Terapi Menulis Juga, Bau Kentut Tulisan ku


Ketika Mas Didik mengajakku menulis untuk terapi, aku berpikir apa yang membuat orang mau menulis untuk menolong dirinya sendiri. Ku coba membaca tulisan orang, itu sungguh melelahkan. Apalagi bila kalimatnya sungguh sulit dipahami atau aku merasa tulisan itu tak ada maknanya sama sekali. Bagiku atau mungkin bagi orang lain. Tapi tunggu dulu. Aku mencoba menghayati. Jika aku harus menulis pula lalu untuk apa gunanya bagiku. Lanjutkan membaca “Terapi Menulis Juga, Bau Kentut Tulisan ku”

Cerita Mawar #part 17 Insight, …. Mendapatkan Dukungan Sosial


Hari ini (24-2-2019) aku mendapatkan dukungan sosial, pencerahan tiba-tiba atau bisa juga dikatakan wangsit, dan memulai keberanian baru. Hal ini bermula pada khotbah di gereja dengan topik mencintai musuhmu, atau jka menggunakan bahasaku sendiri judulnya sayangi rivalmu apapun yang terjadi.Ya seperti biasa khotbahnya agak membosankan jika diawali dengan kisah tokoh alkitab dan kaitan antar kisah Alkitab. Kisah menariknya saat dikaitkan dengan kisah pembicara khotbah, kisah miris yaitu saudaranya (pemahamanku sepupu) yang dia sayangi, beri kemudahan,beri fasilitas, membantunya kerjasama profesi malah menikungnya, membuatnya mengalami kepahitan. Kepahitan ketika mengalami kerugian besar, utang rumah masih baru 2 tahun, bayi usia 2 bulan, jual mobil juga masih belum menutup kerugian. Entah kenapa tiba-tiba aku menangis saat mendengarnya. Mungkin hal ini terjadi karena mengingatkan aku kisah pengkhiatan di hidupku juga.

Pembicara saat itu hanya bisa duduk terdiam dan berdoa pada Tuhan, dan akhirnya titik nol atau titik nadir terjadi, akhirnya pembicara itu memilih pekerjaan lain dan memilih melayani Tuhan. Hal yang menarik adalah mengenai hukum kasih Allah yang terus dikumandangkan. Hukumnya meliputi kasih, berbuat baik, meminta berkat, dan berdoa kepada musuh atau orang yang telah menyakiti kita. Hal menariknya adalah jika kita mengalami kepahitan dan memilih membalas dendam, amarah dan sejenisnya, hasilnya akan renggutnya kedamaian.
Pembicara menyematkan kata-kata bahwa semakin dekat- semakin sakit, namun jika dalam hidup kita meminta kekuatan Tuhan maka hal itu (kepahitan) tidak akan ada apa-apanya. Bersyukur dan tetap berharaplah pada Tuhan. Cobaan dari Tuhan tidak akan melebihi kemampuanmu.

Hal agak tidak logis bagiku adalah bagaimana caranya membedakan musuh dari pemberian Tuhan, dalam artian memang Tuhan akan menempa kita melalui orang tersebut, atau memang benar-benar musuh. Ya tetapi menurutku anggap saja ini semua ujian hidup, apakah Anda tetap berada di dalam jalan kebenaran atau jalan Tuhan, iman tetap oke, dan sejenisnya.

Topik mencintai musuh ini mengingatkan aku pada kegelapan hubunganku dengan seorang teman dekatku di perkuliahan, dan juga beberapa orang yang hubunganku mengenai pendampingan psikologis (termasuk pemilik web ini). Ya intinya aku dulu pernah dekat dengan seseorang dan terjadi keributan luar biasa, aku meminta bantuan pada pendamping psikologisku malah aku dikatakan berbohong, saat aku mencari pendamping psikologis lain malah aku merasa seperti dipaksa untuk melakukan menulis semua kisahku, membaca kitab suci bahkan buku. Aku merasa keberatan dengan pengambilan buku tersebut karena bagiku ini privasi, aku tipe orang yang ganti buku tiap bosan menulis, misal satu buku satu kisah (3 halaman dari 38 halaman). Aku kembali kepada pendamping psikologisku pertama dan bercerita akan hal ini, hasilnya malah membuat aku marah abadi, dan aku memilih untuk faking good misalnya cerita sedih tapi ekspresi senang, dan pastinya banyak menyangkal, dampak fatal dari faking good ini adalah masalahku tidak terselesaikan segera.

