Dasar Logis ! Refleksi setelah Mengikuti Psikodrama di Universitas Sebelas Maret Solo


Sungguh hal yang awalnya tidak bisa saya terima bahwa saya adalah orang yang terlalu logis dan kurang bisa memahami orang lain. Ya meskipun itu sudah sangat sering saya dengar dari berbagai orang. Sejujurnya, dahulu saya berpikir bahwa itu adalah pujian, namun lambat laun justru saya pikir itu adalah judgement yang orang lain berikan pada saya yang sebenarnya memiliki arti “Kamu tuh ga pake perasaan ya cik?! Gampang banget ngomong gituan”. Lanjutkan membaca “Dasar Logis ! Refleksi setelah Mengikuti Psikodrama di Universitas Sebelas Maret Solo”

Boke Saat Mau Menikah, Cerita Motivasi bagi Pasangan Dewasa yang akan Menikah


Mendampingi adik-adik SPN yang mau menikah, membuatku harus flashback. Ini adalah cerita sebelum galau beneran datang. Semoga menghibur.

“Uang itu mengalir seperti air,” kata suamiku.
Dulu aku mahasiswa yang selalu merasa galau saat boke, namun berusaha memasrahkan diri dengan apa yang ada. Apa boleh buat, Aku tak pernah berani minta uang saku pada orang tua. Aku sangat tahu diri bahwa mereka sedang menghadapi biaya adik-adikku yang perlu susu, popok dan perangkat wajib lain yang tak bisa di tunda. Lanjutkan membaca “Boke Saat Mau Menikah, Cerita Motivasi bagi Pasangan Dewasa yang akan Menikah”

Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?


Aku merasa hal ini sepele, namun sulit untuk dilakukan. Kerapuhanku adalah aku terlalu mengingat peristiwa, terutama peristiwa buruk, aku juga kurang aktif menyampaikan pikiran dan perasaanku, kadang kala aku juga lemot mikir, aku juga rigid secara kognitif. Dampak dari kerapuhanku ini sudah jelas terlihat yaitu sulit menjalin relasi interpersonal. Aku menganggap bahwa memaafkan itu adalah kewajiban, bukan ketulusan hati mengakui kesalahan. Permasalahan ini akhirnya aku pendam bahkan dalam hitungan bulan bahkan mungkin sudah tahunan. Hingga suatu ketika : Lanjutkan membaca “Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?”

Perihal Menulis, Mencoba BerBuah dalam Kekeringan


Apa yang harus aku lakukan dengan kekeringan ini?
Sampai kapan aku terus mencari dan menunggu?
Pesan apa yang perlu dipetik dari proses ini?
Entah mengapa tidak ada yang datang

Kering, kering, kering

Aku mengerti sekarang mengapa banyak penulis atau mereka yang masuk di bidang sastra terlihat berbeda, eksentrik, unik, kadang juga terlihat moody, berada di dunianya sendiri, dan seterusnya. Saya yakin banyak yang akan tidak setuju dengan pernyataanku ini, mohon maaf, tapi tidak ada niat dan maksud untuk menyinggung perasaan. Saya menyadari kalau pernyataan itu berdasarkan stereotipe, paham. Lanjutkan membaca “Perihal Menulis, Mencoba BerBuah dalam Kekeringan”

Terapi Menulis Juga, Bau Kentut Tulisan ku


Ketika Mas Didik mengajakku menulis untuk terapi, aku berpikir apa yang membuat orang mau menulis untuk menolong dirinya sendiri. Ku coba membaca tulisan orang, itu sungguh melelahkan. Apalagi bila kalimatnya sungguh sulit dipahami atau aku merasa tulisan itu tak ada maknanya sama sekali. Bagiku atau mungkin bagi orang lain. Tapi tunggu dulu. Aku mencoba menghayati. Jika aku harus menulis pula lalu untuk apa gunanya bagiku. Lanjutkan membaca “Terapi Menulis Juga, Bau Kentut Tulisan ku”

Cerita Mawar #part 17 Insight, …. Mendapatkan Dukungan Sosial


Hari ini (24-2-2019) aku mendapatkan dukungan sosial, pencerahan tiba-tiba atau bisa juga dikatakan wangsit, dan memulai keberanian baru. Hal ini bermula pada khotbah di gereja dengan topik mencintai musuhmu, atau jka menggunakan bahasaku sendiri judulnya sayangi rivalmu apapun yang terjadi.Ya seperti biasa khotbahnya agak membosankan jika diawali dengan kisah tokoh alkitab dan kaitan antar kisah Alkitab. Kisah menariknya saat dikaitkan dengan kisah pembicara khotbah, kisah miris yaitu saudaranya (pemahamanku sepupu) yang dia sayangi, beri kemudahan,beri fasilitas, membantunya kerjasama profesi malah menikungnya, membuatnya mengalami kepahitan. Kepahitan ketika mengalami kerugian besar, utang rumah masih baru 2 tahun, bayi usia 2 bulan, jual mobil juga masih belum menutup kerugian. Entah kenapa tiba-tiba aku menangis saat mendengarnya. Mungkin hal ini terjadi karena mengingatkan aku kisah pengkhiatan di hidupku juga.

