Belajar Menemukan Value Cinta dengan Psikodrama Lewat Telepon (Bagian Satu)


“Ok. Silahkan mulai ceritakan tentang dirimu. Pilih saja mana yang menurutmu penting untuk aku ketahui sehingga aku dapat memahami hubunganmu dengan psikodrama,” kata Pak Didik.

Membuka diri merupakan langkah awal yang perlu kulakukan di hari pertamaku belajar psikodrama. Kuutarakan saja siapa diriku dan bagaimana latar belakang kehidupanku kepada Pak Didik melalui telepon. Awalnya, rasanya agak canggung.

Aku pribadi memiliki mistrust issue ketika berbicara dengan orang yang usianya jauh di atasku. Aku cenderung skeptis karena pengalaman komunikasiku dengan orang tuaku sendiri tidak cukup baik, seringnya berakhir dengan kesalahpahaman.

Saat aku mulai bercerita, sekelebat munculah perasaan-perasaan di masa lalu seperti diabaikan, disepelekan, disalahkan, dianggap membosankan, tidak menarik dan tidak penting, serta takut bila pada akhirnya apa yang kuceritakan justru mengakibatkan kesalahpahaman tak berujung. Sebab sepanjang aku bercerita, Pak Didik lebih banyak diam. Mungkin karena beliau sedang mencoba mendengarkan, agar dapat memahami akar permasalahanku.

Rasanya juga seperti berbicara dengan orang asing. Meski begitu, aku tetap mencoba percaya. Kepercayaan yang muncul didasari oleh beberapa pertimbangan dan perenungan yang mungkin tidak bisa kuceritakan kepada siapa-siapa bahkan kepada Pak Didik.

Meskipun masih ada sisi-sisi lain dari diriku yang tidak kusampaikan.

Selesai aku bercerita, Pak Didik langsung menuju ke inti. “Jadi permasalahanmu apa?”

Aku menjawab dengan berbelit-belit.

Pak Didik bertanya lagi, “Tadi pertanyaanku apa?”

Aku seperti sedang disidang dosen. Aku bingung.

Pak Didik berkata, “Coba sebutkan satu teori psikologi yang sudah kamu pelajari.”

Aku belum makan siang. Aku gugup. Aku sedang tidak bisa mengingat teori-teori apapun karena rasanya aku baru saja menenggelamkan diri dalam palung kerapuhanku sendiri tapi aku diminta untuk kembali lagi ke daratan. Untungnya ada satu yang paling kuingat, teori kebutuhan Abraham Maslow. Permasalahanku berada di kebutuhan kasih sayang. Kebutuhan yang menurutku masih belum terpenuhi secara maksimal.

Kalau aku masih menuntut orang lain untuk memberikan kasih sayang padaku itu tandanya masih menjadi masalah, tapi kalau aku bisa memberikannya kepada orang lain itu tandanya sudah menjadi value dalam diri. Begitu penjelasan Pak Didik.

“Maukah kau menjadi aktor protagonis yang mencoba memberikan kasih sayangmu kepada orang lain? Ataukah menjadi aktor antagonis yang ingin terus menuntut orang lain untuk memenuhi kebutuhanmu?” tanya Pak Didik.

“Aktor protagonis lah. Capek dan tidak akan ada habisnya kalau hanya berharap kepada orang lain,” pikirku. Tapi apakah aku bisa? Lalu bagaimana caranya jika aku saja tidak pernah merasa betul-betul dicintai oleh siapa-siapa. Bagaimana bisa jika kehadiranku saja sering tidak diharapkan orang lain bahkan mungkin oleh orang tuaku sendiri?

Apakah betul aku tidak pernah dicintai? Ataukah selama ini ada cinta-cinta yang telah kuperoleh tapi tidak kusadari? Tapi mengapa aku sering merasa tidak dicintai?

Bersambung…

Kartasura, 09 Oktober 2020

Qanifara

Mengapa Moreno Memilih Istilah Protagonis dalam Psikodramanya ?


Ini othak athik gathuk saja, sekalian menjaga tradisi sebagian cara berpikir orang Jawa. Salah satu alur logika dalam membangun makna yang belum tentu ada fakta empiris maupun teori yang mendukungnya. Karena tulisan ini bukan jurnal ilmiah, maka feel free aja, aku membagikannya. 🙂 Secara lesan dalam workshop sering juga saya sampaikan, untuk menekankan pentingnya Pribadi manusia, seperti yang diharapkan Moreno. Lanjutkan membaca “Mengapa Moreno Memilih Istilah Protagonis dalam Psikodramanya ?”

Seniman Lima Belas Menit Goes To Jogja: Rasa yang Tak Pernah Ada


Seniman Lima Belas Menit adalah sebuah komunitas drama maupun psikodrama yang berada di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Komunitas ini awalnya terbentuk karena adanya Olimpiade Psikologi 3 tahun 2015 di Surabaya dengan cabang Psychodrama. Komunitas ini sudah melakukan pentas di internal maupun eksternal Fakultas Psikologi UKWMS. Komunitas ini beranggotakan mahasiswa aktif yang tertarik dalam bidang psikodrama, maupun teatre itu sendiri, komunitas ini dibawah bimbingan 2 dosen Psikologi UKWMS, yaitu Pak Danto dan Bu Erlyn, serta dibawah bimbingan langsung praktisi psikodrama asal Yogjakarta, yaitu Pak Didik. Lanjutkan membaca “Seniman Lima Belas Menit Goes To Jogja: Rasa yang Tak Pernah Ada”

Psikodrama itu Powerfull (Pengalaman di Medan)


Hari 1.
Dulu sekali, kata Psikodrama ini pernah disenggol di mata kuliah Psikologi Sosial namun tidak menarik perhatian saya, karena hanya sekedar disebutkan sebagai salah satu terapi yang sering dilakukan di dalam kelompok. Mengikuti Workshop Psikodrama ini merupakan pengalaman yang sama sekali baru. Heran itu sudah dimulai dari melihat tatanan ruangannya, dimana meja diletakkan lengket di dinding, dan semua kursi disusun menghadap dinding, kami saling memandang dengan alis naik sebelah. Lebih menarik lagi ketika Sang Fasilitator datang dengan gaya yang sangat tidak biasa, baju batik HIMPSI dikombinasi topi kupluk. Lanjutkan membaca “Psikodrama itu Powerfull (Pengalaman di Medan)”

TEORI PSIKODRAMA 2 – ISU-ISU LEBIH LANJUT – Adam Blatner, M.D.


Penyelesaian Masalah Emosi
(pp 133-137)
Banyak keputusan yang kita hadapi sehari-hari memerlukan beberapa pertimbangan faktor rasional dalam hidup kita. Keterampilan introspeksi dibutuhkan untuk benar-benar menimbang dan memasukkan dimensi emosional dalam berbagai situasi. Dalam rangka untuk mendapatkan perspektif tentang faktor-faktor penentu bawah sadar pilihan seseorang, maka perlu untuk menemukan cara-cara mengembangkan wawasan ke dalam hubungan interpersonal. Penggunaan metode psychodramatic dapat melengkapi metode lisan dalam memfasilitasi analisis dari berbagai dimensi pemecahan masalah emosional (Lebovici, 1957). Proses psikoterapi atau pendidikan tentang perasaan demikian dapat dilihat dari segi: (1) menetapkan konteks yang memaksimalkan kondisi pertumbuhan pribadi dan (2) secara parsial menganalisis modus pemecahan masalah. Lanjutkan membaca “TEORI PSIKODRAMA 2 – ISU-ISU LEBIH LANJUT – Adam Blatner, M.D.”