Masalahku dengan pendamping psikologisku baru bisa selesai sekitar 5 bulan kemudian, dan aku mulai kembali menjadi diriku sebenarnya, akhirnya masalahku mulai terselesaikan bertahap sekitar 2 hingga 5 bulan kemudian. Untungnya aku memiliki buku mengenai tutorial kedamaian psikologis yang meliputi topik: masalah emosi, syukur, memaafkan, self improvement. Aku sementara ini cukup baca, tulis materi yang menarik, dan jika emosi atau pikiran negatif muncul maka baca ulang, walaupun itu tidak benar-benar efektif.

Hal konyol adalah entah kenapa saat pembicara khotbah berkata cobaan dari Tuhan tidak akan melebihi kemampuanmu, seketika aku seperti melihat pendamping psikologisku persis di depan mataku. Jika aku mengingat pendamping psikologisku maka tidak lama aku mengingat perkataan pemilik web ini “semua ada waktunya”.

Aku tidak tahu apa rencana Tuhan memberikan aku pendamping psikologis yang: HUT sama dengan aku, suka cari kabar aku ke dosen waliku (pemahamanku adalah beliau tidak mau menganggu aku karena beliau berkata demikian), suka beri reward bentuk pujian (ini tidak ngefek banyak karena aku anggap ini gombalan, dan juga sudah jadi tugas profesional memberi demikian), terkadang bisa digoda sampai aku terbahak-bahak, terkadang juga nyebelin sampai aku ingin mengusir/ meninggalkan beliau tapi gak bisa.

Bagiku saat ini cukup pahami situasi saja, bertindak sesuai norma di bumi, dan percayalah akan ada hal luar biasa di masa depan apapun itu.

bersambung……

Sebut saja Namaku Mawar

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Cerita Mawar #part 16 menjadi Teman yang Berkualitas


Aku menemukan sesuatu yang mencengangkan dalam minggu ini (21-2-2019). Kejadian mencengangkan mulai dari pertemanan, hubungan konseling, hingga topik perkuliah, serta dosen yang konon agak horor di mata kakak tingkat. Mari kita mullai dengan pikiran yang mengganggu diriku terlebih dahulu…

Entah kenapa sejak hari sabtu minggu lalu. Entah mengapa aku jadi menangis dan bersedih sangat lama ya sekitar 30 menit, dan entah kenapa juga aku tiba-tiba terbesit untuk menjadikan pemikiran dan emosiku dalam bentuk gambar, pada waktu itu aku menggambar HTP. Setelah itu aku mengirimkan gambar ini pada seseorang yang sedang dekat denganku, beliau berkata padaku makna dari gambar tersebut sama dengan makna Prapaskah, dan juga aku mendapatkan pesan singkat yang sangat menenangkan aku seketika itu juga. Pesan tersebut berisikan bahwa apapun pilihanku adalah baik adanya, tidak ada yang salah. Pilihlah sesuatu yang baru, dan ambil pengalaman serta terima konsukuensi, dengan syarat aku mesti siap dahulu, jika belum siap maka perlu persiapan terlebih dahulu. Lanjutkan membaca “Cerita Mawar #part 16 menjadi Teman yang Berkualitas”

Cerita Mawar #part 11 Aku mestinya bagaimana?


Hari ini aku mulai mengikuti kelas hari ke dua di semester genap tahun ini. Hari ini aku mendapatkan berita bahagia, kemudian menjadi sedih, dan berakhir tenang. Ada apa ?

Berita bahagianya adalah aku mendapatkan kelompok presentasi dengan keringanan, keringanan berupa tugas makalah biasanya dikumpulkan di pertemuan berikutnya, sedangkan dosen memberi keringanan yaitu satu hari sebelum presentasi tiap kelompok. Berita bahagia lainnya adalah di kelas psikologi komunitas kami diberi tugas film pendek, kemudian setelah UTS kami akan mengadakan kelas di kantor POLDA JATIM. Bagiku ini sangat luar biasa, karena aku belum pernah mendapatkan kelas seperti ini sebelumnya.