Pembicara saat itu hanya bisa duduk terdiam dan berdoa pada Tuhan, dan akhirnya titik nol atau titik nadir terjadi, akhirnya pembicara itu memilih pekerjaan lain dan memilih melayani Tuhan. Hal yang menarik adalah mengenai hukum kasih Allah yang terus dikumandangkan. Hukumnya meliputi kasih, berbuat baik, meminta berkat, dan berdoa kepada musuh atau orang yang telah menyakiti kita. Hal menariknya adalah jika kita mengalami kepahitan dan memilih membalas dendam, amarah dan sejenisnya, hasilnya akan renggutnya kedamaian.
Pembicara menyematkan kata-kata bahwa semakin dekat- semakin sakit, namun jika dalam hidup kita meminta kekuatan Tuhan maka hal itu (kepahitan) tidak akan ada apa-apanya. Bersyukur dan tetap berharaplah pada Tuhan. Cobaan dari Tuhan tidak akan melebihi kemampuanmu.

Hal agak tidak logis bagiku adalah bagaimana caranya membedakan musuh dari pemberian Tuhan, dalam artian memang Tuhan akan menempa kita melalui orang tersebut, atau memang benar-benar musuh. Ya tetapi menurutku anggap saja ini semua ujian hidup, apakah Anda tetap berada di dalam jalan kebenaran atau jalan Tuhan, iman tetap oke, dan sejenisnya.

Topik mencintai musuh ini mengingatkan aku pada kegelapan hubunganku dengan seorang teman dekatku di perkuliahan, dan juga beberapa orang yang hubunganku mengenai pendampingan psikologis (termasuk pemilik web ini). Ya intinya aku dulu pernah dekat dengan seseorang dan terjadi keributan luar biasa, aku meminta bantuan pada pendamping psikologisku malah aku dikatakan berbohong, saat aku mencari pendamping psikologis lain malah aku merasa seperti dipaksa untuk melakukan menulis semua kisahku, membaca kitab suci bahkan buku. Aku merasa keberatan dengan pengambilan buku tersebut karena bagiku ini privasi, aku tipe orang yang ganti buku tiap bosan menulis, misal satu buku satu kisah (3 halaman dari 38 halaman). Aku kembali kepada pendamping psikologisku pertama dan bercerita akan hal ini, hasilnya malah membuat aku marah abadi, dan aku memilih untuk faking good misalnya cerita sedih tapi ekspresi senang, dan pastinya banyak menyangkal, dampak fatal dari faking good ini adalah masalahku tidak terselesaikan segera.

Masalahku dengan pendamping psikologisku baru bisa selesai sekitar 5 bulan kemudian, dan aku mulai kembali menjadi diriku sebenarnya, akhirnya masalahku mulai terselesaikan bertahap sekitar 2 hingga 5 bulan kemudian. Untungnya aku memiliki buku mengenai tutorial kedamaian psikologis yang meliputi topik: masalah emosi, syukur, memaafkan, self improvement. Aku sementara ini cukup baca, tulis materi yang menarik, dan jika emosi atau pikiran negatif muncul maka baca ulang, walaupun itu tidak benar-benar efektif.

Hal konyol adalah entah kenapa saat pembicara khotbah berkata cobaan dari Tuhan tidak akan melebihi kemampuanmu, seketika aku seperti melihat pendamping psikologisku persis di depan mataku. Jika aku mengingat pendamping psikologisku maka tidak lama aku mengingat perkataan pemilik web ini “semua ada waktunya”.

Aku tidak tahu apa rencana Tuhan memberikan aku pendamping psikologis yang: HUT sama dengan aku, suka cari kabar aku ke dosen waliku (pemahamanku adalah beliau tidak mau menganggu aku karena beliau berkata demikian), suka beri reward bentuk pujian (ini tidak ngefek banyak karena aku anggap ini gombalan, dan juga sudah jadi tugas profesional memberi demikian), terkadang bisa digoda sampai aku terbahak-bahak, terkadang juga nyebelin sampai aku ingin mengusir/ meninggalkan beliau tapi gak bisa.

Bagiku saat ini cukup pahami situasi saja, bertindak sesuai norma di bumi, dan percayalah akan ada hal luar biasa di masa depan apapun itu.

bersambung……

Sebut saja Namaku Mawar

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Cerita Mawar #part 16 menjadi Teman yang Berkualitas


Aku menemukan sesuatu yang mencengangkan dalam minggu ini (21-2-2019). Kejadian mencengangkan mulai dari pertemanan, hubungan konseling, hingga topik perkuliah, serta dosen yang konon agak horor di mata kakak tingkat. Mari kita mullai dengan pikiran yang mengganggu diriku terlebih dahulu…

Entah kenapa sejak hari sabtu minggu lalu. Entah mengapa aku jadi menangis dan bersedih sangat lama ya sekitar 30 menit, dan entah kenapa juga aku tiba-tiba terbesit untuk menjadikan pemikiran dan emosiku dalam bentuk gambar, pada waktu itu aku menggambar HTP. Setelah itu aku mengirimkan gambar ini pada seseorang yang sedang dekat denganku, beliau berkata padaku makna dari gambar tersebut sama dengan makna Prapaskah, dan juga aku mendapatkan pesan singkat yang sangat menenangkan aku seketika itu juga. Pesan tersebut berisikan bahwa apapun pilihanku adalah baik adanya, tidak ada yang salah. Pilihlah sesuatu yang baru, dan ambil pengalaman serta terima konsukuensi, dengan syarat aku mesti siap dahulu, jika belum siap maka perlu persiapan terlebih dahulu. Lanjutkan membaca “Cerita Mawar #part 16 menjadi Teman yang Berkualitas”