Drama Lulusan Universitas Terkenal Tolak Gaji Pertama 8 Juta Rupiah


Ya,..beberapa hari lalu menjadi Trending topic di media sosial Twitter, seorang lulusan Universitas Negeri ternama menolak tawaran kerja yang akan digaji 8 juta rupiah, untuk level baru lulus kuliah. Pendapatnya ia upload di media sosial, Instagram dan menyebar luas.

Apa yang disampaikan di media sosial adalah pendapat pribadinya, itu hal yang sah saja. Namun ketika ia menyebut nama institusi, maka ada konsekuensi bahwa ada tanggapan yang berbeda, baik dari dalam institusinya sendiri maupun institusi sejenis yang lain. Lanjutkan membaca “Drama Lulusan Universitas Terkenal Tolak Gaji Pertama 8 Juta Rupiah”

Cope with the Toxic Person, Tanya Jawab di WhatsApp


Muslimah :

Mas, aku mau nanya.

Waktu malam itu, bu F….. cerita tentang toxic friend di tempat kerjanya. Kalau menghadapi individu begitu cukup diminimalisir saja interaksinya (interaksi yang penting-penting dan perlu saja).
dan memaklumi kalau dia sebagai individu yang bermasalah.
Apa begitu saja atau ada hal lain ya mas sebagai tambahan cope with the toxic person?

Kalau dalam keluarga atau pasangan yang memang sudah menjadi bagian dari hidup kita dan kemungkinannya kecil untuk meminimalisir pertemuan gimana ya mas? Lanjutkan membaca “Cope with the Toxic Person, Tanya Jawab di WhatsApp”

Cerita Mawar #part 19 Plot Twist Mimpiku


Suatu hari ada seorang mahasiswa semester 4. Namanya Kenanga, ia sedang stress pada mata kuliah penelitian kuantitatif. Stress karena teman di kelompoknya ada yang sakit, dan ada yang sering berhalangan hadir. Tibalah pada hari UAS dalam bentuk lisan. Ujian ini membawa beban psikis, karena dosennya terkenal garang, horor banget suasananya. Namun hal ajaibpun terjadi. Dosen tersebut malah mengajak guyonan, canda tawa pun meliputi ruangan tersebut. Di ruang ujian itu ada juga teman-teman lain yang beda kelompok. Akhirnya setelah ujian Kenanga dan teman-temannya pun pergi bersama ke tempat perbelanjaan. Lanjutkan membaca “Cerita Mawar #part 19 Plot Twist Mimpiku”

Dasar Logis ! Refleksi setelah Mengikuti Psikodrama di Universitas Sebelas Maret Solo


Sungguh hal yang awalnya tidak bisa saya terima bahwa saya adalah orang yang terlalu logis dan kurang bisa memahami orang lain. Ya meskipun itu sudah sangat sering saya dengar dari berbagai orang. Sejujurnya, dahulu saya berpikir bahwa itu adalah pujian, namun lambat laun justru saya pikir itu adalah judgement yang orang lain berikan pada saya yang sebenarnya memiliki arti “Kamu tuh ga pake perasaan ya cik?! Gampang banget ngomong gituan”. Lanjutkan membaca “Dasar Logis ! Refleksi setelah Mengikuti Psikodrama di Universitas Sebelas Maret Solo”

Boke Saat Mau Menikah, Cerita Motivasi bagi Pasangan Dewasa yang akan Menikah


Mendampingi adik-adik SPN yang mau menikah, membuatku harus flashback. Ini adalah cerita sebelum galau beneran datang. Semoga menghibur.

“Uang itu mengalir seperti air,” kata suamiku.
Dulu aku mahasiswa yang selalu merasa galau saat boke, namun berusaha memasrahkan diri dengan apa yang ada. Apa boleh buat, Aku tak pernah berani minta uang saku pada orang tua. Aku sangat tahu diri bahwa mereka sedang menghadapi biaya adik-adikku yang perlu susu, popok dan perangkat wajib lain yang tak bisa di tunda. Lanjutkan membaca “Boke Saat Mau Menikah, Cerita Motivasi bagi Pasangan Dewasa yang akan Menikah”

Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?


Aku merasa hal ini sepele, namun sulit untuk dilakukan. Kerapuhanku adalah aku terlalu mengingat peristiwa, terutama peristiwa buruk, aku juga kurang aktif menyampaikan pikiran dan perasaanku, kadang kala aku juga lemot mikir, aku juga rigid secara kognitif. Dampak dari kerapuhanku ini sudah jelas terlihat yaitu sulit menjalin relasi interpersonal. Aku menganggap bahwa memaafkan itu adalah kewajiban, bukan ketulusan hati mengakui kesalahan. Permasalahan ini akhirnya aku pendam bahkan dalam hitungan bulan bahkan mungkin sudah tahunan. Hingga suatu ketika : Lanjutkan membaca “Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?”

Perihal Menulis, Mencoba BerBuah dalam Kekeringan


Apa yang harus aku lakukan dengan kekeringan ini?
Sampai kapan aku terus mencari dan menunggu?
Pesan apa yang perlu dipetik dari proses ini?
Entah mengapa tidak ada yang datang

Kering, kering, kering

Aku mengerti sekarang mengapa banyak penulis atau mereka yang masuk di bidang sastra terlihat berbeda, eksentrik, unik, kadang juga terlihat moody, berada di dunianya sendiri, dan seterusnya. Saya yakin banyak yang akan tidak setuju dengan pernyataanku ini, mohon maaf, tapi tidak ada niat dan maksud untuk menyinggung perasaan. Saya menyadari kalau pernyataan itu berdasarkan stereotipe, paham. Lanjutkan membaca “Perihal Menulis, Mencoba BerBuah dalam Kekeringan”