Lantas berita sedihnya apa? Itu buktinya happykan…
Berita sedihnya adalah aku dijemput menggunakan sepeda motor tanpa helm & jas hujan+ hujan gerimis + estimasi perjalanan 20 menit. Syukur tidak ditilang polisi, namun tetap ada kemungkinan tilang online. Sampai di rumah aku langsung mandi dan makan sereal hangat. Sambil aku makan ibuku bercerita kepadaku. Aku muak dengan cerita tersebut. Mengapa?

Ibuku bercerita bahwa tadi kak Boyo membentak ibu dan mengucap kata kotor karena jengkel ibu ngeriwuki alias ikut campur. Saat itu sedang menghitung keuangan perusahaan sedangkan, ibu ikut campur (ramai sepertinya) misalnya barang ini (merk) dibawa kapanan hari oleh Rusa, dst. Karena kak Boyo jengkel… dibentaklah ibu katanya “haduh gak usah ngeriwuki bu jancok”. Ibu jengkel karena direspon seperti itu. Aku muak karena setiap kali kakak marah, ibu selalu menyalahkan Rusa dengan alasan guna-guna dsb.

Menurut kronologis yang diberikan istri kak Boyo bermula dari… aku pergi berangkat ke kampus. Kemudian keponakanku (8 bulan) muntah dan saat itu kak Boyo sedang tidur jadi terbangun. Kak Boyo yang terbangun karena kaget pun memarahi istrinya karena ribut (suara) dan tidak bisa lanjut tidur + pusing. Setelah itu kak Boyo pergi.

Setelah aku pulang kampus dan selesai mandi ibu bercerita. Aku muak dengan cerita ibu karena, semua permasalahan jadi salah Rusa dan guna-guna, padahal jika dilogika siapa yang mau pada saat hitung keuangan serius malah dicereweti. Ibu juga terlalu suka ikut campur urusan orang lain, bahkan sederhananya dan nyatanya adalah pengasuhan keponakanku. Keponakanku setiap rewel dihandle oleh ibuku, dan akhirnya tiap lihat ibuku selalu minta dihandle meskipun sedang bersama ibunya.

Akhirnya kak Boyo pulang dalam kondisi mabuk dan muntah. Hal ini dikarenakan barang yang diurus Rusa nyantol sekitar 30 juta. Banyak sekali? Ya ingatlah bahwa ini bisnis alkohol dan setauku harga grosirnya saja bisa 3 atau 4 jutaan, aku tidak tahu itu perbotol atau karton juga.

Setelah kak Boyo pulang akupun chating dengan dosen waliku dan juga bu Kamboja untuk berbagi cerita. Dosen waliku hanya berpesan untuk tetap bersabar, bentuk tulisan sebagai pengeluaran emosi, bawa dalam doa.

Aku capek setiap dapat kabar mengenai kondisi rumah yang kacau, respon tubuhku berupa kenyang (padahal belum makan dari pagi), asam lambung naik, sakit kepala bagian belakang dan dahi, mual-muntah, terparah adalah aku sampai diare dan minum 3 pil obat maag, masih saja belum mempan, dan berakhir pada suntikan obat, dan full bedrest 1 hari. Menurut analisis bu Kamboja hal ini disebabkan alam bawah sadar, dan aku juga over thinking. Dosen waliku mengapresiasi over thinkingku dalam konteks aku sebenarnya observer dan analist yang baik, walaupun hal ini juga perlu dimanajemen.

Akupun bingung aku musti bagaimana… rasa terpaksa ini tetap ada… bahkan agar tidak menjadi semakin berat psikologis, aku merasionalisasi keterpaksaanku mendengar semua perkataan + ilogical dengan dalih latihan mata kuliah konseling lebih awal.

Minimal bagiku aku masih bisa hidup, masih ada yang bisa aku lakukan seperti kuliah, bersosialisasi dengan teman sekitar, masih ada dosen wali dan bu Kamboja dan juga pak Didik yang terkadang aku send file spam, dan juga ada pendeta muda gereja (beritahu aktivitas gereja untuk anak pemuda terbaru).

