sakit dan sulit pulih. Menurut info yang aku dapat ibuku selalu menangis terus dan selalu doa tumpang tangan dan juga rajin ibadah KKR atau kebaktian kebangkitan rohani. Harta orang tuaku seperti raib karena kondisi fisikku dimana jual mobil beberapa kali hingga ganti menjadi sepeda motor kuno.

Kakak kandungku saat itu sedang proses menuju SMP dan kakak angkatku akan masuk SMA bahkan sempat mendapat beasiswa gereja. Kakakku sangat cerdas dalam berhitung dan berbahasa inggris, bahkan keluarga besar bapak terutama budhe atau anak perempuan tunggal di keluarga bapak sebut saja Kelor membiayai kursus kakak. Sedangkan kakak angkatku dirumah merawat aku bersama dengan pembantu rumah tangga saat itu.

Setelah aku besar, akupun dipanggil Nonik karena aku tampak seperti keluarga Tionghoa, kakak kandungku yang berjenis kelamin laki-laki sebut saja Boyo dipanggil Sinyo. Aku saat TK pernah bermain make up pesta ibuku lengkap mulai mungkin foundation era itu, eyeshadow, lipstick ya pokoknya make up pesta tahun 2005. Hal ini disebabkan oleh rutin kondangan alias datang ke pesta.

TK aku naik mobil antar jemput saat itu seperti mobil Carry namun mobil itu sangat besar buatku saat itu. Saat itu aku menulis dua ribu lima seharusnya 2005 karena aku anggap ini dua ratus lima adalah 20005 dan ini yang benar. FYI aku dari keluarga budaya jawa kuno plus kehidupan primbon namun aku tampak seperti keluarga tionghoa karena secara fisik keluarga bapak demikian, namun malah pegang teguh budaya jawa kuno.

Dulu jika hari raya Imlek aku pergi ke kelenteng dan melihat teatrikal barongsai dan naga. Bahkan mendapatkan angpao dari orang asing di klenteng, sempat juga dulu masuk kedalam klenteng melihat tata ibadah sederhana lalu berjalan terus hingga belakang klenteng untuk melihat pantai saat itu. Bahkan parahnya lagi ibuku membelikan aku baju imlek di depan klenteng dan aku terlihat seperti anak perempuan alias nonik menurut tionghoa. Padahal rumahku di dekat juanda pergi ke klenteng pantai kenjeran hanya untuk lihat barongsai. Tampak sangat menyenangkan sekali saat pergi jalan-jalan malah dapat angpao dari orang asing.

 

bersambung……

Januari, 2019

Sebut saja Namaku Mawar

 

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

About Getting Marriage : Bukan Jawaban Kapan Menikah….Page 3 of 3


 Page 3 of 3

Saya lelah. Halah, lebay! (itu menurut orang-orang yang sudah berpengalaman menanggapi). Orang lain menasehati untuk tetap berusaha. Mungkin itu belum jalannya. Jodoh memang sulit dicari. Kalau sudah ketemu, pasti juga akan ketemu. Seberapa besar usahamu, kalau bukan jodoh ya akan berpisah juga. Kalau itu jodohmu, sedikit usaha saja akan tetap bersatu. Kalau saya tidak berusaha lagi, bagaimana saya bisa menemukan suami potensial untuk masa depan saya?

Saya berpikir ulang, kenapa saya harus melakukan semua usaha ini? Segala usaha haruslah menghasilkan sesuatu. Apa yang kita tabur, pasti ada tuaiannya, bagus atau buruk. Semua usaha ini untuk bisa menikah? Kenapa saya harus menikah? Benarkah saya membutuhkan pria disamping saya?

1 tahun pengalaman dengan pria-pria aneh membuat saya belajar, bahwa wanita cerdas tidak seharusnya menyusahkan hidup dengan pria bodoh. Mungkin inilah kenapa akhirnya banyak wanita jaman sekarang memutuskan hidup sendiri. Ya, disamping alasan-alasan lain, seperti: kekecewaan, karenapenyakit, tujuan hidup tertentu, dan lain sebagainya. Makanya ada orang bilang, “hanya wanita bodoh yang akan menikah oleh buaian pria di masa muda.”

Saya juga tidak bermaksud merendahkan pria dengan mengatakan mereka bodoh, walau Saya juga pernah mendengar bahwa laki-laki itu tak pernah dewasa. Ada benarnya, ada tidaknya juga. Menurut saya ini bukan soal siapa bodoh, siapa cerdas. Ini lebih ke masalah pengalaman hidup. Keputusan yang diambil, dan tujuan yang ingin dicapai.

Ketika terlalu banyak pengalaman pahit masuk dalam kehidupan seorang wanita, dia akan jauh lebih selektif. Dia akan jauh lebih peka terhadap hal-hal yang bisa membahayakannya. Segala upaya akan dilakukannya supaya dia tidak sakit. Ketulusan dan cinta menjadi sesuatu yang sulit dipercayai lagi.

Apakah masih ada cinta sejati? Hal ini pun berlaku pada pria. Pria juga lebih hati-hati. Apabila hati pria yang tulus telah dirusak oleh penghianatan, entah siapa yang bisa memperbaikinya kembali. Begitupun dengan wanita, banyak pemandangan pria berselingkuh, tidak lagi mencintai istrinya, meninggalkan istrinya saat istrinya hamil dan sedang susah-susahnya setelah melahirkan. Kalau rumah tangga segitu rapuhnya, masih adakah kepercayaan akan pernikahan?