Aku tahu hidup itu berat… aku sebenarnya juga emosi negatif kepada seseorang… namun bagiku masih banyak hal di bumi yang perlu di eksplorasi. Cita-citaku juga perlu direalisasikan. Itulah motivasi kecilku. Doa harapanku saat ini adalah aku tetap bisa bertahan hidup dan objektif serta tidak merugikan orang lain.

Terima kasih telah membaca….

 

bersambung…….

 

Sebut saja Namaku Mawar

 

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Cerita Mawar #part 04 Menjadi Mahasiswa Psikologi


Saat pendaftaran kuliah aku sempat bingung mau kuliah dimana, aku sempat berfikiran untuk melarikan diri dengan cara kuliah di luar kota, namun biaya terbatas sangat saat itu. Sempat terbesit masuk Teologia namun tidak disetujui keluarga. Akhirnya akupun pergi mencari informasi kampus yang super terjangkau saat itu, daftarlah dikampus tersebut. Akupun mengikuti tes berupa matematika, bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Setelah Tes tersebut aku diberi kabar bahwa ada psikotes tambahan bernama Tes kerohanian dan saat dicari di Internet ternyata tes itu satu paket dengan MMPI dan NAPZA. Karena takut kondisi psikisku yang kacau akan diketahui keluarga, akupun menolak lanjut tes meskipun keluarga sudah mengatakan tidak apa tes saja, hal ini karena adanya ketidak-percayaan akan kondisi keluarga. Akhirnya akupun ganti cari kampus lain. Lanjutkan membaca “Cerita Mawar #part 04 Menjadi Mahasiswa Psikologi”

Cerita Mawar #part 03 Perlukah Aku Bertahan ?


Saat SMP Mawar memiliki beberapa teman dekat sekaligus di tahun pertama, namun berubah di tahun kedua dimana nilai yang tidak memuaskan, kesulitan matematika lalu mencoba menyelesaikan dengan ikut ekstra kurikuler matematika, malah guru di kelas yang mengajar berkata bahwa malu punya murid seperti aku. Kelas memasak jarang dapat kelompok, dan di tahun ketiga semakin suram karena persaingan nilai dan pengalaman buruk ujian, ditambah lagi ada teman yang akan suicide karena putus cinta. Emosi negatif mendominasi. Mawar pun di rumah seringkali menangis sambil memeluk boneka dan merasa tidak ada yang peduli padanya.

Masalah semakin runyam saat dilanda stress materi ujian saat les dengan guru privat ke rumah. Mawar langsung mual dan muntah saat itu juga. Dahulu juga pernah dapat guru yang perokok aktif di mana mengajar duduk di sebelah murid sambil merokok hampir ½ kardus rokok sekali mengajar. Jika mawar 1 bulan 8 pertemuan maka berapa rokok yang di hirup Mawar, terlebih setiap pertemuan 90 menit begitu terus tiada henti. Untungnya Mawar akhirnya dapat nilai ujian nasional memuaskan yaitu BI 7, BHS. Inggris 7, Mat 4 / 5, IPA 6, ujian praktik lancar jaya karena teman-teman mulai peduli kondisi kelas, ujian sekolah juga lancar.

Saat SMA Mawar punya hubungan tidak jelas yaitu teman kadang musuh juga. Mawar sempat merasa pertemanan terkunci hanya pada 6 siswa dari 36 siswa. Syukurlah Mawar bisa berbaur pada tahun ke 2 SMA walaupun ada geng aktif OSIS- Atlit, dan kalangan gosip. Namun setidaknya Mawar sudah punya teman dekat yang bisa diajak bicara segalanya walau masih ada ribut. Dan pertemanan semakin membaik saat tahun ke-3 dimana Retreat mengubah segalanya menjadi lebih positif. Ya inilah kehidupan pertemanan.