Kembali ke pertanyaan haruskah saya menikah? Saya berpikir keras lagi menjawab itu. Menikah berarti menyerahkan hidup saya terhadap suami. Memiliki kehidupan baru di rumah bersama. Setiap hari bertemu. Melakukan hubungan yang dianggap tabu kalau bukan suami istri. Hamil 9 bulan. Merasakan stresnya melahirkan. Punya anak. Mengurus anak. Mengurus suami. Kisah hidup di kalangan saudara-saudara dan keluarga dekat suami. Kisah hidup suami dan teman-temannya. Melewati kisah hidup anak-anak yang telah dilahirkan. Dan masih banyak kisah hidup baru yang dilewati baik senang maupun sedih.

Pertanyaan selanjutnya lagi adalah apakah saya membutuhkan anak untuk masa tua saya?

Apakah saya membutuhkan pria yang bisa saya andalkan di hari tua?

Apakah saya rela mengikut suami dan tunduk dalam segala keadaan dan kondisi apapun?

Apakah saya bisa bertahan dalam gejolak atau masalah-masalah yang akan timbul di rumah tangga?

Kalau saya memang harus melewati semua ini seumur hidup, kenapa saya harus terburu-buru mencari pasangan?

Kenapa juga saya diminta instan menjalani hubungan untuk keputusan menikah, kalau masih mentah?

Jangan hanya karena terpatok usia yang terus menerus bertambah, saya merelakan diri kepada siapa saja yang ingin menikahi saya.

Keyakinan saya adalah apapun yang kita kerjakan, lakukan itu semua seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia. Ini berarti bukan hanya soal pemikiran, tapi juga perasaan. Memiliki hati dan memberi 100%. Melakukan dengan segenap hati dan memberi yang terbaik. Saya akan dengan rela kalau saya mendapatkan cinta itu. Kalau saya dan pasangan saling mencintai. Kalau kami sama-sama mencintai Tuhan, kami juga percaya akan cinta yang tulus.

Saya juga tidak ingin menikah hanya karena keinginan untuk saling memiliki dan menguasai. Itu hanya sementara. Masing-masing orang mempunyai hidupnya sendiri-sendiri. Itu berarti bertanggung jawab terhadap pribadinya sendiri. Jangan berpikir dengan memiliki suami sekarang, suami melepaskan kebebasannya. Menjadi istri memiliki tanggung jawab seorang istri. Tunduk pada suami. Percaya sepenuhnya. Kunci pernikahan adalah memiliki hubungan dengan Kristus sebagai kepala keluarga tertinggi. Dia punya rencana apabila saya dan calon pasangan bersama. Itu berarti menjadi keluarga yang melayani dan berbagi bagi sesama.

 

Selesai

Love Seeker

Ironi Permainan Pikiran #11 Kabur ke Halmahera


3 minggu di Halmahera, saya berharap bisa menjadi manusia yang tulus, manusia yang asik, supel…ternyata enggak tuh! Saya cuma dapat 1 jawaban, saya tidak bisa kabur dari diri saya sendiri, dari otak saya yang ngejelimet mencari jawaban! Eh tapi jangan salah sangka, bukan berarti hidup di Halmahera enggak seru lho! Ada saat2 nya saya merasa damai sekali di Halmahera, ketika saya berenang sendirian di laut yang indahnya amit2, sejauh mata memandang yang terlihat hanya gunung, air laut yang biru, terumbu karang, ikan warna warni….tidak ada manusia lain 1 pun. Awalnya terasa seram, gimana kalau kebawa ombak, gak bakal ada 1 orang pun yang tahu….secara emang gak ada orang kan? Tapi tahu apa yang ada di otak saya saat itu? Tuhan itu maha besar, maha baik…ciptaanNya terlalu agung, terlalu luas…yang saya rasakan hanya damai dan tenang! Lanjutkan membaca “Ironi Permainan Pikiran #11 Kabur ke Halmahera”

Inspirasi setelah Dugem


29 Agustus 2015

Hari ini dilalui seperti biasa, judulnya bosan. Lalu sore bertemu Pak Didik, ngobrol2 ditemani asap rokok. Dapat inspirasi, bahwa untuk sementara ini bisa ditarik kesimpulan saya pernah mengalami trauma kehilangan, saat kisaran umur balita. Hm…..sebenarnya saya sendiri pun tidak tahu ada apa saat umur itu, tapi memang, kalau mau dirunut secara jujur, saya paling takut kehilangan. Lanjutkan membaca “Inspirasi setelah Dugem”

Cerita Seru ku, yang tidak Saru :D


1970 an .Aku yang dilahirkan pada masa orde baru, tak merasakan beratnya jaman Belanda, meski aku dapat cerita dari nenekku. Aku juga tidak merasakan jaman Orde lama dengan akhir G 30 S PKI, meski inipun aku dapat cerita dari orang tuaku.
Masa kecilku bahagia, di desa yang masih penuh sawah, serta sungai yang mengalir jernih. Tiap hari mandi di sungai, bahkan aku lebih mahir berenang lebih dulu daripada membaca. Tentu dengan gaya bebas orang desa. Hidupku terasa mudah, kata orang ekonomi Indonesia sedang tumbuh pesat, aku rasakan tidak susah untuk makan (entah orang tuaku yang nyari nya :D) Lanjutkan membaca “Cerita Seru ku, yang tidak Saru :D”