Keluarga?
Keluarga agak carut marut karena kak Boyo ternyata cuti kuliah tidak ijin bapak. Mata kuliah yang ditempuh masih semester 6 namun kuota kuliah tinggal 1 tahun (padahal masuk kuliah saat Mawar ke 4 SD dan baru tahu saat Mawar 1 SMA). Terjadi keributan di rumah yang luar biasa, ibu yang stress akan kondisi rumah pergi ke spiritualis dan diberi garam yang telah di doakan (setauku menurut Islam) dan dimasukan di semua air mulai air kulkas, bak kamar mandi, tandon air, bahkan kopi yang akan diminum.

Pernah satu kali Mawar yang membuat kopi namun ibu yang memasukan garam di kopi. Bapak Mawar marah luar biasa dan selalu menyalahkan Mawar, bahkan saat berkunjung ke rumah teman SMP bapak Mawar. Bapak berkata kepada temannya bahwa Mawar kurang ajar memasukan garam ke kopi padahal tidak pernah Mawar melakukan hal itu. Akhirnya karena jengkel Mawar pun tidak pernah mau membuatkan kopi, yang membuat kopi adalah ibu Mawar namun selalu Mawar yang dituduh membuat kopi dicampur garam.

Bapak selalu bilang ke Mawar bahwa ibu kurang ajar tidak mau terbuka akan masalah rumah, sedangkan Ibu berkata Mawar durhaka jika tidak menurut ibu padahal selama ini yang buat masalah kalian kenapa mesti Mawar yang kena. Semua hal jadi distress alias marah tidak karuan seperti bipolar. Yang Mawar bisa lakukan hanya menangis terus tiap hari bahkan terjadwal karena stressornya di sekitar jam tersebut. Bahkan Mawar sampai menangis selama 2 jam bahkan lebih dengan lendir hidung keluar biasa banyak tanpa tisu, air mata yang bisa membasahi bantal dan guling seperti tumpahan air satu gelas, rasa haus yang terpaksa ditahan karena takut jika keluar akan ribut lagi, bahkan Mawar menangis di gudang. Mawar hanya akan berhenti menangis jika sudah sesak jika nafas melalui mulut atau pun rusuk yang terasa kram. Yang mawar lakukan hanya menangis terus dan berimajinasi ada orang yang peduli dengan dia.

Sempat juga terbesit pemikiran negatif mengenai kematian yaitu lebih baik aku mati muda dari pada stress seperti ini, atau jika aku hidup orang tuaku harus meninggal dunia. Hal ini disebabkan karena pemfitnahan dan kondisi yang carut marut.

Bersambung………

 

Januari, 2019

Sebut saja Namaku Mawar

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Kebebasan ; Pengalaman Psikodrama di Jakarta Timur


Assalamualaikum Mas,

Terkadang, kungkungan norma atau pola asuh bikin kita jadi kaku dalam menampilkan diri. Takut dengan tindakan-tindakan yang tidak biasanya. Label, judgment, hmmm…makanan sehari-hari kalo kita tampil out of the box, akhirnya mikir berkali-kali jika mau mengekspresikan diri. Hasilnya….yaa…bisa ketebak, klo kita akan jadi biasa’biasa aja dan harus puas jadi yang biasa itu, kerena sesuai norma.

Tapi ternyata… saat diri kita mengijinkan diri sendiri untuk tampil apa adanya, bebas semau kita bahkan bebas menembus batas yang ada, kita bisa melampui dari apa yg kita perlihatkan selama ini.

Aku bisa jadi pohon yang berkelok-kelok, tanpa harus jadi pohon yg menjulang tinggi dengan angkuhnya.
Aku bisa jadi akar, yang tidak hanya berada di bawah, tetapi juga jadi akar yang sangat kokoh karena terisi padat di dukung akar lainnya terus ke atas menopang dahan, dan aku bisa jadi apa yang aku mau…☺

Kemarin…., ketemu orang-orang hebat yang bisa jadi apa yang mereka mau tanpa ada batas. Semuanya praktek tanpa tembok harus belajar teori dengan mencatat. Perlahan tapi terasa, tembok-tembok itu mulai runtuh. Aku akan jadi apapun yang aku mau. Bebaaaasss..melampaui diri sendiri ☺☺

Panjang yaa…tapi dalem loh, karena dari hati paling dalam.

Jakarta, 18 Desember 2018

SNP